Senin, 23 Mei 2011

Salah Paham Memaknai ‘Katakan yang Benar Meskipun Itu Pahit’

Dalam sebuah acara kajian rutin tentang siroh nabawiyah ditempat saya bekerja, ada sebuah kisah menarik mengenai hadist yang saat ini disalah pahami oleh sebagian orang. Yaitu hadist yang teksnya berbunyi “Katakan yang benar meskipun pahit”. Ustad Salim A Fillah sebagai pengisi kajian tersebut menganggap bahwa hadist ini terkadang menjadi pembenaran untuk menyakiti orang.

Maksudnya begini, banyak para pendakwah yang ingin menegakan nahi mungkar dengan memaksakan (menegur) hukum (syariat) kepada orang lain. Seperti ketika mengajak orang untuk sholat. “Ayo sholat, kalau tidak maka kamu kafir.” Atau secara langsung mengatakan ke orang awam “kalau kamu pacaran, sama saja seperti berbuat zina”. Ketika pendakwah tersebut ditegur, ia akan mengeluarkan dalil ‘Katakan yang benar meskipun pahit’. Tidak peduli orang yang ditegurnya akan sakit hati atau tidak respek ke kita.

Pada kajian itu, ustad Salim mengatakan bahwa dalil hadist ini konteksnya bukan bermaksud seperti itu. Hadist ini menunjukkan kata-kata pahit bukan untuk menegur orang yang dinasehati, tetapi kata-kata pahit yang mesti diucapkan oleh yang mengatakan. Ada kisah dibalik latar belakang munculnya hadist tersebut. Sehingga ketika ingin memahami sebuah teks hadist, perlulah memahami juga sebab keluarnya.

Konteks munculnya hadist itu diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari jalur Abu Dzar. Ceritanya begini. Ada seorang pedagang dari sahabat nabi datang menemuinya. Si pedagang mengatakan kalau ia baru saja membeli barang kulakan untuk dijual lagi. Waktu dilihatkan contoh barangnya, barang tersebut bagus sehingga si pedagang sepakat dengan si produsen untuk mengambil barang tersebut dan membayarnya. Ternyata setelah sampai di rumah si pedagang, barang yang ia beli untuk dijual lagi pada rusak semua tidak sesuai dengan contoh yang dijanjikan. Ia pun kesal dan menghadap nabi lalu bertanya “Apa yang harus dilakukan? Apakah harus jujur tetapi harus menanggung rugi? Ataukah harus menutupi cacat barang ini? Minimal bisa kembali modal.” begitu kisah yang digayakan oleh Ustad Salim. Saya sendiri belum melihat teks riwayatnya.

Lalu, rasulullah pun mengatakan “Katakanlah yang benar meskipun pahit”. Nah, dari sini jelas bahwa konteks hadist tersebut bukan ditujukan untuk memahitkan obyek, melainkan memahitkan orang yang berucap. Rasul meminta kepada si pedagang tadi agar tetap jujur dalam daganganya. Karena dengan keujuran itu akan membuat si pedagang akan terus dipercaya.

Jadi, ketika kita ingin menggunakan dalil ini maka bukan untuk dijadikan sebagai alat untuk menuduh atau menegur orang, namun sebagai alat untuk mengajak kita berkata jujur. Maka, pesan ustad Salim adalah janganlah serampangan dalam mempelajari dalil. “itulah pentingnya mempelajari Siroh, yaitu mengetahui konteks dan sebab-sebab sebuah dalil teks turun.” Ucapnya di kajian Majelis Jejak nabi pada poin Memahami Al Quran sebagaimana ia turun bab Keutamaan Mempelajari Sirah Nabi saw.

Kisah tentang hadist ini kalau tidak salah juga dituliskan dibukunya ustd. Salim yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah. Wallahualam.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger