Di bulan Agustus lalu saya mendapati
berita dongkol. Sekita bulan Juli, media-media nasional dengan bangga
memberitakan kehadiran Boeing 777-300 ER yang dibeli maskapai BUMN,
Garuda Indonesia. Pihak Garuda pun sangat bangga dan merasa sebagai
Perusahaan penerbangan yang berani membeli pesawat sekelas Boeing
777-300 ER di Asia Tenggara. Bukan sekedar bangga karena tipe
keluaran terbaru dengan teknologi terkini, namun pesawat berbadan
lebar jarak jauh jenis ini memiliki fasilitas layanan first class
yang terbilang cukup mewah. Layanan first class inilah yang
membuat Garuda Indonesia bisa menyaingi kemewahan Singapure Airlines
yang selama ini selalu menjadi maskapai terbaik dunia.
Kehadiran Boeing 777-300 ER menjadi
bukti bahwa Garuda serius akan membuka rute penerbangan
internasional. Boeing 777-300 ER adalah pesawat berbadan lebar untuk
rute antar benua tanpa harus transit mengisi bahan bakar. Maksudnya,
pesawat jenis ini mampu terbang nonstop dari Jakarta ke London, atau
Jakarta – New York. Kehadirannya menjadi keunggulan tersendiri bagi
maskapai internasional yang memilikinya, baik secara ekonomis maupun
servis.
Nah, yang jadi kendala adalah, setelah
datang pada bulan Juli lalu dan mencoba terbang perdana untuk rute
Jakarta – London di bulan Agustus, Boeing 777-300 ER mengalami
kendala yang berdampak pada kegagalan dan penundaan terbang perdana.
Apa Sebab? Bandara Soekarno Hatta tidak mendukung kemampuan Boeing
777-300 ER agar bisa take off maksimal. Maksudnya, Pesawat jenis ini
butuh standar landasan dengan tingkat kekerasan tertentu agar bisa
take off maksimal dengan bahan bakar penuh. Bandara Soekarno Hatta
sebagai bandara terbesar di Indonesia belum mendukung itu. Sehingga,
penundaan rute ini harus menunggu hingga 6 bulan lagi.
Sebenarnya, bandara Soekarno Hatta
sudah sering di darati pesawat jenis B 777 dari maskapai lain. Hanya
saja, belum ada penerbangan langsung Jakarta – London. Garuda
Indonesia mencoba terobosan itu yang merupakan bagian dari strategi
marketing. Namun, agar Boeing 777 bisa menjalankan misinya dengan
penerbangan Jakarta – London nonstop butuh kemampuan Maximum take
Off Weight (MTOW), yaitu Take Off dengan kemampuan penumpang, cargo,
serta bahan bakar penuh. Sayangnya, landasan pacu Bandara Soetta
tidak menyanggupinya. Sebenarnya bisa, namun harus ada yang dikurangi
bebannya dari sisi penumpag dan cargo. Hanya saja secara
hitung-hitungan ekonomis hal itu akan merugikan Garuda. Hingga
akhirnya, penundaan itulah menjadi pilihan agar bandara segera di
upgrade.
Itulah mengapa saya katakan sebagai
berita yang dongkol. Sebab, selama ini Garuda Indonesia adalah
maskapai yang cukup profesional dengan pelayanannya. Jarang yang
namanya delay. Kesungguhan dalam pelayanan dan update teknologi
pesawat selalu menjadi prioritasnya. Garuda Indonesia sebagai BUMN
memiliki harapan tinggi menjadi maskapai kelas dunia dengan
kehadirann Boeing 777-300 ER. Namun, secara realistis, rencana besar
tersebut harus tertunda hingga beberapa bulan kedepan hanya karena
ketidakmampuan bandara dalam negeri.
Ingat, kasusnya pesawat seharga Rp 1,5
triliun yang dipesan sebanyak 10 buah itu sudah dibeli, sudah datang 2 biji pesawat, tetapi kok
bisanya salah perhitungan soal kesanggupan operasional bandara.
Artinya, rencana besar sekelas perusahaan Garuda Indonesia yang cukup
professional saja harus mengalami “berantakan” rencana. Antara
planing, tujuan, cita-cita, bisa terhambat karena kesalahan
perhitungan yang tidak bisa kita tebak datangnya.
Berita soal Garuda ini mengajarkan saya
bahwa, sekelas perusahaan besar yang profesional saja bisa berantakan
rencana apalagi hanya kita seorang diri. Pertanyaannya berapa kali
rencana kita berantakan? Kalau saya, jelas. Tak terhitung.
Ketika ditanya, apa yang membuat
rencana kita tidak berjalan mulus. Jawabannya sederhana, karena kita
terkadang tidak mau membuka mata realitas. Atau, tak peduli kadar
kelemahan atau kekurangan yang kita miliki. Bahkan, rencana yang kita
punya hanya menjadi mimpi-mimpi utopis. Kita berani berencana namun
tak berani melangkah menyaksikan kenyataan. Tak ada kesungguhan untuk
memperbaiki kelemahan-kelemahan yang membuat rencana tersebut gagal.
Ada rencana yang berantakan karena
memang faktor kitanya yang tidak konsisten menjalankannya. Ada
rencana yang berantakan karena kita tidak memikirkan faktor-faktor
yang membuat gagal. Dan, ada juga rencana yang sudah dipikirkan
sangat matang, sudah dijalankan dengan usaha yang keras tetap saja
berantakan. Artinya, sematang-matangnya kita mengkonsep dan
menjalankan rencana pasti ada saja ruang tak terduga yang tidak kita
pikirkan. Itulah mengapa kita harus berdamai dengan takdir.
Tidak pasrah pada keadaan, tapi
bagaimana mampu memutar kembali keaadaan yang menimpa masuk bagian
dari rencana.
Pernah ketika mahasiswa saya berencana
membuat event besar mengundang penulis novel best seller yang sedang
naik daun saat itu. Segala upaya dilakukan agar dapat menghadirinya.
Karena ada sebuah prestise tersendiri ketika berhasil megundang sang
penulis. Namun apa dikata, dalam kesepakatan MOU, sang penulis
meminta dana bayaran yang melebihi kesanggupan kita. Dengan berat
hati rencana mengundang sang penulis tersebut harus mengalami
kegagalan. Namun, kami mencoba kembali tetap pada tujuan dari misi
event besar yang ingin kita adakan. Pilihannya, Apakah kita
membatalkan event besar tersebut atau tetap menyelenggarakan dengan
mencari penggantinya, dengan catatan waktu target yang kita tentukan
sudah semakin dekat. Pilihan kedualah yang kami pilih. Dengan segala
upaya, dan dengan merombak seluruh konsep acara, kami berhasil
mengundang artis film ternama dan cukup legendaries. Dengan tema yang
sesuai bidangnya, target mendatangkan peserta hingga ratusan akhirnya
tercapai.
Pengalaman itu menjadi pelajaran, bahwa
perlunya kita memiliki manajemen perubahan. Pengalaman itu juga
akhirnya mengajarkan pada saya, bahwa tak perlu pasrah pada takdir.
Tak perlu frustasi untuk membuat rencana hidup kembali. Sebab, hidup
bukan sekedar hasil lemparan koin. Tapi menemukan buat apa koin itu
dilempar. Hidup bukan harus pasrah pada takdir yang menimpa, tetapi
fokus pada tujuan meski harus berhadapan dengan berbagai rencana yang
harus berubah-ubah arahnya. Karena rencana terbaik hanya milik Allah
Swt.
Nb:
Saya tidak berniat menjadi seorang
motivator, tulisan ini hanya untuk memotivasi diri saja yang belum tentu termotivasi oleh kata-kata sendiri.
Baca juga : Berdamai dengan Takdir 2 >> http://www.ridwanhidayat.com/2013/10/bedamai-dengan-takdir-2.html
Baca juga : Berdamai dengan Takdir 2 >> http://www.ridwanhidayat.com/2013/10/bedamai-dengan-takdir-2.html
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.