Lebih tepatnya senin malam, saya berangkat menggunakan sepeda motor dalam keadaan gelap. Sorot lampu motor cukup membantu menerangi jalan ke daerah Gamping yang agak pelosok. Di situlah tempat pengajian rutin kelompok kami. Setiap senin malam, kami mengaji rutin di pondok pesantren yang ada di wilayah Gamping. Kebetulan guru ngaji kami mendapat amanah memimpin pondok itu, sehingga menjadi tempat kami rutin berkumpul seminggu sekali.
Suasana sangat gelap. Pondok juga sepi. Hanya ada aku dan beberapa teman ngaji. Para santri pondok mungkin sudah di kamar masing-masing. Kami hanya tamu. Hanya bermodal cahaya senter yang sinarnya pas-pasan, kami menuju masjid yang ada di pesantren itu untuk berkumpul. Perlu di ketahui, pondok ini di kelilingi lahan kuburan. Sebelah utara, timur, dan barat pondok adalah kuburan. Suana gelap itu menambah kesan angker.
Sayang, guru ngaji kami ternyata belum ada di tempat. Ia masih dalam perjalanan setelah mengisi acara di luar kota siangnya. Kami pun akhirnya hanya diam menunggu meski waktu telah menunjukkan 20.30 WIB. Setelah tilawah selesai, kita pun hening ingin melakukan apa. Dalam kondisi gelap gulita itu saya mengusulkan, “Cerita hantu yuk?” Ajakku.
***
“Tahu gak, kamarku itu ada jin perempuan.” kucoba memulai, “Pokoknya, setiap anak yang ditidur di kamarku itu pasti pernah dimimpikan bertemu dengan sosok wanita cantik.” Kawan yang lain mulai tertarik dengan ceritaku.
Memang di kamar kosku itu agak aneh. “Jadi, waktu aku ingin menempati kamar itu,” Lanjut ceritaku, “pemilik kos yang juga teman kuliahku sendiri mengatakan kalau di kamar itu ada sosok jin perempuan. Dia suka menggoda lewat mimpi. Seperti dicium. Kadang, setiap anak yang ditidur di situ (baik penghuni maupun tamu) sampai ada yang bermimpi (maaf) ‘b*s*h’.” kawan-kawan pengajianku pun tertawa mendengarnya. Ada yang serius percaya, ada yang hanya menganggap sebuah candaan.
“Beneran loh ini.” aku coba meyakinkan, “Aku juga alami.” sambut tawa kawan-kawanku.
“Berarti kamu sering mimpi b*s*h? Asik ya di perkosa jin? hahaha.. ” salah satu menimpali pertanyaan ke aku sambil tertawa.
“Maaf.. maaf..,” Aku coba klarifikasi, “Alhamdulillah, aku jarang mimpi sampai b*s*h.”
“Kamu bukan selera jinnya kali.. hahaha..” seloroh temanku yang lain sambil tertawa.
“Malah,” lanjutku, “Bisa sampai terjadi perubahan perilaku penghuninya. Kata pemilik kos itu, penghuni sebelumnya ketika menempati kamarku jadi berubah perilaku, yang awalnya jarang memperhatikan penampilan jadi sering perhatian dengan tampilannya. Seperti sering mengaca, sisiran. Alhamdulillah itu juga tidak terjadi padaku. Aku tidak ada cermin di kamar. Apalagi sisiran. Jarang. Hahaha..”
“Hayo, yang mau merasakan dicium, silakan menginap di kamar Ridwan. hahaha.. ” ucap temanku yang lain.
Kejadian tentang perilaku jin perempuan itu sudah lama. Terjadi waktu awal-awal menempati saja. Kira-kira 4 tahun yang lalu. Baru hari itu saya menceritakan ke kawan kelompok pengajian.
Sudah menjadi rahasia umum anak-anak di kos tau tentang kamarku itu. Ketika pertama kali di ceritakan oleh pemilik kos, saya setengah tidak percaya. Malah, mencoba menantang bener atau tidaknya ada ‘penghuni lain’. Ternyata itu benar. Beberapa kali ketika awal menempati, sering mimpi ditampilkannya sosok perempuan. Tetapi tidak hafal wajahnya seperti apa. Dalam teori mimpi, 5 menit setelah bangun 80% memori tentang mimpi akan hilang. Mimpi dicium pun juga mengalami beberapa kali. Untungnya, sang jin perempuan hanya berani mengganggu di dalam mimpi saja. Hingga saat ini belum pernah diganggu di luar tidur atau sampai menujukkan penampakannya.
“Itu hanya di awal-awal saja.” terangku lagi, “Sudah 2 tahun ini tidak mengalami lagi kayak gitu. Mungkin jinnya sudah bosan mengganggu, karena yang punya kamar rajin mengaji, haha..”
Suasana gelap yang menyeramkan itu jadi ramai dengan suara terbahak-bahak. Kesan seram hilang.
“Ada satu cerita lagi nih.” Aku mulai lagi, “Ini pengalaman temannya teman saya.”
Masih cerita seputar jin yang cukup menghibur. “Saya punya teman yang temannya sedang mencari rumah kontrakan murah sesuai bajetnya. Rumah kontrakan murah pun dapat. yang membuat harga sewa murah karena tidak ada yang mau menempati rumah itu. Selain kesan kumuh, juga angker. Setiap orang yang ada di rumah itu selalu diganggu oleh makhluk aneh. Warga sekitarnya sudah pada tahu. Calon penghuni yang masih mahasiswa itu pun tak masalah dengan cerita pemiliknya. Ia ingin tetap menempati rumah sewaan yang terbilang cukup murah dengan teman-temannya.”
“Terus diganggu? Jinnya perempuan juga?” Timpal temanku belum selesai cerita.
“kalau ini jinnya gak lewat mimpi.” lanjutku, “Sang jin berani menunjukkan eksistensinya (keberadaannya) secara langsung. Jinnya lebih hebat.
Selama di rumah itu, memang benar, mereka sering diganggu dengan cara aneh-aneh. Contohnya, salah satu dari mereka ketika sedang menulis lalu meletakkan pulpen sejenak, dalam waktu beberapa detik sudah pindah sendiri pulpennya.
Ada juga yang lagi memperbaiki lampu menggunakan obeng. Tiba-tiba obeng itu lengket sendiri di langit-langit ruangan. Respon mereka bukan lari ketakutan, tapi malah memarahi yang mengganggu.” Begitu cerita teman saya yang coba saya ceritakan kembali dengan bahasa saya tentunya.
Cerita kucoba lanjutkan, “si jin tak kehilangan akal mengganggu. Ketika salah satu dari mereka sedang asik rebahan di kasur dipan, tiba-tiba dipan bergoyang sendiri. Bukannya lari takut, orang yang dikasur malah tertawa riang. Ia menikmati goyangan dipannya. Si jin pun akhirnya berhenti sendiri, karena kesal.
Yang anehnya, si jin mencoba menampakkan diri. Waktu salah satu dari mereka mencoba membuka jendela kamar saat malam hari karena kepanasan, tiba-tiba muncul wajah bapak-bapak tua pakai belangkon masuk dari jendela. Orang itu sempat kaget. Ia tutup saja jendelannya dengan kuat untuk mengusirnya. Ia pun keluar lalu memanggil teman-temannya serumah untuk melihat dibalik jendela sebelah luar apakah makhluk itu masih ada. Ternyata setelah diintip, sosok makluk itu masih nampak. Bukannya lari ketakutan, malah si jin ditertawakan ramai-ramai oleh mereka. Si jin gak ada kakinya. Itu yang membuat mereka tertawa.”
“Kalau diganggu jin, sebaiknya ditertawakan ya jinnya?” ucap kawan saya dengan polosnya.
“Ini ceritanya serius ini?” kawan saya satunya ingin menyakinkan.
“Nah,” lanjutku, “Sampai suatu saat di kondisi yang hening tanpa ada angin tiba-tiba ada suara pintu berbentur keras seperti membuka dan menutup sendiri. Penghuni rumah hanya menanggapi biasa, paling si jin mencari perhatian lagi. Namun, setelah beberapa hari kemudian penghuni rumah pun heran, mengapa tidak ada gangguan lagi. Terakhir kali ulah jin suara benturan keras pintu itu. Mereka menyimpulkan kalau benturan keras pintu itu adalah bentuk kemarahan si jin. Mungkin karena dongkol. Lalu si jin pergi entah kemana.”
Cerita berakhir tragis. Guru ngaji kami sudah datang. Pengajian beneran dilanjutkan oleh guru ngaji kami di tengah suasana gelap gulita. Materi ngaji kali ini adalah ...
Cerita hantu bukan untuk di takuti tapi untuk guyonan saja, ya.
**ini tulisan memang gak penting sih. Hanya iseng mengisi kepenatan di waktu kerja. hehe..

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.