Jumat, 02 Maret 2012

Belajar Kritis, Belajar untuk Mencari Jalan yang Lurus

ilustrasi : www.csj.org
Bagi saya, sikap kritis itu perlu.Kita hidup di jaman dimana informasi begitu banyak masuk ke telinga kita. Puluhan ide, kabar, dan celotehan menjadi makanan sehari-hari. Semua begitu bebas masuk ke alam pikiran tanpa kita sadari. Sikap kritis, perlu menjadi sarana kita untuk menghidupkan mesin filter informasi (baik ide maupun pemikiran).

Anggap saja kita sedang berjalan ke suatu tepat yang ingin dituju. Jika bicara konteks jaman dulu, mungkin kita mudah mencari arah bila tidak tahu. Keterbatasan media informasi memudahkan menemukan satu dua orang untuk mengarahkan. Tinggal kita bertanya kepada orang yang menurut kita benar atau tidak, mudah di dapatkan.

Berbeda dengan konteks jaman sekarang. Menemukan satu orang yang benar saja susah. Proses perjalanan kita itu kadang membingungkan. Meski kita tidak meminta orang tersebut untuk mengarahi kita, mereka berteriak sendiri. Bahkan bisa ratusan orang berteriak tentang arah perjalanan yang akan kita tuju tanpa kita minta. Mereka berteriak dengan berbagai medium media yang ada di ruang-ruang publik. Mulai dari teriakan dogma normatif, hingga perkataan yang tidak bermutu. Sedangkan kita tidak tahu apakah yang diteriakan itu benar, bermanfaat, atau menyesatkan. Nah disinalah kita perlu menghidupkan mesin filter untuk mengetahui informasi yang benar (juga bermanfaat).

Sikap kritis perlu di mulai dengan sikap skeptis. Sikap skeptis menjadi sikap yang sudah mulai saya adopsi sejak lama. Saya selalu menganggap semua orang disekitar saya, termasuk keluarga, tidak bisa dipercaya. Kecuali telah membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yang bisa dipercaya, entah dengan perilakunya kepada saya atau usaha saya mengenali lebih jauh kepribadiannya.

Terlalu curiga juga tidak baik. Pasti akan membuat hidup tidak nyaman. Disitulah kadar skeptis perlu di manajemen. Harus ada nilai toleransinya. Sebab, setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan karakter yang harus kita maklumi.

Skeptis ini lah yang menjadi sikap untuk menghidupkan mesin filter informasi (kritis). Sikap kritis adalah proses penyelidikan dari orang-orang sekitar yang telah memberikan informasi ke kita. Apakah informasi yang kita terima itu mengarahkan jalan yang benar atau sesat. Termasuk informasi (ide atau pemikiran) dari ustadz, ulama, mentor, hingga pemikiran dari sebuah gerakan agama (yang kita ikuti) yang merasuk ke pikiran kita. Sikap kritis adalah upaya untuk tidak menerima mentah-mentah (taklid), namun upaya untuk terus mencari apa itu kebenaran. Kebenaran mutlak hanya ada pada teks Al Qur'an dan sunnah Nabi saw.

Inilah yang saya sesalkan, adanya orang-orang yang sangat alergi dengan sikap kritis. Seolah-olah orang yang kritis itu adalah musuh, berniat menghancurkan, tetapi tidak pernah diliat sebagai karakter dan usaha mencari kebenaran.

Kritis juga tidak sembarang kritis. Yang lebih saya sesalkan, banyak juga orang yang (seolah-olah) bersikap kritis sebagai dalih penolakan kebenaran. Kritis yang digunakan hanya sarana menturuti hawa nafsu, atau kritis untuk membuktikan ia lebih pintar. Kritis seperti inilah yang bisa kita anggap sebagai kritis yang berniat menghancurkan.

Nah sekarang, setelah kita ada kemauan untuk bersikap kritis bagaimana untuk memilah informasi yang kita dapatkan dari orang-orang disekitar kita. Bagaimana menentukan standar kebenaran itu. Lagi-lagi, inilah pentingnya menuntut ilmu. Ilmu akan mengarahkan kita kepada jalan yang ingin dituju. Dalam hal ini, dasar ilmu berupa teks Alqur’an dan sunnah menjadi landasan normatifnya. Tinggal, orang-orang di sekeliling kita perlu dipilah mana yang dipercaya atau tidak sebagai pelengkap informasi perjalanan (hidup) kita.

Dalam konteks jaman sekarang, ilmu (teks) agama saja tidak cukup. Banyak juga orang-orang yang secara ibadah bagus, mengerti Islam (secara teks), juga terjebak di ruang informasi yang terdistorsi (baik yang sudah direkayasa). Seolah-olah yang dilakukan adalah benar (secara teks agama), padahal sesungguhnya sudah terperangkap ke arah jalan yang sesat. Itulah mengapa Islam mengajarkan agama secara Kaffah.

Menuntut ilmu jangan setengah-setengah. Belajar Islam jangan hanya dibatasi soal ibadah. Tetapi pengetahuan soal akidah dan akhlak harus masuk ke ruang ilmu dalam kacamata sosial, politik, ekonomi, kajian budaya dan komunikasi juga tak lupa ilmu alam. Kajian-kajian sosial dan budaya bisa membantu mengarahkan kita bahwa fenomena dan kemajuan sarana informasi saat ini bisa saja menjebak. Pengetahuan akan ilmu sosial, budaya serta wacana pemikiran dan semacamnya, menjadi bagian dari startegi memilah informasi sesat yang tidak tertulis dalam teks agama. Maka, perlunya banyak mengkaji dan membaca, serta membuka ruang wacana pemikiran. Orang yang berilmu cendrung kritis.

Itulah mengapa, Allah swt menyuruh kita membacanya berkali-kali Surat Al Fatihah dalam sholat, yaitu kalimat ; “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang mukmin yang Engkau berikan nikmat, bukan jalan orang-orang sesat dan dzalim”. Inilah surat yang mengajak untuk terus berdoa agar selalu ditunjukkan jalan yang lurus serta ajakan untuk berpikir bagaimana caranya bisa menemukan jalan yang lurus itu, yaitu dengan belajar dan menuntut ilmu. Dan yang lebih penting adalah menjaga ibadah (khususnya sholat), karena ibadah adalah upaya menjaga sikap kritis kita dari hawa nafsu dan kepentingan. Wallahualam

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger