![]() |
| Stand IBF Pro-U Media & Segmen Pembacanya |
Kebetulan saya datang ke
IBF kemarin itu (14/10/2014) karena di ajak Sang Ustad penulis buku Lapis-lapis
Keberkahan yang akan mengisi acaranya. Seperti biasanya jika saya mengunjungi
acara seperti ini lebih suka hunting buku dari pada mengikuti acara yang ada di
panggung.
Selama hunting, hampir
semua stand dari agen-agen buku menyediakan Lapis-lapis Keberkahan. Buku itu
memang sedang menjadi favorit pengunjung. Bisa jadi, tingkat penjualan pada
buku itu yang paling tinggi selama pameran kali ini.
Stok yang habis di stand
kami memang tidak bisa ditambah lagi. Stok di gudang kantor kami pun juga
habis. Masih menunggu cetakan ke 4 yang akan selesai dalam beberapa minggu
lagi.
Mungkin karena stand agen
sebelah juga orang dekat, bisa jadi mengerti kondisi stok kami. Sehingga,
ketika stok stand kami habis, dikeluarkanlah semua stoknya yang masih menumpuk
dan dijual tanpa harga diskon. Harga bruto Lapis-lapis Keberkahan Rp 100.000.
Di Stand kami menjual dengan harga Rp 75.000 (disc 25%), beberapa agen di stand
lain ada yang mejual Rp 75.000 dan Rp 80.000. Di agen-agen lain pun juga stok
sudah pada menipis. Hukum permintaan dan penawaran mulai bermain. Sebenarnya
dengan harga jual Rp 100.000 masih pantas. Harga itu memang harga bruto yang
kami tetapkan untuk di jual di pasaran. Hanya saja saya gemes. Mengapa si penjual
tidak menyamakan harga (memberikan diskon) dengan stand yang lain, yaitu sekitaran Rp 75.000 – Rp 80.000.
Jujur, sebagai orang yang
mengerti harga pokok fisik buku, saya pun sebenarnya tidak tega melihat buku
yang di jual dengan harga yang menguras kantong. Maksudnya, kalau harga bisa
lebih murah, mengapa harus dijual melebihi harga pasaran? Atau, mengapa harga
buku itu harus mengikuti hukum permintaan? Kebutuhan para pencari ilmu harus
dikorbankan dengan memperkaya si pedagang. Asal tahu saja, dalam bisnis buku,
pedagang itu bisa mendapatkan keuntungan 3-5 kali bahkan lebih dari royalti
penulis. Pedagang buku itu bisa lebih kaya dari pada penulis.
Bukan hanya soal
mengetahui harga fisik, sebagai konsumen buku pun saya juga merasakan beratnya
harga. Pernah ketika jalan-jalan ke Bandung, secara tak sengaja saya menemukan
buku yang sangat ingin saya miliki, yaitu Capita Selecta M. Natsir jilid 2.
Kondisi buku sebenarnya sudah buram tanpa sampul jilid, karena memang terbitan
tahun 60an. Bahasanya juga masih ejaan lama. Keinginan untuk memiliki harus
diurungkan ketika pedagang menawarkan harga Rp 250.000. Alasannya sederhana,
buku langka.
Dalam mencari buku, saya
memang selalu berusaha mencari harga semurah mungkin. Untungnya di Jogja, banyak tersedia toko buku diskon, selain Gramedia. Bahkan, untuk jaringan
buku-buku penerbit Islam, saya pun bisa mendapatkan potongan sampai 40%.
Memanfaatkan kolega teman kantor, haha..
Bebeda dengan buku-buku
yang masuk dalam mekanisme pasar, yaitu buku-buku yang banyak peminatnya atau
buku-buku langka (buku lawas dan banyak peminatnya). Buku seperti ini biasanya bisa bekali-kali lipat harganya
dari nilai harga fisik cetak. Saya katakan saja, buku terbitan Gramedia untuk
penulis populer atau best seller, selalu memberikan harga sadis! Penerbit itu memang penerbit paling kapitalis di muka bumi!
Beratnya harga buku sering
sebanding lurus dengan besarnya niat ingin memiliki. Akhirnya, kadang mempunyai
buku yang diimpikan sering kandas (kalo pas duit gak ada). Tapi kalau sudah
terpaksa, sangat perlu untuk memuaskan hasrat pikiran, materi pun tidak
terpikirkan. Dulu pernah, dalam sebulan saya menghabiskan hampir 1,5 juta hanya
untuk buku. Saya sebenarnya bukan kolektor buku, dan juga bukan kutu buku. Tapi
kalau sudah ada keingintahuan pada sesuatu, ya mau gimana lagi. Jawabannya hanya
ada di buku dari pada di google.
Karena meraskaan
penderitaan harga inilah, ketika saya terjun berjualan buku (di luar jam kerja)
berusaha agar tidak mengambil keuntungan yang besar. Biasanya maksimal
keuntungan yang ambil 20% dari harga bruto buku. Sadar, bahwa menguras dompet
para pencari ilmu untuk memperkaya segelintir pedagang buku adalah kezaliman
yang nyata di muka bumi! Waspadalah wahai pedagang buku!

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.