Seringkah kau berbohong? Hampir semua orang pernah berbohong.
Banyak motif dibaliknya. Orang berbohong demi menjaga sesuatu yang tidak ingin
diketahui orang lain. Berbohong untuk bertahan dari menjaga kekurangan atau
kelemahan diri. Bisa juga sengaja berbohong untuk menjaga perasaan orang. Bahkan
berbohong demi sebuah ambisi (kekuasaan).
Serunya, kebohongan-kebohogan kita saat ini bakal mudah
diketahui. Serial film Lie to Me yang saya tonton liburan akhir pekan ini
menarik untuk dikaji. Film Serial yang terdiri dari 3 season ini menceritakan
seorang ahli yang mampu membaca kebohongan dari perilaku ‘tanda’ tubuh. Serial yang
mulai ditayangkan sejak 2009 di Fox TV menampilkan tokoh bernama Carl Lightman
sebagai pakar kebohongan yang sering menangani kasus-kasus kepolisian dan FBI.
Uniknya ia selalu berseberangan pendapat dalam setiap kasus. Ketika pihak
kepolisian menyatakan pelaku berbohong setelah diuji dengan mesin penguji
kebohongan, Carl Lightman mampu membuktikan bahwa pelaku jujur. Menariknya,
untuk membuktikan kejujuran itu ia harus terlibat aktif menginvestigasi kasus
sampai ke akar. Ia ingin membuktikan bahwa teori yang digunakan benar-benar
ilmiah dan kasus bisa terpecahkan. Jadi seperti halnya film detektif.
Dari berbagai kasus di
setiap episodenya, inti dari film Lie to Me ini adalah pembacaan pada microexpression.
Microexpression yang muncul di tubuh
manusia memiliki makna yang bisa diterjemahkan. Sang pakar harus menghafal
ratusan makna dari microexpression
yang ada, karena hampir semua manusia memiliki microexpression yang sama setiap kali menunjukkan emosi ekspresinyanya,
baik bersedih, jengkel, marah, gembira, pura-pura, tidak yakin dan ratusan eksspresi
lainnya. Jadi, ketika sang pelaku diberikan sebuah pertanyaan, penyidik harus
merekam mimik tubuh selama menjawab. Penyidik dari tokoh film tersebut selalu
menemukan antara ucapan dengan reaksi tubuh selalu berbeda. Dari reaksi tubuh
inilah fakta diungkap. (mungkin ini kali ya yang dimaksud Surat Yasin tentang
tangan dan kaki berbicara ketika di hari pembalasan – selingan)
Film serial ini bukan sekedar cerita fiksi. Ilmu pengetahuan
di film tersebut memang ada. Inilah ilmu yang dikembangkan oleh Paul Ekman,
seorang ilmuan dari University of California, San Francisco. Buku Paul Ekman
yang berjudul Telling Lies menjadi dasar keilmuan dari serial Lie to Me. Kalau
di Film Carl Lightment memimpin firma yang bernama The Lightman Group, maka
Paul Ekman, ilmuan asilnya, memang punya firma beneran yang bernama The Ekman
Group. Bisa dikatakan, film ini disadur dari kisah aslinya.
Microexpression memang bersifat personal. Ilmu ini
bisa menjadi pengetahuan kita untuk mengetahui orang-orang disekitar kita
berbohong atau tidak. Meski itu tidak mudah. Namun, kebohongan itu tidak hanya
terjadi pada orang-orang disekitar kita saja, dalam lingkup negara bahkan dunia, kebohongan bisa terorganisir. Kita sudah
terjebak pada lingkungan yang penuh kebohongan-kepalsuan yang tidak kita
sadari.
Pernah nonton film judulnya S1M0NE ? Bagi anak-anak
komunikasi atau yang mendalami kajian budaya dan media, film ini sering
dijadikan rujukan penelitian. Seperti judulnya S1M0NE yang dipanjangkan menjadi
Simulation One mengambil teori Simulasi dari konsep Hiperreailitas yang dikembangkan oleh tokoh Postmodernisme: Jean
Budrillard.
Cerita singkat filmnya begini. Tokoh bernama Viktor adalah
sutradara yang idealis. Ia mengalami kesulitan mencari tokoh untuk film yang akan ia buat. Saking
frustasinya tidak menemukan tokoh, ia bekerjasama dengan seorang programer membuat
manusia komputer ciptaan menggunakan teknologi hologram. Terciptalah manusia
virtual yang ia inginkan diberi nama Simone. Manusia virtual inilah menjadi
bintang utama filmnya.
Filmnya menjadi sukses, Simone menjadi artis terkenal yang
banyak dikagumi. Padahal, Simone hanya hasil fantasi ciptaan Viktor. Namun masyarakat
menganggap Simone adalah manusia nyata. Simon yang hanya virtual menjadi bagian
masyarakat dunia. Berbagai cara dalam pemrograman komputer sosok Simone
direkayasa, seperti penampilan, busana, cara berbicara, sehingga membuat para
penonton mengagguminya. Media pun ikut mengangkat popularitas Simone. Beberapa
talkshow dan wawancara jarak jauh dilakukan. Inilah konflik yang terjadi di
film ini. Ketenaran Simone menjadi senjata makan tuan oleh Viktor. Karena sosok
Simone cendrung tertutup, jarang tampil ke publik, membuat sebagian masyarakat
penasaran. Sampailah akhirnya, Simone dikabarkan meninggal oleh Viktor. Hal
membuat kecurigaan Polisi. Hingga ternyata Polisi tak menemukan sosok mayat di
dalam peti jenazah. Terungkaplah kebohongan Viktor.
Kisah dalam film S1M0NE hanyalah fiktif. Teknologi yang bisa
membuat seperti sosok Simone belum ada. Namun, konsep rekayasa citra dari film tersebut sudah menjadi bagian
keseharian kita. Kita memasuki dunia yang penuh kebohongan. Imajinasi yang kita
yakini selama ini terhadap produk, ide, bahkan sosok tokoh tertentu adalah
hasil rekayasa.
Dari film tersbut kita lihat bagaimana publik begitu antusias
menganggap Simone benar-benar ada. Bahkan, ketika Viktor menyatakan ke istrinya
bahwa Simone hanya buatan, sang istri tidak percaya dan tetap meyakini bahwa
Simone benar-benar ada. Sang polisi pun juga meyakini bahwa Viktor telah
membunuh Simon meski Viktor sudah menjelaskan bahwa Simone adalah produk
angka-angka matematika 0 dan 1.
Jean Budrillard memperkenalkan konsep hiperrealitas, yaitu sesuatu yang melampaui kenyataan. Hiperrealitas adalah sebuah konsep
dimana realitas yang dalam konstruksinya tidak bisa dilepaskan dari produksi
dan permainan tanda-tanda yang melampaui realitas aslinya (Hyper-sign). Hiperrealitas menciptakan suatu kondisi
dimana kepalsuan bersatu dengan keaslian, masa lalu berbaur dengan masa kini,
fakta bersimpang siur dengan rekayasa, tanda melebur dengan realitas, dusta
bersenyawa dengan kebenaran.
Film S1M0NE ini memiliki pesan bahwa kita harus berhati-hati terhadap
jebakan simulasi yang mampu mengubah imajiner menjadi realitas akibat
termediasikan oleh simbol dan tanda. Media-media seperti televisi, film,
berita, hingga internet dengan simbol dan tandanya (gambar, warna, gerak) menjadi sarana pembentuk imajinasi.
Contoh sederhana lagi tentang hipperealitas adalah ketika
awal tahun 2000an Jogja heboh dengan buku yang menyebutkan 80% mahasiswa di
Jogja tidak perawan. Secara metodelogi buku ini masih dipertanyakan
keilmiahannya. Namun, hasilnya begitu diyakini sebagai sebuah kebenaran oleh
sebagian masyarakat kita. Itulah bahayanya. Kita meyakini sebuah kebenaran yang
sebenarnya itu tidak ada.
Dalam teori marketing ada istilah branding. Yaitu, cara untuk membangun konsep tentang produk itu.
Misal mobil Toyota Advanza dibranding sebagai mobil keluarga murah. Yang memiliki
ilmu untuk membuar brand itu adalah orang-orang yang memperdalam komunikasi
visual. Dengan branding kita bisa memenuhi kenginan pasar. Begitu juga dalam
proses politik. Calon Walikota hingga Presiden pun juga melakukan hal ini agar mendapat tempat di calon pemilihnya. Nah
yang menjadi masalah adalah, ketika hasil pencitraan (branding) itu berhasil
direkam ke dalam imajinasi masyakarat namun kenyataannya sang tokoh tidak
memiliki sikap dari apa yang dicitrakan. Inilah yang di sebut rekayasa
imajinasi. Fakta dan rekayasa tidak jelas batasannya.
Sama hal ketika kita masih menganggap pemberitaan di media, iklan, gossip selebritis, tayangan pencarian bakat hingga program acara
yang mengusung genre reality show merupakan kebenaran atau realitas
sesungguhnya. Padahal Bagi Baudrillard
melalui konsep simulasi, hal itu tidak
lebih sebagai arena manipulasi citra dan konstruksi imajinasi atas kuasa tanda
dalam masyarakat postmodernisme.
Refrensi:
http://www.paulekman.com
http://kotakpandorahitam.blogspot.com/2012/02/resensi-simulasi-dan-hiperrealitas.html
http://kolomsosiologi.blogspot.com/2012/09/simulakra-dan-hiperrealitas-dalam-film.html
Agama dan Imajinasi, Yasraf Amir Piliang

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.