Senin, 07 November 2011

Berharap Sesuatu, Siaplah untuk Kecewa

Cerita di malam Idul Adha 1432 H di JAM FE UII

Halaman kampus FE UII itu sudah penuh dengan genangan air hujan. Hari yang mulai menjelang tengah malam tidak menyurutkan lelaki yang mengaku asal Kulon Progo itu beranjak dari tempatnya. Ia dengan sabar menunggu datangnya kambing kurban dari Lembaga Dakwah kampus yang bernaung di Masjid Al Muqtashidin. “Di Mushola Dusun saya belum ada hewan yang mau dikurbankan mas.” Keluhnya yang telah menunggu sejak pukul 8 malam.

Saya kaget mendengarnya. Perasaan iba muncul. Namun, sikap skeptis kepada lelaki itu juga saya tuangkan. Apakah ia benar-benar butuh kambing kurban atau mencari kesempatan untuk keuntungan pribadi.

Ia rela menuggu setelah ada seseorang panitia atau pengurus dari lembaga dakwah faklutas yang bernama Jama’ah Al Muqtashidin (LDF JAM FE UII) mengatakan kepadanya akan datang lagi malam nanti 5 kambing. Ia berharap dari situ. Padahal ketika saya bertanya kepada kawan bagian penjualan dan penyaluran, alokasi kambing yang akan diserahkan ke pihak luar sudah cukup. Termasuk kambing saya dan satu kambing milik kawan lainnya yang saya minta untuk dialokasikan ke daerah Godean tempat tinggal teman kantor yang juga membutuhkan. Nah, di sini dilemanya.

Sejak awal, saya sudah disarankan berkurban di masjid tempat tinggal teman kantor tadi. Sebab, daerah tersebut masih minim syiar Islam. Beberapa masyarakat yang mapan pun untuk mau peduli bekurban maupun berinfaq masih jarang. Apalagi yang masih dalam kategori tingkat keminskinan. Belum lagi kristenisasi yang begitu merajalela. Sehingga, kebutuhan hewan kurban sebagai syiar Islam sangat dibutuhkan.

Seperti biasanya, pelaksanaan kurban LDF JAM FE UII sering dilakukan di desa-desa binaan. Keinginan pengurus tahun ini ingin membedakan pelaksanaan kurban dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu di kampus sendiri. Sebagai alumninya, saya apresiasi dengan keputusan ini. Sebagai bentuk apresiasi, saya ingin mengutamakan berkurban dilingkungan terdekat dimana saya masih bersosialisasi, yaitu kampus. Keputusan untuk berkurban di lingkungan kawan kantor akan saya jadikan prioritas ke dua, yaitu dengan syarat jika kambing kurban di kampus berlebihan.

Menjelang H-1, pesanan kambing yang akan dikurbankan ke kampus semakin menumpuk rupanya. Panitia kurban yang terdiri dari anak-anak mahasiswa yang masih belum berpengalaman memotong kambing menjadi kewalahan ketika harus menghadapi kambing kurban yang berjumlah belasan. Maka, disalurkan beberapa kambing ke tempat lain menjadi solusi. Sayangnya, beberapa pengurban banyak yang menginginkan dikurban di kampus tesebut. Jika dijumlah, masih ada di atas 10 kambing. Maka, kesempatan untuk memenuhi keinginan kawan kantor tadi dapat dilakukan. Saya minta ke panitia agar kambing saya di kurbankan di salah satu desa di Godean. Ditambah satu kambing milik seorang kawan yang juga alumni kampus tersebut. Kambing kawan saya itu rencana akan diberikan ke daerah Wonorejo tempat binaan salah satu lembaga penelitian kampus. Ternyata tidak jadi karena sudah penuh. Kambing tersebut saya mintakan saja untuk disalurkan ke Godean bersama kambing saya, sehingga menjadi dua kambing. Panitia pun menyetujui. Beberapa kambing lainnya pun juga sudah didata tujuan distribusinya. Hingga sisa 6 ekor yang akan disembelih di kampus.

Kambing susulan termasuk salah satu kambing kawan kampus yang akan dibawa ke Godean akan tiba sekitar pukul 10 – 11 malam. Kawan kantor saya yang di Godean pun juga akan mengambil ke kampus sekitar jam segitu. Beberapa orang yang datang meminta jatah kambing sudah banyak yang ditolak oleh panitia. Tidak dengan lelaki itu. Tidak tahu mengapa ia justru bersikeras menunggu seperti ada yang memberikan harapan. Seolah-olah, kampus ini harapan satu-satunya. Terlihat, ia begitu berharap dari belas kasihan  dari panitia maupun pihak-pihak yang mendapat jatah.

Seorang panitia pun mengusulkan kepada saya agar  salah satu kambing yang akan dibawa ke Godean diserahkan kepada lelaki itu. Saya agak bingung menjawabnya. Disatu sisi kasihan, di sisi lain saya sudah terlanjur janji dan memberikan harapan ke warga desa tempat kawan kantor tinggal. Kawan-kawan panitia sudah berlepas tangan, semua keputusan diserahkan kepada saya.

Meski sisa 6 ekor, masih ada usulan untuk menyerahkan satu ekor kepada lelaki itu. Namun, pihak panitia merasa khawatir  jika 50 kupon yang akan dibagikan esoknya akan kurang dengan 5 ekor kambing. Maka, tetap berada pada pilihan 6 ekor tetap di kampus.

Hingga kawan kantor datang untuk mengambil, saya tetap berada pada pilihan pertama, yaitu tetap memberikan dua kambing ke desa kawan kantor tadi. Saya mencoba berbicara baik-bak kepada lelaki itu. Ia menunjukah wajah kecewanya. Rasa tidak tega pun menghampiri saya. Saya bisa merasakan kekecewaan yang ia rasakan seperti kekecewaan yang juga sering saya alami, dalam konteks yang berbeda tentunya. Namun, saya harus tetap kosisten pada pilihan di awal. Rasa kasihan juga bukan menjadi solusi. Rasa kasihan belum menjadi jaminan bahwa kita benar terhadap sebuah pilihan. Berbagai alternatif juga saya usulkan ke lelaki terebut agar bisa mendapatkan jatah kambing dalam bentuk yang sudah dipotong.

Ternyata ia masih terus mengejar harapan itu. Setelah gagal melobi anak-anak kampus, ia melobi ke kawan kantor saya. Ia berharap belas kasihan kepada warga Godean yang mengambil dua ekor kambing dari kampus kami untuk bisa mendapatkan satu ekornya. Negoisasi masih belum usai meski waktu sudah menunjukan pukul 00.30. Sayangnya, lelaki itu tidak berhasil lantaran para penjemput kambing tidak bisa memutuskan dan sudah terlanjur memberikan harapan serta kepastian kepada warga di sana yang akan kedatangan dua kambing.

Meski begitu, kawan kantor saya mampu memahami lelaki itu secara baik-baik. Ia ajak diskusi dan memberikan masukan serta berbagai alternatif lainnya. Salah satu yang diajarkan kawan kantor saya itu adalah soal pentingnya memiliki jaringan. Lelaki itu hanya mengandalkan proposal yang ia masukan. Sebab lihat saja, beberapa ekor kambing yang dialokasikan dari kampus ini kebanyak adalah orang-orang terdekat. Meski lelaki itu sudah sejak lama memberikan proposal permohonan kambing, tetap saja, kawan-kawan pantia lebih suka memberikan kepada orang-orang yang jelas dan dipercaya. Termasuk saran saya untuk memberikan ke desa kawan kantor saya yang sudah saya kenal sejak pertama kali ke Jogja (tahun 2005).

Semoga saja ini bisa menjadi pelajaran, baik bagi lelaki itu maupun saya dan kawan-kawan panitia soal manajemen dan ketegasan.

Ketika berharap sesuatu tanpa strategi dan pengetahuan untuk memperolehnya, maka siap-siap saja kekecewaan yang didapat.



Yogyakarta,
Senin pagi yang dingin dengan secangkir coklat hangat

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger