Sabtu, 28 September 2013

Berdamai dengan Takdir 1

Di bulan Agustus lalu saya mendapati berita dongkol. Sekita bulan Juli, media-media nasional dengan bangga memberitakan kehadiran Boeing 777-300 ER yang dibeli maskapai BUMN, Garuda Indonesia. Pihak Garuda pun sangat bangga dan merasa sebagai Perusahaan penerbangan yang berani membeli pesawat sekelas Boeing 777-300 ER di Asia Tenggara. Bukan sekedar bangga karena tipe keluaran terbaru dengan teknologi terkini, namun pesawat berbadan lebar jarak jauh jenis ini memiliki fasilitas layanan first class yang terbilang cukup mewah. Layanan first class inilah yang membuat Garuda Indonesia bisa menyaingi kemewahan Singapure Airlines yang selama ini selalu menjadi maskapai terbaik dunia.

Kehadiran Boeing 777-300 ER menjadi bukti bahwa Garuda serius akan membuka rute penerbangan internasional. Boeing 777-300 ER adalah pesawat berbadan lebar untuk rute antar benua tanpa harus transit mengisi bahan bakar. Maksudnya, pesawat jenis ini mampu terbang nonstop dari Jakarta ke London, atau Jakarta – New York. Kehadirannya menjadi keunggulan tersendiri bagi maskapai internasional yang memilikinya, baik secara ekonomis maupun servis.

Nah, yang jadi kendala adalah, setelah datang pada bulan Juli lalu dan mencoba terbang perdana untuk rute Jakarta – London di bulan Agustus, Boeing 777-300 ER mengalami kendala yang berdampak pada kegagalan dan penundaan terbang perdana. Apa Sebab? Bandara Soekarno Hatta tidak mendukung kemampuan Boeing 777-300 ER agar bisa take off maksimal. Maksudnya, Pesawat jenis ini butuh standar landasan dengan tingkat kekerasan tertentu agar bisa take off maksimal dengan bahan bakar penuh. Bandara Soekarno Hatta sebagai bandara terbesar di Indonesia belum mendukung itu. Sehingga, penundaan rute ini harus menunggu hingga 6 bulan lagi.

Sebenarnya, bandara Soekarno Hatta sudah sering di darati pesawat jenis B 777 dari maskapai lain. Hanya saja, belum ada penerbangan langsung Jakarta – London. Garuda Indonesia mencoba terobosan itu yang merupakan bagian dari strategi marketing. Namun, agar Boeing 777 bisa menjalankan misinya dengan penerbangan Jakarta – London nonstop butuh kemampuan Maximum take Off Weight (MTOW), yaitu Take Off dengan kemampuan penumpang, cargo, serta bahan bakar penuh. Sayangnya, landasan pacu Bandara Soetta tidak menyanggupinya. Sebenarnya bisa, namun harus ada yang dikurangi bebannya dari sisi penumpag dan cargo. Hanya saja secara hitung-hitungan ekonomis hal itu akan merugikan Garuda. Hingga akhirnya, penundaan itulah menjadi pilihan agar bandara segera di upgrade.

Itulah mengapa saya katakan sebagai berita yang dongkol. Sebab, selama ini Garuda Indonesia adalah maskapai yang cukup profesional dengan pelayanannya. Jarang yang namanya delay. Kesungguhan dalam pelayanan dan update teknologi pesawat selalu menjadi prioritasnya. Garuda Indonesia sebagai BUMN memiliki harapan tinggi menjadi maskapai kelas dunia dengan kehadirann Boeing 777-300 ER. Namun, secara realistis, rencana besar tersebut harus tertunda hingga beberapa bulan kedepan hanya karena ketidakmampuan bandara dalam negeri.

Ingat, kasusnya pesawat seharga Rp 1,5 triliun yang dipesan sebanyak 10 buah itu sudah dibeli, sudah datang 2 biji pesawat, tetapi kok bisanya salah perhitungan soal kesanggupan operasional bandara. Artinya, rencana besar sekelas perusahaan Garuda Indonesia yang cukup professional saja harus mengalami “berantakan” rencana. Antara planing, tujuan, cita-cita, bisa terhambat karena kesalahan perhitungan yang tidak bisa kita tebak datangnya.

Berita soal Garuda ini mengajarkan saya bahwa, sekelas perusahaan besar yang profesional saja bisa berantakan rencana apalagi hanya kita seorang diri. Pertanyaannya berapa kali rencana kita berantakan? Kalau saya, jelas. Tak terhitung.

Ketika ditanya, apa yang membuat rencana kita tidak berjalan mulus. Jawabannya sederhana, karena kita terkadang tidak mau membuka mata realitas. Atau, tak peduli kadar kelemahan atau kekurangan yang kita miliki. Bahkan, rencana yang kita punya hanya menjadi mimpi-mimpi utopis. Kita berani berencana namun tak berani melangkah menyaksikan kenyataan. Tak ada kesungguhan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang membuat rencana tersebut gagal.

Ada rencana yang berantakan karena memang faktor kitanya yang tidak konsisten menjalankannya. Ada rencana yang berantakan karena kita tidak memikirkan faktor-faktor yang membuat gagal. Dan, ada juga rencana yang sudah dipikirkan sangat matang, sudah dijalankan dengan usaha yang keras tetap saja berantakan. Artinya, sematang-matangnya kita mengkonsep dan menjalankan rencana pasti ada saja ruang tak terduga yang tidak kita pikirkan. Itulah mengapa kita harus berdamai dengan takdir.

Tidak pasrah pada keadaan, tapi bagaimana mampu memutar kembali keaadaan yang menimpa masuk bagian dari rencana.

Pernah ketika mahasiswa saya berencana membuat event besar mengundang penulis novel best seller yang sedang naik daun saat itu. Segala upaya dilakukan agar dapat menghadirinya. Karena ada sebuah prestise tersendiri ketika berhasil megundang sang penulis. Namun apa dikata, dalam kesepakatan MOU, sang penulis meminta dana bayaran yang melebihi kesanggupan kita. Dengan berat hati rencana mengundang sang penulis tersebut harus mengalami kegagalan. Namun, kami mencoba kembali tetap pada tujuan dari misi event besar yang ingin kita adakan. Pilihannya, Apakah kita membatalkan event besar tersebut atau tetap menyelenggarakan dengan mencari penggantinya, dengan catatan waktu target yang kita tentukan sudah semakin dekat. Pilihan kedualah yang kami pilih. Dengan segala upaya, dan dengan merombak seluruh konsep acara, kami berhasil mengundang artis film ternama dan cukup legendaries. Dengan tema yang sesuai bidangnya, target mendatangkan peserta hingga ratusan akhirnya tercapai.

Pengalaman itu menjadi pelajaran, bahwa perlunya kita memiliki manajemen perubahan. Pengalaman itu juga akhirnya mengajarkan pada saya, bahwa tak perlu pasrah pada takdir. Tak perlu frustasi untuk membuat rencana hidup kembali. Sebab, hidup bukan sekedar hasil lemparan koin. Tapi menemukan buat apa koin itu dilempar. Hidup bukan harus pasrah pada takdir yang menimpa, tetapi fokus pada tujuan meski harus berhadapan dengan berbagai rencana yang harus berubah-ubah arahnya. Karena rencana terbaik hanya milik Allah Swt.

Nb:
Saya tidak berniat menjadi seorang motivator, tulisan ini hanya untuk memotivasi diri saja yang belum tentu termotivasi oleh kata-kata sendiri.

Baca juga : Berdamai dengan Takdir 2 >> http://www.ridwanhidayat.com/2013/10/bedamai-dengan-takdir-2.html

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger