Sudah berusaha untuk menjaga kesehatan sekuat mungkin, jebol juga pertahanan. Tubuh yang terlalu terporsir dengan berbagai aktivitas tidak terimbangi dengan nutrisi dan vitamin. Jadinya, sistem pertahanan tubuh tidak mampu membendung berbagai serangan virus dan bakteri yang selalu menyerbu dimana pun dan kapan pun. Suhu meningkat, badan lemas, dan kepala pusing menjadi bentuknya.
Awalnya berpikir hanya kelelahan saja. Meski dipagi hari terasa badan begitu lemas, tetap saja saya paksakan untuk berangkat kerja dengan harapan bisa segar kembali jika dipakai aktivitas. Namun ternyata suhu banda terus naik turun. Sampai akhirnya pada hari ke tiga, saya izin kantor untuk istirahat dan pergi ke dokter.
Saya pilih rumah sakit dekat tempat tinggal yang memiliki nama sama dengan nama kelurahan tempat saya tinggal. Rumah sakit tersebut dibilang besar juga tidak, kecil pun juga tidak. Namun saya sering mendengar kalau rumah sakit tersebut harganya murah. Katanya sih rumah sakit pemerintah. Ya, coba saja kesana.
Sampai di RS tersebut ternyata tidak terlalu ramai. Tidak perlu mengantri juga. Cukup cepat. Mendaftar langsung masuk ke ruang dokter. Seperti sakit demam sebelum-sebelumnya, pasti selalu ditawari “Cek darah ya?” yah, tidak apa-apalah, karena memang sudah 3 hari berturut-turut demamnya naik turun terus.
Setelah cek darah hasilnya terlihat trombosit saya turun drastis. Dan dokter menyimpulkan Jika saya terindikasi demam berdarah atau mengarah ke gejala tifus. Ditawari obname saya ogah, masih bisa berdiri dan bergerak kok. Memang agak skeptis juga sih dengan dokter semenjak sering mendengar rumah sakit sering membuat kecurangan ke pasien. Jadi sempat berpikir negatif, benar gak ya hasil tes darah itu.
Akhirnya, pengobatan saya dengan rawat jalan. Dokter pun menyuruh untuk kembali berobat dan cek darah esok hari. Ia pun memberikan resep dengan jenis-jenis obat yang banyak sekali. Saya pun tidak mengeti obat apa saja itu. Setelah sampai di apotik, diberitahu total harga obat yang akan diberikan senilai 360an ribu. Kaget mendengarnya. Di dompet hanya membawa 200ribu. Tapi untung, bukan hanya uang tunai itu saja yang dibawa, BCA card selalu siap dibawa. Untung rumah sakit tersebut memiliki fasilitas pembayaran Debit BCA. Ya sudahlah, saya ambil saja obat tersebut. Siapa tau memang mujarap dan cepat segera menyelesaikan penderitaan ini, khususnya pusing-pusing.
Setelah sampai rumah saya cek obat-obat tersebut apa saja. Seperti biasanya, kalau demam pasti obat ini diberikan; Sanmol. Lalu dikasih antibiotik, okelah. Ada vitamin, lumayan. Dikasih juga obat magh, kata dokternya untuk jaga-jaga jika perut bermasalah setelah meminum obat-obat ini. Nah yang terakhir ini ada 2 jenis obat yang dilihat dibungkusnya tertulis suplemen makanan, bukan obat. Juga tertulis khasiatnya ; untuk menjaga daya tahan tubuh. Dan kedua jenis obat ini yang justru yang paling mahal. Sial dalam batinku. Mengapa kok dikasih obat yang tidak penting!?
Saya termasuk orang yang pernah beberapa kali mengalami penyakit demam. Kalau ke RS biasa dikasih obat penurun panas, antibiotik, dan vitamin. Itulah obat pokok yang biasa dikasih. Namun, beberapa obat yang diberikan ini diluar dari kebutuhan konsumsi pasien. Bahkan, itu juga tidak bisa dikatakan sebagai obat, tetapi suplemen untuk meningkatkan daya taha tubuh. Bukankah vitamin saja sudah cukup. Padahal suplemen lebih baik dikonsumsi sebagai penjaga kesehatan bukan penyembuhan. Dan belum tentu suplemen tersebut benar-benar berkhasiat. Karena saya lebih percaya dengan obat-obat alami seperti madu, buah, sari kurma dan habatusauda untuk menjaga vitalitas. Kenyataannya justru obat-obat alami ini yang membuat cepat sehat.
Setelah diceritakan kepada teman kantor ternyata ia menguatkan kalau RS tersebut memang termasuk RS yang tidak bisa dipercaya. Sebab, bukan hanya saya saja, namun menurut cerita teman saya banyak juga temannya yang mengalami hal yang sama dengan saya. Tarif dokternya memang murah. Tetapi, biaya lainnya yang dianjurkan oleh dokter seperti obat dan pemeriksaan laboratorium sangat menguras dompet. Sehingga mengindikasikan terjadi sebuah praktek kecurangan dokter untuk mendapatkan penghasilan diluar biaya prakteknya. Hal yang sudah biasa terjadi di negeri ini.
ilustrasi : bincangsehatsistemkesehatan.blogspot.com

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.