Senin, 15 Oktober 2012

Hati-hati Kalau Bicara

Banyak hal kekurangan yang meski diperbaiki dalam berkehidupan. Kalau tulisan sebelumnya saya berkaca konsisten soal waktu, maka pada tulisan ini ingin berbicara soal bahaya bicara sembarangan. Mengapa topik ini harus diangkat? Sebab, saya termasuk orang yang mudah tersinggung jika suka dikatakan yang tidak benar oleh orang lain.

Salah satu contoh sifat sembaranga berbicaara seperti apa yang pernah saya alami. Pernah pada saat masih aktif di dakwah kampus, saya diminta bantuan oleh seorang teman yang kala itu menjabat departeman syiar disebuah LDK UII. Ia meminta bantuan saya untuk mencarikan ide kegiatan untuk Ramadhan di kampus. Karena melihat beliau yang kesulitan mencari gambaran event yang cocok, dengan senang hati saya membantu mencarikan ide kegiatannya, bahkan saya siap membantu sampai hal yang teknis, meskipun saat itu saya tidak memiliki amanah di LDK.

Sayangnya ide-ide acara yang saya usulkan harus terbentur dengan keterbatasan dana ditambah tim EO yang seadanya. Karena keterbatasan itulah kami harus bisa mengkonsep sebuah acara sederhana yang bisa mengundang peserta yang banyak dan tepat sasaran. Dari berbagai ide acara yang ada salah satunya adalah diskusi pra nikah.

Diskusi tersebut sengaja dibuat mengingat kondisi para aktivis dakwah kampusnya yang banyak mengalami sindrom ‘katanya’ merah jambu. Acara dikonsep dan diberi judul kalau tidak salah “Ketika Mencintai Tak Bisa Menikahi”. Alhamdulillah beberapa kawan memberikan acungan jempol dengan tema tersebut. Sengaja mengangkat judul itu agar bisa menarik peserta baik dikalangan aktivis dakwah sendiri maupun mahasiswa awam.

Jelas dari sejak awal, ide yang saya usulkan murni dari rasa prihatin atas kondisi para aktivis dakwah, yang mencintai lawan jenis, namun tidak berani untuk menikah. Secara diam-diam mereka harus menyalurkannya dengan sering ber-SMSan, atau sampai kepada hubungan ‘gelap’ atau diisitilahkan pacaran. Nah, acara inilah dimaksud sebagai solusi buat mereka yang terjangkit perasaan cinta yang manusiawi namun belum berani untuk menikah. Sayangnya, pembicara yang diundang justru tidak berbicara soal jawaban yang ingin ditanya namun lebih kepada proses-proses (baku) untuk menikah. Tujuan acara yang diigingkan jadi tidak masuk.

Niat baik membuat acara tersebut membuat saya menjadi korban pencitraan opini (yang saya anggap) negatif. Karena acara tersebut, saya menjadi bahan gosipan di kalangan teman-teman kalau saya kebelat nikah, atau sedang pencarian, dsb. Padahal, demi Allah saat itu tidak kepikiran untuk memikirkan soal nikah. Sekali lagi, hanya murni ingin menyampaikan kegelisahan dari penyakit para aktivis dakwah dalam wujud acara, sekaligus syiar dakwah bagi mahasiswa yang belum paham tentang ekspresi cinta itu sendiri.

Saya sendiri memang tidak mempermasalahkan omongan-omongan itu. Masalah ini bukan sesuatu yang susbtansial. Saya hanya mendiamkan dan tersenyum kepada orang-orang yang bicara sembarangan itu. Hanya saja yang saya tidak suka adalah ketika ada lontara kalau saya hanya omong doang, maksudnya saya dikatakan omongannya nikah melulu tapi gak nikah-nikah. Nah, kalau sudah bicara begini harus saya hadapi, kalau perlu saya hajar mukanya.

Kebiasaan-kebiasaan menciptakan suatu opini dari kejadian yang berda maksud sudah menjadi tren sehari-hari. Kasus seperti ini akan sering terlihat di media-media kita. Suatu kejadian yang kita lihat akan dibentuk opini yang berbeda dari maksud aslinya oleh media dengan berbagai tujuannya tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu. Kausus yang saya ceritakan di atas hanyalah sebagian masalah gossip yang menimpa. Sebenarnya masih banyak gosip-gosip yang bisa dibilang lebih parah dari cerita di atas. Tapi tidak saya ceritakan karena sudah masuk masalah yang substansial. Contoh di atas hanya sebagai gambaran sederhana bagaimana saya harus menerima anggapan yang berbeda dari tujuan yang ingin dimaksud.

Karena kejadian itulah, saya pun juga harus mencoba membenah diri agar tidak melakukan kebiasaan-kebiasan seperti teman-teman saya itu. Saya haru belajar agar tidak sembarangan membentuk persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Apalagi harus menjadi bahan gosipan. Saya harus belajar, sebelum menyimpulkan perilaku seseorang, harus kita telaah dahulu berdasarkan kapasitas keilmuan atau jika perlu ditanyakan. Jika tidak bisa, diam lebih baik atau prasangka-prasangka itu hanya dipendam saja dari pada dibicarakan ke orang lain (sehingga jadi gossip)

Yah, segitu sajalah tulisan sederhana (mungkin juga gak mutu), semoga yang baca juga mau sadar agar tidak sembarangan berucap, menilai,  atau sampai memfitnah. Terimakasih kepada kita semua yang sudah mau memperbaiki diri.


* ditulis di atas Kereta Api Lodaya Malam, Bandung – Jogja, 14 Oktober 2012 (mengisi kebosanan)

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger