Minggu, 25 Maret 2012

Menjadi Beradab dengan Kebersihan

ilustrasi : image thread Kaskus
Membaca headline Koran Kompas hari ini (25/03/12) cukup menarik. Tema tentang kebersihan toilet umum menjadi topik yang di angkat dengan judul ‘Wangi di Depan, Jorok di Belakang’. Pemberitaan tentang perilaku masyarakat yang tidak peduli dengan kebersihan toilet menjadi berita menarik. Kesan manusia yang tidak beradab sangat terlihat di berbagai tempat toilet umum di ibu kota. Kesan ketidakberadaban itu terlihat dari tidak adanya kesadaran untuk membersihkan buangan hajatnya.

Sebagai contoh dari yang diberitakan, bahwa ada seorang wanita dari pejabat menengah pemerintahan (kalau tidak salah) di ceritakan oleh sang penjaga toilet pernah ditemukan tidak menyiramkan kotorannya setelah buang hajat di wc umum salah satu gedung pemerintahan. Setelah buang hajat ia keluar begitu saja. Cerita ini menggelitik saya. Sebab, kisah-kisah seperti ini memang bukan hal yang biasa. Ternyata ada (mungkin banyak) kaum kelas atas yang masih belum sadar apa itu kebersihan. Tampilan mereka cukup bersih dan rapi. Bawaannya mobil mewah. Tetapi perilakunya primitif.

Lepas dari koran tadi, saya sering memperhatikan banyaknya masyarakat yang berkendara mobil juga tidak mengerti apa itu kebersihan. Mobil yang terlihat memang cukup mahal. Saya pun tidak sanggup membelinya. Namun sayang, ketika di jalan raya mereka seenaknya membuka kaca mobil lalu menumpahkan kotoran apapun, entah makanan, plastik atau bekas minuman ke jalan yang mereka lewati. Jika saya punya kuasa, ingin rasanya memarahi mereka, menggedor pintu mobilnya dan menyuruh memungut kembali kotoran yang baru dibuang.

Di sini saya menyimpulkan, orang yang kaya belum tentu berpendidikan. Ataupun, mereka berpendidikan (berpengetahuan) namun belum tentu beradab. Sangat sesuai dengan makna judul headline Koran Kompas tadi, bagus di penampilan tetapi di dalam rusak.

Tidak suka menyiram air seni setalah buang hajat, menyiram kotorannya di wc umum, membuang sampah sembarangan, atau juga kencing di pinggir jalan, sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Semakin modernnya fasilitas teknologi yang kita miliki tidak berbading lurus dengan sikap dan perilaku yang masih primitif. Hal inilah yang menjadi masalah besar masyarakat di negeri ini. Kesadaran untuk menjadi manusia beradap nampaknya menjadi bukti kegagalan pendidikan kita.

Ah, tidak usah jauh-jauh. Kampus FE UII (tempat saya kuliah dahulu) yang masih sering saya datangi juga tidak asing dengan pemandangan sampah berserakan. “Nanti juga dibersihkan sama cleaning servis.” Pengalaman saya pernah mendengar ucapan ini. Ia memang benar cleaning servis akan membersihkan. Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah di pemandangannya. Ketika sampah dibiarkan saja di area meja-meja diskusi (kami biasa menyebutnya EC: English Corner), cleaning servis baru akan membersihkannya besok pagi. Sedangkan sampah tersebut pasti akan tetap ada dan merusak pemandangan. Dan yang pasti meja diskusi itu akan dipergunakan lagi oleh orang lain. Bukannya itu namanya mendzalimi. Padahal, di area tersebut banyak disediakan tong sampah. Namanya saja otak primitif, tong sampah diletakan sedekat apapun, tak akan pernah kepikiran itu sebagai tempat pembuangan. Lagi-lagi saya katakan, meski mahasiswa, katanya berpendidikan, gagal menjadi manusia beradab. Lagi-lagi ini soal kegagalan pendidikan.

Sejak kecil masalah pendidikan kebersihan masih kurang diperhatikan. Mengapa banyak orang suka kencing di pinggir jalan yang hanya berlindung di balik pohon, sebab, sejak kecil masih banyak juga orang tua menyuruh anaknya untuk kencing di jalanan ketika anak-anaknya ingin pipis. Seperti yang pernah saya perhatikan ketika saya di Bandara Juanda Surabaya. Seorang ibu dan anak yang baru keluar dari mobil di tempat penurunan penumpang, langsung menyuruh anaknya membuka celanan lalu kencing di parit dekat mobil itu berhenti. Padahal susana sedang ramai. Seperti itulah orang tua mengajarkan anak-anaknya; kencing sembarangan dan tidak dibersihkan bekas kencingnya. Apakah tidak pernah kepikiran untuk mengajak (dengan mengajarkan) anaknya ke WC umum terdekat?

Tidak heran jika Koran Kompas memberitakan jika masuk toilet umum seperti mengalami mimpi buruk. Dari akar masalahnya saja kita sudah tahu, bahwa sejak kecil masyarakat kita kurang mendapat pendidikan soal kebersihan, baik di sekolah maupun di keluarga. Teringat cerita Mas Fatan Fantastik, seorang penulis dari penerbit buku tempat saya bekerja, dalam sebuah diskusi bedah buku  bahwa di negri Singapura terdapat sekolah yang mengajarkan anak-anak untuk beradab sejak kecil. Mereka sudah di ajarkan bagaimana ketika kencing harus membasahi kamar mandi dahulu ketika dalam kondisi kering. Kemudian menyiraminya kembali ketika telah selesai. Itu salah satu contoh kecilnya dalam mengajarkan keberadaban. Belum lagi soal masalah sikap terhadap sampah dan perilaku-perilaku lainnya. Ketika ditanya, mengapa mereka mengajarkan seperti ini, justru mereka menjawab belajar dari Indonesia, yaitu dari ajaran Islam itu sendiri.

Memang dalam Islam kita mengenal dengan ajaran thaharoh (bersuci). Namun sayang, teori fikih yang sering di ajarkan di sekolah-sekolah soal thoharoh masih sebatas tata cara wudhu dan mandi wajib. Padahal, secara praktis thoharoh bisa masuk kelingkungan perilaku kepribadian, seperti yang di ajarkan sekolah di Singapur tadi. Lagi-lagi, kita gagal dalam pendidikan. Justru negara lain yang meniru kita lebih bisa mendidik manusia untuk beradab. Lalu, siapakah yang salah dalam hal ini? I don’t care, siapa yang salah, yang penting mari kita mulai dari diri kita untuk bersikap lebih beradab terhadap lingkungan.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger