| Yamaha F1ZR, seperti inilah motor saya model standarnya |
Sejak kelas 2 SMP, saya sudah memilki keberminatan soal otomotif. Bergaul dengan teman-teman ‘anak motor’ menjadi jadwal harian bermain saya ketika itu. Bermodalkan Motor butut Yamaha Alfa 2R dari warisan orang tua, agenda rutin nongkrong dipinggir jalan dan ngotak-ngatik motor menjadi hobi.
Seiring waktu, banyak teman sebaya saya mengganti motornya. Pada membeli motor baru maksudnya. Kebanyakan mereka memiliki motor-motor kelas 2 tak. Memang, 2 tak menjadi tren yang sangat pas dengan anak muda. Terlihat sporty, gaul, dan sangat khas dengan motor pembalap. Tak lepas, saya pun juga berkeinginan memiliki motor baru. Memiliki Yamaha F1ZR menjadi impian saya ketika itu, meski teman-teman yang lain lebih banyak menggunakan Suzuki Satria. Padahal, jenis motor tersebut (2 tak) termasuk boros bensinnya. Belum lagi ditambah oli samping yang juga menambah beban pengeluaran rutin motor ini. Sayang, saat itu gengsi lebih utama ketimbang kebutuhan.
Dengan gaya anak kecil meminta dibelikan mainan, itulah saya. Sambil merengek dan mengambek saya berusaha membujuk orang tua agar segera dibelikan motor baru. Seringnya mendapat ejekan karena menggunakan motor butut yamaha Alfa, mendorong saya memaksa orang tua mengeluarkan sebagain hartanya demi kesenangan saya untuk memiliki motor baru berjenis Yamaha F1ZR. Ya, kesenangan. Sebab, saat SMP, saya masih belum membutuhkan motor. Untuk pulang pergi ke sekolah saja saya masih menggunakan bus jemputan dari Pertamina (tempat bapak saya bekerja).
Impian itupun terwujudkan setelah sekian lama selalu mengkhayal bisa mengendarai Yamaha F1ZR. Demi kesenangan anaknya, ibu saya akhirnya melangkahkan kakinya ke dealer motor Yamaha. Bapak saya saat itu sedang masa pemulihan setelah kena stroke, jadi ibu saya yang membelikan motor atas saran bapak (Ya Allah, masukanlah mereka ke surgamu. Terimalah amal kesabarannya dalam menghadapi anaknya yang nakal ini).
Sejak saat itu, tidak ada lagi hinaan dari teman-teman. Mempunyai Yamaha F1ZR di kalangan anak-anak motor di kota tempat kelahiranku merupakan suatu kebanggaan. Rasanya seperti mempunyai sedan Ferari jika berada dikalangan geng mobil. Aksi saya dan kawan-kawan pun dimulai. Setiap sore kerjaan kami menongkrong dengan menjejerkan motor kami di pinggir jalan bersama dengan anak-anak motor lainnya sambil menonton balapan motor liar. Kami juga sering nongkrong di sekolah saat jam-jam kegiatan ekstrakulikuler. Terkadang, pada hari jumat dan sabtu kami pernah sepakat untuk membawa motor ke sekolah pada jam sekolah. Pakirnya pun sembunyi-sembunyi. Biasanya diparkir di parkiran guru SD sebelah sekolah kami agar tidak ketahuan guru-guru kami. Tujuannya biasa, kami ingin pamer motor sebagai anak-anak geng motor sekolah saat pulang sekolah. Dan kadang juga, sering mencoba mengajak para cewe-cewek cantik di sekolah untuk mau kami bonceng pulang. Alhamdulillah, saya selalu gagal untuk itu, hehe.. Motornya aja yang keren, tapi tampang gak laku, hahaha..
Tidak hanya itu, saya pun juga banyak menghabiskan uang untuk modifikasi motor ini. Kesan ingin mengubah menjadi seperti motor balap juga menjadi keinginan. Uan jajan pun habis untuk merias motor menjadi sesuai yang diinginkan. Dan yang paling berkesan adalah, saya pernah ikut dikejar-kejar polisi yang ingin membubarkan tongkrongan anak-anak motor yang mengganggu lalu lintas jalan raya tempat kami bergaya. Seru loh..
Berbeda setelah memasuki masa SMA. Lingkungan berganti, teman pun juga banyak berubah. Kebetulan saya masuk di SMA favorit yang notabene kebanyakan anak pintar dan anak baik-baik (meski juga banyak yang berandalan). Jadinya, sudah tidak bergaul lagi dengan anak-anak motor. Meski begitu, motor pun menjadi barang kebutuhan, sebab, telah menjadi kendaraan transportasi pulang pergi sekolah. Tidak seperti saat SMP yang hanya untuk gaya.
Motor ini pun terasa sekali manfaatnya setalah saya terlibat pada aktivitas kerohanian islam (Rohis) sekolah. ‘Terjerumus’-nya saya pada lingkungan ini membuat cara pandang dan sikap terhadap pergaulan berubah. Maka berubah juga saya memperlakukan motor. Kalau dulu waktu saya habis untuk memikirkan dan mengotak-atik motor, maka saat SMA waktu habis ditemani motor mondar-mandir mengikuti aktivitas dakwah sekolah. Terkadang, motor saya ini termasuk deretan motor yang paling sore keluar dari parkir sekolah. Yah, karena aktivitas rutinnya setelah pulang sekolah pasti ke markas rohis dahulu (Musholla Baitul ilmi tercinta), entah cuma nongkrong, liqo, diskusi, rapat, bersih-bersih, sampai urusan kepanitiaan hari besar Islam. Hari Ahad pun juga dipakai ke sekolah untuk acara Majelis taklim. Gak ada liburnya. Dan itu berlangsung selama 3 tahun. Jadi, ini motor bener-bener banyak amalnya, dibanding sama yang punya.
Setelah lulus SMA, terdamparlah saya di Jogja. Orang tua berencana menjual motor ini. Dan saya disuruh untuk membeli motor baru saja di Jogja. Namun saya menolaknya. Sudah terlanjur cinta dengan motor ini. Jadi, saya minta dikirim ke Jogja dari Balikpapan. Untungnya orang tua saya menyetujui. Meski sudah menjadi motor yang hampir tua (sudah 5 tahun) saya tetap percaya diri menggunakan motor ini. Semakin dewasa orientasi berpikir saya dan semakin tinggi pendidikan di perguruan tinggi, rasa gengsi untuk memiliki motor baru sudah tidak ada. Jadi, ketika menggunakan motor 2 tak yang berbunyi nyaring dengan asap yang mengepul tebal ke kampus, ya pede-pede saja.
Tidak hanya SMA, di masa-masa kuliah pun motor ini juga semakin bertambah amalnya. Ia tidak hanya mengantarkanku pulang pergi kuliah saja, tetapi keterlibatan saya di dakwah kampus ikut menyertainya. Hari-hari saya tidak pernah lepas dari tangan yang selalu mengopel gas motor ini. Meski motor ini sangat boros dan setiap bulannya selalu menghabiskan hingga ¼ uang jajan per bulan, saya tidak pernah kecewa dengan motor ini. Hingga 5 tahun lamanya di Jogja, baik setelah lulus hingga berkehidupan di Jogja, saya tidak pernah berpikir untuk menjualnya dan mengganti motor baru. Kelak, saya berkeinginan tetap tidak akan menjual motor ini dan akan selalu saya simpan sebagai kenangan terindah sepanjang hayat. Iya kenangan, sebab untuk mendapatkannya harus membuat orang tua saya menderita. Kalau seandainya Allah swt memberikan pahala amal ke motor ini, saya ingin semua pahalanya bisa diberikan ke orang tua saya, please Allah..
![]() |
| Yamaha Jupiter Z 2011, Motor baru saya sekarang. #pamer |
Gak tau kenapa dari jaman bapak saya masih muda hingga saya yang akan menjelang dewasa selalu motornya yamaha. Seperti sudah menjadi konsumen fanatik. Kalau Pakde saya punya slogan ‘motor ya Honda’, maka saya ‘motor ya Yamaha’, hahaha….
Namun sayang, masuh ortu yang mendanai adanya motor baru ini. Soalnya mengandalkan gaji belum cukup. Semoga motor baru ini akan tetap terus dimafaatkan untuk aktivitas yang barokah. Agar niat baik ibu saya tetap menjadi pahala dari kerja amal motor baru ini. Amin.
Meski sudah ganti motor. Keinginan untuk menjual F1ZR ini tidak akan dilakukan. Seperti sumpah saya di awal, akan selalu saya simpan sebagai kenangan terindah sepanjang hayat. Dialah yang selalu menemani dalam menuntut ilmu, menemukan kebenaran, mencari jati diri. Dialah yang selalu mengatarkan saya dikala sedang kesepian, menemani dikala patah hati, dan selalu setia menunggu untuk digunakan ketika emosiku sedang labilnya. Dan ingat, saya masih menyimpan hobi terpendam dalam memodifikasi motor. Kalau ada rezeki dan kelebihan harta, insya Allah hobi itu akan tersalurkan di motor yang penuh kenangan ini. Terimakasih sahabatku, meski engkau sudah tua, saya berjanji akan membuatmu cantik kembali seperti dulu. Tunggu saja, sedang saya kumpulkan harta itu.

WA0W, menyentuh sekali..
BalasHapusTapi dikalangan anak muda di desaku masih di gemari lho..