Sempat kubertanya, apaan sih kw 9? Orang-Orang pada membicarakan kw 9. Pertama kali mendengar lebih banyak melalui twitter. Sudah lama tidak mendengar ocehan berita di TV. Bukan karena menghindar, tetapi pekerjaan kantor cukup menguras konsentrasi akhir-akhir ini. Setelah mendapat jawaban, baru tahu ternyata sedang ramainya TV - TV ‘gosip’ membahas NII kw 9. Isu apa lagi yang dimunculkan?
Sebenarnya lagi malas membahas salah satu gerakan Islam yang dianggap sesat ini. Namun, diskusi teman-teman di kampus yang juga ikut-ikutan membahas NII membuat saya terpancing membicarakannya. Haha.. memang, masyarakat kita adalah masyarakat yang latah. Sekali lagi latah.
Sejak kejadian bom buku, seperti biasa saya sudah menduga retorika radikalisme mulai kembali diangkat. Lalu muncul lagi bom Cirebon. Semuanya mengakar pada aktivitas teroris sebagai pelakunya. Teroris yang sampai saat ini selalu saja diselesaikan dengan kematian, tanpa pernah melihat penangkapan hidup-hidup atau pun sampai pada persidangan.
Nah, kemudian munculah film yang diberi judul ‘?’. Film yang benar-benar masih dipertanyakan kenyataannya. Semuanya serentak membentuk opini dengan jadwal dan ritme yang begitu teratur. Kejadian-kejadian yang berurutan inilah membat saya harus (lagi-lagi) mengikuti perkembangan berita NII. Wacana kesesatan NII sudah lama sekali saya dengar, mengapa kok tiba-tiba langsung hangat diperbincangkan. Bisa jadi, berita NII ada kaitannya tentang kembali maraknya berita terorisme dan proyek deradikalisasi.
Beberapa hari sebelum berita NII ramai diperbincangkan, saya mendengar pernyataan pengamat intelejen, Sydney Jones, yang berspekulasi bahwa rohis menjadi tempat lahirnya benih-benih terorisme. Mendengar itu, saya cukup jengkel dan mau tak mau menuliskan kejengkelan saya pada blog ini (lihat tulisan itu di sini). Memang cukup reaktif. Sama seperti tokoh-tokoh Islam yang menanggapi Sydney Jones dengan reaktif. Dan saya merasakan, isu yang dibentuk dalam satu ritme kejadian betul-betul menciptakan retorika teror yang cukup masif.
Sekarang akan memasuki bulan Mei (ketika tulisan ini ditulis). Dimana bulan Mei biasa identik dengan hari pendidikan. Dibulan tersebut, pasti akan ramai pembicaraan tentang pendidikan, entah mengkritisi, mengajukan konsep, dan lainnya. Nah, apakah rangkaian isu tersebut akan terangkaikan juga dengan hari pendidikan?
Lebih jelasnya begini.
Awalnya, aksi terorisme muncul dengan tindakan-tindakan yang destruktif. Berita-berita ramai memperbincangkan bahwa aksi pengeboman tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan yang sangat sadis. Tanpa kenal ampun, para teroris seenaknya membunuh manusia-manusia yang tidak berdosa. Kemudian, diarahkan pelakunya adalah para gerakan Islam yang ingin mendirikan negara Islam. Berbagai bentuk model pengeboman yang ‘aneh-aneh’ akhir-akhir ini menjelaskan bahwa mereka masih menjadi ancaman serius bagi keamanan nasional.
Kemunculan fim ‘?’ ikut membantu tambahnya kesan bahwa umat Islam itu keras dan tidak toleran. Framing yang digambarkan bahwa umat Islam tidak menghargai perbedaan. Gerakan-gerakan radilkal yang dimunculkan di-framing sebagai akar masalah kerusakan sosial dalam kehidupan bernegara. Meski, secara keseluruhan film ‘?’ lebih mengkampanyekan arti pluralisme dengan gayanya orang-orang liberal tersebut. Tetapi sekali lagi, tetap saja film ini memberika opini bahwa oran-orang Islam radikal sangat berbahaya.
Lalu muncullah isu NII. Ceita-cerita tentang kesesatan NII (kw 9) yang sebenarnya sudah lama sekali tersiar, tiba-tiba saja muncul ke media secara serentak (dengan latahnya). Berita-berita yang dimunculkan lebih banyak mengangkat kisah para korban yang pernah direkrut. Kebanyakan korban-korban yang direkrut adalah dari kalangan anak muda. Mulai dari metode perekrutan, cara mempengaruhi dan aktivitas pembinaan menjadi pembahasan utama dalam berita-berita tentang NII.
Masalah cerita-cerita aliran sesat memang menarik dan cukup hangat diperbincangkan. Namun Sayangnya, tidak ada keseriusan pemerintah untuk memberantasnya. Mengapa? Bagi saya, aliran-aliran sesat tersebut memang sengaja dibiarkan sebagai alat propaganda dengan tujuan kekuasaan. Seperti kasus ahmadiyah, isu yang bangun adalah adanya gerakan-gerakan Islam radikal di masyarakat yang tidak toleran terhadap perbedaan. Kemudian dengan dimunculkan isu NII, opini yang diarahkan akan mengeneralisir gerakan-gerakan aktivis dakwah sebagai gerakan Islam radikal yang juga sesat dan bisa menjerumuskan anak-anak muda ke dalam ruang makar.
Tampak, dari beberapa kejadian dari isu yang dibangun memiliki benang merah yang sama, yaitu terdapat sebuah gerakan yang sesat, kejam dan makar yang dapat mengganggu stabilitas keamanan. Karena kebanyakan yang menjadi korban penyesatan adalah anak muda, maka akan terbangun stereotip untuk berhati-hati terhadap ajakan seseorang yang mengajak ngaji. Ditambah penyataan Sydney Jones yang meneror Rohis membuat stereotip tersebut semakin tidak terdefinisi dengan jelas arahnya. Sehingga, gerakan Islam yang tidak memiliki misi mendirikan negara islam pun juga akan terkena imbasnya.
Entah ini direncanakan atau hanya kebetulan dari keteraturan ritme isu yang dibangun tadi, terkesan ada sebuah pemanfaatan kepentingan dibaliknya. Seperti yang saya katakan di atas, salah satu kepentingan itu bisa jadi menjelangnya hari pendidikan. Ada moment dimana isu aliran sesat yang mengancam stabilitas keamanan sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan. Meski, tujuan isu yang dibangun ini lebih terlihat pada keinginan beberapa politikus untuk menyelesaikan RUU Intelejen. Namun, semua bentuk sistem pertahanan negara dari sisi pemikiran berawal pada pendidikan. Tidak jelasnya sistem pendidikan kita bisa menjadi kambing hitam atas munculnya berbagai aliran sesat dan gerakan radikalisme atas nama agama.
Nah, inilah yang saya maksud aliran sesat karena pendidikan yang sesat. Nampaknya, tujuan akhir dari isu ini adalah bagaimana proyek deradikalisme dapat menyentuh kurikulum sekolah dan universitas. Mereka yang merancang konsep ini pasti adalah orang-orang yang tidak suka dengan kehadiran gerakan Islam di lingkungan pendidikan. Kepentingan-kepentingan kapitalisme masuk di sini. Sistem yang dipakai barat sepertinya akan diupayakan menjadi kurikulum yang diajarkan di sekolah dan universitas. Proyek deradikalisasi ingin menghantam semua gerakan yang menghalangi masuknya paham barat atau sekuralisme. Dan hadirnya gerakan Islam dapat menghalangi misi mereka. Sistem pendidikan yang tidak berkarakter, jauh dari nilai-nilai moral, budaya nasional dan dehumanisasi sekaligus membawa misi globalisasi akan menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia. Semua ini tidak lepas dari tujuan kekuasaan itu (rezim sekuler, liberal dan kapitalis).
Lalu bagaimana upaya gerakan Islam jika hal ini benar-benar terjadi. Apakah hanya bersikap ikut-ikutan latah terhadap wacana yang dibangun media masa, ataukah sudah siap menghadapi akhir dari permainan para penguasa itu. Dan, bisakah gerakan Islam (khususnya kampus) menawarkan gagasan pada sistem pendidikan sebagai anti tesis dari pendidikan gaya barat tersebut?

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.