Senin, 07 Oktober 2013

Filosofi Terpeleset

Pernah terpeleset? Setiap manusia pasti pernah yang namanya terpeleset. Terpeleset menghasilkan dua dampak. Pertama, kita kesakitan.  Kedua, orang lain tertawa. Dua dampak tersebut adalah hal yang umum. Tapi, ada terpeleset yang saya alami menghasilkan dampak ketiga, yaitu bosan. Iya, karena sampai berkali-kali saya terpeleset tanpa tak terhitung jumlahnya dalam satu jam. Sampai bosan.

Kejadian ini saya alami saat mendaki Gunung Merapi beberapa pekan lalu. Ini bermula dari salah pakai sepatu. Sebelum mendaki, sebenarnya saya sudah berusaha mencari pinjaman sepatu yang cocok untuk pendakian. Cari persewaan sepatu pun tidak menemukan ukuran yang cocok. Akhinya, saya pakai saja sepatu kets. Satu-satunya sepatu yang saya miliki selain sepatu pantofel untuk ke undangan. Dari pengalaman sebelumnya mendaki gunung yang lain, sepatu kets ini agak tidak menjadi masalah. Tapi ternyata, jalur pendakian Merapi lebih parah.

Saat perjalanan mendaki tidak ada masalah. Sebab, tekanan menanjak di jalur berpasir memiliki gesekan hambatan yang kuat. Tanah dan sepatu bisa melekat cukup kuat. Agak khawatir saat mendaki bukit terakhir menuju puncak Merapi. Sebab, kemiringan hampir 70 derajat. Melangkah harus berhati-hati sekali untuk menghindari langkah yang terperosok. Kalau terperosok sebenarnya tidak apa-apa buat saya, tapi kasihan yang dibawah saya, bisa kena debu pasir atau reruntuhan batu.

Nah, saat perjalanan turun itulah gaya gesekan sepatu dengan batu dan tanah memeliki gaya hambat yang kecil. Ditambah dengan tapak sepatu yang begitu mulus, kurang gerigi. Meski begitu, tidak sepenunya saya harus menyalahkan sepatu. Mungkin memang saya yang tidak ahli melangkah dengan baik agar tercipta gaya hambat gesek yang kuat.

Oh ya, ada satu lagi yang harus saya salahkan, yatu pasir dari debu vulkanik. Jalur pendakian dari bascamp sampai puncak banyak sekali bertebaran pasir yang berasal dari debu vulkanik. Bagi yang pernah menyentuh pasir debu vulkanik pasti paham bagaimana halusnya pasir tersebut. Sudah baunya pekat gosong, halus sekali.

Entah berapa kali, yang jelas, saat perjalanan turun dari tempat camp isitirahat di atas (terkenal dengan nama Pasar Bubrah) hingga bascampe (New Selo), saya harus berkali-kali terpeleset. Ketika saya bisa melangkah lebih dari 20 atau 30 kali tanpa terpeleset, itu sebuah prestasi. Iya prestasi. Karena, setiap baru melangkah 5 kali terpeleset. 10 kali melangkah terpelset. Begitu terus.

Masalah selanjutnya kenapa saya harus sering terpeleset, sebab, tingkat kecepatan berjalan memang tidak lambat. Saya paksa untuk bergerak cepat menuruni jalur pendakian yang menurun curam itu. Tak heran, yang awalnya saat mendaki menghabiskan waktu 5 jam. Saat turun hanya menghabiskan waktu 2 jam saja.

Saat berjalan itulah, saya sempat mengalami frustasi. Lelah. Kesal. Haus. Juga dongkol. Otak pun berusaha terus berpikir, bagaimana agar bisa berjalan cepat namun tidak terpeleset terus. Dalam perjalanan itu, selalu merasa ingin berhenti saja. Ditambah, air minum saya habis. Sisa air  yang ada dibawa oleh kawan yang entah dimana. Kami terpisah jauh. Bukan artinya saya sendirian, namun saat itu banyak orang yang sedang mendaki.  Jadi, akan selalu bertemu dengan pendaki lain yang sama-sama ingin turun dari jalur yang kita lalui (biasanya kalau pagi sampai siang banyak berjalan turun, berjalan naik atau mendakinya kebanyakan mengambil malam hari, karena ingin melihat sunrise di atas). Tapi tetap saja, tidak mungkin saya minta minum ke pendaki lain. Malu.

Menariknya, yang terpeleset itu bukan saya saja. Hampir semua pendaki saat perjalanan turun pasti ada yang terpeleset. Sampai-sampai saya menemukan beberapa perempuan dengan sepatu yang sebenarnya bagus, berjalan seperti pengantin. Lambat sekali. Sangat berhati-hati.

Parahnya, beberapa kali juga menemukan pendaki yang sepatunya hancur. Hancurnya lebih parah dari sepatu saya yang hanya robek di sisinya saja (Bukti kalau sepatu saya sebenarnya bagus, haha..). Tetapi, mereka yang sepatunya sudah rusak, terlihat tetap terus berjalan, tanpa peduli kesulitan yang menghadang. Itulah yang akhirnya membuat saya sedikit termotivasi.

Rasa haus itu jugalah yang terus memotivasi agar terus berjalan, sedikit berhenti. Kalau terus berhenti, rasa haus akan semakin lama. Rasa lelah juga terus semakin panjang waktunya. Meski saya sadar bahwa tidak boleh banyak berhenti, tetap saja rasa frustasi kembali muncul. Gimana tidak, setiap beberapa kali melangkah terus terpeleset. Lama-lama bosan juga dengan terpelset ini. Kepastian waktu sampai finish pun tidak jelas. Setiap Tanya orang, selalu jawabannya “masih jauh”. Jadi, hanya ada dua pilihan, terus maju hingga garis finish menemukan air minum meski harus sering terpeleset, atau hanya berdiam diri dengan dua kemungkinan; ada yang memberi minum atau mati kehausan (pernyataan yang agak lebay memang). Sayangnya, saya bukan ahli statistis untuk membaca ramalan masa depan. Saya tidak bisa menghitung kemungkinan-kemungkinan. Maka, ya terus jalan saja. Harapan ada di depan, meski harus terpeleset lagi.

Untungnya saja, setiap terpeleset selalu jatuh dalam posisi yang bagus. Tidak membuat kaki atau bagian tubuh tumpuan cedera parah. Hanya beberapa sedikit luka berdarah dibagian tangan. Tidak adanya cedera yang serius inilah yang masih menjadi modal untuk terus berjalan.

Sampai akhirnya, saya menikmati kondisi ini. Menikmati rasa menahan sakit di pergelangan kaki saat mengatur langkah untuk meminimalisir terpeleset. Menikmati rasa deg-degan saat terjatuh. Menikmati lelah, haus, sakit, dan ketidakjelasan waktu kapan sampai finish. Sampai akhirnya, saya bisa menikmati air putih segar di salah satu warung di Basecamp New Selo hingga habis 2 botol.

Ya, seperti itulah hidup. Seperti itulah nikmatnya naik gunung. Perjalanan yang bisa dimaknai sebagai perjuangan mengejar tujuan hidup. Tak semua perjalanan hidup kita sempurna. Masalah pada sepatu, keahlian mendaki (turun), dsb adalah kekurangan yang kita miliki. Ditambah hambatan eksternal seperti adanya pasir halus dari debu vulkanik yang membuat tanah jalur pendakian menjadi licin. Terpeleset, menjadi kondisi atau keaadaan yang mesti akan kita alami. Kondisi yang membuat kita harus belajar. Belajar memahami filosofi hidup.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger