Review Film Noah
Ini kisah Noah. Petunjuk dalam mimpinya Noah mengatakan bahwa umat manusia akan berakhir.
Semenjak Adam melakukan dosa hingga diturunkan ke Bumi, hanya kehancuran yang
dihasilkan manusia. Tuhan pun murka. Tubal-Kain, tokoh yang dikisahkan sebagai
pemimpin manusia yang juga turunan Kain (Qabil anak Adam) mengatakan, Tuhan
sudah tak mengurusi manusia lagi. Ia membiarkan manusia memilih nasibnya. “Kita
adalah manusia. Kita yang putuskan hidup atau mati.” Ucap Tubal-Kain kepada
pasukannya ketika ingin merebut bahtera Noah saat badai banjir akan datang. Ia
ingin melawan kehendak Tuhan.
Karena petunjuk mimpi itulah, Noah membangun sebuah kapal untuk menyelamatkan keluarganya.
Hanya keluarganya dan sekelompok hewan-hewan yang datang sendiri atas perintah
Tuhan. Tubail-Kain tidak terima. Ia dan pengikutnya punya hak untuk hidup juga.
Ia meyakini bahwa Tuhan punya rencana untuk menenggelamkan manusia. Namun, ia
ingin membuktikan bahwa manusia bisa bertahan, terutama untuk dirinya sendiri. “Manusia
bukan diperintah dari surga, tapi dari kehendaknya sendiri.” Ucapnya di salah
satu adegan.
Namun, Noah harus merubah sikapnya setelah melihat mimpi
berikutnya. Muncul keyakinan, manusia memiliki dosa yang tak terampuni. Manusia
memiliki sifat-sifat keburukan yang tidk bisa disembuhkan. Manusia sebagai
sumber kerusakan dimuka bumi harus dimusnahkan tanpa tersisa satu pun. Termasuk
Noah sendiri dan keluarganya. Konflik di keluarga pun terjadi.
Noah yakin akan petunjuk tuhan bahwa ia harus menjalankan
misi tuhan untuk mengembalikan bumi seperti sebelum hadirnya manusia. Sebab,
selama kehadiran manusia, banyak kerusakan alam hingga tanah bumi menjadi
gersang akibat proyek industri manusia. Maka, setelah selesai banjir dan
menyelamatkan hewan-hewan yang ia angkut, rencan berikutnya adalah mengakhiri
keluarganya.
Mirip pada kisah aslinya, Noah mempunyai tiga anak, yang
pertama Sam, Ham dan yang termuda Yafet. Satu lagi anak angkat seorang
perempuan yang bernama Illa. Illa menikah dengan Sam. Namun dicerita di awal,
Illa mandul karena musibah di waktu kecil. Sehingga Noah membiarkan Sam dan
Illa memiliki hubungan ketika kapal mulai berlayar saat datangnya banjir. Mereka
tak mungkin akan punya turunan. Cerita itu berubah ketika ternyata Illa bisa
hamil berkat kekuatan yang diberikan Meutusaleh, kakek Noah yang masih hidup.
Konflik menjadi kuat dalam keluarga tersebut karena jika bayi itu lahir harus
dibunuh. Tak boleh ada keturunan. Ada raut murka pada diri Noah ketika
mendengar usaha istrinya agar Illa disembuhkan dari kemandulan melalui
Meutusaleh, sebab itu melawan kehendak Tuhan.
Konflik Noah juga terjadi pada anak keduanya, Ham. Kalau Sam
punya pasangan, maka Ham juga menginginkan pasangan. Noah menolak karena
keyakinannya tadi. Ham berusaha mencari teman hidupnya sendiri dan menemukan
sosok wanitanya. Namun, ketika banjir datang sang wanita ketika berlari menuju
kapal terjatuh sehingga tidak bisa berlari. Noah melihat lalu membawa Ham tanpa
menyelamatkan si wanita. Ham pun menjadi dendam dengan Noah. Rasa dendam Noah
ia tunjukkan dengan membiarkan Tubail-Kain menyusup ke kapal. Tubail-Kain ini
pun akhirnya meracuni pikiran Ham, hingga memiliki rencana untuk membunuh Noah
saat kapal sudah berlayar di tengah banjir tanpa daratan.
Semua keluarganya menolak apa yang ingin dilakukan Noah.
Terutama sang istri menganggap masih ada
kebaikan dalam diri anak-anaknya. Ia meminta kepada Noah agar diberi kesempatan
untuk hidup. Khususnya bayi yang akhirnya lahir dari rahim Illa.
Dia akhir konflik, cerita mengarahkan bahwa Noah memiliki
nati nurani. Bayi Sam dan Illa tidak jadi dibunuhnya. Banjir pun reda, kapal
terdampar, ia memutuskan tidak jadi mengakhir keluarganya. Noah ditampakkan
menyesal karena telah mengecewakan Tuhan.
Di akhir cerita, Illa memberikan pesan ke Noah yang akhirnya
membuatnya berubah, “Dia (tuhan) memilihmu karena punya alasan. Dia menunjukkanmu
kejahatan manusia dan tahu kau takkan berpaling. Tapi kau juga melihat kebaikan
dalam manusia. Pilihan itu ada ditanganmu, karena Dia memintamu begitu. Dia
memintamu apakah kita pantas diselamatkan. Dan kau memilih belas kasih. Dia memberi
kita kesempatan ke dua. Menjadi seorang ayah. Menjadi kakek. Untuk memulai
kembali (kehidupan). “
Ini kisah Noah. Bukan kisah Nabi Nuh. Banyak sekali
perbedaannya. Mulai dari konsep Adam sudah sangat mencolok. Dalam Islam, tak
ada dosa turunan. Manusia meski dilahirkan bisa menjadi perusak, namun dalam
sejarah sebelum masa Nuh, manusia berhasil membawa bumi terhindar dari
kerusakan.
Bedanya lagi, Nabi Nuh hadir untuk mengajak umat manusia
kembali ke jalan yang benar. Allah memerintahkan Nuh membangun bahtera untuk menyelamatkan
orang-orang beriman dari banjir besar. Sebab, atas kehendak Allah, manusia yang
tersesat harus dimusnahkan dari muka bumi.
Dan yang lebih, membedakannya lagi adalah tidak masuk akalnya
jalan cerita. Pertama, adanya kelompok malaikat yang dikutuk Tuhan karena
secara sukarela turun ke bumi untuk membantu Adam dan Hawa yang dihukum di
Bumi. Para malaikat tersebut kasihan dengan Adam.
Kedua ditunjukkannya bibit tumbuhan yang berasal dari surga.
Dalam sejarah yang asli, bibit tumbuhan memang ada diturunkan dari surga oleh
malaikat Jibril dan diberikan kepada Adam. Namun di film ini bibit tanaman surga
tersebut sangat cepat tumbuh menjadi hutan untuk diolah menjadi bahan baku
membuat kapal. Padahal sejarah yang benar, Nabi Nuh harus menanam pohon dan
menunggu selama seratus tahun sebelum kayu-kayu dari hasil hutan tersebut
digunakan untuk membangun kapal.
Kemudian yang ketiga, seolah posisi tuhan adalah musuh
manusia. Tuhan berada dipihak yang jahat. Manusia pun berhak memilih jalan yang
tidak sesuai kehendak Tuhan. Makanya film ini benar-benar sangat bertentangan
dengan ajaran agama, baik Nasrani apalagi Islam.
Film ini memang penuh dengan pesan-pesan filosofis yang
menggoda cara berpikir manusia. Itulah yang membuat Noah dilarang tayang di
Indonesia dan beberapa negeri berpenduduk muslim lainnya.
Teringat kata Jaun Paul Sartre, “manusia itu dikutuk untuk
bebas”. Manusia mempunyai kehendak bebas memilih jalan hidupnya sendiri tanpa
campur tangan Tuhan. Maka, film ini bisa jadi sebagai film tentang
eksistensialisme.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.