Kira-kira satu setengah bulan lamanya terhenti. Terhenti untuk tidak menulis. Sengaja terhenti untuk mengurangi ruang imajinasi dalam bentuk deretan bahasa dalam kalimat. Bukan karena kesal, bukan karena sarana, atau bukan karena seperti novelis E.S Ito yang mengaku berhenti menulis karena patah hatinya. Saya adalah individu yang memiliki sikap katarsis, individu yang memiliki bahasa, dan individu yang berimajinasi, yang ingin meredam sementara ke tiga sikap tersebut dalam ruang refleksi.
Akumulasi kegagalan yang terus menghinggapi, beban kerja yang mulai membosankan hingga munculnya rasa frustasi, juga menjadi alasan untuk menemukan ruang refleksi tersebut. Beruntung, bertemunya momen Ramadhan menjadi sarana yang tepat untuk kembali dekat dengan tuhan, Allah swt. Ruang refleksi itu coba saya wujudkan dengan sikap diam (di ruang virtual). Diam untuk tidak menulis (blog dan status facebook). Diam untuk mengakui kekurangan diri. Diam untuk menyusun ide. Dan diam untuk menemukan kembali misi dan hikmah. Sebulan penuh untuk diam (tidak menulis).
Diam tidak selamanya emas. Memaksa diri untuk meredam sifat katarsis juga tidak baik untuk psikis. Juga bukan berarti saya harus banyak bicara. Namun, mencoba melepaskan jiwa katarsis tersebut dengan deretan kalimat yang terstruktur, kalimat yang perlu analisis, dan kalimat yang harus dipikirkan dengan baik sebelum dikatakan, yaitu dengan membagi pelajaran-pelajaran yang didapatkan. Bukan sekedar curhat. Maka, disitulah saatnya kembali saya harus menulis.
Menulis dapat melatih kita membebaskan ruang imajinasi ke dalam ruang materi. Rangkaian deretan kata merupakan hasil dari imajinasi kita. Ketika imajinasi melahirkan karya di ruang materi, disitulah lahirnya seni-seni dalam kehidupan. Maka, menulis sebagai sarana ikhtiar untuk menghasilkan karya.
Menulis akan merangsang kita untuk membagi pengetahuan. Usaha untuk membagi pengetahuan tersebut akan merangsang pula usaha kita untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari informasi yang akan kita tulis. Mau tidak mau usaha untuk membaca akan menjadi kebiasaan sebagai usaha mendapatkan informasi tersebut. Seperti kata Pak Hernowo, membaca dan menulis menjadi sesuatu yang tidak pernah terpisahkan. Dengan keinginan kuat untutk terus menulis, secara otomatis adalah bagian usaha dari kita untuk membentuk struktur pengetahuan. Juga struktur berpikir.
Menulis membuat lebih dekat dengan buku. Masih ada hubungannya dengan poin di atas. Terkadang saya iri dengan beberapa blog orang terkenal seperti penulis atau jurnalis yang tulisannya sangat bagus sekali. Diksi yang dipakai sangat pas sekali dengan informasi yang ingin ia utarakan. Padahal, informasi dan ide tulisan yang ingin disampaikan cukup sederhana. Saya pribadi merasa bisa kalau hanya menulis sesederhana itu. Namun, ketika diperaktekkan dan diperlihatkan hasilnya sungguh jauh berbeda kualitasnya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Sebab, ada struktur pengetahuan yang saya miliki tidak sebaik apa yang mereka miliki. Dengan adanya struktur pengetahuan yang baik, sesederhana apapun tulisan bisa menjadi rangaian kata yang begitu indah. Struktur pengetahuan terbentuk ketika seorang tersebut dekat dengan buku. Semakin banyak buku yang ia baca, kosakata dan bank istilah akan semakin banyak. Dengan melihat orang-orang kutu buku tersebut, akan membuat motivasi saya untuk terus mencoba dekat dengan buku.
Menulis untuk mengenal diri kita. Seperti kata Kang Salim A Fillah, menulis adalah bagian dari ikhtiar untuk memperbaiki diri. Menurutnya, para pembaca tulisan kita akan menjadi guru yang akan memperbaiki kekeliruan, kebengkokan dan kekurangan yang ada pada diri kita.
Ketika melihat tulisan saya, maka disitulah batas keilmuan saya. Kualitas seseorang bisa dilihat dari ilmunya. Maka, ada kesempatan bagi pembaca untuk beramal, yaitu memperbaiki kekurangan saya dan mengajarkan saya yang belum saya tahu. Insya Allah, selama tidak membawa saya kepada kesesatan (Aqidah Islam), akan saya terima kritikan dan pelajaran tersebut sebagai kekurangan yang harus saya perbaiki dan tambahan pengetahuan.
Menulis cara untuk mengontrol ucapan. Menulis membuat apa yang akan kita katakan harus dipikirkan terlebih dahulu. Ada proses berpikir disitu. Ada proses refleksi. Tidak seperti berbicara, yang sekedarnya tanpa mempertimbangkan baik buruknya.
Dengan menulis, disitulah saya harus belajar menerima kenyataan. Kita akan lepas dari bayang-bayang abstrak, harapan kosong, dan impian yang menjemukan. Menulis, cara cepat untuk melupakan apa yang tidak harus kita pikirkan (lagi).
Menulis adalah proses menemukan makna. Semua hasil perenungan dari ruang refleksi tersebut dapat menemukan hikmah yang perlu dibagi. Maka menulislah untuk membaginya.
Berikut kata Romo Sindhu yang saya kutip dari buku Mengikat Makna, Hernowo :
“Kalimat yang kita tuliskan, mengatakan kepada kita tentang sesuatu yang tidak kita sadari, sebelum kita mengalimatkannya. Jadi, bahasa adalah semacam ‘alat produksi’. Patut diingat, kendati bahasa adalah alat, kita bukanlah ‘tuan’ dari alat tersebut. Karena itu, kita harus dengan sabar menunggu sampai bahasa itu menjadi peluang yang memberi kita jalan untuk mengerti dan membukakan banyak hal, yang sebelumnya tidak kita ketahui. Apabila kita percaya pada kekuatan bahasa, kita akan diajak untuk melihat banyak kemungkinan dalam hidup kita untuk kita ungkapkan.”
Maka menulislah. Saya akan terus menulis, menulis, dan menulis apa saja yang bisa saya tulis. Saya bukan pujangga yang bisa merangkai kata dengan indah, saya bukanlah ilmuan yang memiliki pengetahuan yang luas untuk dituliskan, tetapi saya adalah orang yang sedang belajar menyusun kata dengan mencari kata-kata tersebut di berbagai buku yang saya suka.
Saya hanya menulis untuk diri saya sendiri. Tidak peduli ada yang mau membaca tulisan-tulisan saya atau tidak. Yang penting, saya bebas menulis. Saya bebas mengutarakan pengetahuan saya. Bebas menterjemahkan imajinasi-imajinasi saya. Seperti bebas berteriak sekencang mungkin di atas puncak gunung yang hanya ramai dengan siulan angin berhembus. Dan bebas mengepakkan saya-sayap untuk terus menanjak ke ketinggian langit.
Mari kita menulis untuk gagasan dan cita-cita.
Balikpapan, 2 September 2011
Bersama secangkir cokelat hangat.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.