Selasa, 29 November 2011

Emira, Bayi Pecinta Konsumsi Sehat

Emira, sedang mencari buku bacaannya
Emira, nama bayi mungil dari anak seorang kawan kantor. Hingga tulisan ini ditulis, Emira sudah mulai bisa berjalan dan aktif bermain. Umur yang menginjak 1 tahunan merupakan masa mulai aktifnya bayi untuk mengenal benda-benda di lingkungan sekitarnya. Tak heran, benda apapun yang baginya menarik pasti akan menjadi santapan untuk dimainkan.

Emira, hanyalah bayi biasa seperti pada umumnya. Bayi pemalu ini sudah sering dikenakan jilbab kecil oleh orang tuanya ketika ke luar rumah. Parasnya yang gendut mungil menunjukkan bahwa ia adalah bayi yang sehat.

Emira, menjadi cerita yang menarik tentang kehidupan seorang bayi yang berjuang mencintai konsumsi sehat. Lahirnya produk-produk olahan pabrik dengan agama kapitalisme menjadi kegerahannya. Inilah kenyataan yang harus ia alamai. Ia lahir ditengah makanan yang penuh dengan zat perusak tubuh.

Emira, menjadi sosok bayi idealis pendobrak sebuah kebiasaan orang tua yang suka memberikan makanan tanpa memperhatikan kandungannya. Ia lahir dengan penuh tuntutan pada orang tuanya. Wajah polosnya yang cantik dan lucu menunjukan bahwa ia penuh harap kepada orang tuanya untuk menjaga makanan. Karena ia sadar, begitu banyak makanan yang penuh dengan zat perusak tubuh untuk seusianya.

Ditengah para orang tua memberikan bayi-bayi mereka susu bubuk dengan harga yang cukup mahal, maka Emira memberontak untuk tidak meminum susu-susu olahan pabrik. Ia lebih suka sapihan ASI sebagai nutrisi perjuangannya di masa depan kelak. Ia tahu, bahwa susu-susu itu penuh dengan zat kimia yang justru berdampak negatif bagi kesehatan di usia dewasa. Banyak ibu yang tidak sadar bahwa ASI memang diciptakan Allah untuk konsumsi bayinya hingga 2 tahun (anjuran dari Al Qur’an). Ketidaksadaran itulah yang membuat para ibu menjadi korban kebohongan marketing dari industri susu untuk keuntungan kaum kapitalis.

Ditengah para orang tua memberikan bubur bayi produksi pabrik, ia memberontak memakan olahan zat kimia tersebut. Ia lebih suka mengunyah bubur olahan orang tuanya sendiri. Bahkan, bubur yang ia kosumsi berasal dari sayuran dan beras yang insya Allah terhindar dari zat pestisida. Ia tahu, banyak makanan pokok konsumsi sehari-hari yang penuh dengan racun. Ia juga menuntut orang tuanya agar sedikit berkorban harta membeli beras dan sayuran organik.

Emira, yang rela untuk tidak merasakan kelejatan bumbu vetsin. Vetsin hanya membuatnya bodoh ketika dewasa nanti. Suara tangisannya secara masif memaksa orang tuanya agar terus mengolah bumbu alami pada kelezatan masakan di meja makannya. Ia bekerja keras untuk terus berteriak mengatakan “No Vetsin in my Body”. “Saya berhak menjadi cerdas.” Gumannya.

Emira, ia juga anti imunisasi. Imunisasi baginya hanyalah akal-akalan kaum imperialis. Imunisasi hanyalah propaganda untuk melemahkan fisik manusia ketika dewasa. Banyak sudah hasil penelitian yang menganggap imunisasi sebagai biang keladi sumber penyakit di era moderen. Sebagia besar orang sudah curiga, bahwa imunisasi bagian dari konspirasi jahat untuk menyukseskan bisnis kesehatan di masa depan.

Inilah Emira. Sosok akhwat kecil yang lantang meneriakan idealisme konsumsi sehat. Ia sadar, masa depannya lebih bernilai dari pada sikap pragmatisme konsumsi saat ini. Ia memulai perlawanan itu mulai dari dirinya. Ia siap berada di garda depan membawa tongkat Musa utuk mengajak anak manusia lari dari kejaran tirani makanan pembunuh.

Semoga Emira menjadi bagian dan inpirasi untuk lahirnya pahlawan-pahlawan masa depan.





29 November 2011
Di kantor yang penuh dengan keruwetan agenda.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger