Jumat, 24 Februari 2012

Melawan Jaringan Islam Liberal dengan #IndonesiaTanpaJIL

ilustrasi  ahmedfikreatif.wordpress.com
Gerakan #IndonesiaTanpaJIL terlihat cukup menarik. Gerakan yang bermula sebagai aksi counter dari #IndonesiaTanpaFPI mendapat sambutan yang cukup hangat di kalangan aktivis muslim. Fauzi Baadila, seorang artis (yang saya juga baru kenal saat ini), menjadi ikon setelah ia mempromosikan gerakan #IndonesiaTanpaJIL dengan videonya yang hanya berdurasi beberapa detik. Sontak gayung bersambut dikalangan aktivis yang anti JIL meramaikan suara twit mereka dengan hastag terebut.

Saya pun, sebagai mantan pegiat dakwah kampus yang sudah cukup mengenal sepak terjang orang-orang Islam Liberal menyambut dengan antusias gerakan ini melalui media sosial. Sebagai admin media sosial di penerbit buku islam tempat saya bekerja, akun twiter penerbit itu pun juga saya manfaatkan untuk meramaikan gerakan ini. Dengan harap, agar dapat membantu mengkampanyegan gerakan anti liberal yang sudah cukup meresahkan akidah umat Islam di Indonesia.

Namun, satu hal yang menjadi tanda tanya bagi saya, apakah gerakan media sosial ini bisa berpengaruh (untuk saat ini)? Banyak hal yang bagi saya, sulit membangun wacana anti JIL ini ke wilayah publik.

Pertama, keberadan JIL yang sangat dipelihara oleh pemerintah. Atau dalam hal ini, JIL sangat berpengaruh di dalam pemerintahan. Mereka selalu dijadikan alat propaganda pengaliahan isu ketika pemerintah sedang dalam posisi disudutkan. Juga, menjadi alat propaganda pemerintah dengan isu-isu yang bertemakan konflik sosial di masyarakat. Belum lagi orang-orang mereka yang terjun ke politik atau para politikus yang memiliki kesamaan berpikir dengan orang-orang liberal.

Kedua, keberadaan media-media nasional yang juga menjadi kaki tangan JIL. JIL memiliki jaringan yang cukup dekat dengan media. Terutama koran Kompas, koran ini hampir setiap saat memberikan ruang bagi aktivis JIL untuk beropini. Bahkan, ide-ide JIL diadopsi sebagai framing pemberitaan yang menyangkut masalah konflik antar umat beragama. Sama halnya dengan Tempo, media ini sudah menjadi tempat bersuaranya orang-orang JIL, hampir sebagian besar jurnalisnya adalah didikan mereka. Jadi, soal-kuat-kuatan pengaruh di opini publik, jelas kita sudah kalah. Makanya, gerakan #IndonesiaTanpaJIL tidak diangkat isunya pada media-media berita segmen umum. Berbeda dengan gerakan #IndonesiaTanpaFPI yang begitu menarik diangkat oleh media.

Ketiga, keberadaan mereka dengan modal yang kuat. Sudah banyak tulisan-tulisan yang membahas tentang berbagai institusi yang menjadi pemodal gerak para aktivis JIL. Kekuatan modal yang mereka miliki inilah yang membuat mereka cukup mudah membuat berbagai program yang bisa mempengaruhi opini publik dalam skala yang cukup besar. Salah satunya film. Sudah tidak asing kita mendengar film-film yang selalu jadi kontroversi, seperti “?”, Cin(T)a, Perepmpuan berkalung Surban, dsb.

Jelas, beberapa poin di atas, mereka sudah bergerak berdasarkan agenda, visi kerja dan sangat terorganisir. Cengkramannya mampu mempengaruhi ruang ide masyarakat. Berbeda dengan gerakan sosial media #IndonesaiTanpaJIL yang masih dalam tahap reaksi atas kehadiran mereka.

Bukan artinya pesimis atau mengecilkan semangat terhadap gerakan Anti JIL ini, namun berharap, gerakan ini menjadi kesadaran umat Islam agar dapat membendung pemikiran mereka. Bukan sekedar mengecam, namun melakukan perlawanan-perlawaan yang teragenda dan terorganisir. Seperti yang tertulis di visi #IndonesiaTanpaJIL pada fanspage Faceboknya, bahwa gerakan ini bukan sekedar gerakan dengan lari sprint, melainkan dengan lari maraton, sehingga jangan terlalu terburu-buru untuk mengankat opini #IndonesiaTanpaJIL menjadi besar.

Satu hal yang membuat saya cukup salut dengan mereka adalah, mereka cendrung diam dengan isu ini. Mungkin saja mereka sadar, ketika mereka harus menanggapi, bisa jadi akan memperbesar isu tersebut ke ranah publik. Dengan mendiamkan saja, lama-lama akan surut sendiri. Inilah kecerdasan yang belum dimiliki kaum muslim Indonesia. Mereka lebih fokus dengan agenda-agenda dakwah liberal. Menanggapi isu counter hanya membuang-buang energi agenda ke depan, dan cendrung bersifat reaktif. Maka pelajaran yang perlu diambil adalah sikap proaktif yang perlu dimiliki kaum muslim, yaitu memiliki gerakan dakwah yang teragenda dan fokus, tanpa harus selalu menanggapi serangan-serang opini kontroversi dari mereka. Sikap selalu menanggapi dari pada menciptakan opini lebih bersikap reaktif daripada proaktif.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, gerakan #IndonesiaTanpaJIL akan sia-sia jika hanya sebatas lontaran-lontaran kejelakan mereka di ruang publik. Isu di sosial media ada masanya surut ketika muncul isu baru. Maka, kesia-siaan tersebut akan hilang jika gerakan #IndonesiaTanpaJIL mampu bergerak secara terorganisir dengan agenda jangka panjang tanpa melalui ruang media sosial saja. Gerakan tersebut bisa berupa aktivitas politik, ekonomi, sosial, budaya, dsb. Semoga saja, Gerakan #IndonesiatanpaJIL memberika kesadaran umat muslim Indonesia terhadap bayahanya sekte ini.

1 komentar:

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger