Melihat seorang kawan
mahasiswa yang rajin mencuci pakaiannya sendiri tanpa mau menggunakan
layanan laundry adalah hal yang biasa. Tidak dengan kawan saya yang
bermana Mustaqim. Cara ia mencuci pakaiannya sendiri tanpa mau
menggunakan jasa laundry membuat suatu yang luar biasa di mata saya.
Bagaimana tidak, ia adalah kawan, yang juga adik kampus, yang hanya
menggunakan satu tangan saja di setiap aktivitasnya (baca: cacat).
Hanya dengan tangan kirinya, ia gunakan untuk makan, mandi,
menulis, mencuci, bersalaman, dan lainnya. Singkatnya, ia lebih suka mencuci pakaiannya sendiri dari pada menyerahkan ke jasa laundry.
Mustaqim menegur kita dari
sikap kemanjaan. Cacat sejak kecil tidak membuatnya manja untuk terus
tinggal dengan orang tuanya. Dengan satu tangannya, ia bukan anak
yang malas. Apalagi suka mengeluh. Semua beban aktivitas kehidupan
ia tampik tanpa keluhan. Hanya dengan satu tangan. Yah, hanya dengan
satu tangan, ia tidak pernah membebankan orang lain. Dengan satu
tangan, ia selesaikan semua tanggung jawab pribadinya, pekerjaan
keorganisasiannya di kampus, dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa.
Sekali lagi, semua itu dilakukan secara mandiri, tanpa membebani
orang lain.
Lagi, Mustaqim menegur
kita pada sebuah sikap perlawanannya atas kehadiran jasa Laundry.
Hidup dengan satu tangan, ia tidak tergoda dengan rayuan gombalan
promosi usaha Laundry yang menawarkan jasa kemalasan mahasiswa untuk
mau mecuci bajunya sendiri. Ia tak mau
mengeluarkan sepeser uang pun untuk memanjakan dirinya. Dengan satu
tangan, ia angkat ember besar itu dengan air yang memberatkan. Dengan
tenaga seadanya, ia kucek sendiri dengan genggaman jemarinya. Entah,
bersih atau tidak, tidak peduli. Yang penting ia sudah bertanggung
jawab pada dirinya.
“Mau hemat, mas.”
Hanya itu kata yang sering kali muncul setiap saya tanya alasannya.
Konsisten ia katakan, “mau hemat, mas”. Tanpa ada alasan lain.
Sederhana.
Lagi-lagi, Mustaqim
menegur kita pada sebuah kesederhanaan hidup. Latar belakang dari
keluarga berada bukan alasan dia untuk bermanja. Lahir dari orang tua
yang bekerja di perusahaan bonafit di Kalimantan, dengan gaji yang
tidak mungkin sedikit, tidak membuatnya ikut-ikutan terjebak dalam
lingkaran generasi mahasiswa yang pragmatis, serba instan, dengan
uang jajan yang melebihi kebutuhan. Didikan orang tuanya yang
mengajarkan kedisiplinan, mengajarkan ketidakmanjaan, hidup berpindah
dari satu pesantren ke pesantren lainnya, membekas dirinya untuk
pantang menghinakan dirinya menjadi pemalas seperti kawan-kawannya
yang normal.
Dan lagi Mustaqim,
mahasiswa FE UII angkatan 2009 itu mungkin sadar bahwa jasa laundry
bagian dari industri kapitalis yang hadir memenuhi tuntutan pasar,
yaitu hadirnya pasar mahasiswa-mahasiswa sok sibuk juga pemalas.
Kalau memang masih ada waktu dan kesempatan bisa mencuci sendiri,
meski dengan satu tangan, buat apa harus mengeluarkan uang untuk
dicucikan orang lain. Itulah mungkin yang menjadi anggapan pada
dirinya agar tidak terjebak ke dalam segmen pasarnya usaha laundry.
Daripada mengeluarkan uang untuk memanjakan diri, mungkin baginya
lebih baik ditabung untuk masa depannya yang lebih bermanfaat.
Ah, Mustaqim. Lagi-lagi
dan lagi kau membuat kami malu. Kau sudah membuktikan kalau kau bukan
lelaki manja seperti kawan-kawanmu yang normal.

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.