Ada yang nampak beda saat pulang lebaran tahun ini. Pertama,
saya kaget melihat penampilan adik saya ketika menjemput saya di bandara. Penampilan yang beda itu terlihat dari cara berpakaiannya.
Untuk pertama kali di bandara itu saya melihat adik saya menggunakan jilbab
yang sudah lebar. Karena, selamai ini adik saya hari-harinya menggunakan jilbab
kecil dan bercelana panjang. Itu pun juga berjilbab karena paksaan almarhum
bapak saya.
Sebagai seorang kakak yang sudah lama terbina keislamannya,
saya tak pernah menuntut adik saya berislam seperti yang saya inginkan.
Termasuk pergaulannya, harus begini atau begitu. Paling tidak saya hanya bisa
mengatakan contoh (dalam bahasa canda), “begini atau begitu loh yang benar.”
Bukan bermaksud tidak ingin mendakwahi keluarga, namun karakter saya atapun
kewibawaan saya yang kurang, merasa
mendidik seorang adik itu cukup rumit. Membuat adik tertekan itu yang saya
takutkan. Namun, berdoa tak pernah saya lewatkan. Berdoa meminta tambahan
nikmat iman dan hidayah pada keluarga selalu dipanjatkan. Alhamdulillah, tampak doa
saya dikabulkan Allah Swt dengan perubahannya yang bertahap.
Kedua, juga perubahan pada saudara sepupu saya yang berada
di Berabai, kota kelahiran bapak saya. Sepupu saya tersebut saya kenal dengan
pakaian yang selalu seksi. Setiap datang ke rumah, baju dan celana ketat lekat
dengan penampilannya. Foto-foto facebooknya selalu penuh dengan kenarsisan
moleknya. Ketika saya berkunjung ke kota tersebut (setelah 13 tahun terakhir
kali ke Berabai), ada perubahan drastis. Ia sudah menutup auratnya rapat-rapat.
Jilbabnya tidak seperti aktivis tarbiyah, tapi lebih ke aktivis salafy. Sangat
lebar dan panjang hingga pinggang. Bahkan, sudah menikah dan punya anak dengan
umur yang masih sangat muda. Yang biasanya kami cair, kini komunikasi kami agak
mulai berjarak. Bener-bener suatu yang belum pernah saya duga sebelumnya.
Ketiga, saudara jauh yang tinggal di Samarinda (lebih
tepatnya sepupu bapak saya) juga berpenampilan berbeda. Saya biasa memanggilnya
pakde. Pada lebaran tahun kemarin penampilannya masih biasa saja. Setiap
lebaran selalu berkunjung ke rumah saya. Nah, pada lebaran tahun ini, pakde
saya bener-bener layaknya ustad salafy. Berjanggut panjang dengan pakaian yang
bercelana cingkrang (celana di atas mata kaki). Tidak hanya penampilan, obrolan
di rumah pun penuh dengan dakwah seperti halnya orang salafy, kata-kata bid’ah
tak pernah lepas. Ia mengajarkan kami agar tidak mengikuti tradisi-tradisi yang
penuh dengan bid’ah dan kurafat. Maklum, keluarga banjar begitu dekat dengan
tradisi NU. Begitu banyak pesan-pesan materi tauhid (yang sebenarnya sudah
sering saya dapatkan dari ustad-ustad salafy) ketika mengobrol secara empat
mata. Saya dijadikan target dakwahnya.
Padahal pakde saya itu, dengar-dengar nguping dari obrolan
orang tua, penuh dengan masalah kehidupan; konflik keluarga, kawin-cerai, dan
lainnya. Sama hal dengan berita-berita dari keluarga yang ada di Berabai,
sering dengar masalah-masalah soal moralitas. Serasa, hanya keluarga saya saja
yang jarang ada masalah serius. Alhamdulillah, Allah Swt menunjukkan jalan
hidayahnya buat mereka.
Itu baru dari keluarga banjar, beberapa keluarga dari
kelompok jawa (Saya menyebutnya keluarga dari pihak Ibu, karena Ibu dari Jawa
Timur) juga beberapa menemukan ada yang berbeda. Yang dulunya tidak terlihat
sosok islaminya, sekarang bener-benar menampilkan sebegai sosok yang islami.
Seperti yang saya tulis pada judul, hidayah itu suatu yang
tidak akan pernah kita duga. Hidayah memang benar-benar hak preogratif Allah.
Perubahan pada adik saya benar-benar suatu yang tidak pernah saya sangka.
Sebagai kakak, memang sebenarnya saya khawatir soal pergaulan dan moralitasnya.
Namun, jarak dan umur, membuat kontrol dan kedekatan menjadi penghalang. Dan
doa pun menjadi penolong, Insya Allah.
Perubahan itu juga tidak hanya pada keluarga, namun juga
teman-teman lama di masa SMA. Entah mengapa, grup-grup Whatsapp (sebelumnya
saya tidak memakai BB jadi tidak punya BBM dan tidak tertarik memakia BBM
sampai saat ini) mempertemukan dengan teman-teman lama di SMA. Saya saksikan
beberapa kawan tersebut juga mengalami perubahan dilihat dari pembicaraan dan
tampilan foto. Seperti teman-teman perempuan yang dulunya tidak berjilbab dan
tidak ikut rohis, kini berjilbab dengan rapat.
Sayangnya, juga ada kawan yang dulu sama-sama berjuang di
Rohis, kuat dalam bergamanya, kini tak lagi seperti dulu. Kalau kata para
aktivis masjid, orang-orang yang berguguran di jalan dakwah. Kalau terminologi
“berguguran di jalan dakwah” dicapkan kepada orang-orang yang kecewa atau
keluar dari kelompok sebuah jamaah, tidak saya permasalahkan ketika ia masih
komitmen dengan keislamannya, bahkan lebih sholeh. Namun, jika terminologi itu
menjadi berguguran di Jalan Islam ini yang disayangkan.
"Barangsiapa yang
diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa
yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang
dapat memberi petunjuk kepadanya.." Al-Kahfi : 17
Kembali lagi, hidayah adalah milik Allah Swt. Kita tak punya
kebebasan mengatur takdir hidayah itu. Ingat kisah meninggalnya Abu Thalib,
paman Nabi Saw? Meski Abu Thalib termasuk paman yang banyak melindungi
Rasulullah Saw namun di kematiannya, Abu Thalib enggan mengucapkan syahadat
meski sudah dibimbing olek keponakanannya, Rasulullah Saw. Dari kejadian tersebut
Allah Swt pun menurunkan ayat ini :
"Sesungguhnya
kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki". Al Qashash :
56
Pertanyaannya, jika takdir hidayah sudah ditentukan oleh
Allah Swt, apakah manusia bisa merubahnya atau hanya pasrah dengan yang sidah
ditentukan oleh Allah. Maka, beberapa ayat yang saya tunjukkan sebelumnya
seolah adanya determinisme. Yang menjadi bahaya dari sikap ini adalah perbuatan
pesimis manusia.
Al-Qur’an pun tidak selesai di situ, di beberapa ayat
lainnya :
“Allah tidak
sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya
diri mereka sendiri.” Al-Ankabut 40
“Katakanlah: Kebenaran
itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia
beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir.” al-Kahfi
ayat 29
Artinya, manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan jalan
hidupnya. Sehingga ayat ini menjadi kabar bahagia buat kita, bahwa kita masih
mempunyai peran (kebebasan) untuk mennetukan hidup kita.
Dalam kebebasan ada kausalitas. Nah ini yang ingin saya
perbincangkan di lanjutan seri tulisan saya yang berjudul Berdamai dengan
Takdir setahun yang lalu. (baca: Berdamai dengan Takdir 1 dan Berdamai dengan Takdir 2). Tulisan ini
hanya sebagai pengantar untuk Berdamai dengan Takdir 3. Tunggu saja, karena
masih memperdalam materinya.
Terakhir, karena hidayah itu suatu yang tak bisa kita duga,
datangnya dari Allah, dan manusia hanya bisa berusaha, maka itulah pentingnya
menjaga Shalat. Karena dalam sering kita membaca Surat wajib, Al-fatihah yang
salah satu kalimatnya, “Tunjukillah kami jalan yang lurus, jalan yang Kau
berikan nikmat…” Shalat sarana menambah dan menjaga hidayah kita. Dan jangan
lupa juga banyak berdoa dengan doa yang cukup baik ini : Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.
Wallahualam
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.