Sabtu, 04 Oktober 2014

Nostalgia Tintin dan Cita-cita Jadi Jurnalis

Daftar koleksi komik The Adventure of Tintin
Kerinduan pada serial kartun Tintin akhirnya terbalas ketika seorang kawan meminjamkan saya DVD kumpulan koleksi film dan komik (format .pdf) Tintin yang baru dibelinya. Tintin adalah serial kartun yang sangat saya sukai ketika masih SMP. Semua komiknya sudah saya baca, meski semuanya itu pinjam punya sepupu. Tidak hanya komik, semua seri filmnya juga saya tonton. Itu juga pinjam tetangga yang mengoleksi. Meski saya suka, saya tak tertarik untuk mengoleksi. Cukup meminjam. Karena saking sukanya, meminjamnya pun gak hanya sekali, bisa berkali-kali.

Memori tetang kenangan Tintin begitu membekas. Bahkan mempengaruhi kesadaran imajinasi saya dengan sosok Tintin. Tak menyangka juga, serial kartun dan komiknya kini tersimpan di laptop saya.

Mengingat Tintin, saya jadi teringat soal ambisi. Ambisi tentang sosok Tintin itu sendiri. Seperti karakter tokoh, Tintin adalah seorang jurnalis. Pekerjaan sebagai jurnalis itulah yang membuat tokoh yang memiliki anjing bernama Snowy menghadapi pertualangan hidupnya. Gaya investigasinya menarik. Seperti dalam salah satu ceritanya Tintin pernah berkata, “Prinsip wartawan pertama, kalau ragu langsung datangi sumbernya”. Metode induktif adalah cara Tintin menyelsaikan kasusnyaa. Hampir semua cerita dari kasus yang dihadapinya, Tintin ikut ambil bagian dalam menyelesaikannya. Lebih tepatnya, cerita Tintin lebih banyak ke pertualanngannya dari pada tentang ilmu jurnalisme itu sendiri. Ceritanya juga tidak serumit gaya khas detektif seperti conan atau Sherlock Holmes.

Hanya dari sebuah film, tak menyangka ada ruang imajinasi yang tercipta. Imajinasi pun menjadi ambisi. Ambisi untuk menjadi seperti sosok Tintin. Di saat SMA, saya merasa tertarik untuk bercita-cita menjadi jurnalis. Terlibat membangun sebuah majalah komunitas rohis di sekolanh awal saya mengenal dunia literasi. Namun, karena belum mengenal apa itu reportase atau investigasi, majalah yang kami kelola masih tahap kumpulan artikel (opini).

Cita-cita itu semakin bulat ketika memantapkan diri memilih Jurusan Komunikasi saat SPMB (sekarang kalo gak salah namanya SMPTN). Dua pilihan ujian SPMB sama-sama memilih jurusan komunikasi dengan dua kampus yang berbeda. Kampus yang dipilih juga kampus ternama di negeri ini. Dan itu semua gagal. Haha..

Ingin menjadi sosok Tintin hanya menjadi bayang-bayang. Ketika harus memilih swasta, saya tak begitu tertarik dengan jurusan komunikasi. Sebab, rata-rata tidak ada yang memiliki akreditas yang baik. Hanya di kampus-kampus negeri saja. Ambisi pun harus dinegoisasikan. Apalagi ibu saya meminta untuk kuliah di bidang Ekonomi saja ketika harus memilih kampus swasta. Ambisi ibu saya ingin anaknya bisa kerja di bank. Imajinasi anak dan ibu memang beda. Mungkin, ibu saya kebanyakan nonton sinetron. Dan anaknya suka kartun. Ya sudah, nurut saja. Masuklah saya di Fakultas Ekonomi UII.

Meski kuliah di ekonomi, tak ada halangan untuk menjadi sosok Tintin. Takdir membawa saya untuk menjalankan amanah mengelola media dakwah kampus. Di sinilah saya mulai banyak belajar dengan dunia literasi. Dasar-dasar jurnalisme saya kenal secara perlahan dengan otodidak. Mulai dari teknik menulis sampai cara untuk membangun propaganda dan opini publik saya dapatkan dan praktekan. Di sini saya tidak membuat majalah tersebut seperti cara mainstream media dakwah pada umumnya. Seorang kawan senior mengajarkan bagaimana media dakwah bukan sekedar kumpulan artikel agama, tetapi mampu membawa ke wilayah reportase dan investigasi. Fenomena kampus kita kaji dengan analisis dan kritis.

Meski begitu, gambaran ideal menjadi sosok Tintin tak mungkin saya temukan. Di dunia realita, sosok Tintin hanyalah fiksi. Apa yang di imajinasikan penulis cerita, jelas akan berbeda dengan dunia yang kita hadapi. Namun, kita bisa mengambil kesamaan dari nilai yang dibawa, yaitu usaha mencari kebenaran, perlawanan terhadap kejahatan, dan menyelesaikan sebuah konflik. Semangat inilah yang menjadi visi dan nilai kehidupan seorang jurnalis yang kami cita-citakan dalam mengelola majalah kampus ini.

Yang bisa kita ambil pelajaran dari Tintin adalah semangat mencari tahu
(investigasi) dengan membuka data-data pustaka.
Satu hal yang menarik dari kisah Tintin adalah tidak adanya kesan kepentingan politis yang ada pada diri Tintin. Karakter yang dibentuk sederhana, ia selalu menjadi sosok yang penuh pertanyaan jika menemukan suatu yang janggal. Ia bekerja secara naluri bukan intruksi. Sepeti yang Tintin katakan dalam salah satu kisahnyaa, “Aku tak percaya yang aku dengar, anggap saja naluri wartawan.”

Ketika saya lulus, niat menjadi jurnalis tetap ada. Pengalaman di kampus menjadi modal saya. Ternyata ibu saya tidak menginzinkan bekerja sebagai pencari berita. Sesuai dengan gelar, ibu saya tetap mengingkan anaknya kerja di bank. Sayangnya, dunia perbankan bukan diri saya. Apalagi semangat kapitalis yang ada di perbankan (termasuk syariah sekali pun) membuat saya gusar soal penghasilan yang barokah. Kembali ada proses negoisasi di sini. Tawaran bekerja sebagai marketing di penerbitan buku jawaban dari negoisasi tersebut. Langsung saja saya ambil dari pada menunggu lama menganggur.  Setidaknya, masih dekat di dunia literasi. Ditambah visi dan nilai yang dibawa di tempat kerja saya tidak bertolak belakang dengan semangat idealisme saya.

Memang ada hikmah dibalik pelarangan ibu. Nilai semangat Tintin sulit kita temukan di dunia nyata. Dunia jurnalis saat ini adalah profesi yang terkesan sudah kehilangan keontentikannya. Semangat kapitalis begitu merajai industri media kita. Para jurnalis sudah bekerja berdasarkan intruksi, bukan lagi naluri. Tak ada ruang untuk idealisme. Bohong kalau media itu tidak partisan. Bahkan, para jurnalis itu kini bekerja untuk menyesatkan opini masyarakat demi sebuah kepentingan politik partisan. Contoh penyesatan opini silakan baca Menalar Demokrasi Kita.

Realitas memang tak seindah fiksi. Jikapun saya kini bekerja sebagai jurnalis, saya yakin naluri imajinasi Tintin tidak akan saya dapatkan. Berita akan saya tulis demi sesuap nasi. Satu kalimat bernilai rupiah. Belum lagi seperti curhat para wartawan di media-media sosial yang mana hasil berita mentah yang ia dapatkan di lapangan sering berubah ketika sudah masuk meja redaksi. Di sini framing media bekerja. Data-data obyektif baik data tertulis hingga data gambar bisa dikontruksi sesuai tujuan media. Metode untuk memahami perspektif media adalah Analisis Framing. Perspektif media bisa dilihat dari stuktur bahasa, penekanan dan penonjolan-penonjolan pada aspek tertentu. Ilmu tentang analisis framing sudah menjadi kajian ilmiah di kampus-kampus Ilmu Komunikasi. Jika kita tau ilmu ini, mudahlah membaca media secara skeptis dan kritis. Bukan pengkonsumsi mentah. Meski begitu, tidak semua berita memuat kepentingan. Masih ada yang bener-benar informasi yang bermanfaat. Setidaknya, minimal berita yang diangkat bisa menjual nilai rating media.

Dan kini Tintin sudah hadir dengan gambar 3D, semoga pertualangan terus berlanjut dalam 3D. Selamat berimajinasi dan menemukan pertualangan baru.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger