![]() |
| Daftar koleksi komik The Adventure of Tintin |
Memori tetang kenangan Tintin begitu membekas. Bahkan
mempengaruhi kesadaran imajinasi saya dengan sosok Tintin. Tak menyangka juga,
serial kartun dan komiknya kini tersimpan di laptop saya.
Mengingat Tintin, saya jadi teringat soal ambisi. Ambisi
tentang sosok Tintin itu sendiri. Seperti karakter tokoh, Tintin adalah seorang
jurnalis. Pekerjaan sebagai jurnalis itulah yang membuat tokoh yang memiliki
anjing bernama Snowy menghadapi pertualangan hidupnya. Gaya investigasinya
menarik. Seperti dalam salah satu ceritanya Tintin pernah berkata, “Prinsip
wartawan pertama, kalau ragu langsung datangi sumbernya”. Metode induktif
adalah cara Tintin menyelsaikan kasusnyaa. Hampir semua cerita dari kasus yang dihadapinya,
Tintin ikut ambil bagian dalam menyelesaikannya. Lebih tepatnya, cerita Tintin
lebih banyak ke pertualanngannya dari pada tentang ilmu jurnalisme itu sendiri.
Ceritanya juga tidak serumit gaya khas detektif seperti conan atau Sherlock
Holmes.
Hanya dari sebuah film, tak menyangka ada ruang imajinasi
yang tercipta. Imajinasi pun menjadi ambisi. Ambisi untuk menjadi seperti sosok
Tintin. Di saat SMA, saya merasa tertarik untuk bercita-cita menjadi jurnalis.
Terlibat membangun sebuah majalah komunitas rohis di sekolanh awal saya
mengenal dunia literasi. Namun, karena belum mengenal apa itu reportase atau
investigasi, majalah yang kami kelola masih tahap kumpulan artikel (opini).
Cita-cita itu semakin bulat ketika memantapkan diri memilih
Jurusan Komunikasi saat SPMB (sekarang kalo gak salah namanya SMPTN). Dua
pilihan ujian SPMB sama-sama memilih jurusan komunikasi dengan dua kampus yang
berbeda. Kampus yang dipilih juga kampus ternama di negeri ini. Dan itu semua
gagal. Haha..
Ingin menjadi sosok Tintin hanya menjadi bayang-bayang.
Ketika harus memilih swasta, saya tak begitu tertarik dengan jurusan
komunikasi. Sebab, rata-rata tidak ada yang memiliki akreditas yang baik. Hanya
di kampus-kampus negeri saja. Ambisi pun harus dinegoisasikan. Apalagi ibu saya
meminta untuk kuliah di bidang Ekonomi saja ketika harus memilih kampus swasta.
Ambisi ibu saya ingin anaknya bisa kerja di bank. Imajinasi anak dan ibu memang
beda. Mungkin, ibu saya kebanyakan nonton sinetron. Dan anaknya suka kartun. Ya
sudah, nurut saja. Masuklah saya di Fakultas Ekonomi UII.
Meski kuliah di ekonomi, tak ada halangan untuk menjadi
sosok Tintin. Takdir membawa saya untuk menjalankan amanah mengelola media dakwah
kampus. Di sinilah saya mulai banyak belajar dengan dunia literasi. Dasar-dasar
jurnalisme saya kenal secara perlahan dengan otodidak. Mulai dari teknik
menulis sampai cara untuk membangun propaganda dan opini publik saya dapatkan
dan praktekan. Di sini saya tidak membuat majalah tersebut seperti cara
mainstream media dakwah pada umumnya. Seorang kawan senior mengajarkan
bagaimana media dakwah bukan sekedar kumpulan artikel agama, tetapi mampu
membawa ke wilayah reportase dan investigasi. Fenomena kampus kita kaji dengan
analisis dan kritis.
Meski begitu, gambaran ideal menjadi sosok Tintin tak mungkin
saya temukan. Di dunia realita, sosok Tintin hanyalah fiksi. Apa yang di
imajinasikan penulis cerita, jelas akan berbeda dengan dunia yang kita hadapi.
Namun, kita bisa mengambil kesamaan dari nilai yang dibawa, yaitu usaha mencari
kebenaran, perlawanan terhadap kejahatan, dan menyelesaikan sebuah konflik. Semangat
inilah yang menjadi visi dan nilai kehidupan seorang jurnalis yang kami
cita-citakan dalam mengelola majalah kampus ini.
![]() |
| Yang bisa kita ambil pelajaran dari Tintin adalah semangat mencari tahu (investigasi) dengan membuka data-data pustaka. |
Ketika saya lulus, niat menjadi jurnalis tetap ada.
Pengalaman di kampus menjadi modal saya. Ternyata ibu saya tidak menginzinkan
bekerja sebagai pencari berita. Sesuai dengan gelar, ibu saya tetap mengingkan
anaknya kerja di bank. Sayangnya, dunia perbankan bukan diri saya. Apalagi
semangat kapitalis yang ada di perbankan (termasuk syariah sekali pun) membuat
saya gusar soal penghasilan yang barokah. Kembali ada proses negoisasi di sini.
Tawaran bekerja sebagai marketing di penerbitan buku jawaban dari negoisasi
tersebut. Langsung saja saya ambil dari pada menunggu lama menganggur. Setidaknya, masih dekat di dunia literasi. Ditambah
visi dan nilai yang dibawa di tempat kerja saya tidak bertolak belakang dengan
semangat idealisme saya.
Memang ada hikmah dibalik pelarangan ibu. Nilai semangat Tintin
sulit kita temukan di dunia nyata. Dunia jurnalis saat ini adalah profesi yang
terkesan sudah kehilangan keontentikannya. Semangat kapitalis begitu merajai industri
media kita. Para jurnalis sudah bekerja berdasarkan intruksi, bukan lagi
naluri. Tak ada ruang untuk idealisme. Bohong kalau media itu tidak partisan. Bahkan, para jurnalis itu kini bekerja
untuk menyesatkan opini masyarakat demi sebuah kepentingan politik partisan. Contoh penyesatan opini silakan baca Menalar Demokrasi Kita.
Realitas memang tak seindah fiksi. Jikapun saya kini bekerja
sebagai jurnalis, saya yakin naluri imajinasi Tintin tidak akan saya dapatkan. Berita
akan saya tulis demi sesuap nasi. Satu kalimat bernilai rupiah. Belum lagi
seperti curhat para wartawan di media-media sosial yang mana hasil berita mentah
yang ia dapatkan di lapangan sering berubah ketika sudah masuk meja redaksi. Di
sini framing media bekerja. Data-data
obyektif baik data tertulis hingga data gambar bisa dikontruksi sesuai tujuan
media. Metode untuk memahami perspektif media adalah Analisis Framing. Perspektif media bisa dilihat
dari stuktur bahasa, penekanan dan penonjolan-penonjolan pada aspek tertentu. Ilmu
tentang analisis framing sudah
menjadi kajian ilmiah di kampus-kampus Ilmu Komunikasi. Jika kita tau ilmu ini,
mudahlah membaca media secara skeptis dan kritis. Bukan pengkonsumsi mentah.
Meski begitu, tidak semua berita memuat kepentingan. Masih ada yang bener-benar
informasi yang bermanfaat. Setidaknya, minimal berita yang diangkat bisa
menjual nilai rating media.
Dan kini Tintin sudah hadir dengan gambar 3D, semoga
pertualangan terus berlanjut dalam 3D. Selamat berimajinasi dan menemukan
pertualangan baru.


0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.