Musik Review
Judul : Surat Untuk Ibu
Penyanyi : Thufail Al Ghifari
Rilis : 2005
Sedikit cadas tapi tak beringas. Kritis namun tidak sinis. Liriknya pun tanpa kata-kata sendu. Gaya musik rap-nya menciptakan suara lantang dengan nada mayor yang beritme cepat. Judulnya pun sederhana, Surat untuk Ibu. Itulah musik yang dinyanyikan oleh Thufail Al Ghifari. Siapa dia? Tidak banyak diantara kita yang tahu. Memang dia tidak sepopuler Ariel, Pasha Ungu, atau Once Dewa yang laris dengan lagu-lagu sendu pesanan pasar kapitalis. Atau pemusik sealirannya yang terkenal seperti Iwa K dan Saykoji. Dia hanyalah seorang pemuda muslim yang bermodal musik label indie. Pemuda yang ingin menggetarkan jiwa-jiwa anak muda dengan lirik perlawanan, kritis, dan penuh pesan dakwah. Ia pun hanya dikenal dilingkungan komunitas hiphop lokal dan nasyid.
Judul : Surat Untuk Ibu
Penyanyi : Thufail Al Ghifari
Rilis : 2005
Sedikit cadas tapi tak beringas. Kritis namun tidak sinis. Liriknya pun tanpa kata-kata sendu. Gaya musik rap-nya menciptakan suara lantang dengan nada mayor yang beritme cepat. Judulnya pun sederhana, Surat untuk Ibu. Itulah musik yang dinyanyikan oleh Thufail Al Ghifari. Siapa dia? Tidak banyak diantara kita yang tahu. Memang dia tidak sepopuler Ariel, Pasha Ungu, atau Once Dewa yang laris dengan lagu-lagu sendu pesanan pasar kapitalis. Atau pemusik sealirannya yang terkenal seperti Iwa K dan Saykoji. Dia hanyalah seorang pemuda muslim yang bermodal musik label indie. Pemuda yang ingin menggetarkan jiwa-jiwa anak muda dengan lirik perlawanan, kritis, dan penuh pesan dakwah. Ia pun hanya dikenal dilingkungan komunitas hiphop lokal dan nasyid.
Surat untuk Ibu merupakan salah satu lagu yang diciptakan berdasarkan pengalaman pribadi dari seorang mualaf yang bernama awal Richard Stephen Gosal ini. Isinya pun seperti surat yang benar-benar ditujukan untuk ibunya. Dari liriknya terlihat ia ingin menyampaikan semacam kata maaf karena telah masuk agama yang bukan agama ibunya. Tak lupa, ia pun menyampaikan kebenaran tentang agama barunya, yaitu Islam. Juga, ia sampaikan kesalahan-kesalahan agama lamanya di lagu tersebut. Lirik ini pun mengingatkan kisah yang mirip dengan sahabat Rasulullah saw Mush’ab bin Umair yang diusir ibunya karena memeluk Islam.
Thufail memang dulunya beragama Nasrani. Kedua orang tuanya adalah pendeta yang mengelola gereja. Masa kecilnya selalu kerap didoktrin bahwa Nabi Muhammad SAW adalah gambaran orang yang suka berperang, main perempuan, memiliki jenggot, berasal dari suku kedar (anti- christ ), menyesatkan umat manusia dengan Alquran, dan pengikutnya akan binasa di neraka. Ia pun mulai merubah sikapnya terhadap Islam setelah mengenal pemusik hiphop berkulit hitam asal Amerika yang bernama Malcolm X.
Pemuda yang menyukai musik underground sejak remaja ini pernah menjadi seorang atheis. Ia keluar dari agama Nasraninya karena menganggap bahwa agama adalah candu dan biangnya konflik. Namun dalam perjalanan waktu, ia mendapati teman beragama Islam yang taat. Dari pertemanan itulah ia ingin memeluk Islam. Akibat masuknya ia ke Islam, konflik dengan keluarga pun terjadi. Ia di usir dari rumah dan akhirnya menjadi anak jalanan. Dari kehidupan jalanan ini ia bertemu dengan seorang ustadz dan bergabung dengan kelompok halaqoh untuk mempelajari Islam lebih dalam. Meski sudah mengenal Islam bukan berarti ia meninggalkan musik kesenangannya, hidup di kelompok underground masih menjadi pilihan hidupnya dan bermusik gaya rap menjadi alat syiar Islamnya.
Jangan salah, meski bermusik, karyanya tidak sekedar alat hiburan semata. Ia mampu mencambuk hati para generasi muda. Ia mampu membuktikan ketangguhan dan prinsip idealismenya. Liriknya yang penuh inspirasi mampu menggugah orang-orang untuk hijrah membela Islam. Seperti tembang Surat untuk Ibu, ia mampu menghadirkan kata-kata yang menghanyutkan hati. Keras tetapi pantas. Bukan nada indah yang dimainkan, ataupun gaya rap-nya, namun liriknya. Memang nada lagu ini terkesan datar dan tidak mungkin bisa dinikmati bagi penyuka lagu sendu. Kebanyakan penyuka Thufail lebih terpesona oleh syair dan pemikirannya tentang Islam dari pada musiknya.
Ia pun mengaku, ingin membawa musik apa adanya. Ia tidak butuh fans. Tidak butuh kepopuleran. “kesuksesan saya tidak terletak pada musik dan berapa banyak fans, saya tidak butuh fans. Saya hanya ingin menyampaikan isi hati saya. Rasa syukur saya akan kedasyatan Islam dalam menemani pencarian jati diri saya, dan saya menemukan jawaban dari semua pertanyaan hidup saya hanya di dalam Islam. Dan saya menuangkan semua di dalam lagu-lagu saya.” Komentarnya yang dikutip dari artikel nasyidindonesa.co.cc. Dan ingat, musik bukan hanya dinilai dari keindahan nadanya saja, namun bagaimana kualitas liriknya yang mampu menggugah hidup.

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.