![]() |
| Headline Harian Kompas, Sabtu/27 September 2014 |
Sebenarnya
saya sedang malas berbincang soal politik. Dalam sebulan ini hanya menyimak
berita dari Koran. Malas melihat kegaduhan di TV. Ketika Harian Kompas hari ini
(Sabtu/27 September 2014) mengangkat headline tentang hasil RUU Pilkada, saya
pun akhirnya tergilitik ingin menyampaikan pandangan. Meski hanya di blog ini.
Entah
mengapa, koran yang selama bertahun-tahun saya anggap paling kredibel dari media
lain, terasa kehilangan nurani jurnalismenya ketika terlibat dalam situasi
perpolitikan akhir-akhir ini. Lihat saja, saat pemilu presiden lalu, cukup
terasa keberpihakan politik dari media yang di pimpin Jacob Oetama ini.
Ternyata keberpihakan itu tak berhenti di pemilu presiden. Ketika Koalisi Merah
Putih mengangkat masalah RUU Pilkada, kembali Kompas menjadi corong opini
koalisi yang di pimpin PDIP. Hingga, headline pada hari ini, terasa opini yang
dibentuk sudah sampai tingkat sarkasme.
Tak heran
kalau negeri kita merupakan negeri demokrasi opini. Pilihan-pilihan rakyat
dalam partisipasi politiknya terbentuk oleh opini. Sebagai negara dengan
masyarakat menengah yang mayoritas, tidak didukung oleh kesadaran analitik dan
kritis yang kuat, serta faktor kualitas membaca yang rendah, barang kali, menjadikan
masyarakat negeri ini mudah terpengaruh isu yang dibentuk segelintir elit
politik yang mempunyai kekuasaan di media publik.
Kasus RUU
Pilkada menjadi contoh bagaimana isu bahwa pemilihan kepala daerah yang
dilakukan oleh DPRD merupakan kemunduran hingga kematian demokrasi. Inilah
bentuk pembodohan yang nyata. Nalar dalam berdemokrasi pun hilang.
Dan lagi, PDIP
sebagai partai pemimpin koalisi yang mendukung pilkada langsung bersikap seolah
pahlawan yang sedang menghadapi musuh demokrasi. Itulah opini yang mereka
bentuk untuk mewujudkan ambisinya. Upaya pembodohan sistematis dilakukan.
Bukanya membangun argumen yang positif dan logis, malah membuat kampanye hitam.
Dalam kasus
perbedaan antara Pilkada langsung atau dipilih oleh DPRD sebenarnya saya tidak
berpihak salah satunya. Meskipun terkadang terkesan berpihak ke pemilihan lewat
DPRD ketika berdebat baik di grup-grup whatsapp maupun facebook, sebenarnya itu
hanya upaya menanggapi nalar demokrasi yang salah. Seolah, demokrasi yang paling
tepat, paling benar, dan tanpa kekurangan hanyalah demokrasi dengan pemilihan
langsung. Padahal, kalau kita mau belajar tentang sistem demokrasi itu sendiri,
begitu banyak macamnya. Berbagai bentuk demokrasi yang ada di negara-negara di
dunia ini terbentuk mengikuti faktor; baik kultur masyarakat, konteks waktu,
hingga kepentingan. Artinya, sistem demokrasi itu tidak seragam harus seperti
itu. Kebenarannya relatif. Tidak ada yang absolute di demokrasi. Sebab,
demokrasi adalah produk ilmu sosial politik yang kebenarannya pun relatif. Yang
intinya, demokrasi adalah antitesis dari yang namanya otoriterisme, anarkisme,
dan totalitarisme.
Sekarang
pertanyaannya, demokrasi apa yang paling tepat untuk negeri yang bernama
Indonesia ini. Para elit politik kita, mulai dari pakar, dewan, eksekutif,
hingga pekerja hukum, sudah melakukan perdebatan pajang. Sejak era kemerdekaan
hingga reformasi, berkali-kali sistem bernegara kita berubah. UUD 1945 pun juga
ikutan beberapa kali di amandemen. Artinya, nalar demokrasi perlu menjadi
kesadaran dalam bernegara bahwa sistem dalam bernegara patut memperhatikan
tujuan dan konteks negara tersebut.
Maksudnya
begini, tidak semua sistem demokrasi yang ada di negeri seperti Amerika dan
Eropa ditiru oleh Indonesia. Pemilihan pimpinan eksekutif melalui pemilihan
langsung yang ada selama ini mengikuti tradisi yang sudah ada di negara-negara
maju tersebut. Beberapa pakar politik menyebutnya sebagai demokrasi liberal.
Kita perlu memiliki jati diri bangsa untuk mempunyai sistem demokrasi sendiri.
Yaitu, sistem yang benar-benar cocok dengan konteks Indonesia saat ini. Ada
faktor-faktor yang menentukan konteks tersebut, yaitu : tingkat pendidikan,
tingkat kesejahteraan, demografi, teknologi, budaya, hingga agama. Faktor-faktor
tersebutlah yang membuat para pendiri bangsa kita merumuskan konsep demokrasi
yang dinamakan Demokrasi Pancasila. Inti dari demokrasi pancasila terletak pada
keputusan yang diambil secara musyawarah mufakat.
Terhadap
Demokrasi Pancasila, inilah menjadi sebuah itikat elit politik, mau dibawa
kemana demokrasi negeri ini. Apapun sistemnya tak ada yang sempurna. Sebaik
apapun konsep bernegara, kalau moral
pelaksananya buruk, tetap saja hasilnya pun juga tidak akan baik.
Menyangkut demokrasi
dalam hal pemilihan kepala daerah antara Pilkada langsung atau lewat DPRD
kembali lagi melihat manfaat dan mudhoratnya. Dua-duanya sama-sama demokrasi.
Sama-sama hasil dari proses daulat rakyat. Kalau kata Mahfud MD, Semuanya
konstitusional. Pilih langsung atau tak langsung adalah soal kesepakatan
politik saja. Dua pilihan tersebut punya kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Saya tak akan membahas mana yang lebih baik dan mana yang buruk,
karena bukan kapasitas saya sebagai ahli tata Negara. Hanya saja, kita sebagai
rakyat ataupun pelaku politik perlu punya nalar kesadaran bahwa setiap pilihan
ada porsi tempatnya masing-masing.
Dalam kasus
kemenangan kubu Koalisi Merah Putih, ketika media sekelas kompas sampai mengatakan
ini adalah kematian demokrasi, seperti yang saya tulis di status facebook saya,
Kompas sudah kehilangan nurani. Lebih otoriter dari rezim masa lalu. Otoriter
memaksakan opini sesatnya ke rakyat pembaca setia demi mendukung ambisi politik
‘kelompoknya’. Masihkan perlu kita anggap Kompas media kredibel?
Inilah negeri
kita yang elit politiknya lebih banyak meributkan soal tingkah laku dan jatuh-menjatuhkan
karakter dari pada adu konsep. Memang dalam perdebatan argumen-argumen yang
timbul sangat subyektif sekali. Sulit untuk membawa ke titik temu jika sudah
membawa kepentingan. Jika pun kasus RUU Pilkada ini yang sudah jadi UU akan
disengketakan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), kita terima saja hasilnya. Insya Allah,
MK pasti dengan obyektif akan menimbang mana yang lebih baik dan pantas untuk
demokrasi kita. Demokrasi Pancasila.

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.