Sabtu, 10 November 2012

Jalan Terjal Sang Pengabdi Ibu yang Akhirnya Divonis Korupsi Pajak

Gambar: obornews.com
Inilah jaman dimana orang baik bisa menjadi salah. Orang jahat tercitra baik. Jarak antara baik dan buruk semakin menipis. Mana yang salah dan mana yang benar sangat bias terlihat. Mungkin, itu juga yang terjadi pada Dhana Widyatmika (DW). Setelah sekian lama menjalani persidangan, pegawai Derektorat Jenderal Pajak yang didakwa menerima suap, korupsi, dan mencuci uang, akhirnya divonis 7 tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Pidana Korupsi Jakarta, Jumat kemarin (9/11/12). Sebuah vonis yang menimbulkan pertanyaan, benarkah ia berbuat demikian?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya saya tanyakan pada sosok DW saja. Berbagai kasus besar yang melibatkan pejabat (terutama Antasari Azhar) pun selalu betanya, benarkah mereka berbuat seperti yang dituduhkan? Apakah mereka hanya korban rekayasa, atau memang pelaku sebenarnya? Entahlah. Untuk DW sendiri, mengapa hati nurani ini merasa ia adalah korban. Melihatnya, teringat ia seperti Lincoln Burrows yang terjebak konspirasi politik dalam cerita film serial Prison Break.

Membaca harian kompas hari ini (10/11/12) yang menuliskan sisi manusiawi DW membuat begitu tertegun. Pernyataan tetangga dan kerabatnya sendiri, DW jauh dari sisi buruk seperti yang diberitakan media atas kasusnya. Kompas pun harus menulis sisi manusiawinya saat ia menangis ketika membaca pembelaannya. Ia menangis ketika isi pembelaan tersebut menyangkut kenangan terhadap ibunya yang sudah meninggal. Tangisan yang tak dilupakan kalau ia pernah bertahun-tahun merawat ibunya yang sakit. Kata tetangganya yang ditulis dikoran tersebut, DW sangat totalitas melayani dan merawat ibunya yang menderita gagal ginjal.

Kisah DW yang merawat ibunya dengan sepenuh hati pernah ramai diperbincangkan di dunia maya akhir Februari lalu. Kisah itu muncul ketika situs Fimadani.com mengangkat kembali artikel yang disalin dari Majalah Tarbawi edisi September 2007. Entah direncana atau tidak, 5 tahun sebelum DW terjerat kasus korupsi pajak, ia menarik perhatian seorang wartawati dari Majalah Tarbawi yang sedang meliput tentang penyakit gagal ginjal di sebuah rumah sakit di Jakarta. Sang Wartawati tertarik meliput DW karena hampir setiap hari pria muda tersebut hilir mudik mengantar ibunya cuci darah. Hasil wawancara dengan DW menjadi artikel menarik yang menggugah dan memilu hati dengan judul “Meski Dalam Kondisi Sakit, Berkah dari Ridho Ibu Tidak Berubah”.

Apa yang tertulis di artikel tersebut betul-betul menunjukkan DW adalah anak yang sangat berbakti. Sebagai seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ia lebih memprioritaskan hidupnya untuk merawat sang ibu ketimbang kuliah dan meniti karir masa depan.

“Kuliah tidak masuk, saya tidak peduli. Saya lebih baik drop out dari pada harus meninggalkan ibu saya. Itu yang saya yakini. Boleh dibilang saya tidak pernah belajar meski saat ujian. Bukan karena sombong, tapi memang tidak sempat. Saya sadar risikonya dan juga siap menanggungnya. Tidak pernah ada konflik batin ketika memutuskan itu. Prioritas saya untuk Ibu. Saya tidak pernah sedikit pun khawatir, bagaimana masa depan saya, bagaimana kalau tidak lulus atau drop out. Terserah deh, hidup saya mau dibawa kemana. Say aikut saja. Saya hanya berpikir bagaimana ibu bisa nyaman, bisa tertolong dari kondisi ini.” Ceritanya yang dikutip dari artikel tersebut.

Bahkan, DW tidak sungkan harus menadah kedua dengan beralaskan tisu untuk menampung kotoran ibunya yang sedang buang hajat di pembaringan ketika sakit keras. Ia tidak tega melihat ibunya menggunakan pispot karena menurutnya benda itu terlalu keras dan bisa menyakiti tulang ibunya.

Kisah yang diangkat Majalah Tarbawi ini sudah banyak beredar dikalangan netter. Banyak blogger dan kompasianaers yang menanggapi beliau. Karena artikel tersebut, banyak yang akhirnya lebih percaya pada DW dari pada dakwaan yang dituduhkannya. Mungkin juga saya salah satunya. (silakan bisa lihat artikelnya di sini: http://fimadani.com/dhana-widyatmika-lelaki-di-pintu-surga/)

Jika memang benar DW adalah seorang yang seperti itu, seperti tidak mungkin ia akan melakukan kejahatan terhadap Negara. Ia tertuduh melakukan korupsi pajak, menerima gratifikasi, dan mencuci uang dengan bukti rekeningnya yang gendut. Ia membantah hartanya dari kejahatan yang dituduhkan. Harta tersebut dari bisnisnya sejak masih kuliah dan warisan orang tua.

Dari artikel Kompas itu juga tertulis, sebenarnya DW pun sudah berbisnis sejak kecil. Bisnis sudah menjadi kebiasaannya hingga ia kerja di Direktorat Pajak. Ia tidak mau keluar hanya karena ibunya sangat bangga melihatnya menjadi pegawai PNS. Terlihat, ia bekerja menjadi pegawai karena mencari kebanggaan dari seorang ibu, bukan mencari kekayaan.

Korupsi telah menghancurkan segala sendi kehidupan Dhana, apalagi ketika ia diberi label “The Next Gayus”. Banyak pemberitaan bombastis dan fitnah, kata Dhana, yang tak berdasarkan fakta. Dhana kemudian merinci setidaknya ada delapan fitnah yang menimpa dirinya dan dipublikasi oleh berbagai media masa. Begitu yang ditulis Kompas.

Meski begitu, hakim Sudjatmiko yang terkenal dengan integritasnya sebagai hakim TIPIKOR, sudah memetuk palu vonis kepada DW yang terbukti bersalah. DW dan pengacaranya sudah menyiapkan banding atas vonis tersebut.

Sekali lagi, entahlah. Ini menjadi ruang misteri. Hanya DW dan Allah yang mengetahui kebenarannya. Kalaupun ia salah, hukuman vonis tersebut bisa mengurangi dosa-dosa dunia. Kalaupun ia tidak bersalah, ujian kesabaran itulah yang mungkin menjadi pilihan Allah untuk diberikan jalannya ke surga. Wallahualam.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger