Sabtu, 02 Juli 2011

Sang Mualaf yang Mempertanyakan Pluralisme

ilustrasi : djandjan.com
Kawan saya bercerita. Ia bertemu dengan seorang mualaf yang masih muda. Sebut saja namanya Roy (maaf, nama samaran demi menjaga keamanan). Roy bercerita tentang kehidupannya setelah menjadi mualaf ketika sedang berkunjug  ke Yogyakata untuk berliburan dan bertemu salah satu ustad Muda di kota ini.

Kisah Roy yang diceritakan kawan saya ini sungguh menarik perhatian. Sebab, kisahnya tersebut penuh dengan perjuangan dan cobaan dikala ia telah memeluk Islam. Akunya, ia adalah seorang anak dari pemilik Rumah Sakit swasta ternama di Kota Bandung. Ia pun mendapatkan pendidikan di salah satu kampus filsafat dan teologi ternama di Jakarta.

Dalam kisahnya, selama menempuh pendidikan di kampus tersebut justru ia merasa gelisah dan sulit menemukan kebenaran. Ia termasuk kritis dan sering mendapat ancaman atau teguran ketika mempertanyakan sesuatu yang peka. Hingga akhirnya, sempat ia mempercayai tuhan namun tidak mempercayai agama-agama yang ada.

Alhamdulillah, dalam perjalanan waktu ia menemukan Islam (kisah proses menemukan Islamnya tidak diceritakan oleh kawan saya itu). Islam memberikan jawaban atas apa yang ia cari selama ini. Dan ia harus menghadapi cobaan itu. Karena sudah berbeda Iman, ia mengalami perbedaan penyikapan dari orang-orang di sekitarnya. Semua orang memusuhinya. Begitu juga dengan Romo yang menjadi gurunya selama ini juga ikut memusuhinya. Sampai-sampai ketika Roy berpas-pasan dengan Romo tersebut di Bandara Adisucipto saat kunjungan ke Jogja ini, ia harus menghindar. Bukan karena takut, hanya saja ingin menjaga perasan si Romo itu.

Dalam kesempatan sebuah acara seminar tentang pluralisme di Bandung, ia bertemu dengan Sang Romo itu dan seorang kyai yang kerap mengkampanyekan pluralisme. Romo dan kyai tersebut merupakan pembicara pada acara itu. Saat sesi tanya jawab, Roy pun menceritakan dirinya yang pindah agama pada. Ia mengatakan jika perpindahan agamanya itu justru disikapi secara negatif oleh guru-gurunya termasuk si Romo tersebut. Ia dimusuhi seakan ia melakukan kesalahan terhadap mereka. Padahal ia hanya ingin bersahabat dengan mereka dan tidak bermaksud membuat perpecahan.

Lalu ia bertanya kepada kyai yang menjadi pembicara, “Kalau kyai berbicara pluralisme dan selalu menghagai perbedaan Iman, bisakah kyai mengembalikan persahabatan saya dengan Romo?” Tanyanya.

Si Kyai pejuang pluralisme tersebut terdiam. Ia kaget dan tak dapat menjawab apa yang ditanyakan si Roy itu. Sampai akhirnya Sang Romo angkat bicara dengan mengatakan “ini buka masalah perbedaan iman, tetapi masalah hati.”

Nampaknya, ada sikap inkonsisten dari yang dikampanyekan Sang Romo kepada anak didiknya yang telah berbeda iman. Roy merasa, apa yang diajarkan dan dikampanyean oleh si Romo hanya ide absurd yang penuh dengan kebohongan. Tidak ada niatan untuk memecah belah, ia hanya ingin tetap bersahabat dengan Romo atau pun keluarganya yang juga telah mengusinya dari rumah. 

Terlihat jelas adanya ketidakadilan dalam wacana pluralisme ini. Kisah Roy membuktikan sikap diskriminatif terhadap Agama Islam dalam menyikapi perbedaan. Berbeda ketika posisi agama selain islam yang menjadi korban, semangat mengkampanyekan pluralisme begitu kuat didengungkan.

"Semoga saja Roy akan tetap istiqomah dengan semangat keber-islamannya. Dan para pengagum pluralisme sadar atas sikap mereka." begitu doa kawan saya diakhir ceritanya, amin.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger