![]() |
| Ilustrasi: Jalur pendakian Gunung Lawu 2010 |
Guru ngaji saya mencoba menjabarkan, hakekat hidup adalah
beribadah pada Allah. Usaha mencari ridho Allah dengan perbanyak ibadah akan
melahirkan usaha amal-amal shalih dalam aktivitas keduniaan. Usaha untuk
mengerjakan amal shalih itulah yang nantikan akan memberikan jawaban mau apa
kita. Mau jadi apa kita. Dan apa yang kita butuhkan untuk menjalankan
kehidupan. Otomatis passion akan mengikuti kebutuhan.
Dari pembahasan ini tiba-tiba saya teringat kisah mengharukan dari
sosok tokoh bangsa yang sangat saya kagumi, yaitu Mohammad Natsir. Dalam kisah perjalanan
hidupnya, mantan Perdana Mentri Republik Indonesia tahun 1950 ini pernah
mengalam pilihan hidup yang sulit ketika masa mudanya. Kalau bahasa sekarang
mengalami kegalauan. Kisah saat Natsir masih muda inilah yang menarik untuk
saya ceritakan.
Jaman ketika Natsir hidup dengan jaman kita sekarang memang
beda. Perbedaan jaman tidak membedakan cara manusia ketika berhadapan dengan
pilihan jalan hidupnya. Apa yang disampaikan guru ngaji saya ada kesamaan
pelajaran dari apa yang telah dilakukan Natsir. Bagi sebagian orang, apa yang
dipilih Natsir ketika muda dulu adalah kebodohan. Sebab, ketika ia ditawari beasiswa kuliah yang selama ini dicarinya dan dicari juga oleh banyak
orang justru ia tolak. Demi mendapatkan ridho Allah dan ingin terus mengisi
hidupnya dengan amal-amal shalih, ia justru lebih memilih menjadi guru dan
mendirikan sekolah Islam. Begitu banyak alasan mengapa ia memilih pilhan
tersebut. Ada kesadaran dalam dirinya bahwa umat lebih membutuhkan pilihan
jalan hidupnya dari pada mengikuti keinginan.
Ketika
itu tahun 1930 umur Natsir menginjak 22 tahun. Sebagai seorang siswa AMS
(Algemene Middelbare School - setingkat SMA) yang menjelang kelulusan, ia harus
menentukan langkah hidupnya ke depan.
Ada
dua jalan hidup yang mesti dipilihnya. Pertama, adalah menjadi pegawai
pemerintahan (Kolonial Belanda). Dengan menjadi pegawa pemerintah Natsir bisa
mendapatkan gaji yang lumayan besar. Bagi lulusan AMS, gaji sebesar kira-kira F
130 bisa melebih kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan kelebihan uang tersebut
dapat dikirim ke dua orang tuanya. Alangkah senang kedua orang tuanya bisa
merasakan hasil jerih payah sang anak yang telah berkorban bersekolah hingga ke
Kota Bandung.
Kedua,
adalah melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Beruntung, Natsir adalah anak
yang pintar di sekolahnya. Tebukti, setelah menyelesaikan ujian akhir, ia
berhasil mendapatkan nilai terbaik. Tidak hanya bisa diterima sebagai pegawai
pemerintah, ia pun ditawari rektor sekolahnya untuk mengambil beasiswa kuliah
Fakultas Hukum di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Negeri Belanda. Pilihan
inilah yang menjadi cita-cita Natsir sejak awal mengapa ingin melanjutkan
sekolah ke tingkat AMS. Impian untuk mendapat gelar Mr (gelar Sarjana Hukum saat itu) adalah cita-citanya untuk
menujukkan rasa bangga kepada kedua orang tua dan warga kampung tempat ia
lahir.
Anehnya,
muncul pilihan ketiga yang membuat selera untuk mengambil pilihan pertama dan
kedua hilang. Inilah yang menjadi dilema Natsir.
Dalam
sebuah surat kepada istri dan anak-anaknya pada tahun 1958 untuk mengenang masa
lalunya, Natsir menuliskan, “Aneh! Semua
itu tidak menerbitkan selera Aba sama sekali. Aba merasa ada satu lapangan yang
lebih penting dari itu semua. Aba ingin mencoba menempuh jalan lain. Aba ingin
berkhidmat kepada Islam dengan langsung. Belum terang benar bagi Aba pada
permulaannya, apa yang harus dikerjakan sesungguhnya. Tapi dengan tidak banyak
pikir-pikir Aba putuskan tidak akan melanjutkan pelajaran ke Fakultas mana pun
juga. Aba hendak memperdalam pengetahuan tentang Islam lebih dahulu. Sudah itu
bagaimana nanti.”
| Mohammad Natsir |
Saat
kecil, Natsir memiliki impian bisa belajar di HIS (setingkat SD) Pemerintah. Impiannya
terwujud ketika terdengar kabar berdirinya sekolah HIS Partikelir di Kota
Padang untuk rakyat kecil. Dengan mudah Natsir diterima di sekolah yang bernama
HIS Adabiyah. Hanya beberapa bulan sekolah di HIS Adabiyah Padang, terdengar
kabar lagi akan berdirinya sekolah HIS Pemerintah di Kota Solok. Natsir pun
menyambut dengan mendaftarkan dirinya di sana. Karena ia cukup pintar,
diterimalah ia. Hanya berselang 3 tahun saja bersekolah ia diajak sang kakak
kembali pindah ke Padang. Di Padang ia melanjutkan sekolah HIS milik
pemerintah.
Karena
hasil nilai yang bagus selama sekolah di HIS ia mendapat kesempatan melanjutkan
sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu MULO (setingkat SMP). Selama di
MULO inilah Natsir mulai bergabung dengan organisasi Sarekat Kepemudaan Islam
atau dikenal dengan JIB (Jong Islamiten Bond). Natsir aktif di bagian
kepanduan.
Cita-cita
untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi tidak hanya sampai pada tingkat
MULO. Ia bertekad ingin melanjutkan sekolah sampai tingkat AMS. Saat itu,
sekolah AMS belum ada di Padang, sehingga ia berkeinginan untuk pergi ke
Bandung yang menyediakan pendidikan sampai tingkat AMS. Memang sekolah di AMS
cukup mahal. Hanya bisa diisi oleh anak para pegawai pemerintah, atau orang-orang
Belanda. Namun, karena nilai yang baik saat di MULO ia pun mampu melanjutkan ke
AMS dengan beasiswa beserta uang saku dari pemerintah.
Selama
di Bandung, takdir Allah mempertemukan Natsir dengan Ahmad Hasan (Seorang tokoh dan ideolog Ormas
PERSIS). Bersama Ahmad Hasan itulah, Natsir banyak berguru soal keislaman
secara itensif. Saya istilahkan, Ahmad Hasan itu guru ngajinya Natsir. Kali ini
Islam yang ia pelajari bukan sekedar belajar formalitas seperti saat masih
mengikuti program Sekolah Diniyah Sore hari ketika masih bersekolah di HIS dan
MULO, namun belajar Islam secara pastisipatif dalam memahami realitas jaman.
Selama
sekolah di AMS, Natsir akhirnya sadar bahwa pendidikan yang ia geluti selama
ini, baik untuk dirinya maupun teman-temannya orang pribumi, membuat mereka
jauh dari agama yang dianutnya, yaitu Islam. Politik Etis yang lahir di akhir
abad 19 oleh Pemerintah Kolonial melahirkan sekolah-sekolah yang bertujuan
untuk mendidik para pribumi kaya menjadi tenaga ahli yang jauh dari nilai-nilai
Agama Islam yang dianut mayoritas masyarakat. Tidak hanya itu, dalam proses
belajar mengajar pun Islam banyak direndahkan. Bahkan, para siswa AMS lebih
tertarik bergaya dan berbudaya kebarat-baratan dari pada budaya tanah airnya.
Terlihat dari penampilan dan berbahasa. Seolah, belajar dengan bahasa belanda
lebih intelek dari pada menggunakan bahasa melayu (bahasa Indonesia saat itu).
Proses sekulerisasi dalam pendidikan kolonial tersebut sangat kental, sehingga
membuat kesadaran Natsir untuk giat menjalankan aktivitas dakwah di sekolahnya.
Bergabungnya
di Jong Islamiten Bond (JIB) cukup membantu Natsir dalam aktivitas Dakwahnya.
Sebab, tujuan dilahirkannya JIB adalah untuk memfasilitasi belajar Islam para
pelajar baik dari tingkat MULO, AMS, hingga Perguruan Tinggi. Di JIB ia bertemu
dengan beberapa kawan seperjuangan seperti Kasman, Moh. Roem, Prawoto, yang
kelak menjadi kawan seperjuangannya di Partai Masyumi yang juga para tokoh bangsa
di era kemerdekaan hingga tahun 60an. Tidak hanya itu, di JIB ia juga banyak
berguru dengan Agus Salim, yang saat itu menjadi pimpinan Partai Sarikat Islam.
Natsir menjadi Ketua JIB Bandung tahun 1928- 1932.
Selama
sekolah di AMS Bandung, aktivitas dakwah Natsir tidak hanya di organisasi JIB
saja, namun juga menjadi guru agama. Karena pernah mendengar dan tertarik
dengan ceramah-ceramahnya Natsir, beberapa orang murid dari sebuah sekolah MULO
Bandung tertarik mengajak Natisr untuk mengajarkan Agama Islam di sekolah
tersebut. Setiap hari minggu Natsir meluangkan waktunya untuk memberikan
pelajaran Agama Islam di kelas. Tidak hanya MULO Bandung, sekolah HIK
(Hollandsch Inlandsche Kweekschool atau Sekolah Guru Bumiputera) juga meminta
Natsir mengisi kelas pelajaran Agama Islam meski hanya sebagai pelajaran
tambahan. Yang menarik ketika mengajar di sekolah HIK adalah, tidak hanya
mengajarkan murid-murid saja, tetapi para guru pun ikutan nimbrung mengikuti
kelas yang digurui Natsir.
Semangat
Natsir menjadi guru di sekolah-sekolah tersebut adalah rasa tanggung jawabnya
untuk bisa menanamkan pemahaman Islam kepada anak-anak pribumi terdidik. Dengan
adanya kelas pelajaran Agam Islam, menjadi ruang penyaluran Natsir atas
keresahannya yang terjadi di dunia intelektual muda masyarakat Hindia Belanda.
Terutama bahaya atas maraknya pemahaman sekulerisme yang merebak pada kelompok
intelektual pribumi saat itu. Bagi Natsir dan para kaum Muslim hanya Islam-lah
yang bisa membawa persatuan dan mewujudkan kemerdekaan. Tidak dengan pemahaman
nasionalisme sekuler atau dikenal dengan pergerakan “netral agama” saat itu
yang justru membawa semangat chauvisme
dan menjauhkan akidah masyarakat dari akidah Islam.
Selama
masa sekolah AMS, Natsir juga banyak membaca buku-buku para orientalis.
Terutama orientalis yang cukup tersohor seperti Snouck Hurgronje. Di situlah
Natsir dan kawan-kawannya berkesimpulan bahwa pendidikan yang diberikan oleh
Pemerintah Kolonial adalah cara untuk menjauhkan Umat Islam dari agamanya,
menerima paham sekulerisme dan liberalisme, juga berbudaya mengikuti eropa.
Dengan begitu, cengkraman penjajahan tidak hanya secara fisik semata namun juga
pemikiran dan sikap hidup. Jika pemikiran dan sikap hidup sudah terjajah,
semakin berkuasalah si penguasa. Hanya dengan Islam -berakidah, bertingkah
laku, bermasyarakat, hingga berpolitik- penjajahan ini dapat dilawan.
Beruntunglah
Natsir juga pandai menulis. Bersama kawan-kawannya di JIB, mereka membentuk
Komite Pembela Islam sebagai wadah menjawab tudingan-tudingan para orientalis
dan kaum nasionalis sekuler yang sering memojokan Islam dan Nabi Muhammad Saw.
Komite Pembela Islam melahirkan majalah yang diberinama Majalah Pembela Islam.
Biasanya, setiap pulang sekolah Natsir dan kawan-kawannya berkumpul untuk
mendiskusikan dan membahas apa yang akan dimuat di Majalah tersebut. Tak lepas,
Ahmad Hasan turut ikut membimbing mereka bagaimana menyusun hujah yang tepat
ketika membalas tudingan.
Salah
satu karya tulis Natsir yang cukup dikenal saat masih bersekolah di AMS adalah
buku yang berjudul Komt tot het gebed.
Sebuah buku yang dituliskan untuk pegangan para murid saat mengajar kelas
pendidikan Agama Islam di MULO Bandung dan HIK. Buku itu diterjemahkan ke
Bahasa Indonesia dengan judul Marilah
Shalat. Buku tersebut berisi tentang landasan filosofi bagaimana seharusnya
manusia beriman kemudian diakhir menjelaskan cara shalat. Buku ini mendapat
pujian dari Soekarno karena melihat kecerdasan Natsir, Sehingga Soekarno memuji
Natsir sebagai Mubalig yang bermutu.
Ditengah
kesibukannya menjalakan aktivitas dakwah; berorganisasi, mengajar dan menulis, Natsir
berhasil menamatkan pendidikan AMS dengan nilai yang cukup baik. Tak sungkan
Sang Rektor AMS memanggilnya dan menjelaskan bahwa Natsir berhak mendapatkan
beasiswa kuliah ke Kampus Hukum di Jakarta agar mendapat gelar Mr. atau Kampus Ekonomi di negeri
Belanda. Impiannya di masa kecil hampir terwujud.
“Tetapi
sejak terlibat dalam kegiatan untuk membela Islam dan umatnya, keinginan untuk
mencantumkan gelar Mr. di depan
namanya itu menjadi pudar. Juga kehendak untuk menyenangkan hati kedua orang
tuanya dengan mengirimkan belanja bulanan dari gaji kalau dia bekerja setelah tamat
AMS, tidak lagi menarik untuk dipikirkan. Timbul kesadaran pada dirinya bahwa
ada kewajiban yang lebih penting dari pada menyenangkan orang tuanya saja. Ada
kewajiban yang lebih mulia yang menunggu, yaitu kewajiban melakukan syiar
agama.” Tulis Ajip Rosjidi dengan menarik di buku Biografi Natsir yang saya
baca.
Itulah
yang akhirnya menjadi keputusan Natsir. Ia sadar, bahwa kewajiban melakukan syiar begitu
penting untuk membangun kualitas umat. Bentuk aktivitas syiar yang dicita-citakan Natsir adalah melahirkan
lembaga pendidikan Islam modern dengan menggabungkan ilmu pengetahuan yang di
ajarkan di sekolah-sekolah pemerintah (kolonial) dengan agama Islam.
Untuk
mewujudkan keputusan tersebut awalnya Natsir sempat bimbang. Ia takut
mengecewakan orang tuanya. Ada rasa ingin membahagiakan orang tua, namun juga
ada beban tanggung jawab terhadap kesadaran berdakwahnya. Beruntungnya, ketika ia
menjelaskan ke orang tuanya melalui surat, sang orang tua mau menerima pilihan
hidup Natsir. Bertanda bahwa orang tuanya pun merestui. Itulah yang jadi
menambah semangat Natsir.
Setahun
setelah lulus AMS, ia mengikuti kursus keguruan untuk menambah kapasitas
pengetahuannya soal pendidikan. Setahun setelah lulus kursus keguruan,
ia mendirikan sekolah yang dinamakan Pendis (Pendidikan Islam). Ia mendirikan
sekolah tersebut ketika umurnya masih 24 tahun. Inilah sekolah Islam modern
yang dicita-citakan Natsir. Ada misi idealis dibalik lahirnya sekolah tersebut.
Sekolah
yang didirkan Natsir juga tidak mudah. Ia harus mengalami jatuh bangun. Biaya
hidupnya juga semakin berkurang. Penghasilan dengan mengajar lebih kecil dari
pada saat ia mendapat uang saku dari pemerintah kolonial ketika masih sekolah.
Biaya sewa gedung untuk ruang kelas mengajar pun juga penuh dengan masalah. Namanya
saja mental pahlawan, mental pejuang, menghadapi masalah adalah caranya untuk
menjadi manusia terhormat di negeri ini.
Dengan
kesungguhannya, Natsir pun berhasil melahirkan lulusan-lulusan yang kualitasnya
tak kalah dengan lulusan sekolah Pemerintah. Sebagian besar lulusannya memilih
membangun sekolah ke daerah lain dengan sistem pendidikan yang sama seperti
Pendis. Mereka -para lulusan tersebut- ingin melanjutkan cita-cita Natsir ke
daerah lain.
Berkaca pada Natsir, ia berhasil memformulasikan dirinya
terhadap visi hidupnya. Natsir berhasil menemukan kenyataan bahwa ada yang
lebih dibutuhkan dari pada mengikuti keinginannya. Dari situ, memilih menjadi
guru adalah jawaban atas kebutuhan umat Islam akan arti penting pendidikan
modern yang terintegrasi dengan nilai keislaman. Dengan kata lain, passion Natsir menjadi guru adalah
kebutuhan dirinya untuk mendapatkan Ridho Allah sebagai amal shalih.
***
Tak disangka, pilihan hidup Natsir menjadikan ia pemimpin
umat yang disegani, baik di dalam maupun luar negeri. Keintelektualannya begitu
menggugah. Jasanya bagi negeri ini begitu besar. Ia terkenal dengan gagasan
Mosi Integral, sebuah gagasan yang berhasil menjaga kutuhan NKRI. Ia juga
pempimpin Partai Masyumi terlama, partai terbesar dan mewakili aspirasi umat
Islam. Beliaulah salah satu pejuang yang gigih menerapkan nilai-nilai Islam
dalam kehidupan bernegara dengan cara yang santun dan konstitusi. Kalau di
kalangan Nasionalis Sekuler mempunyai pemimpin bernama Soekarno, maka di
kalangan Umat Islam ada Mohammad Natsir. Bahkan, Natsir adalah satu-satunya
orang Indonesia yang membuat Raja Arab Saudi sampai berdiri (bentuk
penghormatan) ketika ia masuk sebuah ruangan acara pertemuan.
Saya rasa, aktivis dakwah yang tidak mengenal Natsir bisa dianggap
keterlaluan. Bahkan, kawan saya yang juga senior KAMMI mengatakan, belum
disebut aktivis gerakan kalau belum baca Capita Selecta Moh. Natsir. Semoga kita bisa belajar banyak dari Natsir.
Kapan-kapan nulis lagi tentang Natsir.


0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.