Entah apa
yang terjadi pada pikiranku saat itu. Seorang kawan perempuan, sebut saja
fulanah, tiba-tiba mengagetkanku dengan BUZZ di Yahoo Messenger (YM) di saat
saya sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan sebuah pekerjaan. Saya lupa mematikan
YM malam itu. Panggilan BUZZ seperti biasanya, adalah sebuah panggilan untuk
memulai percakapan. Nampak, dia sedang
ingin mencari teman ngobrol seperti hari-hari
sebelumnya. Sayang, saya tidak ada waktu untuk meladeni. Sedikit ada rasa kesal
karena terganggu. Namun, rasa kesal itu tiba-tiba saya lampiaskan dengan sebuah
keisengan.
Mencoba
langsung mengakhiri pembicaraan sepertinya tidak baik saya lakukan. Takutnya
akan timbul persepsi kalau saya bersikap dingin, atau tidak sopan, atau malah
mengacuhkannya. Menghindari persepsi yang salah coba saya hindari. Maka,
solusinya adalah pengalihan. Munculah cara iseng untk mengalihkan perhatian.
Sebenarnya
sikap iseng saya hanya biasa saja. Tidak ada sesuatu yang heboh. Saya cek yang
sedang online di YM saya saat itu. Terlihat seorang kawan pria dari kampus
sebelah. Sebut saja Fulan. Saya bikin percakapan ke Fulan, lalu mengatakan
“Fulan, ada yang mau kenalan. Akhwat. Namanya Fulanah. Udah kenal belum? Nih
akunnya *****.” Begitu juga saya katakana ke Fulanah, “Ada yang mau kenalan,
namanya Fulan. Nih akunnya *****.”
Bukan hanya
iseng pada Fulanah. Tetapi juga iseng pada Fulan. Sebab, Fulan adalah binaan
seorang ustad dari salah satu Ormas Islam yang kental dengan semangat mengutamakan
belajar Fikih sehari-hari. Saya ngetes, bagaimana sikapnya jika berkenalan
dengan seorang perempuan. Kebetulan juga saat itu yang saya tau, Fulan sedang
mengalami masa galau. Beharap, ini bisa menjadi “Obatnya”.
Setelah
beberapa menit kemudian, Fulanah tidak bersua. Terlihat, keisengan ini
berhasil. Sepertinya mereka melanjutkan komunikasi. Karena tidak ada sua lagi,
perlahan saya offline-kan YM saya.
Beberapa jam
kemudian, Keisengan itu saya lupakan. Pikiran kembali sibuk dengan pekerjaan.
Keseokan harinya coba saya bertanya ke Fulan sambil bercanda, “Bagaimana
kenalannya dengan si Fulanah? Sukses enggak? Tertarik enggak?” dan seterusnya.
Jawabannya hanya tersenyum, tidak ada jawaban yang jelas.
Nah, saya
kira pertemanan mereka hanya sebatas di YM. Beberapa minggu kemudian saya cukup
kaget ketika melewati kos Fulanah
menemukan Fulan sedang duduk di teras kosnya. Katanya mau memperbaiki laptop
Fulanah. “Kedok macam apa pula ini?” tanyaku dalam hati sambil tertawa. Di situ
akhirnya saya tahu, ternyata mereka menjadi dekat. Kenapa bisa jadi begini? Sampai
saya berpikir, jebol juga keimanan si Fulan ini.
Saya tanya
ke Fulan, “Ente serius denga Fulanah? Kalau serius segera saja. Tak tunggu.”
Lagi-lagi hanya ditanggapi senyuman.
Fulanah dan
Fulan adalah seorang akhwat dan ikhwan yang terlibat dilingkungan aktivis
dakwah. Lingkungan aktivis dakwah adalah lingkungan yang begitu menjaga
hubungan antara lawan jenis. Sikap cair antara ikhwan dan akhwat pun ada
batasannya, seperti tidak berduaan atau berboncengan motor. Meski ada
kedekatan, saya masih beranggapan kalau mereka masih menjaga batasan itu, sehingga
tidak terlalu memperdulikan hubungan mereka. Yang penting, saya sudah
memberikan sedikit nasehat kepada Fulan.
Hingga
beberapa bulan kemudian desas desus soal hubungan Fulan dan Fulanah ramai
beredar. Awalnya saya tidak begitu peduli dengan gossip seperti itu. Beberapa
kawan secara bercanda menyalahkan saya akibat hubungan mereka. Hanya saya
anggap lelucoan. Sampai akhirnya, mereka berdua kepergok oleh saya sedang makan
berdua di sebuah warung nasi goreng. Kebetulan saya juga sedang mau beli nasi
goreng di tempat yang sama. Sedikit salang tingkah, Fulanah mengajak saya untuk
ikut menemani mereka. Dan lagi, dalam hati saya tambah tertawa (kecewa) melihat
mereka. Kok bisa jadi begini.
Nampak,
hasil kerjaan iseng saya melahirkan benih cinta diantara mereka. Tak menyangka
mereka berdua menjadi dekat. Sangat dekat. Seandainya saja mereka bisa
melangsungkan hubungan sesuai adab dan syariat, pasti saya akan merasa
bersyukur bahkan senang sekali. Kata seorang Ustad yang juga penulis di tempat
saya bekerja, bahwa bisa mencomblangi sesuai syariat pahalanya satu istana emas
di Surga. Masya Allah. Nah, masalahnya ini apakah saya dapat pahala seperti itu
atau ikut menanggung dosa?
Pernah saya
bertanya ke Fulan soal hubungan itu. Ia membenarkan. Lalu, soal saran saya
untuk menyegerakan menikah, hanya ditanggapi dingin. Sepertinya ini soal alasan
klasik. Fulan tidak begitu jujur. Seperti ada yang disembunyikannya. Bisa jadi
juga soal faktor Fulanahnya. Meski begitu saya tidak bisa menebak-nebak. Hanya
sering berkali-kali memintanya kabar bagaimana kelanjutan hubungan, apakah
sudah mengarah serius atau masih sama; tidak jelas. Kalau memang belum serius,
sebaiknya dihentikan saja. Hal itu saya lakukan sebagai bukti kalau saya ikut
bertanggung jawab atas hubungan mereka. Sampai-sampai saya pernah berjanji pada
Fulan, “Besok saat di akherat, jangan sampai kamu menyalahkan saya. Sudah saya
ingatkan loh.” Janji yang aneh memang.
Meski ada
penyesalan atas sebuah keisengan, saya mencoba memaklumi kondisi yang terjadi.
Fulan dan Fulanah adalah dua sosok yang baru belajar Islam. Semangat
berideologisasi, baik dalam bentuk aktivitas maupun tampilan, belum berhasil
mengatasi kegundahan cintanya. Semangat
untuk menjalankan syariat yang terbentur dengan kondisi lingkungan keluarga dan
sosial ekonomi, menciptakan pergolakan cinta yag rumit. Ada ujian batin yang
tidak semua orang mampu berhasil menghadapinya. Fulan dan Fulanah hanyalah
bagian pelengkap dari lingkungan aktivis dakwah. Mungkin, masih ada batas
kewajaran atau pemakluman. Parahnya, kasus seperti ini juga sering terjadi pada
orang-orang yang menjadi bagian inti Aktivis Dakwah Kampus. Ini yang sulit
dimaklumi.
Setelah
menunggu waktu yang lama, tersiar juga kabar mereka akan menikah. Ada rasa
lega. Rasa bahagia. Meski, harus menunggu waktu yang (menurut saya) agak lama,
setidaknya sudah ada komitmen serius melanjuti hubungan. Alhamdulillah,
bermulai dari sikap iseng saya, mereka sampai juga dipelaminan beberapa minggu
lalu (dari waktu terbitnya tulisan ini). Semoga pernikahan mereka barokah.
Amin.
Allah punya
caranya sendiri untuk menentukan takdir kehidupan.
Allah punya
cara tersendiri memberi kebarokahan hidup.
Makanya,
jangan iseng!
Nb:
Buat para
perempuan, kalau tidak mau jadi korban keisengan jangan sekali-kali menggangu
saya saat malam, apalagi pas sedang konsentrasi pada pekerjaan. Waspadalah!

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.