Senin, 29 September 2014

Hidayah, Suatu Hal yang Tidak Pernah Kita Duga

Ada yang nampak beda saat pulang lebaran tahun ini. Pertama, saya kaget melihat penampilan adik saya ketika menjemput saya di bandara. Penampilan yang beda itu terlihat dari cara berpakaiannya. Untuk pertama kali di bandara itu saya melihat adik saya menggunakan jilbab yang sudah lebar. Karena, selamai ini adik saya hari-harinya menggunakan jilbab kecil dan bercelana panjang. Itu pun juga berjilbab karena paksaan almarhum bapak saya.

Sebagai seorang kakak yang sudah lama terbina keislamannya, saya tak pernah menuntut adik saya berislam seperti yang saya inginkan. Termasuk pergaulannya, harus begini atau begitu. Paling tidak saya hanya bisa mengatakan contoh (dalam bahasa canda), “begini atau begitu loh yang benar.” Bukan bermaksud tidak ingin mendakwahi keluarga, namun karakter saya atapun kewibawaan saya yang kurang,  merasa mendidik seorang adik itu cukup rumit. Membuat adik tertekan itu yang saya takutkan. Namun, berdoa tak pernah saya lewatkan. Berdoa meminta tambahan nikmat iman dan hidayah pada keluarga selalu dipanjatkan. Alhamdulillah, tampak doa saya dikabulkan Allah Swt dengan perubahannya yang bertahap.

Kedua, juga perubahan pada saudara sepupu saya yang berada di Berabai, kota kelahiran bapak saya. Sepupu saya tersebut saya kenal dengan pakaian yang selalu seksi. Setiap datang ke rumah, baju dan celana ketat lekat dengan penampilannya. Foto-foto facebooknya selalu penuh dengan kenarsisan moleknya. Ketika saya berkunjung ke kota tersebut (setelah 13 tahun terakhir kali ke Berabai), ada perubahan drastis. Ia sudah menutup auratnya rapat-rapat. Jilbabnya tidak seperti aktivis tarbiyah, tapi lebih ke aktivis salafy. Sangat lebar dan panjang hingga pinggang. Bahkan, sudah menikah dan punya anak dengan umur yang masih sangat muda. Yang biasanya kami cair, kini komunikasi kami agak mulai berjarak. Bener-bener suatu yang belum pernah saya duga sebelumnya.

Ketiga, saudara jauh yang tinggal di Samarinda (lebih tepatnya sepupu bapak saya) juga berpenampilan berbeda. Saya biasa memanggilnya pakde. Pada lebaran tahun kemarin penampilannya masih biasa saja. Setiap lebaran selalu berkunjung ke rumah saya. Nah, pada lebaran tahun ini, pakde saya bener-bener layaknya ustad salafy. Berjanggut panjang dengan pakaian yang bercelana cingkrang (celana di atas mata kaki). Tidak hanya penampilan, obrolan di rumah pun penuh dengan dakwah seperti halnya orang salafy, kata-kata bid’ah tak pernah lepas. Ia mengajarkan kami agar tidak mengikuti tradisi-tradisi yang penuh dengan bid’ah dan kurafat. Maklum, keluarga banjar begitu dekat dengan tradisi NU. Begitu banyak pesan-pesan materi tauhid (yang sebenarnya sudah sering saya dapatkan dari ustad-ustad salafy) ketika mengobrol secara empat mata. Saya dijadikan target dakwahnya.

Padahal pakde saya itu, dengar-dengar nguping dari obrolan orang tua, penuh dengan masalah kehidupan; konflik keluarga, kawin-cerai, dan lainnya. Sama hal dengan berita-berita dari keluarga yang ada di Berabai, sering dengar masalah-masalah soal moralitas. Serasa, hanya keluarga saya saja yang jarang ada masalah serius. Alhamdulillah, Allah Swt menunjukkan jalan hidayahnya buat mereka.

Itu baru dari keluarga banjar, beberapa keluarga dari kelompok jawa (Saya menyebutnya keluarga dari pihak Ibu, karena Ibu dari Jawa Timur) juga beberapa menemukan ada yang berbeda. Yang dulunya tidak terlihat sosok islaminya, sekarang bener-benar menampilkan sebegai sosok yang islami.

Seperti yang saya tulis pada judul, hidayah itu suatu yang tidak akan pernah kita duga. Hidayah memang benar-benar hak preogratif Allah. Perubahan pada adik saya benar-benar suatu yang tidak pernah saya sangka. Sebagai kakak, memang sebenarnya saya khawatir soal pergaulan dan moralitasnya. Namun, jarak dan umur, membuat kontrol dan kedekatan menjadi penghalang. Dan doa pun menjadi penolong, Insya Allah.

Perubahan itu juga tidak hanya pada keluarga, namun juga teman-teman lama di masa SMA. Entah mengapa, grup-grup Whatsapp (sebelumnya saya tidak memakai BB jadi tidak punya BBM dan tidak tertarik memakia BBM sampai saat ini) mempertemukan dengan teman-teman lama di SMA. Saya saksikan beberapa kawan tersebut juga mengalami perubahan dilihat dari pembicaraan dan tampilan foto. Seperti teman-teman perempuan yang dulunya tidak berjilbab dan tidak ikut rohis, kini berjilbab dengan rapat.

Sayangnya, juga ada kawan yang dulu sama-sama berjuang di Rohis, kuat dalam bergamanya, kini tak lagi seperti dulu. Kalau kata para aktivis masjid, orang-orang yang berguguran di jalan dakwah. Kalau terminologi “berguguran di jalan dakwah” dicapkan kepada orang-orang yang kecewa atau keluar dari kelompok sebuah jamaah, tidak saya permasalahkan ketika ia masih komitmen dengan keislamannya, bahkan lebih sholeh. Namun, jika terminologi itu menjadi berguguran di Jalan Islam ini yang disayangkan.

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.." Al-Kahfi : 17

Kembali lagi, hidayah adalah milik Allah Swt. Kita tak punya kebebasan mengatur takdir hidayah itu. Ingat kisah meninggalnya Abu Thalib, paman Nabi Saw? Meski Abu Thalib termasuk paman yang banyak melindungi Rasulullah Saw namun di kematiannya, Abu Thalib enggan mengucapkan syahadat meski sudah dibimbing olek keponakanannya, Rasulullah Saw. Dari kejadian tersebut Allah Swt pun menurunkan ayat ini :

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki". Al Qashash : 56

Pertanyaannya, jika takdir hidayah sudah ditentukan oleh Allah Swt, apakah manusia bisa merubahnya atau hanya pasrah dengan yang sidah ditentukan oleh Allah. Maka, beberapa ayat yang saya tunjukkan sebelumnya seolah adanya determinisme. Yang menjadi bahaya dari sikap ini adalah perbuatan pesimis manusia.

Al-Qur’an pun tidak selesai di situ, di beberapa ayat lainnya :

“Allah tidak sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”  Al-Ankabut 40

“Katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir.” al-Kahfi ayat 29

Artinya, manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya. Sehingga ayat ini menjadi kabar bahagia buat kita, bahwa kita masih mempunyai peran (kebebasan) untuk mennetukan hidup kita.

Dalam kebebasan ada kausalitas. Nah ini yang ingin saya perbincangkan di lanjutan seri tulisan saya yang berjudul Berdamai dengan Takdir setahun yang lalu. (baca: Berdamai dengan Takdir 1  dan Berdamai dengan Takdir 2). Tulisan ini hanya sebagai pengantar untuk Berdamai dengan Takdir 3. Tunggu saja, karena masih memperdalam materinya.

Terakhir, karena hidayah itu suatu yang tak bisa kita duga, datangnya dari Allah, dan manusia hanya bisa berusaha, maka itulah pentingnya menjaga Shalat. Karena dalam sering kita membaca Surat wajib, Al-fatihah yang salah satu kalimatnya, “Tunjukillah kami jalan yang lurus, jalan yang Kau berikan nikmat…” Shalat sarana menambah dan menjaga hidayah kita. Dan jangan lupa juga banyak berdoa dengan doa yang cukup baik ini : Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.

Wallahualam

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger