Jumat, 10 Oktober 2014

Berkaca Pada Pilihan Jalan Hidup Mohammad Natsir

Ilustrasi: Jalur pendakian Gunung Lawu 2010
Beberapa hari lalu, Guru ngaji di kelompok pengajian (halaqoh) saya memberikan petuah menarik.  Ia menjelaskan bahwa ada yang salah ketika kita berusaha mengutamakan pencarian bakat atau passion, untuk menentukan jalan hidup yang ingin kita cita-citakan. Kita sering terjebak ke dalam pemahaman bahwa kita harus punya passion atau bakat yang bisa membuat hidup menjadi sukses. Dalam Islam, jalan hidup seseorang yang utama bukan terletak pada keinginannya mau jadi apa, atau passion-nya apa, namun yang utama ada terletak pada usaha kita mencari ridho Allah.

Guru ngaji saya mencoba menjabarkan, hakekat hidup adalah beribadah pada Allah. Usaha mencari ridho Allah dengan perbanyak ibadah akan melahirkan usaha amal-amal shalih dalam aktivitas keduniaan. Usaha untuk mengerjakan amal shalih itulah yang nantikan akan memberikan jawaban mau apa kita. Mau jadi apa kita. Dan apa yang kita butuhkan untuk menjalankan kehidupan. Otomatis passion akan mengikuti kebutuhan.

Dari pembahasan ini tiba-tiba saya teringat kisah mengharukan dari sosok tokoh bangsa yang sangat saya kagumi, yaitu Mohammad Natsir. Dalam kisah perjalanan hidupnya, mantan Perdana Mentri Republik Indonesia tahun 1950 ini pernah mengalam pilihan hidup yang sulit ketika masa mudanya. Kalau bahasa sekarang mengalami kegalauan. Kisah saat Natsir masih muda inilah yang menarik untuk saya ceritakan.

Jaman ketika Natsir hidup dengan jaman kita sekarang memang beda. Perbedaan jaman tidak membedakan cara manusia ketika berhadapan dengan pilihan jalan hidupnya. Apa yang disampaikan guru ngaji saya ada kesamaan pelajaran dari apa yang telah dilakukan Natsir. Bagi sebagian orang, apa yang dipilih Natsir ketika muda dulu adalah kebodohan. Sebab, ketika ia ditawari beasiswa kuliah yang selama ini dicarinya dan dicari juga oleh banyak orang justru ia tolak. Demi mendapatkan ridho Allah dan ingin terus mengisi hidupnya dengan amal-amal shalih, ia justru lebih memilih menjadi guru dan mendirikan sekolah Islam. Begitu banyak alasan mengapa ia memilih pilhan tersebut. Ada kesadaran dalam dirinya bahwa umat lebih membutuhkan pilihan jalan hidupnya dari pada mengikuti keinginan.

Ketika itu tahun 1930 umur Natsir menginjak 22 tahun. Sebagai seorang siswa AMS (Algemene Middelbare School - setingkat SMA) yang menjelang kelulusan, ia harus menentukan langkah hidupnya ke depan.

Ada dua jalan hidup yang mesti dipilihnya. Pertama, adalah menjadi pegawai pemerintahan (Kolonial Belanda). Dengan menjadi pegawa pemerintah Natsir bisa mendapatkan gaji yang lumayan besar. Bagi lulusan AMS, gaji sebesar kira-kira F 130 bisa melebih kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan kelebihan uang tersebut dapat dikirim ke dua orang tuanya. Alangkah senang kedua orang tuanya bisa merasakan hasil jerih payah sang anak yang telah berkorban bersekolah hingga ke Kota Bandung.

Kedua, adalah melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Beruntung, Natsir adalah anak yang pintar di sekolahnya. Tebukti, setelah menyelesaikan ujian akhir, ia berhasil mendapatkan nilai terbaik. Tidak hanya bisa diterima sebagai pegawai pemerintah, ia pun ditawari rektor sekolahnya untuk mengambil beasiswa kuliah Fakultas Hukum di Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Negeri Belanda. Pilihan inilah yang menjadi cita-cita Natsir sejak awal mengapa ingin melanjutkan sekolah ke tingkat AMS. Impian untuk mendapat gelar Mr (gelar Sarjana Hukum saat itu) adalah cita-citanya untuk menujukkan rasa bangga kepada kedua orang tua dan warga kampung tempat ia lahir.

Anehnya, muncul pilihan ketiga yang membuat selera untuk mengambil pilihan pertama dan kedua hilang. Inilah yang menjadi dilema Natsir.

Dalam sebuah surat kepada istri dan anak-anaknya pada tahun 1958 untuk mengenang masa lalunya, Natsir menuliskan, “Aneh! Semua itu tidak menerbitkan selera Aba sama sekali. Aba merasa ada satu lapangan yang lebih penting dari itu semua. Aba ingin mencoba menempuh jalan lain. Aba ingin berkhidmat kepada Islam dengan langsung. Belum terang benar bagi Aba pada permulaannya, apa yang harus dikerjakan sesungguhnya. Tapi dengan tidak banyak pikir-pikir Aba putuskan tidak akan melanjutkan pelajaran ke Fakultas mana pun juga. Aba hendak memperdalam pengetahuan tentang Islam lebih dahulu. Sudah itu bagaimana nanti.”

Mohammad Natsir
Lebih memilih berkhidmad kepada Islam menjadi pilihan terbaiknya meski itu terasa berat. Pilhan ketiga itu tak lepas dari cerita panjang selama menempuh pendidikan AMS di Bandung.

Saat kecil, Natsir memiliki impian bisa belajar di HIS (setingkat SD) Pemerintah. Impiannya terwujud ketika terdengar kabar berdirinya sekolah HIS Partikelir di Kota Padang untuk rakyat kecil. Dengan mudah Natsir diterima di sekolah yang bernama HIS Adabiyah. Hanya beberapa bulan sekolah di HIS Adabiyah Padang, terdengar kabar lagi akan berdirinya sekolah HIS Pemerintah di Kota Solok. Natsir pun menyambut dengan mendaftarkan dirinya di sana. Karena ia cukup pintar, diterimalah ia. Hanya berselang 3 tahun saja bersekolah ia diajak sang kakak kembali pindah ke Padang. Di Padang ia melanjutkan sekolah HIS milik pemerintah.

Karena hasil nilai yang bagus selama sekolah di HIS ia mendapat kesempatan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu MULO (setingkat SMP). Selama di MULO inilah Natsir mulai bergabung dengan organisasi Sarekat Kepemudaan Islam atau dikenal dengan JIB (Jong Islamiten Bond). Natsir aktif di bagian kepanduan.

Cita-cita untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi tidak hanya sampai pada tingkat MULO. Ia bertekad ingin melanjutkan sekolah sampai tingkat AMS. Saat itu, sekolah AMS belum ada di Padang, sehingga ia berkeinginan untuk pergi ke Bandung yang menyediakan pendidikan sampai tingkat AMS. Memang sekolah di AMS cukup mahal. Hanya bisa diisi oleh anak para pegawai pemerintah, atau orang-orang Belanda. Namun, karena nilai yang baik saat di MULO ia pun mampu melanjutkan ke AMS dengan beasiswa beserta uang saku dari pemerintah.

Selama di Bandung, takdir Allah mempertemukan Natsir dengan  Ahmad Hasan (Seorang tokoh dan ideolog Ormas PERSIS). Bersama Ahmad Hasan itulah, Natsir banyak berguru soal keislaman secara itensif. Saya istilahkan, Ahmad Hasan itu guru ngajinya Natsir. Kali ini Islam yang ia pelajari bukan sekedar belajar formalitas seperti saat masih mengikuti program Sekolah Diniyah Sore hari ketika masih bersekolah di HIS dan MULO, namun belajar Islam secara pastisipatif dalam memahami realitas jaman.

Selama sekolah di AMS, Natsir akhirnya sadar bahwa pendidikan yang ia geluti selama ini, baik untuk dirinya maupun teman-temannya orang pribumi, membuat mereka jauh dari agama yang dianutnya, yaitu Islam. Politik Etis yang lahir di akhir abad 19 oleh Pemerintah Kolonial melahirkan sekolah-sekolah yang bertujuan untuk mendidik para pribumi kaya menjadi tenaga ahli yang jauh dari nilai-nilai Agama Islam yang dianut mayoritas masyarakat. Tidak hanya itu, dalam proses belajar mengajar pun Islam banyak direndahkan. Bahkan, para siswa AMS lebih tertarik bergaya dan berbudaya kebarat-baratan dari pada budaya tanah airnya. Terlihat dari penampilan dan berbahasa. Seolah, belajar dengan bahasa belanda lebih intelek dari pada menggunakan bahasa melayu (bahasa Indonesia saat itu). Proses sekulerisasi dalam pendidikan kolonial tersebut sangat kental, sehingga membuat kesadaran Natsir untuk giat menjalankan aktivitas dakwah di sekolahnya.

Bergabungnya di Jong Islamiten Bond (JIB) cukup membantu Natsir dalam aktivitas Dakwahnya. Sebab, tujuan dilahirkannya JIB adalah untuk memfasilitasi belajar Islam para pelajar baik dari tingkat MULO, AMS, hingga Perguruan Tinggi. Di JIB ia bertemu dengan beberapa kawan seperjuangan seperti Kasman, Moh. Roem, Prawoto, yang kelak menjadi kawan seperjuangannya di Partai Masyumi yang juga para tokoh bangsa di era kemerdekaan hingga tahun 60an. Tidak hanya itu, di JIB ia juga banyak berguru dengan Agus Salim, yang saat itu menjadi pimpinan Partai Sarikat Islam. Natsir menjadi Ketua JIB Bandung tahun 1928- 1932.

Selama sekolah di AMS Bandung, aktivitas dakwah Natsir tidak hanya di organisasi JIB saja, namun juga menjadi guru agama. Karena pernah mendengar dan tertarik dengan ceramah-ceramahnya Natsir, beberapa orang murid dari sebuah sekolah MULO Bandung tertarik mengajak Natisr untuk mengajarkan Agama Islam di sekolah tersebut. Setiap hari minggu Natsir meluangkan waktunya untuk memberikan pelajaran Agama Islam di kelas. Tidak hanya MULO Bandung, sekolah HIK (Hollandsch Inlandsche Kweekschool atau Sekolah Guru Bumiputera) juga meminta Natsir mengisi kelas pelajaran Agama Islam meski hanya sebagai pelajaran tambahan. Yang menarik ketika mengajar di sekolah HIK adalah, tidak hanya mengajarkan murid-murid saja, tetapi para guru pun ikutan nimbrung mengikuti kelas yang digurui Natsir.

Semangat Natsir menjadi guru di sekolah-sekolah tersebut adalah rasa tanggung jawabnya untuk bisa menanamkan pemahaman Islam kepada anak-anak pribumi terdidik. Dengan adanya kelas pelajaran Agam Islam, menjadi ruang penyaluran Natsir atas keresahannya yang terjadi di dunia intelektual muda masyarakat Hindia Belanda. Terutama bahaya atas maraknya pemahaman sekulerisme yang merebak pada kelompok intelektual pribumi saat itu. Bagi Natsir dan para kaum Muslim hanya Islam-lah yang bisa membawa persatuan dan mewujudkan kemerdekaan. Tidak dengan pemahaman nasionalisme sekuler atau dikenal dengan pergerakan “netral agama” saat itu yang justru membawa semangat chauvisme dan menjauhkan akidah masyarakat dari akidah Islam.

Selama masa sekolah AMS, Natsir juga banyak membaca buku-buku para orientalis. Terutama orientalis yang cukup tersohor seperti Snouck Hurgronje. Di situlah Natsir dan kawan-kawannya berkesimpulan bahwa pendidikan yang diberikan oleh Pemerintah Kolonial adalah cara untuk menjauhkan Umat Islam dari agamanya, menerima paham sekulerisme dan liberalisme, juga berbudaya mengikuti eropa. Dengan begitu, cengkraman penjajahan tidak hanya secara fisik semata namun juga pemikiran dan sikap hidup. Jika pemikiran dan sikap hidup sudah terjajah, semakin berkuasalah si penguasa. Hanya dengan Islam -berakidah, bertingkah laku, bermasyarakat, hingga berpolitik- penjajahan ini dapat dilawan.

Beruntunglah Natsir juga pandai menulis. Bersama kawan-kawannya di JIB, mereka membentuk Komite Pembela Islam sebagai wadah menjawab tudingan-tudingan para orientalis dan kaum nasionalis sekuler yang sering memojokan Islam dan Nabi Muhammad Saw. Komite Pembela Islam melahirkan majalah yang diberinama Majalah Pembela Islam. Biasanya, setiap pulang sekolah Natsir dan kawan-kawannya berkumpul untuk mendiskusikan dan membahas apa yang akan dimuat di Majalah tersebut. Tak lepas, Ahmad Hasan turut ikut membimbing mereka bagaimana menyusun hujah yang tepat ketika membalas tudingan.

Salah satu karya tulis Natsir yang cukup dikenal saat masih bersekolah di AMS adalah buku yang berjudul Komt tot het gebed. Sebuah buku yang dituliskan untuk pegangan para murid saat mengajar kelas pendidikan Agama Islam di MULO Bandung dan HIK. Buku itu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul Marilah Shalat. Buku tersebut berisi tentang landasan filosofi bagaimana seharusnya manusia beriman kemudian diakhir menjelaskan cara shalat. Buku ini mendapat pujian dari Soekarno karena melihat kecerdasan Natsir, Sehingga Soekarno memuji Natsir sebagai Mubalig yang bermutu.

Ditengah kesibukannya menjalakan aktivitas dakwah; berorganisasi, mengajar dan menulis, Natsir berhasil menamatkan pendidikan AMS dengan nilai yang cukup baik. Tak sungkan Sang Rektor AMS memanggilnya dan menjelaskan bahwa Natsir berhak mendapatkan beasiswa kuliah ke Kampus Hukum di Jakarta agar mendapat gelar Mr. atau Kampus Ekonomi di negeri Belanda. Impiannya di masa kecil hampir terwujud.

“Tetapi sejak terlibat dalam kegiatan untuk membela Islam dan umatnya, keinginan untuk mencantumkan gelar Mr. di depan namanya itu menjadi pudar. Juga kehendak untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya dengan mengirimkan belanja bulanan dari gaji kalau dia bekerja setelah tamat AMS, tidak lagi menarik untuk dipikirkan. Timbul kesadaran pada dirinya bahwa ada kewajiban yang lebih penting dari pada menyenangkan orang tuanya saja. Ada kewajiban yang lebih mulia yang menunggu, yaitu kewajiban melakukan syiar agama.” Tulis Ajip Rosjidi dengan menarik di buku Biografi Natsir yang saya baca.

Itulah yang akhirnya menjadi keputusan Natsir. Ia sadar, bahwa kewajiban melakukan syiar begitu penting untuk membangun kualitas umat. Bentuk aktivitas syiar yang dicita-citakan Natsir adalah melahirkan lembaga pendidikan Islam modern dengan menggabungkan ilmu pengetahuan yang di ajarkan di sekolah-sekolah pemerintah (kolonial) dengan agama Islam.

Untuk mewujudkan keputusan tersebut awalnya Natsir sempat bimbang. Ia takut mengecewakan orang tuanya. Ada rasa ingin membahagiakan orang tua, namun juga ada beban tanggung jawab terhadap kesadaran berdakwahnya. Beruntungnya, ketika ia menjelaskan ke orang tuanya melalui surat, sang orang tua mau menerima pilihan hidup Natsir. Bertanda bahwa orang tuanya pun merestui. Itulah yang jadi menambah semangat Natsir.

Setahun setelah lulus AMS, ia mengikuti kursus keguruan untuk menambah kapasitas pengetahuannya soal pendidikan. Setahun setelah lulus kursus keguruan, ia mendirikan sekolah yang dinamakan Pendis (Pendidikan Islam). Ia mendirikan sekolah tersebut ketika umurnya masih 24 tahun. Inilah sekolah Islam modern yang dicita-citakan Natsir. Ada misi idealis dibalik lahirnya sekolah tersebut.

Sekolah yang didirkan Natsir juga tidak mudah. Ia harus mengalami jatuh bangun. Biaya hidupnya juga semakin berkurang. Penghasilan dengan mengajar lebih kecil dari pada saat ia mendapat uang saku dari pemerintah kolonial ketika masih sekolah. Biaya sewa gedung untuk ruang kelas mengajar pun juga penuh dengan masalah. Namanya saja mental pahlawan, mental pejuang, menghadapi masalah adalah caranya untuk menjadi manusia terhormat di negeri ini.

Dengan kesungguhannya, Natsir pun berhasil melahirkan lulusan-lulusan yang kualitasnya tak kalah dengan lulusan sekolah Pemerintah. Sebagian besar lulusannya memilih membangun sekolah ke daerah lain dengan sistem pendidikan yang sama seperti Pendis. Mereka -para lulusan tersebut- ingin melanjutkan cita-cita Natsir ke daerah lain.

Berkaca pada Natsir, ia berhasil memformulasikan dirinya terhadap visi hidupnya. Natsir berhasil menemukan kenyataan bahwa ada yang lebih dibutuhkan dari pada mengikuti keinginannya. Dari situ, memilih menjadi guru adalah jawaban atas kebutuhan umat Islam akan arti penting pendidikan modern yang terintegrasi dengan nilai keislaman. Dengan kata lain, passion Natsir menjadi guru adalah kebutuhan dirinya untuk mendapatkan Ridho Allah sebagai amal shalih.

***
Tak disangka, pilihan hidup Natsir menjadikan ia pemimpin umat yang disegani, baik di dalam maupun luar negeri. Keintelektualannya begitu menggugah. Jasanya bagi negeri ini begitu besar. Ia terkenal dengan gagasan Mosi Integral, sebuah gagasan yang berhasil menjaga kutuhan NKRI. Ia juga pempimpin Partai Masyumi terlama, partai terbesar dan mewakili aspirasi umat Islam. Beliaulah salah satu pejuang yang gigih menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bernegara dengan cara yang santun dan konstitusi. Kalau di kalangan Nasionalis Sekuler mempunyai pemimpin bernama Soekarno, maka di kalangan Umat Islam ada Mohammad Natsir. Bahkan, Natsir adalah satu-satunya orang Indonesia yang membuat Raja Arab Saudi sampai berdiri (bentuk penghormatan) ketika ia masuk sebuah ruangan acara pertemuan.

Saya rasa, aktivis dakwah yang tidak mengenal Natsir bisa dianggap keterlaluan. Bahkan, kawan saya yang juga senior KAMMI mengatakan, belum disebut aktivis gerakan kalau belum baca Capita Selecta Moh. Natsir.  Semoga kita bisa belajar banyak dari Natsir. Kapan-kapan nulis lagi tentang Natsir.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger