Rabu, 06 November 2013

Keisengan yang Berbuah di Pelaminan

Entah apa yang terjadi pada pikiranku saat itu. Seorang kawan perempuan, sebut saja fulanah, tiba-tiba mengagetkanku dengan BUZZ di Yahoo Messenger (YM) di saat saya sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan sebuah pekerjaan. Saya lupa mematikan YM malam itu. Panggilan BUZZ seperti biasanya, adalah sebuah panggilan untuk memulai percakapan.  Nampak, dia sedang ingin mencari teman ngobrol seperti  hari-hari sebelumnya. Sayang, saya tidak ada waktu untuk meladeni. Sedikit ada rasa kesal karena terganggu. Namun, rasa kesal itu tiba-tiba saya lampiaskan dengan sebuah keisengan.

Mencoba langsung mengakhiri pembicaraan sepertinya tidak baik saya lakukan. Takutnya akan timbul persepsi kalau saya bersikap dingin, atau tidak sopan, atau malah mengacuhkannya. Menghindari persepsi yang salah coba saya hindari. Maka, solusinya adalah pengalihan. Munculah cara iseng untk mengalihkan perhatian.

Sebenarnya sikap iseng saya hanya biasa saja. Tidak ada sesuatu yang heboh. Saya cek yang sedang online di YM saya saat itu. Terlihat seorang kawan pria dari kampus sebelah. Sebut saja Fulan. Saya bikin percakapan ke Fulan, lalu mengatakan “Fulan, ada yang mau kenalan. Akhwat. Namanya Fulanah. Udah kenal belum? Nih akunnya *****.” Begitu juga saya katakana ke Fulanah, “Ada yang mau kenalan, namanya Fulan. Nih akunnya *****.”

Bukan hanya iseng pada Fulanah. Tetapi juga iseng pada Fulan. Sebab, Fulan adalah binaan seorang ustad dari salah satu Ormas Islam yang kental dengan semangat mengutamakan belajar Fikih sehari-hari. Saya ngetes, bagaimana sikapnya jika berkenalan dengan seorang perempuan. Kebetulan juga saat itu yang saya tau, Fulan sedang mengalami masa galau. Beharap, ini bisa menjadi “Obatnya”.

Setelah beberapa menit kemudian, Fulanah tidak bersua. Terlihat, keisengan ini berhasil. Sepertinya mereka melanjutkan komunikasi. Karena tidak ada sua lagi, perlahan saya offline-kan YM saya.

Beberapa jam kemudian, Keisengan itu saya lupakan. Pikiran kembali sibuk dengan pekerjaan. Keseokan harinya coba saya bertanya ke Fulan sambil bercanda, “Bagaimana kenalannya dengan si Fulanah? Sukses enggak? Tertarik enggak?” dan seterusnya. Jawabannya hanya tersenyum, tidak ada jawaban yang jelas.

Nah, saya kira pertemanan mereka hanya sebatas di YM. Beberapa minggu kemudian saya cukup kaget ketika melewati  kos Fulanah menemukan Fulan sedang duduk di teras kosnya. Katanya mau memperbaiki laptop Fulanah. “Kedok macam apa pula ini?” tanyaku dalam hati sambil tertawa. Di situ akhirnya saya tahu, ternyata mereka menjadi dekat. Kenapa bisa jadi begini? Sampai saya berpikir, jebol juga keimanan si Fulan ini.

Saya tanya ke Fulan, “Ente serius denga Fulanah? Kalau serius segera saja. Tak tunggu.” Lagi-lagi hanya ditanggapi senyuman.

Fulanah dan Fulan adalah seorang akhwat dan ikhwan yang terlibat dilingkungan aktivis dakwah. Lingkungan aktivis dakwah adalah lingkungan yang begitu menjaga hubungan antara lawan jenis. Sikap cair antara ikhwan dan akhwat pun ada batasannya, seperti tidak berduaan atau berboncengan motor. Meski ada kedekatan, saya masih beranggapan kalau mereka masih menjaga batasan itu, sehingga tidak terlalu memperdulikan hubungan mereka. Yang penting, saya sudah memberikan sedikit nasehat kepada Fulan.

Hingga beberapa bulan kemudian desas desus soal hubungan Fulan dan Fulanah ramai beredar. Awalnya saya tidak begitu peduli dengan gossip seperti itu. Beberapa kawan secara bercanda menyalahkan saya akibat hubungan mereka. Hanya saya anggap lelucoan. Sampai akhirnya, mereka berdua kepergok oleh saya sedang makan berdua di sebuah warung nasi goreng. Kebetulan saya juga sedang mau beli nasi goreng di tempat yang sama. Sedikit salang tingkah, Fulanah mengajak saya untuk ikut menemani mereka. Dan lagi, dalam hati saya tambah tertawa (kecewa) melihat mereka. Kok bisa jadi begini.

Nampak, hasil kerjaan iseng saya melahirkan benih cinta diantara mereka. Tak menyangka mereka berdua menjadi dekat. Sangat dekat. Seandainya saja mereka bisa melangsungkan hubungan sesuai adab dan syariat, pasti saya akan merasa bersyukur bahkan senang sekali. Kata seorang Ustad yang juga penulis di tempat saya bekerja, bahwa bisa mencomblangi sesuai syariat pahalanya satu istana emas di Surga. Masya Allah. Nah, masalahnya ini apakah saya dapat pahala seperti itu atau ikut menanggung dosa?

Pernah saya bertanya ke Fulan soal hubungan itu. Ia membenarkan. Lalu, soal saran saya untuk menyegerakan menikah, hanya ditanggapi dingin. Sepertinya ini soal alasan klasik. Fulan tidak begitu jujur. Seperti ada yang disembunyikannya. Bisa jadi juga soal faktor Fulanahnya. Meski begitu saya tidak bisa menebak-nebak. Hanya sering berkali-kali memintanya kabar bagaimana kelanjutan hubungan, apakah sudah mengarah serius atau masih sama; tidak jelas. Kalau memang belum serius, sebaiknya dihentikan saja. Hal itu saya lakukan sebagai bukti kalau saya ikut bertanggung jawab atas hubungan mereka. Sampai-sampai saya pernah berjanji pada Fulan, “Besok saat di akherat, jangan sampai kamu menyalahkan saya. Sudah saya ingatkan loh.” Janji yang aneh memang.

Meski ada penyesalan atas sebuah keisengan, saya mencoba memaklumi kondisi yang terjadi. Fulan dan Fulanah adalah dua sosok yang baru belajar Islam. Semangat berideologisasi, baik dalam bentuk aktivitas maupun tampilan, belum berhasil mengatasi kegundahan cintanya.  Semangat untuk menjalankan syariat yang terbentur dengan kondisi lingkungan keluarga dan sosial ekonomi, menciptakan pergolakan cinta yag rumit. Ada ujian batin yang tidak semua orang mampu berhasil menghadapinya. Fulan dan Fulanah hanyalah bagian pelengkap dari lingkungan aktivis dakwah. Mungkin, masih ada batas kewajaran atau pemakluman. Parahnya, kasus seperti ini juga sering terjadi pada orang-orang yang menjadi bagian inti Aktivis Dakwah Kampus. Ini yang sulit dimaklumi.

Setelah menunggu waktu yang lama, tersiar juga kabar mereka akan menikah. Ada rasa lega. Rasa bahagia. Meski, harus menunggu waktu yang (menurut saya) agak lama, setidaknya sudah ada komitmen serius melanjuti hubungan. Alhamdulillah, bermulai dari sikap iseng saya, mereka sampai juga dipelaminan beberapa minggu lalu (dari waktu terbitnya tulisan ini). Semoga pernikahan mereka barokah. Amin.

Allah punya caranya sendiri untuk menentukan takdir kehidupan.
Allah punya cara tersendiri memberi kebarokahan hidup.

Makanya, jangan iseng!


Nb:
Buat para perempuan, kalau tidak mau jadi korban keisengan jangan sekali-kali menggangu saya saat malam, apalagi pas sedang konsentrasi pada pekerjaan. Waspadalah!

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger