| ilustrasi : www.cosarosta.com |
Mengapa saya bisa mengatakan seperti itu? Sebab, berdasarkan pengamatan empiris dengan beberapa subyek (sample) selama menggunakan facebook, setiap kawan saya yang sangat rajin update biasanya memiliki kecendrungan perilaku seperti ini :
- Kurang peduli dan perhatian ketika berjanji masalah waktu (entah ketemu atau dedline kerjaan),
- Etos kerja (atau bisa dimaksud produktifitas) yang tergantung mood. Etos kerja bisa bagus ketika hanya berdasarkan motivasi yang menyenangkan atau menguntungkan dirinya (lebih tepatnya untuk eksistensi), bukan motivasi atas kesadaran kolektif karena kebutuhan dari sebuah hubungan sosial.
- Merasa lebih tau.
- Manja. Sebenarnya ini juga berkaitan dengan etos kerja, dalam hal ini tidak mau susah.
- Ingin didengar (diperhatikan). Kalau pada pria cendrung suka tebar pesona.
- Mudah tersinggung, lemah mental. Atau semacam sulit menerima hinaan dan kritikan.
- Mudah ngambek, atau mutungan. Perilaku ngambek biasa lebih ke perilaku perempuan, tetapi jangan salah, laki-laki juga bisa.
- Tidak bersikap seperti yang dikatakan, dengan kata lain banyak bicara, banyak berikan arahan, usulan-usulan, atau komentar (sok kritis) yang mana cendrung tidak bisa melakukan apa yang dikatakannya.
- Suka berpandangan (pendapat) berdasarkan asumsi yang sifatnya emosional (seperti praduga), bukan logika (asumsi empiris). Biasanya cendrung jadi penggosip.
- Kadang, juga soal keamanan rahasia pribadi antar teman. Maksudnya sulit dipercaya menjaga rahasia.
- Kurang menghargai adanya kekurangan atau lebih tepatnya perfeksionis. Ketika ia mendapatkan sesuatu yang tidak ideal atau tidak mendapat yang diharapkan, baik dalam sebuah hubungan atau kondisi lingkungan, dipastikan akan ada konflik atau resistensi (ada hubungannya dengan sikap no 7), bahkan bisa sampai pada tingkat putus asa akut. Banyaknya kasus bunuh diri biasanya karena sikap ini yang begitu dominan dalam dirinya.
- Bisa juga sampai kepada sifat rajin membicarakan orang lain. Entah keburukan, pengalaman lelucouan, canda yang berlebihan, dsb.
Jika Anda berkomentar, “Ah tidak juga. Buktinya saya sering update status tidak seperti itu.” Jika komentar ini yang terlontar, maka saya hanya bisa diam. Karena itu hanya berdasarkan penilaian Anda terhadap diri sendiri, bukan orang lain.
Tetapi jika saya mendapat komentar, “Ah tidak juga. Buktinya ada teman saya yang rajin update tidak begitu.” Nah, kalau jawaban seperti ini saya akan bertanya, “Sejauh mana Anda dekat dengan teman Anda? Sudahkah pernah bekerja bareng dengannya? Pekerjaan yang butuh pengorbanan pastinya. Atau pernahkah Anda serumah dengannya lebih dari sebulan?” Jika itu pernah Anda lakukan dan alami maka Anda bisa menilai teman Anda. Jadi, penilaian saya terhadap tesis di atas adalah teman-teman yang benar-benar dekat. Jika pun tidak dekat, minimal saya pernah berhubungan kerja atau uang. Bisa jadi itu Anda (yang membaca ini).
Penilaian itu juga saya amati dari sebuah hubungan lawan jenis (pacaran) dari beberapa teman dan saudara. Saya memperhatikan pihak perempuan yang rajin update status bahkan sering tampilkan foto narsisnya, memiliki kecendrungan manja dan selalu ingin diperhatikan pacarnya. Jika keinginannya (rasa ingin diperhatikan entah apapun bentuknya) tidak dituruti, pasti ngambek. Untungnya si laki-laki -yang katanya lagi cinta banget- mau menuruti kemauan sang perempuan (biasanya ini kelemahan laki-laki). Nanti kalau sudah bosan (rasa cinta itu hilang), berantemlah mereka yang ujung-ujungnya putus. ( Jadi, kalau ingin merusak sebuah hubungan, kenali dulu kebiasaan mereka, lalu temukan motivasinya, cari kelemahannya dari motivasi yang dimiliki, kemudian ciptakanlah konflik berdasarkan kelemahan tersebut. -Sedikit resep politik adu domba #selingan)
Penilaian itu bukan hanya kepada kawan (yang dijadikan sample) saya saja, tetapi juga pada diri saya sendiri. Harus diakui saya pun memiliki sikap-sikap buruk yang saya sebutkan di atas. Penilaian pribadi itu bukan sekedar muncul dari asumsi, tetapi memang hasil dari sikap orang lain kepada saya yang tidak suka karena sifat-sifat saya tersebut, baik dari gelagat dan cara bersikap, perkataan orang ketiga atau mereka yang secara langsung mengatakan itu kepada saya. Dan iya, saya benarkan (setelah evaluasi).
Kemudian saya dapatkan juga kalau saya termasuk orang yang selalu ingin menyampaikan apa yang ada dipikiran dan perasaan ke kolom yang disebut wall facebook. Lagi-lagi, ada sebuah curahan dan eksistensi yang ingin saya tunjukan. Nah, perilaku ini saya hubungkan dengan karakter buruk yang saya temukan tadi. Metode terakhir inilah yang juga menjadi sumber data tesis saya ke dua.
Jadi ada 2 metode untuk menyimpulkan tesis saya di atas, pertama berdasarkan kecendrungan-kecendrungan dari pengamatan dan pengalaman dari bebrapa subyek (sample) yang diamati. Kedua, dari apa yang saya lakukan pada diri saya sendiri. Berdasarkan temuan-temuan perilaku dari beberapa poin di atas saya simpulkan, bahwa orang-orang yang rajin update status memiliki kecendrungan bukan kawan yang baik. Lebih tepatnya bukan kawan yang baik untuk bekerja bersama, yaitu pekerjaan yang membutuhkan pengorbanan besar dan partisipasi yang aktif dengan tingkat stres yang tinggi. Jika pun ada secara kerja dia sangat berkorban dan partisipasi yang aktif, biasanya lebih kepada motivasi untuk eksistensi, bukan karena kesadaran kolektif. Atau mungkin juga karena kepepet dan terpaksa.
Contoh mudahnya, orang-orang seperti ini ketika kita ajak perjalanan menempuh rimba hutan dengan perbekalan makanan dan air yang minim, kemungkinan dia akan banyak protes (keluhan), ngomel-ngomel, dan tidak mau mengalah. Sikap ini akan muncul ketika sedang dalam kondisi yang melelahkan. Karena, pada saat kondisi lelah tingkat stress seseorang tidak stabil.
Berbeda dengan kawan yang jarang update status, biasanya mereka lebih enak dijadikan teman. Mereka mampu menerima kekurangan kita (dalam hal ini saya), dan tidak suka merendahkan.Untuk di ajak bekerja bareng pun jarang ada masalah. Mereka mampu mengelola stresnya. Juga, mereka ini jarang menunjukkan eksistensinya. Bahasa kerennya low profile.
Orang yang sering upadate status secara psikologis memiliki kesan adalah orang yang ingin selalu menujukkan eksistensi dirinya. Ia ingin semua orang tau apa yang sedang ia alami atau pikirkan. Nah, karakter inilah yang pastinya secara psikologi akan berkaitan dengan perilaku dan sikapnya di lingkungan sosialnya. Sayangnya, masih jarang di kampus-kampus di negeri ini melakukan peneilitian tentang efek perilaku dari budaya facebook. Saya meyakini, ada alam bawah sadar dari perilaku kita sehari-hari yang mempengaruhi kita dalam menggunakan facebook, atau perilaku kita saat menggunakan facebook dengan sikap sehari-hari di lingkungan sosial. Anak yang dimanja dalam didikan orang tuanya pasti akan berbeda perilakunya ketika menggunakan facebook dari pada anak yang dididik keras.
Metode yang saya lakukan untuk uji empiris tesis saya memang masih belum teruji kebenarannya secara ilmiah. Tingkat kesalahannya pun bisa jadi cukup tinggi, karena sifatnya yang berdasarkan asumsi empiris (logika) yang cukup subyektif dengan alat pengetahuan (psikologi) yang minim. Namun, ketika seorang yang rajin update status bisa disamakan dengan perilaku narsis, dipastikan bisa teruji secara ilmiah. Banyak penelitian yang menghubungkan perilaku narsis dengan perilaku buruk seseorang. Hampir-hampir perilaku buruk yang saya disebutkan di atas juga dimiliki oleh perilaku narsis. Tinggal menyamakan pandangan, apakah seringnya update status sama dengan perilaku narsis. Silakan search di Google tentang dampak perilaku narsis terhadap perilaku hubungan sosial dan pertemanan, banyak sekali.
**
Banyak metode untuk menilai seseorang. Cara menempatkan foto profil pun bisa menjelaskan gambaran seseorang pada suatu minat dan keinginan yang ingin ditunjukan (secara semiotik). Jadi, pengamatan kita pada perilaku mereka di dunia maya bisa menjadi metode kita untuk mengenal seseorang. Tinggal seberapa baik alat pengetahuan kita untuk menjadi acuan metodelogi risetnya. Semakin baik alat pengetahuan, maka hasil tesis tersebut bisa semakin mendekati kebenaran.
Hasil tesis saya inilah yang bisa bermanfaat sebagai metode saya ketika suatu saat memerlukan partner kerja maupun partner hidup. Bukan berarti saya ingin berusaha perfeksionis memilih-milih kawan. Namun, hanya sebagai acuan untuk mengenal lebih dekat, sehingga tau harus memposisikan dia seperti apa.
Menjadi perfeksionis untuk memilih kawan sesuai harapan kita adalah tidak mungkin. Sebab, pasti setiap orang memiliki kekurangan. Menilai akhlak seseorang untuk mencapai kebenarannya itu sulit (karena subyektifitas tersebut), apalagi mencari akhlak ideal untuk menjadi partner hidup kita. Maka, kesiapan untuk menerima kekurangan adalah keharusan.
Dan pastinya, tesis ini menjadi bahan evalusasi bagi diri saya pribadi.
**
Tesis ini tidak berlaku untuk orang yang sering update di twitter. Sebab, berdasarkan pengamatan saya, sebagian besar pengguna twitter adalah orang-orang yang cukup intelek (melek informasi), hidup di kota-kota besar dengan mobilitas yang tinggi. Hal itu saya simpulkan dari banyaknya opini yang berkembang di media berawal dari twitter dari pada facebook. Propaganda politik lebih masif di twitter. Jadi, pengguna twitter dan facebook memiliki sifat dan karakter berbeda yang tidak bisa disamakan. Selain itu facebook adalah aplikasi database perilaku manusia terbesar di dunia, dari pada twitter yang masih terbatas dalam mengumpulkan informasi seseorang.
Bagi Anda yang merasa menjadi orang yang sering update status, silakan jika tidak setuju dengan pendapat saya ini. Apa yang saya tesiskan bukan sebuah hasil penelitian ilmiah yang mendekati kebenaran, jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jika tesis saya ini benar ya Alhamdulillah, jika salah ya sudah, silakan abaikan dan lupakan.
Bagi Anda yang jarang menulis status Facebook juga jangan bangga hati lepas dari karakter buruk yang disebutkan di atas. Bisa jadi, Anda juga memiliki karakter tersebut namun ketika sedang berhadapan dengan facebook Anda tidak tahu apa yang ingin dituliskan, mungkin bingung atau karena gaptek.
Wallahualam..
Catatan :
- Bagi Anda yang sedang melakukan riset ilmiah tentang perilaku. Mohon untuk tidak menggunakan artiekl saya ini sebagai sumber refrensi.
- Silakan bagi yang ingin memperdebatkan metode saya. Diladeni. Anggap saja ujian tesis.
bgtu ya gan !!! thank'z,,,,
BalasHapusDuh, ada satu orang di dunia maya punya sifat hampir semua yang ada di atas. Mirisnya lagi, profesi dia di dunia nyata adalah sebagai dosen, tapi begitu di dunia maya, dia selalu saja menghujat, memfitnah dan menggunjing orang yang dipikirnya jelek, bahkan sampai jam 1 pagi! (Ironisnya lagi, profesinya sebagai dosen justru malah membuatnya jadi penjahat busuk di dunia maya. Suka sekali menghasut orang agar membenci orang lain melalui inbox. Teman saya pernah dihasut agar membenci saya). Orang seperti itu benar-benar meresahkan dan tidak bermanfaat sama sekali.
BalasHapusSaya rasa anda Benar.
BalasHapusSaya pernah menemui orang dengan karakter tersebut di kontak bbm saya, :) rajin banget up date status bbm yang secara sekilas mirip banget dengan hal-hal yg dibahas oleh mas Ridwan, or even worst... Hehehe hanya menggerutu setiap saat, padahal beliau seorang dengan level top management di perusahaan dan yang pasti di kontak bbm nya pun banyak relasi di internal maupun eksternal perusahaan yang dapat membaca recent up date nya... Hehe by the way... Thx a lot
BalasHapus