Rabu, 15 Oktober 2014

Kapitalisasi Perbukuan yang Menggemaskan

Stand IBF Pro-U Media & Segmen Pembacanya
Saya gemes ketika mendengar salah satu stand agen buku di Jogja Islamic Book Fair (IBF) menjual buku Lapis-lapis Keberkahan dengan berani menghargai Rp 100.000 tanpa potongan. Padahal persis disebelahnya adalah stand buku penerbit buku tersebut, yang juga penerbit buku tempat saya bekerja. Saya mencari tahu harga buku Lapis-lapis Keberkahan di stand sebelah itu karena stok di stand kami sudah habis. Agar, jika ada pengunjung yang mencari bisa kami arahkan ke stand-stand agen kami yang lain. Sedikit membantu mba-mba yang jaga stand kami, :D

Kebetulan saya datang ke IBF kemarin itu (14/10/2014) karena di ajak Sang Ustad penulis buku Lapis-lapis Keberkahan yang akan mengisi acaranya. Seperti biasanya jika saya mengunjungi acara seperti ini lebih suka hunting buku dari pada mengikuti acara yang ada di panggung.

Selama hunting, hampir semua stand dari agen-agen buku menyediakan Lapis-lapis Keberkahan. Buku itu memang sedang menjadi favorit pengunjung. Bisa jadi, tingkat penjualan pada buku itu yang paling tinggi selama pameran kali ini.

Stok yang habis di stand kami memang tidak bisa ditambah lagi. Stok di gudang kantor kami pun juga habis. Masih menunggu cetakan ke 4 yang akan selesai dalam beberapa minggu lagi.

Mungkin karena stand agen sebelah juga orang dekat, bisa jadi mengerti kondisi stok kami. Sehingga, ketika stok stand kami habis, dikeluarkanlah semua stoknya yang masih menumpuk dan dijual tanpa harga diskon. Harga bruto Lapis-lapis Keberkahan Rp 100.000. Di Stand kami menjual dengan harga Rp 75.000 (disc 25%), beberapa agen di stand lain ada yang mejual Rp 75.000 dan Rp 80.000. Di agen-agen lain pun juga stok sudah pada menipis. Hukum permintaan dan penawaran mulai bermain. Sebenarnya dengan harga jual Rp 100.000 masih pantas. Harga itu memang harga bruto yang kami tetapkan untuk di jual di pasaran. Hanya saja saya gemes. Mengapa si penjual tidak menyamakan harga (memberikan diskon) dengan stand yang lain, yaitu sekitaran Rp 75.000 –  Rp 80.000.

Jujur, sebagai orang yang mengerti harga pokok fisik buku, saya pun sebenarnya tidak tega melihat buku yang di jual dengan harga yang menguras kantong. Maksudnya, kalau harga bisa lebih murah, mengapa harus dijual melebihi harga pasaran? Atau, mengapa harga buku itu harus mengikuti hukum permintaan? Kebutuhan para pencari ilmu harus dikorbankan dengan memperkaya si pedagang. Asal tahu saja, dalam bisnis buku, pedagang itu bisa mendapatkan keuntungan 3-5 kali bahkan lebih dari royalti penulis. Pedagang buku itu bisa lebih kaya dari pada penulis.

Bukan hanya soal mengetahui harga fisik, sebagai konsumen buku pun saya juga merasakan beratnya harga. Pernah ketika jalan-jalan ke Bandung, secara tak sengaja saya menemukan buku yang sangat ingin saya miliki, yaitu Capita Selecta M. Natsir jilid 2. Kondisi buku sebenarnya sudah buram tanpa sampul jilid, karena memang terbitan tahun 60an. Bahasanya juga masih ejaan lama. Keinginan untuk memiliki harus diurungkan ketika pedagang menawarkan harga Rp 250.000. Alasannya sederhana, buku langka.

Dalam mencari buku, saya memang selalu berusaha mencari harga semurah mungkin. Untungnya di Jogja, banyak tersedia toko buku diskon, selain Gramedia. Bahkan, untuk jaringan buku-buku penerbit Islam, saya pun bisa mendapatkan potongan sampai 40%. Memanfaatkan kolega teman kantor, haha..

Bebeda dengan buku-buku yang masuk dalam mekanisme pasar, yaitu buku-buku yang banyak peminatnya atau buku-buku langka (buku lawas dan banyak peminatnya). Buku seperti ini biasanya bisa bekali-kali lipat harganya dari nilai harga fisik cetak. Saya katakan saja, buku terbitan Gramedia untuk penulis populer atau best seller, selalu memberikan harga sadis! Penerbit itu memang penerbit paling kapitalis di muka bumi!

Beratnya harga buku sering sebanding lurus dengan besarnya niat ingin memiliki. Akhirnya, kadang mempunyai buku yang diimpikan sering kandas (kalo pas duit gak ada). Tapi kalau sudah terpaksa, sangat perlu untuk memuaskan hasrat pikiran, materi pun tidak terpikirkan. Dulu pernah, dalam sebulan saya menghabiskan hampir 1,5 juta hanya untuk buku. Saya sebenarnya bukan kolektor buku, dan juga bukan kutu buku. Tapi kalau sudah ada keingintahuan pada sesuatu, ya mau gimana lagi. Jawabannya hanya ada di buku dari pada di google.

Karena meraskaan penderitaan harga inilah, ketika saya terjun berjualan buku (di luar jam kerja) berusaha agar tidak mengambil keuntungan yang besar. Biasanya maksimal keuntungan yang ambil 20% dari harga bruto buku. Sadar, bahwa menguras dompet para pencari ilmu untuk memperkaya segelintir pedagang buku adalah kezaliman yang nyata di muka bumi! Waspadalah wahai pedagang buku!

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger