Sabtu, 25 Oktober 2014

Membaca ‘Tanda’ Kebohongan

Seringkah kau berbohong? Hampir semua orang pernah berbohong. Banyak motif dibaliknya. Orang berbohong demi menjaga sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain. Berbohong untuk bertahan dari menjaga kekurangan atau kelemahan diri. Bisa juga sengaja berbohong untuk menjaga perasaan orang. Bahkan berbohong demi sebuah ambisi (kekuasaan).

Serunya, kebohongan-kebohogan kita saat ini bakal mudah diketahui. Serial film Lie to Me yang saya tonton liburan akhir pekan ini menarik untuk dikaji. Film Serial yang terdiri dari 3 season ini menceritakan seorang ahli yang mampu membaca kebohongan dari perilaku ‘tanda’ tubuh. Serial yang mulai ditayangkan sejak 2009 di Fox TV menampilkan tokoh bernama Carl Lightman sebagai pakar kebohongan yang sering menangani kasus-kasus kepolisian dan FBI. Uniknya ia selalu berseberangan pendapat dalam setiap kasus. Ketika pihak kepolisian menyatakan pelaku berbohong setelah diuji dengan mesin penguji kebohongan, Carl Lightman mampu membuktikan bahwa pelaku jujur. Menariknya, untuk membuktikan kejujuran itu ia harus terlibat aktif menginvestigasi kasus sampai ke akar. Ia ingin membuktikan bahwa teori yang digunakan benar-benar ilmiah dan kasus bisa terpecahkan. Jadi seperti halnya film detektif.

Dari berbagai kasus  di setiap episodenya, inti dari film Lie to Me ini adalah pembacaan pada  microexpression. Microexpression yang muncul di tubuh manusia memiliki makna yang bisa diterjemahkan. Sang pakar harus menghafal ratusan makna dari microexpression yang ada, karena hampir semua manusia memiliki microexpression yang sama setiap kali menunjukkan emosi ekspresinyanya, baik bersedih, jengkel, marah, gembira, pura-pura, tidak yakin dan ratusan eksspresi lainnya. Jadi, ketika sang pelaku diberikan sebuah pertanyaan, penyidik harus merekam mimik tubuh selama menjawab. Penyidik dari tokoh film tersebut selalu menemukan antara ucapan dengan reaksi tubuh selalu berbeda. Dari reaksi tubuh inilah fakta diungkap. (mungkin ini kali ya yang dimaksud Surat Yasin tentang tangan dan kaki berbicara ketika di hari pembalasan – selingan)

Film serial ini bukan sekedar cerita fiksi. Ilmu pengetahuan di film tersebut memang ada. Inilah ilmu yang dikembangkan oleh Paul Ekman, seorang ilmuan dari University of California, San Francisco. Buku Paul Ekman yang berjudul Telling Lies menjadi dasar keilmuan dari serial Lie to Me. Kalau di Film Carl Lightment memimpin firma yang bernama The Lightman Group, maka Paul Ekman, ilmuan asilnya, memang punya firma beneran yang bernama The Ekman Group. Bisa dikatakan, film ini disadur dari kisah aslinya.

Microexpression memang bersifat personal. Ilmu ini bisa menjadi pengetahuan kita untuk mengetahui orang-orang disekitar kita berbohong atau tidak. Meski itu tidak mudah. Namun, kebohongan itu tidak hanya terjadi pada orang-orang disekitar kita saja, dalam lingkup negara bahkan dunia, kebohongan bisa terorganisir. Kita sudah terjebak pada lingkungan yang penuh kebohongan-kepalsuan yang tidak kita sadari.

Pernah nonton film judulnya S1M0NE ? Bagi anak-anak komunikasi atau yang mendalami kajian budaya dan media, film ini sering dijadikan rujukan penelitian. Seperti judulnya S1M0NE yang dipanjangkan menjadi Simulation One mengambil teori Simulasi dari konsep Hiperreailitas yang dikembangkan oleh tokoh Postmodernisme: Jean Budrillard.

Cerita singkat filmnya begini. Tokoh bernama Viktor adalah sutradara yang idealis. Ia mengalami kesulitan mencari tokoh  untuk film yang akan ia buat. Saking frustasinya tidak menemukan tokoh, ia bekerjasama dengan seorang programer membuat manusia komputer ciptaan menggunakan teknologi hologram. Terciptalah manusia virtual yang ia inginkan diberi nama Simone. Manusia virtual inilah menjadi bintang utama filmnya.

Filmnya menjadi sukses, Simone menjadi artis terkenal yang banyak dikagumi. Padahal, Simone hanya hasil fantasi ciptaan Viktor. Namun masyarakat menganggap Simone adalah manusia nyata. Simon yang hanya virtual menjadi bagian masyarakat dunia. Berbagai cara dalam pemrograman komputer sosok Simone direkayasa, seperti penampilan, busana, cara berbicara, sehingga membuat para penonton mengagguminya. Media pun ikut mengangkat popularitas Simone. Beberapa talkshow dan wawancara jarak jauh dilakukan. Inilah konflik yang terjadi di film ini. Ketenaran Simone menjadi senjata makan tuan oleh Viktor. Karena sosok Simone cendrung tertutup, jarang tampil ke publik, membuat sebagian masyarakat penasaran. Sampailah akhirnya, Simone dikabarkan meninggal oleh Viktor. Hal membuat kecurigaan Polisi. Hingga ternyata Polisi tak menemukan sosok mayat di dalam peti jenazah. Terungkaplah kebohongan Viktor.

Kisah dalam film S1M0NE hanyalah fiktif. Teknologi yang bisa membuat seperti sosok Simone belum ada. Namun, konsep rekayasa citra  dari film tersebut sudah menjadi bagian keseharian kita. Kita memasuki dunia yang penuh kebohongan. Imajinasi yang kita yakini selama ini terhadap produk, ide, bahkan sosok tokoh tertentu adalah hasil rekayasa.

Dari film tersbut kita lihat bagaimana publik begitu antusias menganggap Simone benar-benar ada. Bahkan, ketika Viktor menyatakan ke istrinya bahwa Simone hanya buatan, sang istri tidak percaya dan tetap meyakini bahwa Simone benar-benar ada. Sang polisi pun juga meyakini bahwa Viktor telah membunuh Simon meski Viktor sudah menjelaskan bahwa Simone adalah produk angka-angka matematika 0 dan 1.

Jean Budrillard memperkenalkan konsep hiperrealitas, yaitu sesuatu yang melampaui kenyataan. Hiperrealitas adalah sebuah konsep dimana realitas yang dalam konstruksinya tidak bisa dilepaskan dari produksi dan permainan tanda-tanda yang melampaui realitas aslinya (Hyper-sign).  Hiperrealitas menciptakan suatu kondisi dimana kepalsuan bersatu dengan keaslian, masa lalu berbaur dengan masa kini, fakta bersimpang siur dengan rekayasa, tanda melebur dengan realitas, dusta bersenyawa dengan kebenaran.

Film S1M0NE ini memiliki pesan bahwa kita harus berhati-hati terhadap jebakan simulasi yang mampu mengubah imajiner menjadi realitas akibat termediasikan oleh simbol dan tanda. Media-media seperti televisi, film, berita, hingga internet dengan simbol dan tandanya (gambar, warna, gerak)  menjadi sarana pembentuk imajinasi.

Contoh sederhana lagi tentang hipperealitas adalah  ketika awal tahun 2000an Jogja heboh dengan buku yang menyebutkan 80% mahasiswa di Jogja tidak perawan. Secara metodelogi buku ini masih dipertanyakan keilmiahannya. Namun, hasilnya begitu diyakini sebagai sebuah kebenaran oleh sebagian masyarakat kita. Itulah bahayanya. Kita meyakini sebuah kebenaran yang sebenarnya itu tidak ada.

Dalam teori marketing ada istilah branding. Yaitu, cara untuk membangun konsep tentang produk itu. Misal mobil Toyota Advanza dibranding sebagai mobil keluarga murah. Yang memiliki ilmu untuk membuar brand itu adalah orang-orang yang memperdalam komunikasi visual. Dengan branding kita bisa memenuhi kenginan pasar. Begitu juga dalam proses politik. Calon Walikota hingga Presiden pun juga melakukan hal ini  agar mendapat tempat di calon pemilihnya. Nah yang menjadi masalah adalah, ketika hasil pencitraan (branding) itu berhasil direkam ke dalam imajinasi masyakarat namun kenyataannya sang tokoh tidak memiliki sikap dari apa yang dicitrakan. Inilah yang di sebut rekayasa imajinasi. Fakta dan rekayasa tidak jelas batasannya.

Sama hal ketika kita masih menganggap pemberitaan di media, iklan, gossip selebritis, tayangan pencarian bakat hingga program acara yang mengusung genre reality show merupakan kebenaran atau realitas sesungguhnya. Padahal  Bagi Baudrillard melalui konsep simulasi, hal itu  tidak lebih sebagai arena manipulasi citra dan konstruksi imajinasi atas kuasa tanda dalam masyarakat postmodernisme.

Pertanyaannya, kenapa rekayasa seperti ini diciptakan? Itulah imperialisme kapitalis. Tujuannya adalah kekuasaan ekonomi dengan menciptakan budaya konsumen dan kepatuhan. Inilah gaya kapitalisme saat ini. Sangat Humanis. Waspadalah..


Refrensi:
http://www.paulekman.com
http://kotakpandorahitam.blogspot.com/2012/02/resensi-simulasi-dan-hiperrealitas.html
http://kolomsosiologi.blogspot.com/2012/09/simulakra-dan-hiperrealitas-dalam-film.html
Agama dan Imajinasi, Yasraf Amir Piliang

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger