Selasa, 22 November 2011

Berjumpa Lagi dengan Perpustakaan Itu (Sebuah Kenangan)

ilustrasi : kisshal.wordpress.com
Akhirnya aku memasuki ruangan itu kembali. Ruangan yang pernah menjadi tempat refresing saat kuliah. Tidak ada yang berubah setelah hampir dua tahun lamanya meninggalkan kampus itu. Ruang refrensi menjadi sebutan untuk  perpustakaan yang berada di lantai 3 kampus Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta.

Kesempatan ini tidak sengaja aku dapatkan. Tak sengaja aku bertemu dengan adik kampus yang sedang bertugas jaga di sana. Setelah sholat isya, seperti biasanya agenda untuk internetan gratis di kampus itu sedikit tertunda karena diajak ikut dengannya ke ruang yang biasa tutup pada pukul 8 malam. Kesempatan yang tak akan kulewati begitu saja. Sebab, itulah ruangan yang paling sering kukunjungi setelah masjid saat masa kuliah dahulu.

Ruang refrensi memang menyenangkan. Suasana tenang dengan suhu yang begitu sejuk menjadi tempat yang tepat untuk beristirahat di sela-sela pergantian mata kuliah. Mulai dari berbagai jenis surat kabar, Majalah Marketing, Majalah Tempo, Warta Ekonomi, sampai majalah Info Komputer menjadi santapan yang asik. Belum lagi musik pop dan klasik yang sering diputaran oleh petugas jaganya.

Ruangan refrensi ini memang berbeda dengan perpustakaan yang berada di lantai dua. Bedanya, buku tidak boleh dipinjam di ruangan ini. Kebutuhan data hanya boleh dikerjakan di ruang tersebut. Ruang foto kopi di sebelahnya menjadi pelengkap bagi mahasiswa yang malas untuk mencatat di sana. Juga, berbagai literatur yang ada cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan kuliah. Tidak hanya itu, buku-buku bacaan yang tidak hubungannya dengan kebutuhan bahan kuliah kampus ekonomi itu pun juga bisa ditemukan. Dokumentasi koran-koran dari beberapa tahun yang lalu juga ada. Yah, namanya juga perpustakaan sebuah perguruan tinggi, ya memang haru seperti itu. Sebuah kampus yang baik memang harus memfasilitasi kebutuhan literatur sesuai standar perpustakaan pada umumnya. Meski tidak sempurna, berbagai literatur yang ada di sana sudah cukup menemani ketika sengaja untuk menyendiri dari pergaulan kawan-kawan kampus.

Saya cukup senang dengan suasana yang sepi di ruangan itu. Saya senang dengan mahasiswanya yang lebih suka nongkrong di kantin, anjungan, pantai dan bandara (beberapa sebutan khas di area kampus tersebut). Rasa senang saya membuat membaca tidak terganggu oleh keributan. Lebih khusyuk rasanya. Buku-bukunya pun masih rapi dan bersih. Kesan aroma toko pada buku-buku itu masih ada. Terlihat buku-buku yang sangat jarang disentuh. Apalagi dibaca. Rasanya seperti orang pertama yang baru melepaskan keperawanan buku-buku itu ketika membuka lembaran halamannya.

Juga, yang membuat lebih senang adalah tidak rebutan untuk mendapatkan buku yang diingikan. Saya bebas mengambil buku apa saja tanpa harus ada antrian. Sebab, pada jam-jam tertentu biasanya hanya ada saya sendiri. Asik pokoknya, serasa rumah sendiri.

Yang tidak saya senangi adalah ketika sedang khusyuk datanglah bergerombolan mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Ruang refrensi itu akan terasa ramai jka datang mahasiswa-mahasiswa yang sedang mendapat tugas kuliah dari dosennya. Ramai karena tugas.

Yang lebih ramai lagi adalah ruang yang berada di sebelah barat, Sebab, ruang tersebut khusus untuk koleksi skripsi mahasiswa yang telah lulus. Area itu cukup ramai didatangi oleh mahasiswa yang sedang mengerjaka skripsinya. Mereka datang sambil membawa laptop lalu membuka lembar demi lembar dari skripsi yang mereka pilih, kemudian menuliskannya di laptop yang mereka. Terlihat seperti sedang menulis ulang apa yang ada di skripsi itu. Hahaha.. Dasar mahasiswa, bisanya copas.

Area skripsi memang menjadi ruang yang akan selalu diincar oleh mahasiswa tingkat akhir. Bisa jadi, mereka hanya akan datang ke ruang refrensi itu ketika menjelang skripsi. Lihat saja, bisa dipastikan yang akan sering hadir di ruangan terebut wajah-wajah lama. Berbeda dengan ruang literatur yang berada di sebelah timur. Seperti yang saya ceritakan di atas, area tersebut cenderung sepi dan hanya ramai jika ada yang sedang mengerjakan tugas.

Herannya, di kampus itu juga ada mahasiswanya yang belum pernah sekali pun masuk keruangan ini. Saya mempunyai pengalaman bahwa ada seorang kawan yang sudah 4 tahun kuliah dengannya tidak mengerti cara masuk ke ruangan itu. Ceritanya, ia mengajak janjian untuk bertemu dengan saya. Ia ingin mengambil tugas kelompok yang baru saja saya kerjakan. Saya ajak saja dia ke ruangan ini untuk diajak diskusi dari tugas tersebut. Eh, malah dianya minta ketemu di luar ruangan saja. Alasannya, tidak mengerti bagaimana cara masuknya karena belum pernah masuk. Mungkin itu satu contoh kasus. Barang kali tidak hanya kawan saya itu saja, masih ada ratusan mahasiswa lagi yang kemungkinan belum pernah merasakan kesejukan udara ruangan ini.

Begitu banyak kenangan masa lalu ketika masuk ke ruangan ini kembali. Rasanya ingin menjadi mahasiswa lagi. Begitu banyak waktu untuk bisa membaca. Tidak seperti sekarang, yang siang-malam mencari sekantong rupiah. Sayangnya, kunjung ke ruangan ini hanya sebentar. Hanya ada sisa waktu setengah jam saja menjelang ditutup pukul 8 malam. Kesempatan itu hanya saya gunakan untuk melihat majalah-majalah yang sering saya cari dahulunya. Ibu Yayu yang dahulu sering dijumpai di situ sudah tidak ada lagi, sudah pindah ke perpustakaan lantai dua. Saya kenal beliau karena pernah salah memberikan KTM ketika keluar ruangan. Akibatnya, KTM saya tertukar dengan orang lain hingga dua minggu lamanya. Mungkin itu bisa jadi cerita pengalaman sedihnya.

Pengalaman senangnya, ruangan ini pernah menjadi tempat saya mendapat nilai tugas dan persentasi Mata Kuliah Pemikiran dan Peradaban Islam terbaik. Saya pernah menghabiskan waktu membaca beberapa jilid Ensiklopedi Pemikiran dan Peradaban Islam untuk mengerjakan tugas itu secara sempurna. Tugas makalah hasil tulisan jerih payah sendiri dan persentasi di depan kelas tanpa teks. Tidak seperti mahasiswa dikelas lainnya. Saya memang paling senang dengan pelajaran dan bacaan sejarah sejak SMP. Rasa senang itu sangat membantu memotivasi mengerjakan tugas tersebut dengan baik dan rela berlama-lama di ruangan ini.

Berat memang ketika harus melangkahkan kaki meninggalkan ruangan ini. Ingin rasanya untuk terus di situ. Belum sempat saya mengecek buku-buku tebal yang jarang di sentuh, seperti Biografi Ali Syariati yang memiliki 1000an halam, lalu Mukkadimah Ibnu Khaldun yang kalau tidak salah ada 800an halaman, dsb. Apakah buku tersebut sudah berubah atau masih rapi seperti dulu? Apakah masih ada mahasiswa yang berminat untuk membaca buku-buku tersebut? Ah sudahlah, buat apa saya pikirkan.

Perpustakaan. Kapan ya punya perpustakan pribadi dengan ribuan koleksinya. Ah.. ayo membaca (lagi).

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger