Ban bocor memang membuat kesal. Apalagi jika menghambat waktu kerja kita. Namun apa boleh dikata. Musibah ya tetap musibah.
Ahad lalu menjelang Ashar, saat tiba dirumah setelah berkunjung dari rumah keluarga, saya berencana mengerjakan sebuah pekerjaan yang harus selesai sebelum magrib. Waktu Ashar tiba, saya berangkat menunaikan sholat ke masjid dengan motor. Biasanya berjalan kaki. Hanya saja, kondisi yang lelah dan malas, mencoba memanjakan diri dengan naik motor. Sebelumnya merasa tidak ada masalah saat menggunakan motor. Namun, perjalanan ke masjid itu sedikit berbeda. Ada yang tidak nyaman. Setelah tiba di parkiran masjid, saya cek ban, ternyata ban belakang motor bocor. Konsentrasi ibadah pun sedikit buyar, karena terus berpikir mencari tambal ban terdekat di sekitar daerah tempat tinggal saya dan penyesalan mengapa membawa motor.
Rasa kesal pun muncul. Kenapa dalam situasi seperti ini ban harus bocor. Target agenda yang ingin ditetapkan harus tertunda. Selepas sholat, saya mencari tukang tambal. Untung saja ketemu tukang tambal yang cukup dekat. Mulailah ban ditambal. Perkiraan saya bisa selesai sebelum setengah jam. Atau sebelum pukul 16.00 agar bisa segera mengerjakan agenda pekerjaan. Sayangnya, musibah itu ternyata tidak selesai dalam waktu setengah jam. Ternyata sampai satu jam lebih sedikit. Sebab, ternyata yang bocor ada dua lubang.
Tukang tambal menjelaskan bahwa ban motor saya yang bocor bukan karena paku atau benda tajam yang melubangi, tetapi karena gesekan ban dalam dengan ban luar. Ia menunjukkan lubang yang membuat tekanan ban berkurang berada di sisi kanan/kiri. Jika karena paku, pasti yang bocor pada sisi bawah. Kesimpulan si tukang tambal, hal ini akibat dari ban yang tidak diisi angin saat tekanan sudah berkurang. Ketika tekanan angin di ban berkurang dan ban terus dipakai berjalan, maka bagian sisi kiri/kanan ban akan mengalami gesekan yang dalam waktu lama akan membuat sobekan sehingga tekanan angin keluar, atau dalam hal ini bocor. Begitulah teorinya.
Si tukang tambal pun menyarankan agar rajin mengecek ban dan rutin mengisi angin setiap dua minggu sekali. Jika tidak, akan mengalami kejadian itu.
Saat menunggu ban ditambal itu saya coba berpikir dan menyimpulkan sebuah pertanyaan, apakah kejadian (musibah atau berkah) ada hubungan dari perilaku kita sebelumnya? Ataukah, seperti apapun perilaku kita sebelumnya sudah ada ketetapan nasib? Mungkinkah, ketika saya memperhatikan ban yang mulai kempis lalu rajin mengisi angin, tidak akan mengalami rencana yang berantakan pada sore itu?
Pertanyaan itulah yang sejak dulu kala menjadi perdebatan para ulama dan filosof. Perdebatan yang menghasilkan dua pandangan, yaitu paham determinisme dan paham kehendak bebas.
Pertama, Determinisme. Determinisme bisa diartikan sebagai sikap keterpaksaan dari sebab-akibat, tidak memiliki kebebasan dalam seluruh aktifitas dan perbuatannya. Maksudnya, dari akibat-akibat yang didapat ada kekuatan sebab yang mempengaruhi. Dalam kasus saya, ban bocor adalah ketetapan dari Allah Swt yang sudah ditentukan. Sikap saya terhadap ban ketika menggunakan motor pun juga sudah ditentukan dari sananya. Semua perilaku kita sudah dibentuk oleh Allah. Allah sangat berperan mengatur kehidupan kita. Jadi, Allah-lah yang membocorkan ban saya.
Determinisme ini dikalangan ulama berkembang sebagai paham jabariyah yang banyak dianut oleh mazhab Asy’ariah (mazhab dalam ilmu kalam atau teologi islam). Pada mazhab jabariyah, meyakini bahwa manusia tidak memiliki kemampuan menentukan nasibnya sendiri. Seluruh urusan nasibnya ada di tangan Allah Swt. Paham ini memiliki kecendrungan bersifat fatalisme, yaitu sikap yang pasrah pada keadaan. Mazhab Asy’ariah sebagian besar dianut Umat Islam di Indonesia pada kalangan tradisional, sehingga banyak yang menganut paham ini.
Maka, ketika saya harus meyakini paham jabariyah ini, kejadian ban bocor yang saya alami adalah kehendak Allah yang tidak mungkin hindari. Dalam paham ini, saya tak perlu memikirkan usaha untuk menghindari, sebab perilaku saya yang malas merawat ban motor adalah sifat yang sudah ditetapkan oleh Allah. Para penganut Jabariyah menganggap bahwa Allah tidak menilai manusia dari takdir yang ia terima namun bagaimana manusia tersebut bisa menunjukkan ketakwaannya dari jalan takdir yang dihadapi.
Pada paham Jabariyah ini, ketika manusia berusaha bekerja keras semaksimal pun kalau memang ditakdirkan miskin oleh Allah, ya tetap miskin. Allah-lah yang mengatur rezeki makhluknya, bukan manusia. Kelebihan dari jabariyah adalah mereka meyakini Allah sebagai maha pemilik kehendak (Iroodah). Semua urusan hidupnya diserahkan kepada Allah. Ada sikap ridho. Namun, yang menjadi kekurangan adalah sikap fatalisme dalam hidupnya.
Berikut beberapa ayat Al-Qur’an yang menjadi rujukan paham Jabariyah,
- “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” Ash-Shaffat ayat 96
- “Mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki.” Al-An’am ayat 111
- “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” Al-Anfal ayat 17
Kemudian yang kedua soal kehendak bebas. Paham Kehendak bebas banyak dianut oleh orang-orang yang berpikir rasionalis dan liberal dalam dunia filosof. Dikalangan ulama, paham ini dinamakan paham qadariyah yang dianut oleh para pengikut mazhab Mu’tazilah.
Mazhab Mu’tazilah adalah mazhab yang mengajak manusia untuk bebas menggunakan akalnya dan berpikir rasional. Karena bebasnya menggunakan akal, mereka berkesimpulan bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Paham qadariyah ini pun sampai menganggap bahwa segala perbuatan manusia tidak ada campur tangan Allah Swt. Manusialah yang menentukan nasibnya sendiri. Dan manusialah yang harus bertanggung jawab atas perbuatan dan perilakunya sendiri.
Paham inilah akhirnya berkembang menjadi pemikiran rasioanlisme dan empirisme yang banyak dianut oleh manusia jaman modern. Segala sesuatu terbukti benar ketika bisa diterima akal (rasionalisme) dan perbuatan bisa dikatakan salah atau tidak bermoral ketika terbukti secara empiris. Tidak ada keterlibatan Tuhan di sini.
Kembali ke teori takdir tadi, paham qadariyah menganggap bahwa manusia menentukan takdirnya sendiri. Manusia adalah makhluk bebas. Manusia diberi kemampuan oleh Allah Swt untuk memiliki kehendaknya sendiri. Memilih jalan hidupnya sendiri.
Ketika saya harus mengikuti paham Qadariyah, maka kejadian bocornya ban adalah salah saya sendiri. Ketika saya bisa merubah perilaku menjadi rajin merawat ban motor, kejadian ban bocor yang menghambat agenda saya bisa dihindari.
Kelebihan dari paham ini adalah bisa mengajak manusia untuk berpikir optimis pada masa depannya. Kita bisa mencapai yang namanya kesuksesan dan keberhasilan, baik dalam hal harta dan status, ketika kita mau berusaha dan bekerja keras untuk merubah nasib. Nasib ada ditangan manusia. Manusialah yang menentukan masa depannya sendiri.
Kekurangannya adalah seperti yang sudah disebutkan di atas, yaitu menafikan kehadiran Tuhan untuk urusan nasib. Karena paham Qadariyah sudah muncul pada jaman Rasulullah, sampai-sampai Rasulullah pun bersabda dalam hadistnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra. : “Al-Qadariyah adalah majusi umat ini, kalau mereka sakit jangan dikunjungi. Kalau mereka meninggal dunia, jangan disaksikan (jenazahnya).”
Banyak ayat Al-Qur’an yang menjadi rujukan penganut paham Qadariyah :
- “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri.” al-Ra’d ayat 11
- “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” Fushshilat ayat 40
- “Allah tidak sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” Al-Ankabut 40
- “Katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir.” al-Kahfi ayat 29
Dari dua pandangan ini, bagaimanakah kita sebagai muslim harus bersikap? Itulah yang menjadi renungan saat menunggu tukang tambal ban menambal ban motor saya. Tukang tambal ban itu dengan baik hati berpesan agar saya rajin-rajin memperhatikan tekanan udara ban. Ia contohkan dengan motornya sendiri yang sering membawa beban berat mengantar daganganya namun jarang bocor (ya jelaslah, dia kan punya kompresor, jadi rajin mengisi angin, haha..).
Pesan itu, ketika harus saya terapkan artinya saya mengikuti paham qadariyah, bahwa saya harus merubah nasib saya. Saya harus berusaha agar jangan sampai ban bocor lagi sehingga mengganggu aktivitas saya. Itulah kehendak bebas yang saya miliki. Saya mengatur nasib saya.
Namun, ketika saya harus berdamai dengan takdir, maka Ridho Allah yang saya harapkan. Semua kejadian itu sudah diatur oleh Allah. Saya harus pasrah pada keadaan. Yang penting bagaimana saya sabar dan tawakal atas musibah ban bocor yang menimpa. Jadi, ketika saya harus mengikuti paham jabariyah, maka pesan tukang tambal ban itu harus saya nafikan. Bukan begitu?
Seperti sebuah kalimat pada artikel saya sebelumnya, Berdamai dengan Takdir 1, “Hidup bukan sekedar memikirkan hasil lemparan koin, tetapi pikirkan buat apa koin itu dilempar”. Lalu, bagaimana seorang muslim yang benar harus bersikap dari kedua pandanga tersebut? Meski dua paham diatas memiliki rujukan dalil Al-Qur’an, harus kita pahami juga bahwa ketika melihat Al-Qur’an tidak hanya berdasarkan teks. Pasti ada konteks yang megikuti. Kita harus mengerti alasan mengapa ayat itu keluar, sejarahnya bagaimana, dan tujuannya apa. Juga, Al-Qur’an pun menafsirkan dirinya sendiri dengan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya. Sehingga kita bisa mendapat jawaban-jawaban yang utuh atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Kemudian untuk masalah ini juga sudah ada jawabannya dalam sebuah hadist. Salah satunya hadist yang saya copas di bawah ini.
Ali ra., ia meriwayatkan, “Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil. Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu.
Kemudian beliau bersabda, ‘Tidak ada seorang pun dari kamu sekalian atau tidak ada satu jiwa pun yang hidup, kecuali telah Allah tentukan kedudukannya di dalam surga ataukah di dalam neraka, serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia.’
Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita berserah diri kepada takdir kita dan meninggalkan amal-usaha?’
Rasulullah saw. pun menjawab, ‘Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara.” Kemudian beliau melanjutkan, “Beramallah! Karena setiap orang akan dipermudah! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara.’
Rasulullah pun kemudian membacakan ayat ini, ‘Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.’” (Shahih Muslim No.4786)
Masih banyak pertanyaan-pertanyaan kritis untuk memahami hadist ini. Kita tidak harus memahaminya secara teks. Kita harus bisa mencoba memahaminya secara konteks dan filosofinya untuk dimaknai sesuai konteks kehidupan. Semoga dilain kesempatan, Insya Allah saya coba menyempatkan melanjutkan episode “Berdamai dengan takdir jilid 3” untuk membahas secara filosofis kasus ini dan menemukan kisah-kisah yang menarik agar mudah dipahami.
Wallahualambishowab,
Nb;
Ahad, 6 Oktober 2013, di acara pengajian karyawan Pro-U Media, Kang Puji Hartono (Ustad, trainer, dan pengusaha dari Jogja) berkata, “Kerja keras itu tidak ada hubungan dengan rezeki.” Sebuah kalimat yang memotivasi terwujudnya artikel ini.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.