Mamaku pernah mengungkapkan keheranannya. Ia heran dengan
orang-orang yang bernama Arif. Pertama, begitu banyak yang namanya Arif
dilingkungan keluarga kami. Mulai dari sepupu saya, seseorang karyawan Total
(Perusahaan minyak dari Perancis) yang pernah kos di rumah saya di Balikpapan,
dan suaminya adik saya.
Kedua, mengapa yang namanya Arif orangnya selalu sabar, penurut dan setia. Dari ketiga orang yang bernama Arif itu memiliki kisahnya
masing-masing yang menujukkan mereka adalah orang yang cukup sabar menjalani
masalah hidupnya, sangat penurut (patuh), dan mereka termasuk tipe yang setia;
rela berkorban. Dari ketiga orang itu, saya hanya ingin menceritaka Arif yang
terakhir saja.
Arif Setyawan namanya. Dari namanya saja sudah menunjukkan
kata “setia”. Pas dengan judulnya. Beberapa hari lalu (setelah terbitnya
tulisan ini), Arif sudah menjadi bagian dari keluarga besar kami. Dari
perjuangan dan pengorbanan yang panjang dalam perjalanan hidupnya, akhirnya ia
berhasil menikah dengan adik perempuan saya. Pernikahan yang tak mungkin
terjadi kalau bukan dari sikap perngorbanan dan kesetiaan pada cintanya. Ambisinya
mengejar karir harus ia urungkan demi sebuah cinta. Menarik.
Arif dan adik saya dulu berada pada kampus yang sama di Kota
Malang. Saya tidak begitu tahu hubungan awal mereka bermula, yang jelas saya
kaget ketika dia mengirim sebuah email yang berisi pernyataan cintanya pada
adik saya. Email yang sedikit panjang itu hanya saya jawab singkat; Silakan
menikah.
Jawaban itu memang akan sulit direalisasikannya. Pertama,
kondisinya yang belum berpenghasilan. Kedua, adik saya belum lulus. Pasti pihak
orang tua akan sulit merestui. Meski mereka berdua sama-sama mau, saya tak
punya kemampuan yang kuat untuk
menyegerakan hubungan mereka dalam ikatan pernikahan.
Tiba waktunya adik saya lulus kuliah menjadi ujian bagi
Arif. Karena perintah mama saya, adik saya harus pulang ke Balikpapan dan
bekerja di sana. Di waktu yang sama, Arif juga harus mengejar karirnya agar
bisa menjadi seorang peneliti dan dosen. Tinggal selangkah lagi, dia bisa
melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Rencana sudah dia susun.
Kembali ke Balikpapan tidak pernah menjadi bagian dari rencana hidupnya.
Sebelumnya dia pernah tinggal di Balikpapan saat ayahnya dinas di kota
tersebut.
Antara nama dan perbuatan sangat pas sekali. Ia menunjukkan
kesetiaanya. Semua rencana dan impian hidupnya harus ia negoisasikan demi
sebuah kesetiaan. Kesetiaan pada cinta yang jauh memanggil. Kesetiaan yang mengharuskannya
ke Balikpapan. Untung saja dari pihak keluarganya ada dukungan. Berangkat ke
Balikpapan bukan suatu yang sulit. Pun keluarga kami sangat menerima sekali
kehadirannya. Hanya saja, dia pernah berkata kepada saya kalau dirinya cukup
berat menjadi seorang karyawan kantoran. Mengerjakan proyek di rumah atau
mengajar lebih Ia sukai. Sayangnya, mama saya hanya mengerti yang namanya
berpenghasilan itu ya harus ngantor. Punya gaji tetap. Dan lagi, demi sebuah
kesetiaan ia rela bekerja di sebuah perusahaan provider jaringan internet lokal
yang ada di Balikpapan agar dianggap memiliki penghasilan tetap yang layak.
Melihat Arif, seperti terasa membenarkan apa kata orang. Wanita
mudah sekali manaklukan ambisi seorang pria. Orang-orang besar pun bisa sukses
dan jatuh karena wanita. Lihat saja Soeharto, ia jatuh setelah Ibu Tien
meninggal. Lihat kisah Ken Arok, karena ingin mendapatkan Ken Dedes, ia berani membunuh Tunggul Ametung dan mendapatkan tahta kekuasaannya. Begitu juga Yulius
Caesar, karena cintanya pada Cleopatra ia mengurungi niat menguasai Mesir. Dan banyak
lagi kisah soal ini dari beberapa tokoh orang besar lainnya. Ada peran wanita
yang menghidupi jalan cerita sebuah sejarah peradaban.
Tapi Arif bukanlah seperti Soeharto, Ken Arok, atau Yulius
Caesar. Ia hanya ingin menunjukan sifat yang menempel pada namanya; manusia
setia. Manusia yang setia pada cinta. Cinta yang akhirnya manaklukan ambisinya.
Semoga sakinah, mawadah, warohmah.
***
Inilah salah satu sikap yang dimiliki seseorang yang bernama
Arif Setyawan. Bagaimana dengan Arif lainnya? Apakah semua yang bernama Arif
memiliki ketiga sikap tersebut; sabar, baik dan setia ? Saya pun juga memiliki
beberapa teman yang bernama Arif. Kebanyakan sih tipenya lugu. Mudah diliciki. Hahaha..

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.