Di alam demokrasi, barisan kata ramai membanjiri ruang-ruang eksistensi dari pada kontemplasi. Di alam demokrasi itulah, dunia dihadiri barisan kata aktif di ruang interaksi tanpa lihat ekspresi, apalagi emosi. Komunikasi banyak dihabiskan dalam sederet kata dari pada lisan. Maka, teknologi digital menjadi makhluk yang menaungi kehidupan barisan kata yang merasuk alam imajinasi dan persepsi.
Facebook, twitter, path, instagram, hingga yutube adalah corong ekspresi. Whatsapp, line dan berbagai messenger lainnya adalah wujud eksistensi. Surat-surat kabar baik media digital maupun cetak menjadi barisan kata yang membodohi. Di dunia dalam barisan kata, kita tak sadar bahwa dibalik struktur kalimat ada tanda, ada kode, ada ruang konteks yang sulit dipahami, apalagi dimaknai pada hati nurani yang murni.
Di dunia dalam barisan kata, kita melihat ada sekelompok manusia-manusia yang tak berdaya keracunan informasi. Imajinasinya telah dirasuki pesan-pesan kognitif hingga mempengaruhi syaraf afektif. Tak ada tempat untuk skeptis.
Di dunia dalam barisan kata, kemunafikan tak tampak sebagai kata kerja aktif. Namun, hanya simbol-simbol yang diyakini sebagai kebenaran. Akal nurani tertutupi oleh lemahnya pengetahuan manusia. Tak ada tempat untuk buktikan kejujuran.
Di dunia dalam barisan kata, paradigma tertutupi oleh ego. Beda pendapat adalah musuh. Caci maki menjadi cara menaklukan lawan kata. Tak ada tempat untuk empati.
Di dunia dalam barisan kata, imajinasi manusia diperbudak oleh kekuatan tak tampak demi sebuah ambisi. Manusia takluk pada hegemoni opini yang dikuasai para kapitalis politisi. Tak ada tempat untuk berdialektika.
Di dunia dalam barisan kata, fakta bisa direkayasa. Data dianggap canda. Kejujuran dinilai sesuai harga. Apapun kabar berita selalu dianggap nyata. Tak ada tempat untuk mengolah rasa.
Di dunia dalam barisan kata, akhirnya kita banyak menemukan manusia-manusia yang jatuh cinta pada wujud yang tak pernah tersaksikan. Tersandra pada untaian kata yang memikat. Tak ada tempat untuk melihat mata hati.
Di dunia dalam barisan kata, memang ada tempat untuk beradu fakta. Ada tempat untuk bercanda. Ada tempat untuk memuja. Ada tempat untuk mencaci. Juga ada tempat untuk mengasihi. Namun, terkadang semuan itu demi sebuah eksistensi. Tak ada tempat untuk memaknai esensi.
Maka, di dunia dalam barisan kata, saatnya untuk mencari ruang kontemplasi. Mencoba skeptis. Belajar jujur. Merasakan empati. Membangun dialektika. Mengolah rasa. Membuka mata hati. Dan menemukan esensi.
Di dunia dalam barisan kata, aku tak akan henti menulis.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.