Bagi
orang beriman, hidup merupakan aktivitas untuk menunggu waktu sholat. Sholat
merupakan ibadah yang waktunya sudah terjadwal dan tidak mungkin telat
pelaksanaannya. Menunggu waktu untuk sholat, jelas tidak akan ada yang namanya
kekecewan. Berbeda dengan menunggu waktu untuk manusia. Seperti menunggu kawan
datang ketika berjanji, atau menunggu rapat, acara, dsb adalah menunggu waktu
yang sering memberikan kekecewaan. Kecewa karena yang ditunggu bukan soal waktu
lagi melainkan menunggu sesosok manusia yang telah melewati waktu yang telah
dijanjikan.
Contoh
kedongkolan masalah waktu yang pernah dialami adalah ketika harus mengikuti
kelompok diskusi kawan-kawan mahasiswa di tempat kuliah saya dulu. Dikesempatan
kesibukan mencari penghasilan, beruntung saya masih memiliki waktu untuk mengikuti
aktivits terebut. Saya jadwalkan saja Ahad sore sebagai waktu ideal dan cocok.
Mereka menyangggupi. Namun sayang, setelah beberapa kali pertemuan ada satu-dua orang yang ingin merubah jadwal
karena perubahan waktu aktivitas mereka. Agar bisa ikut, mereka mengusulkan
agar dipindah waktunya menjadi siang. Setelah mengecek jadwal dengan yang lainnya,
mereka semua menyanggupi waktu berubah menjadi siang. Padahal waktu siang
adalah waktu yang saya sendiri sudah memiliki jadwal. Terpaksa agar semua bisa
terkumpul saya mengalah dan mengubah jadwal diskusi sore menjadi siang.
Ujian
kesabaran untuk kesekian kalinya harus dialami. Beberapa anak yang menyatakan
bisa hadir siang ternyata tidak bisa hadir dengan berbagai alasannya. Parahnya,
untuk anak yang tidak bisa hadir sore terus minta diubah siang, baru bisa
datang satu setengah jam dari jadwal yang dijanjikan. Atau datang setengah jam
menjelang waktu Ashar. Lagi-lagi kedongkolan itu harus dirasakan. Kedongkolan
karena harus hidup dengan orang-orang yang tidak pernah konsisten dengan
janjinya. Mereka yang menyatakan (sangat jelas dan cukup eksplisit), dan mereka
yang melanggar.
Itu
masih mending. Pernah juga saya berjanji bertemu dengan seorang kawan. Ia mengajak
bertemu untuk membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting. Ini
berurusan soal uang. Malam itu saya memiliki agenda untuk menyelesaikan sebuah
website yang sedang digarap. Karena melihat keseriusannya, saya mengiyakan untuk
bisa bertemu dan meminta dia yang menentukan waktu. Waktu sudah disepakati, lalu sesuai jadwal
saya sudah di tempat yang dijanjikan beberapa menit sebelum waktu yang ia
minta. Untung saja tempat tersebut ada fasilitas wi fi, masih ada ruang untuk
mencari aktivitas di kekosongan waktu menunggu. Terlambat 10 sampai 15 menit
masih saya toleransi. Coba saya hubungi, jawabannya ia minta izin terlambat
karena sedang makan malam bersama koleganya. Oke saya terima, coba menunggu
kembali. Lagi-lagi harus mengalami kedongkolan. Setelah dua jam menunggu, coba
saya hubungi lagi, eh jawabannya ia minta dibatalkan saja pertemuan kami,
karena tidak bisa lepas pembicaraannya dengan koleganya itu. Ia membatalkan
setelah dua jam saya menunggu. Saya memang tidak marah dan tidak memusuhinya, namun
ia sudah masuk dalam daftar, kalau kawan saya itu bukan orang yang saya percaya
untuk seumur hidup. Ingat, seumur hidup tidak akan berurusan soal uang
dengannya, tidak akan percaya dengan ucapannya, kecuali ada kesungguhan untuk
berubah.
Kejadian-kejadian
ini membuat saya harus belajar konsisten dengan ucapan, khususnya soal waktu
menepati janji. Karena sudah sering merasa didzolimi, maka saya berusaha untuk
tidak mendzolimi orang lain dengan berusaha menepati janji soal waktu.
Sayangnya ketidakadilan dunia harus mengajarkan kesabaran, ingin berusaha tidak
mendzolimi malah jadi korban pendzoliman.
Kejadian
cerita di atas bukan hanya terjadi sekali dua kali. Itu terus terjadi
berulang-ulang sejak awal kuliah di Yogyakarta. Kebiasaan ini memang ada hikmahnya,
saya jadi belajar untuk sabar. Sayang, kadang sabar juga memiliki batas.
Beberapa kali saya harus marah-marah karena kecewa. Sampai, saya pun pernah
harus membentak dan memecat seorang kawan saat organisasi kampus karena kawan
saya tersebut sudah berkali-kali tidak konsisten dengan waktunya (bahkan
pekerjaannya).
Lagi-lagi,
kebanyakan kawan-kawan saya yang suka kurang konsisten dengan ucapannya soal
waktu adalah orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dakwah. Itu pun termasuk
guru ngaji saya sendiri (banyak yang menyebut ‘Murobbi’). Berkali-kali saya
harus kecewa dengannya soal komitmen menepati waktu. Sering waktu saya terbuang
ketika menunggunya saat berjanji bertemu, atau menunggu beliau hadir dalam
halaqoh. Padahal sudah sering diingatkan dan beliau pun sudah mencoba komitmen,
ternyata masih saja terus terulang kesalahannya. Saya pun beritikad untuk mulai tidak
mempercayainnya lagi dalam urusan ucapan janji ini.
Soal
waktu, saya memang berusaha perfeksionis. Ketika berjanji soal waktu, saya lebih
suka menyebutkan waktu secara jelas dan menghindari penyebutan waktu dalam
ruang ketidakpastian. Contohnya, Ketika ingin berjanji bertemu, saya akan lebih
suka menyebutkan waktu 19.15 dari pada menyebutkan ba’da Isya.
Ketika
ingin menentukan waktu berjanji juga harus dengan perhitungan. Misalnya, saya
diminta bertemu oleh kawan adek-adek mahasiswa di kampus. Mereka minta sore.
Biasanya saya akan menentukan jadwal bisa bertemu pukul 17.00 atau 16.45. Jam keluar
kantor saya pukul 16.00. Waktu berjanji dengan keluar kantor saya hitung sesuai
perhitungan perjalanan. Jarak waktu kantor dan kampus sekitar 20 menit untuk
waktu pagi, dan 30-40 menit untuk waktu sore (biasanya sore lebih macet dari
pada pagi). Dari situ, saya berusaha agar hadir sesuai dengan waktu yang saya
ucapkan sendiri.
Bukan
artinya saya tidak penah gak telat. Saya pun juga pernah telat. Baik disengaja,
keteledoran, maupun memang karena harus telat. Meski juga pernah telat karena
keteledoran, pastinya saya harus menyesal dan berusaha untuk tidak
mengulanginya. Ketika terpaksa harus telat saya akan mengatakan sejak awal
ketika berjanji. Misal dalam acara diskusi atau rapat akan dimulai pukul 13.00.
Pada waktu yang sudah ditentukan , saya kesulitan untuk hadir. Sebab, saat jam
12.00 saya berada di suatu tempat yang jauh atau ada aktivitas yang tidak bisa
ditinggal. Maka saya akan meminta izin untuk bisa hadir kira-kira pukul 13.15
atau 13.30. Hal itu untuk mengantisipasi kesalahan saya saat berjanji soal
waktu.
Nah,
cara yang terakhir itu saya akan lebih mudah memaafkan jika ada kawan-kawan
saya yang ingin hadir dalam forum namun kemungkinan akan telat, dari pada
menyatakan bisa hadir di waktu yang saya minta lalu terlambat. Ini bukan soal
masalah kedisiplinan saja, atau faktor untung rugi, tapi soal konsisten dengan
yang diucapkan. Saya akan menilai seseorang harus dipercaya atau tidak dari
bagaimana ia konsisten dengan ucapannya dalam berjanji. Makanya, hati-hati
dengan saya soal waktu!
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.