Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum,
Hei Kau,
Jika kau aku ajak untuk
menceritakan tentang Nabi Ismail apa yang kau ingat? Aku yakin, kau pasti akan
bercerita tentang kisah penyembelihannya. Memang benar, Ismail terkenal dengan
nabi yang pernah dicoba disembelih oleh Nabi Ibrahim, ayahnya, atas perintah
Allah. Kisah ini menjadi jejak peninggalan yang menjadi awal mula hukum syariat
berkurban. Jejak Ismail tidak hanya ini saja, masih banyak jejak-jejak yang
ditinggalkan Ismail yang masih kita rasakan hingga saat ini.
Berikut beberapa
jejak-jejaknya yang perlu kau tahu.
Jejak pertama adalah
seperti yang sudah aku katakan di awal tadi, yaitu pelaksanaan kurban yang
sering kita lakukan pada hari raya Idul Adha. Dalam kisah ini, bukan hanya
Ibrahim saja yang diuji oleh Allah, namun juga Ismail. Sejak awal Ismail lahir,
ia sudah mengalami ujian yang berat; ditinggal oleh sang ayah di lembah tandus
tanpa air. Sang ayah hanya sesekali mengunjungi Ismail setelah ditingal
bertahun-tahun lamanya. Begitu umur sudah cukup besar, Allah menguji mereka
dengan perintah menyembelih Ismail.
Ketika permintaan
peyembelihan dijelaskan oleh Ibrahim, tanpa ragu Ismail berucap, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepdamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar.” (Ash-Shaffat 102). Keyakinan mereka kepada Allah yang tidak
mungkin akan menzalimi hambanya yang taat terbukti dengan makhluk penganti
penyembelihan. Posisi Ismail digantikan dengan hewan berjenis domba. Domba
merupakan salah satu hewan ternak yang dagingnya juga sebagai makanan pokok di
daerah tersebut pada saat itu. Perintah kurban ini menjadi syariat secara turun
menurun sejak masa hidup Ismail di Jazirah Arab hingga dikuatkan sebagai
syariat oleh Nabi Muhammad untuk Umat Islam yang dilakukan pada setiap tanggal 10
Zulhizah ketika sebagian Umat Islam yang lain menjalankan ibadah haji.
Jejak kedua adalah lahirnya
bahasa arab yang fasih dan ber-balagha
(menggunakan tata bahasa). Kehadiran suku
Jurhum, Amalik dan Yaman yang menetap di Lembah Makkah membuat Ismail
mempelajari cara komunikasi mereka. Suku-suku itu sudah ada sebelum masa Nabi
Ibrahim. Namun, belum menggunakan bahasa arab yang rapi tertata yang ada
seperti sekarang ini. Seperti sabda Nabi Saw, “Orang pertama yang lancar
menggunakan bahasa Arab yang tertata adalah Ismail. Ketika itu ia berusia empat
belas tahun.”
Jejak ketiga adalah
hadirnya turunan-turunan Ismail yang mendiami Lembah Makkah dan sebagian
wilayah Jazirah Arab. Turunan-turunannya inilah yang meramaikan catatan sejarah
awal perkembangan Umat Islam di Jazirah Arab. Salah satu suku yang terkenal
sebagai turunan Ismail adalah suku Quraisy. Jadi, turunan Nabi Ibrahim yang
menjadi Nabi terakhir di muka bumi yaitu Nabi Muhammad melalui garis turunan
Ismail dari suku Quraisy.
Sebelumnya, lembah
tersebut hanya didiami oleh Hajar dan anaknya Ismail. Lalu datanglah sekelompok
orang dari suku Jurhum. Karena melihat ada mata air di lembah tersebut, mereka
meminta untuk tinggal dan menetap di situ. Hajar pun menyetujui, bahkan sangat
senang, karena ada keluarga yang menemani kesendirian mereka. Beberapa suku
lainnya seperti Amalik dan Yaman juga datang dan menetap. Ismail beranjak
dewasa bersama mereka. Dia belajar bahasa Arab dan menjadi sosok yang paling
menganggumkan di kalangan mereka. Setelah dewasa, Ismail dinikahkan dengan
seorang wanita dari suku-suku itu.
Ada catatan cerita
menarik tentang kisah pernikahan Ismail dengan wanita dari kelompok suku
tersebut. Ibrahim, setelah sekian lama tidak mengunjungi keluarganya, datang
untuk menemui Ismail. Ketika itu Hajar sudah meninggal. Dalam kunjungannya,
Ibrahim tak menemukan Ismail, tapi ia menemukan Istri Ismail. Ibrahim
berkesempatan berbincang tentang keadaan mereka dan keaadaan rumah tangga
mereka. Istri Ismail curhat kalau keadaannya sungguh sengsara meski ia belum
tahu jika itu Ibrahim ayah suaminya. “Kami hidup selalu dalam kesulitan dan
kesusahan.” Ucap Istri Ismail. Setelah pembicaraan mereka selesai dan Ibrahim
akan beranjak pamit, Ibrahim berpesan, “Apabila Suamimu datang, sampaikan
salamku untuknya. Katakan kepadanya untuk mengganti daun pintu rumahnya.”
Saat Ismail pulang, sang
istri menceritakan ada orang yang mengujunginya dan menjelaskan ciri-ciri orang
yang berkunjung itu. Sang istri juga menceritakan tentang keadaan mereka kepada
orang yang tidak dikenalnya. “Orang itu ayahku.” Ucap Ismail memberitahu ke
Istrinya, “Apa ada pesan yang disampaikannya?” tanyanya. Lalu sang istri
menjawab, “Ia berpesan agar mengganti daun pintu rumahmu.” Ismail pun
menjelaskan tentang pesan itu, “Ia menyarakan agar aku menceraikanmu.” Maka
Ismail pun menceraikan istrinya. Kemudian Ismail menikah lagi dengan wanita
Jurhum yang lainnya.
Selang beberapa lama,
datanglah lagi Ibrahim berkunjung ke daerah tersebut. Lagi, Ismail tak ditemui.
Ia bertemu dengan seorang wanita yang berbeda dengan wanita sebelumnya. Seperti
yang dilakukan sebelumnya, Ibrahim kembali bertanya soal keadaan mereka dan
keadaan rumah tangga mereka. “Keadaan kami baik-baik saja. Allah selalu
memberikan kecukupan kepada kami.” Ucap istri Ismai yang juga tidak tau kalau
itu Ibrahim ayah Ismaill. “Apa menu makanan dan menu minuman kalian
sehari-hari?” tanya Ibrahim. “Kami memakan daging dan terbiasa minum air.”
Jawab wanita tersebut. “Semoga Allah selalu memberikan keberkahan kepada kalian
dan melimpahkan daging dan air untuk kalian.” Ucap Ibrahim. Ketika Ibrahim
beranjak pulang, ia berpesan, “Sampaikan salamku untuknya dan katakan padanya
untuk menjaga dan mengokohkan daun pintu rumahnya.”
Kemudian Ismail datang,
sang istri menceritakan ada seorang yang datang dan menjelaskan cirri-ciri
orang itu. Ia juga menjelaskan perbincangan mereka kepada Ismail. Ismail pun
bertanya, “Apa ada pesan yang dititipkan kepadaku?” Sang istri menjawab, “Dia
berpesan agar kamu menjaga dan memperkokoh daun pintu rumahmu.” Ismail
menjelaskan, “Orang itu ayahku. Daun pintu itu adalah kamu. Ia menyarankan
kepadaku agar tetap mempertahankan kamu.”
Dari Ibnu Katsir di kitab
Al Bidayah wa An-Nihayah, wanita yang diceraikan atas perintah Ibrahim adalah
wanita dari suku Amalik. Kemudian menikah lagi dengan wanita kedua yang berasal
dari suku Jurhum.
Masih dari Ibnu Katsir,
Al Umawai berkata, istrinya bernama Umarah binti Sa’ad bin Usamah bin Akil Al
Amaliqi. Kemudian ia menikah dengan wanita lain lalu Ibrahim memerintahkan
kepadanya melanjutkan pernikahan tersebut, wanita itu bernama As-Sayyidah binti
Midhadh bin Amr Al Jurhumi.
Tapi satu hal, yang
membedakan Ismail dengan saudaranya Ishaq adalah turunnnya yang menjadi nabi
hanya satu, Yaitu Rasulullah Saw. Sedangkan Ishaq, turunannya yang menjadi nabi
cukup banyak. Mulai dari Ya’qub hingga Isa. Namun, dari semua nabi turunan
Ishaq, hanya nabi dari turunan Ismail yang memiliki kedudukan spesial sekaligus
menjadi nabi penutup jaman.
Jejak Ke empat adalah
Ka’bah. Setelah dua kali Ibrahim mencoba bertemu Ismail namun yang ditemui
hanya istrinya, maka yang ketiga kalinya ini Ibrahim bisa bertemu dengan
Ismail. Di pertemuan ini, Ibrahim menceritakan kepada Ismail bahwa ia
diperintahkan untuk membangun Baitullah. Dengan sigap, Ismail meminta segera
dilakukan dan siap membantu sang ayah untuk membangun tempat suci Agama Allah.
Mereka berdua saling bahu membahu mendirikan bangunan tersebut. Ibrahim
bertugas menyusun batu-batu, Ismail bertugas mencarikan batu yang cocok untuk
dijadikan bangunan ka’bah. Selain itu,
Ismail juga bertugas menyediakan batu untuk pijakan Ibrahim ketika ingin
meletakan batu yang berada lebih tinggi dari jangkauan Ibrahim.
Di Al-Qur’an dituliskan ketika
mereka sedang membangun, mereka selalu berdoa, “Ya Tuhan Kami terimalah amalan kami, Sesungguhnya Engkau yang Maha
mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(Al-Baqarah : 127).
Meski Ka’bah beberapa
kali renovasi, setidaknya wujud dasar dari sejak didirikan oleh mereka berdua
masih bisa kita saksikan hingga saat ini.
Jejak Ismail ke lima
adalah jejak yang mungkin belum banyak orang tahu, yaitu Ismail adalah manusia
pertama yang berhasil menjinakan kuda sehingga bisa dinaiki. Sebelumnya kuda
adalah hewa liar yang belum bersahabat dengan manusia. Ismail berhasil bersikap
ramah pada kuda dan berhasil menjinakkannya. Sumber ini aku dapatkan dari Ibnu
Katsir dari kitabnya Al Bidayah wa An-Nihayah dengan mengambil riwayat hadist
dari Abdullah bin Umar Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Ambillah kuda itu dan
tunggangilah, karena ia adalah warisan bapak kalian, Ismail.”
Menariknya, sejarawan
Inggris, Arnold Toynbee dalam bukunya Mankid and Mother Earth menuliskan
tentang domestifikasi kuda terjadi pada abad 18 SM yang mana pada abad tersebut
sesuai dengan perkiraan jaman hidup Ismail. Namun ia menuliskan, masa masa itu
kuda belum menjadi alat transportasi atau kendaraan kavelari prajurit. Kuda
hanya masih sebatas alat untuk menarik gerobak, pengembalaan atau ternak. Butuh
seribu tahun kemudian untuk membuat kuda menjadi hewan yang kuat untuk
ditunggangi. Wallahualam.
Jejak Ismail yang terakhir adalah ajaran ketauhidan dari ayahnya, Ibrahim, yang ia ajarkan kepada anak cucunya. Ismail adalah nabi sekaligus bapaknya orang Arab. Jika di tanah Kan’an dan Mesir ajaran ketauhidan di turunkan dan di ajarkan oleh nabi-nabi turunan adiknya Ismail; yakni Ishaq, maka di tanah Arab, Ismail nabinya. Ajaran ketauhidan Ibrahim yang diajarkan melalui Ismail berhasil tertanam kuat di jazirah Arab. Selama berabad-abad Ka’bah selalu menjadi tempat ibadah yang sering dikunjugi setiap tahun. Jadi, pelaksanaan haji telah ada sejak jaman Ibrahim. Begitu juga dengan pelaksanaan Qur'ban, sudah menjadi syariat turun menurun selama berabad-abad lamanya.
Hal ini ditekankan oleh Buya HAMKA dalam Tafsir Al Azhar Surat Al Baqarah Ayat 130-131, menuliskan, "Mulai saja rumah suci Ka'bah itu didirikan, tumbuhlah satu keturunan Arabi, yang sama sekali tidak mengenal penyembahan berhala. Dan patut pula diingat bahwasanya Jurhum adalah sisa-sisa keturunan dari kaum Aad dan Tsamud, yang kepada mereka telah diutus terlebih dahulu Nabi Hud dan Shalih. Dan menurut suatu riwayat daripada Abu Hamid as-Sajastani di dalam kitabnya yang bernama a1-Amaali (Juz 2, ha1.168) dekat dekat zaman Rasul s.a.w masih didapat pemeluk agama Nabi Syu'aib, yang bernama al-Harits bin Ka'ab al-Mudzhaji, Ubaid bin Khuzaimah dan Tamim bin Murr. Oleh sebab itu ahli sejarah berani mengatakan bahwa penyembahan berhala tidaklah asli pada bangsa Arab: Adapun penyembahan berhala adalah penyakit yang kemasukkan dari luar Arab, masuk dari Syargil-Urdun dan negeri-negeri Kanaan, dibawa oleh seorang yang bernama `Amr bin Luhayi."
Buya HAMKA juga mencatat, masuknya tradisi penyembahan berhala (dewa-dewa) terjadi pada 400 tahun sebelum kehadiran Nabi Muhammad Saw. Meski, tradisi penyembahan ke banyak dewa mulai menjangkiti ke mayoritas penduduk Arab masih ada sekolompok orang yang mempertahankan ajaran ketauhidan Ibrahim. Mereka disebut Hanifiyyah, atau orang-orang Hanif. Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw sebelum diutus menjadi Rasul, ada beberapa orang Hanif yang tercatat, yaitu; Khadijah binti Khuwalid (istri pertama Muhammad), Waraqah bin Naufal, Abu Amar, dan Umayyah bin Abi as-Salt.
Hampir sebagian mayoritas suku-suku Arab membuat dewa-dewa baru. Namun, mereka masih meyakini keberadaan Allah sebagai Tuhan yang paling tinggi Bagi mereka, keberadaan dewa adalah perwujudan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti yang mereka katakan, “Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.” (Az-Zumar : 3). Tradisi kejahiliyahan ini pun dilakukan secara turun-menurun hingga Nabi Muhammad Saw mengajak kembali ke ajaran tauhid Nabi Ibrahim dengan menyempurnakan syariat-syariatnya ke dalam Agama yang di ridhoi di akhir jaman; Islam.
Maha Besar Allah yang Maha Bercahaya (An-Nuur)
Wassalamu'alaikum,
Jogja, 2 Januari 2014
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.