Senin, 12 November 2012

Belajar dari Mustaqim

Melihat seorang kawan mahasiswa yang rajin mencuci pakaiannya sendiri tanpa mau menggunakan layanan laundry adalah hal yang biasa. Tidak dengan kawan saya yang bermana Mustaqim. Cara ia mencuci pakaiannya sendiri tanpa mau menggunakan jasa laundry membuat suatu yang luar biasa di mata saya. Bagaimana tidak, ia adalah kawan, yang juga adik kampus, yang hanya menggunakan satu tangan saja di setiap aktivitasnya (baca: cacat). Hanya dengan tangan kirinya, ia gunakan untuk makan, mandi, menulis, mencuci, bersalaman, dan lainnya. Singkatnya, ia lebih suka mencuci pakaiannya sendiri dari pada menyerahkan ke jasa laundry.

Mustaqim menegur kita dari sikap kemanjaan. Cacat sejak kecil tidak membuatnya manja untuk terus tinggal dengan orang tuanya. Dengan satu tangannya, ia bukan anak yang malas. Apalagi suka mengeluh. Semua beban aktivitas kehidupan ia tampik tanpa keluhan. Hanya dengan satu tangan. Yah, hanya dengan satu tangan, ia tidak pernah membebankan orang lain. Dengan satu tangan, ia selesaikan semua tanggung jawab pribadinya, pekerjaan keorganisasiannya di kampus, dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Sekali lagi, semua itu dilakukan secara mandiri, tanpa membebani orang lain.

Lagi, Mustaqim menegur kita pada sebuah sikap perlawanannya atas kehadiran jasa Laundry. Hidup dengan satu tangan, ia tidak tergoda dengan rayuan gombalan promosi usaha Laundry yang menawarkan jasa kemalasan mahasiswa untuk mau mecuci bajunya sendiri. Ia tak mau mengeluarkan sepeser uang pun untuk memanjakan dirinya. Dengan satu tangan, ia angkat ember besar itu dengan air yang memberatkan. Dengan tenaga seadanya, ia kucek sendiri dengan genggaman jemarinya. Entah, bersih atau tidak, tidak peduli. Yang penting ia sudah bertanggung jawab pada dirinya.

Mau hemat, mas.” Hanya itu kata yang sering kali muncul setiap saya tanya alasannya. Konsisten ia katakan, “mau hemat, mas”. Tanpa ada alasan lain. Sederhana.

Lagi-lagi, Mustaqim menegur kita pada sebuah kesederhanaan hidup. Latar belakang dari keluarga berada bukan alasan dia untuk bermanja. Lahir dari orang tua yang bekerja di perusahaan bonafit di Kalimantan, dengan gaji yang tidak mungkin sedikit, tidak membuatnya ikut-ikutan terjebak dalam lingkaran generasi mahasiswa yang pragmatis, serba instan, dengan uang jajan yang melebihi kebutuhan. Didikan orang tuanya yang mengajarkan kedisiplinan, mengajarkan ketidakmanjaan, hidup berpindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya, membekas dirinya untuk pantang menghinakan dirinya menjadi pemalas seperti kawan-kawannya yang normal.

Dan lagi Mustaqim, mahasiswa FE UII angkatan 2009 itu mungkin sadar bahwa jasa laundry bagian dari industri kapitalis yang hadir memenuhi tuntutan pasar, yaitu hadirnya pasar mahasiswa-mahasiswa sok sibuk juga pemalas. Kalau memang masih ada waktu dan kesempatan bisa mencuci sendiri, meski dengan satu tangan, buat apa harus mengeluarkan uang untuk dicucikan orang lain. Itulah mungkin yang menjadi anggapan pada dirinya agar tidak terjebak ke dalam segmen pasarnya usaha laundry. Daripada mengeluarkan uang untuk memanjakan diri, mungkin baginya lebih baik ditabung untuk masa depannya yang lebih bermanfaat.

Ah, Mustaqim. Lagi-lagi dan lagi kau membuat kami malu. Kau sudah membuktikan kalau kau bukan lelaki manja seperti kawan-kawanmu yang normal.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger