Minggu, 19 Oktober 2014

Noah : “Kehidupan Manusia Harus Berakhir”

Review Film Noah

Ini kisah Noah. Petunjuk dalam mimpinya Noah  mengatakan bahwa umat manusia akan berakhir. Semenjak Adam melakukan dosa hingga diturunkan ke Bumi, hanya kehancuran yang dihasilkan manusia. Tuhan pun murka. Tubal-Kain, tokoh yang dikisahkan sebagai pemimpin manusia yang juga turunan Kain (Qabil anak Adam) mengatakan, Tuhan sudah tak mengurusi manusia lagi. Ia membiarkan manusia memilih nasibnya. “Kita adalah manusia. Kita yang putuskan hidup atau mati.” Ucap Tubal-Kain kepada pasukannya ketika ingin merebut bahtera Noah saat badai banjir akan datang. Ia ingin melawan kehendak Tuhan.

Karena petunjuk mimpi itulah, Noah membangun  sebuah kapal untuk menyelamatkan keluarganya. Hanya keluarganya dan sekelompok hewan-hewan yang datang sendiri atas perintah Tuhan. Tubail-Kain tidak terima. Ia dan pengikutnya punya hak untuk hidup juga. Ia meyakini bahwa Tuhan punya rencana untuk menenggelamkan manusia. Namun, ia ingin membuktikan bahwa manusia bisa bertahan, terutama untuk dirinya sendiri. “Manusia bukan diperintah dari surga, tapi dari kehendaknya sendiri.” Ucapnya di salah satu adegan.

Namun, Noah harus merubah sikapnya setelah melihat mimpi berikutnya. Muncul keyakinan, manusia memiliki dosa yang tak terampuni. Manusia memiliki sifat-sifat keburukan yang tidk bisa disembuhkan. Manusia sebagai sumber kerusakan dimuka bumi harus dimusnahkan tanpa tersisa satu pun. Termasuk Noah sendiri dan keluarganya. Konflik di keluarga pun terjadi.

Noah yakin akan petunjuk tuhan bahwa ia harus menjalankan misi tuhan untuk mengembalikan bumi seperti sebelum hadirnya manusia. Sebab, selama kehadiran manusia, banyak kerusakan alam hingga tanah bumi menjadi gersang akibat proyek industri manusia. Maka, setelah selesai banjir dan menyelamatkan hewan-hewan yang ia angkut, rencan berikutnya adalah mengakhiri keluarganya.

Mirip pada kisah aslinya, Noah mempunyai tiga anak, yang pertama Sam, Ham dan yang termuda Yafet. Satu lagi anak angkat seorang perempuan yang bernama Illa. Illa menikah dengan Sam. Namun dicerita di awal, Illa mandul karena musibah di waktu kecil. Sehingga Noah membiarkan Sam dan Illa memiliki hubungan ketika kapal mulai berlayar saat datangnya banjir. Mereka tak mungkin akan punya turunan. Cerita itu berubah ketika ternyata Illa bisa hamil berkat kekuatan yang diberikan Meutusaleh, kakek Noah yang masih hidup. Konflik menjadi kuat dalam keluarga tersebut karena jika bayi itu lahir harus dibunuh. Tak boleh ada keturunan. Ada raut murka pada diri Noah ketika mendengar usaha istrinya agar Illa disembuhkan dari kemandulan melalui Meutusaleh, sebab itu melawan kehendak Tuhan.

Konflik Noah juga terjadi pada anak keduanya, Ham. Kalau Sam punya pasangan, maka Ham juga menginginkan pasangan. Noah menolak karena keyakinannya tadi. Ham berusaha mencari teman hidupnya sendiri dan menemukan sosok wanitanya. Namun, ketika banjir datang sang wanita ketika berlari menuju kapal terjatuh sehingga tidak bisa berlari. Noah melihat lalu membawa Ham tanpa menyelamatkan si wanita. Ham pun menjadi dendam dengan Noah. Rasa dendam Noah ia tunjukkan dengan membiarkan Tubail-Kain menyusup ke kapal. Tubail-Kain ini pun akhirnya meracuni pikiran Ham, hingga memiliki rencana untuk membunuh Noah saat kapal sudah berlayar di tengah banjir tanpa daratan.

Semua keluarganya menolak apa yang ingin dilakukan Noah. Terutama sang istri menganggap  masih ada kebaikan dalam diri anak-anaknya. Ia meminta kepada Noah agar diberi kesempatan untuk hidup. Khususnya bayi yang akhirnya lahir dari rahim Illa.

Dia akhir konflik, cerita mengarahkan bahwa Noah memiliki nati nurani. Bayi Sam dan Illa tidak jadi dibunuhnya. Banjir pun reda, kapal terdampar, ia memutuskan tidak jadi mengakhir keluarganya. Noah ditampakkan menyesal karena telah mengecewakan Tuhan.

Di akhir cerita, Illa memberikan pesan ke Noah yang akhirnya membuatnya berubah, “Dia (tuhan) memilihmu karena punya alasan. Dia menunjukkanmu kejahatan manusia dan tahu kau takkan berpaling. Tapi kau juga melihat kebaikan dalam manusia. Pilihan itu ada ditanganmu, karena Dia memintamu begitu. Dia memintamu apakah kita pantas diselamatkan. Dan kau memilih belas kasih. Dia memberi kita kesempatan ke dua. Menjadi seorang ayah. Menjadi kakek. Untuk memulai kembali (kehidupan). “

Ini kisah Noah. Bukan kisah Nabi Nuh. Banyak sekali perbedaannya. Mulai dari konsep Adam sudah sangat mencolok. Dalam Islam, tak ada dosa turunan. Manusia meski dilahirkan bisa menjadi perusak, namun dalam sejarah sebelum masa Nuh, manusia berhasil membawa bumi terhindar dari kerusakan.

Bedanya lagi, Nabi Nuh hadir untuk mengajak umat manusia kembali ke jalan yang benar. Allah memerintahkan Nuh membangun bahtera untuk menyelamatkan orang-orang beriman dari banjir besar. Sebab, atas kehendak Allah, manusia yang tersesat harus dimusnahkan dari muka bumi.

Dan yang lebih, membedakannya lagi adalah tidak masuk akalnya jalan cerita. Pertama, adanya kelompok malaikat yang dikutuk Tuhan karena secara sukarela turun ke bumi untuk membantu Adam dan Hawa yang dihukum di Bumi. Para malaikat tersebut kasihan dengan Adam.

Kedua ditunjukkannya bibit tumbuhan yang berasal dari surga. Dalam sejarah yang asli, bibit tumbuhan memang ada diturunkan dari surga oleh malaikat Jibril dan diberikan kepada Adam. Namun di film ini bibit tanaman surga tersebut sangat cepat tumbuh menjadi hutan untuk diolah menjadi bahan baku membuat kapal. Padahal sejarah yang benar, Nabi Nuh harus menanam pohon dan menunggu selama seratus tahun sebelum kayu-kayu dari hasil hutan tersebut digunakan untuk membangun kapal.

Kemudian yang ketiga, seolah posisi tuhan adalah musuh manusia. Tuhan berada dipihak yang jahat. Manusia pun berhak memilih jalan yang tidak sesuai kehendak Tuhan. Makanya film ini benar-benar sangat bertentangan dengan ajaran agama, baik Nasrani apalagi Islam.

Film ini memang penuh dengan pesan-pesan filosofis yang menggoda cara berpikir manusia. Itulah yang membuat Noah dilarang tayang di Indonesia dan beberapa negeri berpenduduk muslim lainnya.

Teringat kata Jaun Paul Sartre, “manusia itu dikutuk untuk bebas”. Manusia mempunyai kehendak bebas memilih jalan hidupnya sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Maka, film ini bisa jadi sebagai film tentang eksistensialisme.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger