Rabu, 10 Oktober 2012

Konsisten Soal Waktu

Bagi orang beriman, hidup merupakan aktivitas untuk menunggu waktu sholat. Sholat merupakan ibadah yang waktunya sudah terjadwal dan tidak mungkin telat pelaksanaannya. Menunggu waktu untuk sholat, jelas tidak akan ada yang namanya kekecewan. Berbeda dengan menunggu waktu untuk manusia. Seperti menunggu kawan datang ketika berjanji, atau menunggu rapat, acara, dsb adalah menunggu waktu yang sering memberikan kekecewaan. Kecewa karena yang ditunggu bukan soal waktu lagi melainkan menunggu sesosok manusia yang telah melewati waktu yang telah dijanjikan.

Contoh kedongkolan masalah waktu yang pernah dialami adalah ketika harus mengikuti kelompok diskusi kawan-kawan mahasiswa di tempat kuliah saya dulu. Dikesempatan kesibukan mencari penghasilan, beruntung saya masih memiliki waktu untuk mengikuti aktivits terebut. Saya jadwalkan saja Ahad sore sebagai waktu ideal dan cocok. Mereka menyangggupi. Namun sayang, setelah beberapa kali pertemuan  ada satu-dua orang yang ingin merubah jadwal karena perubahan waktu aktivitas mereka. Agar bisa ikut, mereka mengusulkan agar dipindah waktunya menjadi siang. Setelah mengecek jadwal dengan yang lainnya, mereka semua menyanggupi waktu berubah menjadi siang. Padahal waktu siang adalah waktu yang saya sendiri sudah memiliki jadwal. Terpaksa agar semua bisa terkumpul saya mengalah dan mengubah jadwal diskusi sore menjadi siang.

Ujian kesabaran untuk kesekian kalinya harus dialami. Beberapa anak yang menyatakan bisa hadir siang ternyata tidak bisa hadir dengan berbagai alasannya. Parahnya, untuk anak yang tidak bisa hadir sore terus minta diubah siang, baru bisa datang satu setengah jam dari jadwal yang dijanjikan. Atau datang setengah jam menjelang waktu Ashar. Lagi-lagi kedongkolan itu harus dirasakan. Kedongkolan karena harus hidup dengan orang-orang yang tidak pernah konsisten dengan janjinya. Mereka yang menyatakan (sangat jelas dan cukup eksplisit), dan mereka yang melanggar.

Itu masih mending. Pernah juga saya berjanji bertemu dengan seorang kawan. Ia mengajak bertemu untuk membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting. Ini berurusan soal uang. Malam itu saya memiliki agenda untuk menyelesaikan sebuah website yang sedang digarap. Karena melihat keseriusannya, saya mengiyakan untuk bisa bertemu dan meminta dia yang menentukan waktu.  Waktu sudah disepakati, lalu sesuai jadwal saya sudah di tempat yang dijanjikan beberapa menit sebelum waktu yang ia minta. Untung saja tempat tersebut ada fasilitas wi fi, masih ada ruang untuk mencari aktivitas di kekosongan waktu menunggu. Terlambat 10 sampai 15 menit masih saya toleransi. Coba saya hubungi, jawabannya ia minta izin terlambat karena sedang makan malam bersama koleganya. Oke saya terima, coba menunggu kembali. Lagi-lagi harus mengalami kedongkolan. Setelah dua jam menunggu, coba saya hubungi lagi, eh jawabannya ia minta dibatalkan saja pertemuan kami, karena tidak bisa lepas pembicaraannya dengan koleganya itu. Ia membatalkan setelah dua jam saya menunggu. Saya memang tidak marah dan tidak memusuhinya, namun ia sudah masuk dalam daftar, kalau kawan saya itu bukan orang yang saya percaya untuk seumur hidup. Ingat, seumur hidup tidak akan berurusan soal uang dengannya, tidak akan percaya dengan ucapannya, kecuali ada kesungguhan untuk berubah.

Kejadian-kejadian ini membuat saya harus belajar konsisten dengan ucapan, khususnya soal waktu menepati janji. Karena sudah sering merasa didzolimi, maka saya berusaha untuk tidak mendzolimi orang lain dengan berusaha menepati janji soal waktu. Sayangnya ketidakadilan dunia harus mengajarkan kesabaran, ingin berusaha tidak mendzolimi malah jadi korban pendzoliman.

Kejadian cerita di atas bukan hanya terjadi sekali dua kali. Itu terus terjadi berulang-ulang sejak awal kuliah di Yogyakarta. Kebiasaan ini memang ada hikmahnya, saya jadi belajar untuk sabar. Sayang, kadang sabar juga memiliki batas. Beberapa kali saya harus marah-marah karena kecewa. Sampai, saya pun pernah harus membentak dan memecat seorang kawan saat organisasi kampus karena kawan saya tersebut sudah berkali-kali tidak konsisten dengan waktunya (bahkan pekerjaannya).

Lagi-lagi, kebanyakan kawan-kawan saya yang suka kurang konsisten dengan ucapannya soal waktu adalah orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dakwah. Itu pun termasuk guru ngaji saya sendiri (banyak yang menyebut ‘Murobbi’). Berkali-kali saya harus kecewa dengannya soal komitmen menepati waktu. Sering waktu saya terbuang ketika menunggunya saat berjanji bertemu, atau menunggu beliau hadir dalam halaqoh. Padahal sudah sering diingatkan dan beliau pun sudah mencoba komitmen, ternyata masih saja terus terulang kesalahannya.  Saya pun beritikad untuk mulai tidak mempercayainnya lagi dalam urusan ucapan janji ini.

Soal waktu, saya memang berusaha perfeksionis. Ketika berjanji soal waktu, saya lebih suka menyebutkan waktu secara jelas dan menghindari penyebutan waktu dalam ruang ketidakpastian. Contohnya, Ketika ingin berjanji bertemu, saya akan lebih suka menyebutkan waktu 19.15 dari pada menyebutkan ba’da Isya.

Ketika ingin menentukan waktu berjanji juga harus dengan perhitungan. Misalnya, saya diminta bertemu oleh kawan adek-adek mahasiswa di kampus. Mereka minta sore. Biasanya saya akan menentukan jadwal bisa bertemu pukul 17.00 atau 16.45. Jam keluar kantor saya pukul 16.00. Waktu berjanji dengan keluar kantor saya hitung sesuai perhitungan perjalanan. Jarak waktu kantor dan kampus sekitar 20 menit untuk waktu pagi, dan 30-40 menit untuk waktu sore (biasanya sore lebih macet dari pada pagi). Dari situ, saya berusaha agar hadir sesuai dengan waktu yang saya ucapkan sendiri.

Bukan artinya saya tidak penah gak telat. Saya pun juga pernah telat. Baik disengaja, keteledoran, maupun memang karena harus telat. Meski juga pernah telat karena keteledoran, pastinya saya harus menyesal dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Ketika terpaksa harus telat saya akan mengatakan sejak awal ketika berjanji. Misal dalam acara diskusi atau rapat akan dimulai pukul 13.00. Pada waktu yang sudah ditentukan , saya kesulitan untuk hadir. Sebab, saat jam 12.00 saya berada di suatu tempat yang jauh atau ada aktivitas yang tidak bisa ditinggal. Maka saya akan meminta izin untuk bisa hadir kira-kira pukul 13.15 atau 13.30. Hal itu untuk mengantisipasi kesalahan saya saat berjanji soal waktu.

Nah, cara yang terakhir itu saya akan lebih mudah memaafkan jika ada kawan-kawan saya yang ingin hadir dalam forum namun kemungkinan akan telat, dari pada menyatakan bisa hadir di waktu yang saya minta lalu terlambat. Ini bukan soal masalah kedisiplinan saja, atau faktor untung rugi, tapi soal konsisten dengan yang diucapkan. Saya akan menilai seseorang harus dipercaya atau tidak dari bagaimana ia konsisten dengan ucapannya dalam berjanji. Makanya, hati-hati dengan saya soal waktu!

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger