| Gambar: obornews.com |
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya saya tanyakan pada
sosok DW saja. Berbagai kasus besar yang melibatkan pejabat (terutama Antasari
Azhar) pun selalu betanya, benarkah mereka berbuat seperti yang dituduhkan?
Apakah mereka hanya korban rekayasa, atau memang pelaku sebenarnya? Entahlah. Untuk
DW sendiri, mengapa hati nurani ini merasa ia adalah korban. Melihatnya, teringat
ia seperti Lincoln Burrows yang terjebak konspirasi politik dalam cerita film serial
Prison Break.
Membaca harian kompas hari ini (10/11/12) yang menuliskan
sisi manusiawi DW membuat begitu tertegun. Pernyataan tetangga dan kerabatnya
sendiri, DW jauh dari sisi buruk seperti yang diberitakan media atas kasusnya. Kompas
pun harus menulis sisi manusiawinya saat ia menangis ketika membaca
pembelaannya. Ia menangis ketika isi pembelaan tersebut menyangkut kenangan
terhadap ibunya yang sudah meninggal. Tangisan yang tak dilupakan kalau ia
pernah bertahun-tahun merawat ibunya yang sakit. Kata tetangganya yang ditulis dikoran tersebut, DW sangat totalitas melayani dan merawat ibunya yang
menderita gagal ginjal.
Kisah DW yang merawat ibunya dengan sepenuh hati pernah
ramai diperbincangkan di dunia maya akhir Februari lalu. Kisah itu muncul ketika situs Fimadani.com
mengangkat kembali artikel yang disalin dari Majalah Tarbawi edisi September
2007. Entah direncana atau tidak, 5 tahun sebelum DW terjerat kasus korupsi
pajak, ia menarik perhatian seorang wartawati dari Majalah Tarbawi yang sedang
meliput tentang penyakit gagal ginjal di sebuah rumah sakit di Jakarta. Sang
Wartawati tertarik meliput DW karena hampir setiap hari pria muda tersebut
hilir mudik mengantar ibunya cuci darah. Hasil wawancara dengan DW menjadi
artikel menarik yang menggugah dan memilu hati dengan judul “Meski Dalam
Kondisi Sakit, Berkah dari Ridho Ibu Tidak Berubah”.
Apa yang tertulis di artikel tersebut betul-betul
menunjukkan DW adalah anak yang sangat berbakti. Sebagai seorang mahasiswa di
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara ia lebih memprioritaskan hidupnya untuk merawat
sang ibu ketimbang kuliah dan meniti karir masa depan.
“Kuliah tidak masuk, saya tidak peduli. Saya lebih baik drop
out dari pada harus meninggalkan ibu saya. Itu yang saya yakini. Boleh dibilang
saya tidak pernah belajar meski saat ujian. Bukan karena sombong, tapi memang
tidak sempat. Saya sadar risikonya dan juga siap menanggungnya. Tidak pernah
ada konflik batin ketika memutuskan itu. Prioritas saya untuk Ibu. Saya tidak
pernah sedikit pun khawatir, bagaimana masa depan saya, bagaimana kalau tidak
lulus atau drop out. Terserah deh, hidup saya mau dibawa kemana. Say aikut
saja. Saya hanya berpikir bagaimana ibu bisa nyaman, bisa tertolong dari
kondisi ini.” Ceritanya yang dikutip dari artikel tersebut.
Bahkan, DW tidak sungkan harus menadah kedua dengan
beralaskan tisu untuk menampung kotoran ibunya yang sedang buang hajat di
pembaringan ketika sakit keras. Ia tidak tega melihat ibunya menggunakan pispot
karena menurutnya benda itu terlalu keras dan bisa menyakiti tulang ibunya.
Kisah yang diangkat Majalah Tarbawi ini sudah banyak beredar
dikalangan netter. Banyak blogger dan kompasianaers yang menanggapi beliau. Karena
artikel tersebut, banyak yang akhirnya lebih percaya pada DW dari pada dakwaan
yang dituduhkannya. Mungkin juga saya salah satunya. (silakan bisa lihat
artikelnya di sini: http://fimadani.com/dhana-widyatmika-lelaki-di-pintu-surga/)
Jika memang benar DW adalah seorang yang seperti itu,
seperti tidak mungkin ia akan melakukan kejahatan terhadap Negara. Ia tertuduh
melakukan korupsi pajak, menerima gratifikasi, dan mencuci uang dengan bukti
rekeningnya yang gendut. Ia membantah hartanya dari kejahatan yang dituduhkan.
Harta tersebut dari bisnisnya sejak masih kuliah dan warisan orang tua.
Dari artikel Kompas itu juga tertulis, sebenarnya DW pun
sudah berbisnis sejak kecil. Bisnis sudah menjadi kebiasaannya hingga ia kerja
di Direktorat Pajak. Ia tidak mau keluar hanya karena ibunya sangat bangga
melihatnya menjadi pegawai PNS. Terlihat, ia bekerja menjadi pegawai karena mencari kebanggaan dari seorang ibu, bukan mencari kekayaan.
Korupsi telah menghancurkan segala sendi kehidupan Dhana,
apalagi ketika ia diberi label “The Next Gayus”. Banyak pemberitaan bombastis
dan fitnah, kata Dhana, yang tak berdasarkan fakta. Dhana kemudian merinci
setidaknya ada delapan fitnah yang menimpa dirinya dan dipublikasi oleh
berbagai media masa. Begitu yang ditulis Kompas.
Meski begitu, hakim Sudjatmiko yang terkenal dengan
integritasnya sebagai hakim TIPIKOR, sudah memetuk palu vonis kepada DW yang
terbukti bersalah. DW dan pengacaranya sudah menyiapkan banding atas vonis tersebut.
Sekali lagi, entahlah. Ini menjadi ruang misteri. Hanya DW
dan Allah yang mengetahui kebenarannya. Kalaupun ia salah, hukuman vonis
tersebut bisa mengurangi dosa-dosa dunia. Kalaupun ia tidak bersalah, ujian kesabaran
itulah yang mungkin menjadi pilihan Allah untuk diberikan jalannya ke surga. Wallahualam.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.