Jumat, 13 Februari 2015
Cemas Bunda Berujung Hidayah
Posted under IslamPos, Kisah, wajah with
Tidak ada komentar
Artikel ini di muat di IslamPos.Com : https://www.islampos.com/cemas-bunda-berujung-hidayah-1-163832
TAHUN 1905 Agus Salim nampak kesal dengan orang tuanya. Ia kesal lantaran orang tua memaksa agar mau menerima tawaran bekerja di Jeddah. Agus Salim bersikeras menolak tawaran itu. Konflik pun terjadi. Orang tuanya, terutama sang ibu yang bernama Siti Zainab, ingin sang anak menerima pekerjaan itu agar bisa bertemu sang paman yang juga seorang ulama besar di Makkah, yaitu Syeikh Ahmad Khatib.
Sejak meninggalkan rumah menuju Batavia untuk menempuh pendidikan HBS (Hogere Burgerschool-setingkat SMA), Agus Salim sudah lepas pengawasan. Setelah lulus HBS, sang ibu tak melihat lagi anaknya menjalankan ibadah dalam Agama Islam. Inilah yang menjadi kecemasannya.
Mengetahui Agus Salim mendapat tawaran bekerja sebagai penterjemah kantor konsulat Belanda di Jeddah menjadi obat cemasnya. Berharap, sang paman dapat membimbingan pemahaman agama Agus Salim. Tapi, Agus Salim tak suka dengan tawaran ini. Ia tetap ingin fokus mengejar cita-citanya mendapat beasiswa pendidikan dokter di universitas yang ada di negeri Belanda.
Dalam catatan Kustiniyati Mochtar yang berjudul Agus Salim Manusia Bebas di buku Seratus Tahun Agus Salim, diceritakan bahwa Agus Salim pernah jauh dari Islam. Selama lima tahun menempuh pendidikan di HBS, Agus Salim merasa tak dapat berpegang pada suatu agama secara sungguh-sungguh. Pendidikan ilmu pengetahuan saat itu menjauhkan anak didik dari agama. Agus Salim sempat menjadi agnostik. Ia tak percaya pada agama satu pun, apalagi hal-hal yang tidak diterima secara akal.
Di depan para Mahasiswa Cornell University sebagai dosen tamu tahun 1953, Agus Salim berkisah, “Ketika saya berumur 13 tahun, saya dikirim sekolah di Jakarta. Ketika itu saya telah menyelesaikan bagian pertama pendidikan agama sebagai orang Melayu dan Islam. Maka saya mulai sekolah sesuai aturan Barat. Saya mulai sekolah rendah Belanda pada usia tujuh tahun; boleh dikata ketika itu termasuk kelinci percobaan pertama orang-orang bumiputera yang diberi pendidikan Barat.”
Agus Salim lahir di Kota Gedang, Sumatera Barat, tahun 1884. Ia adalah anak seorang Jaksa tinggi di Pengadilan negeri Riau yang bernama Sutan Mohammad Salim. Karena kedudukan sang Ayah yang tinggi inilah ia mendapat kesempatan sekolah di Europeese Lagere School (ELS) yang biasanya hanya menerima anak-anak keturunan Eropa saja.
Selama bersekolah, Agus Salim menujukkan kecerdasannya. Seorang guru bernama Brouwer sampai meminta kepada ayah Agus Salim agar sang anak tinggal bersamanya. Guru itu ingin memberikan bimbingan langsung sambil memberikan gizi yang cukup bagi pertumbuhan. Ayah Agus Salim memenuhi permintaan itu, tapi hanya sampai waktu makan malam saja dan tidur tetap di rumah. Sang ayah tetap ingin bisa menjaga pertumbuhan Agus Salim kecil.
Lulus dari ELS, Agus Salim dikirim sang ayah ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan ke Hogere Burgerschool (HBS). Sebuah sekolah yang jarang ditemui anak pribumi. Agus Salim tinggal in de kost pada keluarga Belanda. Selama sekolah di HBS inilah lagi-lagi Agus Salim mengesankan para gurunya. Hampir semua bidang pelajaran menonjol. Tahun 1903 ia menjadi lulusan terbaik siswa HBS se-Hindia Belanda.
Sebagai lulusan terbaik, Agus Salim berharap bisa mendapatkan beasiswa kuliah di Belanda dengan mengambil jurusan kedokteran. Menjadi dokter adalah cita-citanya. Sayang, saat itu kebijakan pemerintah kolonial masih belum bisa menempatkan warga pribumi mendapat pendidikan setingkat universitas.
Agus Salim tak patah semangat. Ayahnya sampai mengusahakan agar Agus Salim bisa mendapatkan kedudukan status kewarganegaraan yang sejajar dengan bangsa Eropa. Mengingat pada saat itu pemerintahan kolonial Hindia Belanda memberlakukan hukum strata kewarganegaraan. Orang Eropa berada di kelas satu, kelas dua adalah para timur asing. Sedangkan pribumi di kelas tiga. Status kewarganegaraanlah yang menjadi syarat utama agar bisa mendapat pendidikan setingkat Universitas. Atas usaha sang Ayah, status itu akhirnya juga didapat. Jarang-jarang warga pribumi apalagi muslim bisa mendapatkan status itu. Meski status sudah terpenuhi, tetap saja beasiswa tak kunjung turun.
Usaha Agus Salim ini terdengar sampai telinga Raden Ajeng Kartini, seorang puteri bangsawan dari Jepara. Sebenarnya, R.A Kartini berharap bisa mendapatkan pendidikan di Belanda. Curhatnya kepada Ny. Abendanon –Istri pejabat tinggi Belanda bidang Pendidikan- melalui surat menyurat mendapat respon yang baik. Ia pun menerima beasiswa ke universitas di Belanda. Namun, orang tua tak mengizinkannya pergi jauh karena tembok tradisi.
Dengan berat hati ia tak jadi mengambil beasiswa tersebut. Semenjak mendengar tentang Agus Salim, kembali R.A. Kartini meminta kepada Ny. Abendanon agar beasiswa yang didapatkannya bisa diberikan kepada pemuda cerdas yang berhasil lulus menjadi siswa terbaik HBS se-Hindia Belanda. Meski begitu, Agus Salim tetap tak mendapatkan beasiswa yang diharapkan.
Selama penantian memperoleh beasiswa, Agus Salim sempat berjumpa dengan Snouck Hurgronje. Snouck Hurgronje menggodanya agar tak usah menjadi dokter. “Menjadi dokter sebenarnya tak memadai, bayarannya kecil.” Kenang Agus Salim menceritakan perkataan Snouck Hurgronje di depan mahasiswa Cornell University. Snouck Hurgronje menyarankan agar ia mau bekerja sebagai Konsulat Belanda di Jeddah karena kemampuannya yang telah menguasai 4 bahasa; Belanda, Inggris, Perancis dan Jerman. Menurut Agus Salim sendiri, tawaran ini adalah uji coba dari Snouck Hurgronje untuk menempatkan pribumi sebagai tenaga konsulat Belanda di beberapa negara.
Secara prinsip, Agus Salim menolak tawaran itu. Sejak lulus HBS ia memang bertekad tidak ingin menjadi pegawai pemerintah. Ia ingin fokus mengejar cita-citanya bisa melanjutkan ke universitas. Sang Ayah awalnya mendukung perjuangan Agus Salim mendapatkan pendidikan setinggi mungkin. Sang ayah yang pernah melihat warga Belanda berpendidikan Universitas lalu masuk Islam menganggap bahwa pendidikan Belanda tidak bertentangan dengan Agama. Tapi semua itu berubah dengan adanya tawaran Snouck Hurgronje, selain juga permohonan beasiswa yang tak kunjung datang sekaligus kecemasan Ibu yang melihat Agus Salim sudah tak berpegang pada agama. Orang tuanya penuh harap, dengan mengambil pekerjaan tersebut Agus Salim bisa dekat dengan sang paman yang saat itu adalah seorang Imam Masjidil Haram dan Mufti Mazhab Syafi’i di Makkah.
Agus Salim tetap ngotot menolak bekerja di Jeddah dengan alasan prinsipnya yang tak mau menjadi pegawai pemerintah Hindia Belanda. “Yang menawarkan pekerjaan bukan pemerintah Hindia Belanda, tapi pemerintah Belanda langsung.” Begitu retorika sang ayah mencoba membujuk Agus Salim dalam ceritanya sendiri pada Mahasiswa Cornell University.
Soal konflik antara Agus Salim dan orang tuanya, Kustiniyati Mochtar juga menuliskan, “Dikabarkan sering terjadi pertengkaran di rumah, dan paling sering disekitaran meja makan. Ayah dan anak sama-sama bersikap keras. Ibunya diliputi kesedihan, jatuh sakit dan beberapa lama kemudian meninggal dunia.”
“Akhirnya untuk menghormati pesan terakhir ibu, aku merasa harus menerima tawaran untuk bekerja di Jeddah dengan kedudukan sebagai ahli terjemah dan mengurus jemaah haji Indonesia pada konsulat Belanda di Jeddah. Aku langsung membeli sebuah buku kecil, mulai belajar bahasa arab dan berangkat ke Jeddah.” Tutur Agus salim kemudian pada Mahasiswa Cornell University. Inilah keputusan beratnya. Demi taat pada sang ibu, mau tak mau ia terima tawaran itu. Inilah awal perubahan Agus Salim yang ikut mempengaruhi jalannya sejarah Indonesia.
Tahun 1906 ia berangkat ke Jeddah dan bekerja sebagai konsulat bidang penerjemah. Sesekali ia berangkat ke Makkah bertemu sang paman untuk berdiskusi persoalan agama. Perlu di ketahui, Syeikh Ahmad Khatib adalah orang non arab pertama yang pernah menjadi Mufti Mazhab Imam Syafi’i. Banyak murid-muridnya yang menjadi Ulama di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah ulama yang berpengaruh, seperti Syaikh Jamil Jambek, Syaikh Abdul Karim Amrullah (Ayahnya Buya HAMKA), termasuk K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
Agus Salim, sebagai anak cerdas hasil didikan Belanda yang me-Tuhankan ‘Akal’ benar-benar dijui akalnya oleh sang paman. Alam pikiran Agus Salim yang rasionalis membuat sang paman harus memberikan jawaban yang berbobot atas pertanyaan-pertanyaannya.
Dalam tulisan Buya HAMKA di buku Seratus Tahun Agus Salim mengatakan, bahwa Agus Salim adalah murid Syaikh Ahmad Khatib yang berbeda sendiri. “Agus Salim mempunyai pengetahuan umum yang luas serta menguasai bahasa Belanda dan Inggris, sehingga sesuatu yang didengar dari Syaikh Ahmad Khatib dapat dibanding-bandingkan dengan penuh kritik. Setiap pertemuan dengan Syeikh Ahmad Khatib lebih banyak bersifat diskusi daripada semata-mata mendengarkan fatwa guru.” Begitu tulisnya.
Buya HAMKA juga menambahkan kalau Syeikh Ahmad Khatib pernah bersekolah di sekolah Raja di Bukittinggi. Sehingga, pengetahuan ilmu modern juga dimilikinya membuat sikap kekritisan Agus Salim dapat dijawab.
“Semasa itu keislamanku seolah-olah bawaan kebangsaan saja dan bukanlah menjadi agama keyakinan yang bersungguh-sungguh. Tetapi selama lima tahun di Saudi Arabia saya lima kali naik haji, dan bertambah dalam sikap saya terhadap agama. Dari tidak percaya menjadi ragu, dari ragu menjadi yakin mengakui keadaan Allah dan agama Allah.” Kata Agus Salim yang ditulisnya di surat kabar Bendera Islam tertanggal 2 Mei 1927.
Pulang ke tanah air tahun 1911, Agus Salim menunjukkan sosok yang berbeda. Apa yang diharapkan sang ibu sebelum meninggal terwujudkan. Selanjutnya, Agus Salim bukan lagi sosok yang jauh dari Islam, tapi telah memiliki kepemahaman tauhid yang mantap.
Kesadaran Agus Salim terhadap pendidikan barat yang membuatnya jauh dari Islam juga dikisahkannya pada Mahasiswa Cornell University, “Profesor Snouck Hurgronje datang pada tahun sekitar 1880 dan adalah kebijaksanaannya untuk mencobakan pendidikan Barat di Hindia Timur. Tujuannya adalah merangkul lapisan atas bangsa Indonesia masuk ke dalam kultur Belanda dan dengan demikian mengharapkan mereka mau bekerjasama dengan Belanda.
Tujuan kedua dari kebijaksanaan Snouck Hurgronje adalah menjauhkan orang-orang tersebut dari ajaran Islam yang sampai waktu itu menyebabkan mereka menjaga jarak dan kurang tertarik kepada pengaruh Barat. Terus terang saja, ketika ayah memasukkan saya dan abang saya ke sekolah belanda, orang-orang di kampung agak heboh dan bertanya-tanya: apakah mereka mau dijadikan orang Kristen?”
Sang ibu memang patut bersyukur. Kecemasannya berujung hidayah yang mengantarkan Agus Salim menjadi juru dakwah. Ia juga seorang intelektual muslim yang getol memperjuangkan kemerdekaan dengan semangat keislaman. Semua itu terlihat dari aktivitas perjuangan pasca pulang dari tanah Arab.
Bergabungnya Agus Salim dengan Sarekat Islam menjadi wadah perjuangan cita-cita kemerdekaan. Sebagai seorang Intelektual Muslim pada jaman itu, Agus Salim berhasil mendapat kedudukan pimpinan Sarekat Islam bersama HOS Tjokroaminoto. Dia menjadi garis terdepan menghadapi serangan-serangan pemikiran yang mengancam umat Islam, terutama komunisme.
Menurut Deliar Noer dalam buku Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 bahwa Agus Salim-lah yang lebih banyak memberi cap Islam pada Sarekat Islam. Dia bukan saja mengetahui pikiran barat, tetapi dia adalah seorang pimpinan Sarekat Islam yang paling mengetahui tentang Islam dari sumber aslinya.
Perdebatan soal cinta tanah air dalam semangat kemerdekaan juga menjadi diskusi hangat saat itu. Semangat keberislaman Agus Salim membawanya terlibat perdebatan dengan Soekarno. Agus Salim memperingatkan, khususnya kepada Umat Islam, bahwa cinta tanah air yang didengungkan Soekarno bisa menjuhkan keyakinan tauhid seseorang.
“Dalam mencintai tanah air semestinya lebih mengutamakan cinta kepada yang menciptakan tanah air, yaitu Allah Swt. Semangat perjuangan kemerdekaan dalam bingkai cinta tanah air inilah harus karena rasa pengabdian kepada Allah sebagai cermin iman dan Islam. Dengan begitu, rasa kebangsaan bisa menjauhkan dari penghambaah kepada selain Allah juga menjauhkan dari kesombongan atas kelebihan yang dimiliki bangsa ini.” Tulisnya di surat kabar Fadjar Asia tahun 1928.
Di akhir hidupnya Agus Salim terkenal sebagai diplomat ulung dengan beberapa kali menjabat Mentri Luar Negeri Republik Indonesia. Berkat kedekatan dengan ulama dan tokoh politik di tanah arab, usaha negoisasi di negeri Mesir pada 1945 mengantarkan negeri tersebut menjadi negeri pertama secara de yure mengakui kemerdekaan Republik Indonesia.

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.