Rabu, 06 November 2013

Kesetiaan (Cinta) Arif

Mamaku pernah mengungkapkan keheranannya. Ia heran dengan orang-orang yang bernama Arif. Pertama, begitu banyak yang namanya Arif dilingkungan keluarga kami. Mulai dari sepupu saya, seseorang karyawan Total (Perusahaan minyak dari Perancis) yang pernah kos di rumah saya di Balikpapan, dan suaminya adik saya.

Kedua, mengapa yang namanya Arif orangnya selalu sabar, penurut dan setia. Dari ketiga orang yang bernama Arif itu memiliki kisahnya masing-masing yang menujukkan mereka adalah orang yang cukup sabar menjalani masalah hidupnya, sangat penurut (patuh), dan mereka termasuk tipe yang setia; rela berkorban. Dari ketiga orang itu, saya hanya ingin menceritaka Arif yang terakhir saja.

Arif Setyawan namanya. Dari namanya saja sudah menunjukkan kata “setia”. Pas dengan judulnya. Beberapa hari lalu (setelah terbitnya tulisan ini), Arif sudah menjadi bagian dari keluarga besar kami. Dari perjuangan dan pengorbanan yang panjang dalam perjalanan hidupnya, akhirnya ia berhasil menikah dengan adik perempuan saya. Pernikahan yang tak mungkin terjadi kalau bukan dari sikap perngorbanan dan kesetiaan pada cintanya. Ambisinya mengejar karir harus ia urungkan demi sebuah cinta. Menarik.

Arif dan adik saya dulu berada pada kampus yang sama di Kota Malang. Saya tidak begitu tahu hubungan awal mereka bermula, yang jelas saya kaget ketika dia mengirim sebuah email yang berisi pernyataan cintanya pada adik saya. Email yang sedikit panjang itu hanya saya jawab singkat; Silakan menikah.

Jawaban itu memang akan sulit direalisasikannya. Pertama, kondisinya yang belum berpenghasilan. Kedua, adik saya belum lulus. Pasti pihak orang tua akan sulit merestui. Meski mereka berdua sama-sama mau, saya tak punya kemampuan yang kuat  untuk menyegerakan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan.

Tiba waktunya adik saya lulus kuliah menjadi ujian bagi Arif. Karena perintah mama saya, adik saya harus pulang ke Balikpapan dan bekerja di sana. Di waktu yang sama, Arif juga harus mengejar karirnya agar bisa menjadi seorang peneliti dan dosen. Tinggal selangkah lagi, dia bisa melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Rencana sudah dia susun. Kembali ke Balikpapan tidak pernah menjadi bagian dari rencana hidupnya. Sebelumnya dia pernah tinggal di Balikpapan saat ayahnya dinas di kota tersebut.

Antara nama dan perbuatan sangat pas sekali. Ia menunjukkan kesetiaanya. Semua rencana dan impian hidupnya harus ia negoisasikan demi sebuah kesetiaan. Kesetiaan pada cinta yang jauh memanggil. Kesetiaan yang mengharuskannya ke Balikpapan. Untung saja dari pihak keluarganya ada dukungan. Berangkat ke Balikpapan bukan suatu yang sulit. Pun keluarga kami sangat menerima sekali kehadirannya. Hanya saja, dia pernah berkata kepada saya kalau dirinya cukup berat menjadi seorang karyawan kantoran. Mengerjakan proyek di rumah atau mengajar lebih Ia sukai. Sayangnya, mama saya hanya mengerti yang namanya berpenghasilan itu ya harus ngantor. Punya gaji tetap. Dan lagi, demi sebuah kesetiaan ia rela bekerja di sebuah perusahaan provider jaringan internet lokal yang ada di Balikpapan agar dianggap memiliki penghasilan tetap yang layak.

Melihat Arif, seperti terasa membenarkan apa kata orang. Wanita mudah sekali manaklukan ambisi seorang pria. Orang-orang besar pun bisa sukses dan jatuh karena wanita. Lihat saja Soeharto, ia jatuh setelah Ibu Tien meninggal. Lihat kisah Ken Arok, karena ingin mendapatkan Ken Dedes, ia berani membunuh Tunggul Ametung dan mendapatkan tahta kekuasaannya. Begitu juga Yulius Caesar, karena cintanya pada Cleopatra ia mengurungi niat menguasai Mesir. Dan banyak lagi kisah soal ini dari beberapa tokoh orang besar lainnya. Ada peran wanita yang menghidupi jalan cerita sebuah sejarah peradaban.

Tapi Arif bukanlah seperti Soeharto, Ken Arok, atau Yulius Caesar. Ia hanya ingin menunjukan sifat yang menempel pada namanya; manusia setia. Manusia yang setia pada cinta. Cinta yang akhirnya manaklukan ambisinya. Semoga sakinah, mawadah, warohmah.


***
Inilah salah satu sikap yang dimiliki seseorang yang bernama Arif Setyawan. Bagaimana dengan Arif lainnya? Apakah semua yang bernama Arif memiliki ketiga sikap tersebut; sabar, baik dan setia ? Saya pun juga memiliki beberapa teman yang bernama Arif. Kebanyakan sih tipenya lugu. Mudah diliciki. Hahaha..


0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger