***
Ketika saya masih di sekolah dasar (lupa kelas berapa) pernah ditanya oleh seorang guru, “apa cita-cita kalian anak-anak?” Semua anak menjawab dengan cita-citanya yang bagus-bagus. Begitu juga saya, dengan tegas dan berani saya menjawab “jadi Pilot AURI Bu!!” itulah jawaban tegas saya dari sebuah obsesi terhadap pesawat. Karena saya sangat suka dengan pesawat, dan menjadi pilot adalah pekerjaan terkeren yang ada dipikiran ku saat itu.
Ketika SD, kita sering di ajak oleh guru-guru kita untuk berpikir tentang cita-cita. Tetapi sayang, cita-cita yang dibentuk sejak kecil harus kandas ketika guru-guru SMA mengajarkan berpikir yang realistis. Maksudnya di sini, seorang siswa dapat dikatakan sukses apabila telah diterima atau mendapat pekerjaan setelah lulus (pekerjaan yang bersifat pragmatis). Jadi orang jangan terlalu muluk-muluk, yang penting belajar yang rajin, terus lulus lalu cari kerja. Sehingga, cita-cita yang ditanyakan dulu hanya sekedar mimpi siang bolong. Harus terhapuskan oleh kenyatan. Yaitu kenyataan terhadap system pendidikan yang tidak membangun idealisme untuk bermimpi besar terhadap peserta didiknya.
Begitu juga dengan saya. Mimpi menjadi pilot harus kandas ketika kenyataan itu harus dihadapi. Saya tidak begitu hebat dalam pelajaran matematika di SMA, secara fisik tidak memungkinkan, dan memang sejak dibangun cita-cita itu tidak ada usaha yang menyertainya. Mungkin itu kesalahan saya secara pribadi. Namun, sekolah pun mestinya ikut bertanggung jawab. Karena, hari-hari di sekolah (ketika SMP dan SMA) hanya berkutat bagaimana menjawab soal yang benar, ataupun jika guru sedang bercerita dikelas, yang banyak diceritakan tentang masalah-masalah disekitar, sikap pesimistis, dan macam-macam dongeng gak jelas. Ataupun jika memotivasi, sekedar motivasi agar mendapat nilai bagus. Sehingga sangat mempengaruhi konsep berpikir saya terhadap sebuah impian dan idealisme.
Masa-masa kehilangan orientasi hidup pun pernah saya alami ketika di SMP (kehilangan mimpi). Mesti termasuk salah satu anak pintar (hehe.. di SMP saya berada di kelas unggulan), hari-hari selalu penuh diisi dengan bermain. Bermain dan bermain. Dan suka menghabiskan duit orang tua untuk memodifikasi motor (Gua dulu anak geng motor bro). Masa depan pun tak pernah terpikirkan. Masa kehilangan orientasi itu sedikit hilang setelah masuk SMA. Masa depan sudah mulai terpikirkan. Disitu mulai berpikir. Akan jadi apa nanti dewasa kelak. Trus mau kuliah dimana, dan mau ambil jurusan apa. Yah mungkin karena faktor sedikit lebih dewasa kali ya.
Tidak hanya itu, ada sebuah idealisme yang terbentuk oleh ku ketika SMA. Yaitu “Saya tidak mau jadi karyawan kantoran.” Sebuah idealisme yang terbentuk karena buku yang saya baca. Memang sejak SMA saya sudah mulai tertarik dengan buku. Khususnya buku-buku tentang pengembangan diri. Salah satunya buku yang cukup provokatif mempengaruhi otak saya adalah buku dari Valentino Dinsi yang judulnya ‘Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian’. Kemudian buku ESQ Ary Ginanjar, yang dikenalkan oleh Alm Bapak saya, yang juga membentuk idealisme karena isinya banyak menceritakan tentang pengusaha-pengusaha sukses. Maka, menjadi seorang pebisnis dan pengusaha telah menjadi impian saya. Sampai-sampai saya berpikiran kasar, menjadi seorang karyawan sama halnya dengan babu. Dan saya pun pernah kecewa (meski dalam hati) kepada seorang teman yang sangat pintar tetapi cita-citanya menjadi karyawan sebuah perusaan minyak asing karena gajinya yang besar. "Bukankah itu sama saja menjadi pelayan negeri asing?" Pikirku saat itu.
Idealisme itu pun masih tertancapkan ketika masuk di awal-awal masuk kuliah. Bahkan idealisme itu semakin meningkat. Di awal-awal kuliah, banyak sekali menemukan seminar-seminar tentang kewirausahaan, hingga dikenalkan sebuah MLM yang menjual mimpi-mimpi sukses. Tidak hanya itu, posisi saya yang akhirnya terjun menjadi aktifis mahasiswa harus berhadapan dengan wacana-wacana intelektual. Seperti melawan kapitalisme, globalisasi, modernisasi, dan sebagainya. Wacana tersebut membentuk konsep dipikiran saya bahwa berwirausaha adalah keharusan untuk melawan kaum kapitalis. Maka, saya mencoba mulai meniti karir itu sejak kuliah.
Sayang, keinginan itu sangat tidak direstui oleh orang tua. Setiap kali berbicara ingin berbisnis selalu saja kena omelan. Yang ada dipikirannya hanya bagaimana anaknya bisa bekerja diperusahaan yang bonafit, dan ada tunjangan kesehatan. Jangankan berbisnis, ingin bekerja dilapangan seperti wartawan saja tidak boleh (Hmm.. orang tua yang aneh…). Namun saya tidak ingin menyerah, saya selalu berusaha berpikir untuk mencari peluang bisnis dengan modal yang benar-benar nol. Saya ingin membuktikan, karena orang tua akan pasti akan menerima impian kita jika bisa membuktikan.
Memulai berbisnis itu memang sulit. Setiap kali memulai selalu saja banyak rintangan dan kegagalan. Tidak hanya itu, posisi saya yang hidupnya terlalu nyaman juga mempengaruhi semangat kerja. Seperti uang jajan yang sangat terjamin (karena ortu pegawai BUMN), masih terbatasnya akses dan jaringan, juga keberanian yang kurang. Meski begitu, beberapa usaha sudah saya lakukan mesti penghasilan hanya cukup sebagai tambahan uang jajan. Dirantaranya seperti usaha menjual barang merchandise, juga MLM (syariah), bisnis online hingga event organizer.
Idealisme itu harus kandas menjelang akhir-akhir menuju kelulusan. Belum ada usaha yang dibangun menjadi mapan. Rencana-rencana yang dibangun selalu saja ada halangan. Padahal ingin sekali jika wisuda saya sudah punya penghasilan. Karena tidak ingin berlelah-lelah mengejar lowongan kerja. Ditambah musibah yang harus saya hadapi. Bapak saya meninggal ketika tinggal beberapa langkah lagi menuju kelulusan. Uang gaji stop, maka uang jajan untuk kehidupan sehari-hari harus mulai dikurangi, bahkan mungkin harus di stop. Meski mendapat warisan yang cukup besar, saya tidak berani menggunakan uang tersebut untuk modal usaha. Karena Adik saya masih sekolah dan butuh yang untuk melanjutkan kuliah. Dan juga sebagai uang jaga-jaga. Sehingga uang tersebut hanya berani berinvestasi dalam bentuk deposito tabungan.
Kebutuhan akan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup jangka pendek akhirnya mengharuskan saya segera mendapatkan penghasilan setelah lulus kuliah ini. Sesuatu kegiatan yang tidak saya inginkan pun terjadi. Membuat surat lamaran kerja! (Agar ibu saya terlihat senang kalo anaknya setelah lulus sedang mencari kerja, hehehe) Mengapa harus bekerja? Sebab, jika ingin membangun usaha lagi, akan butuh waktu lama untuk bisa mendapatkan uang sesuai kebutuhan sekarang. Baru kali ini saya benar-benar merasa jadi orang miskin. Selalu berharap adanya pekerjaan yang diberikan. Ingin segera menikah pun juga menjadi alasan saya harus mencari kerja. Sebab merasa sudah semakin tua, dan harus segera menjalankan kewajiban agama ini.
Merasa keputusasaan itu pun terjadi. Idealisme memperjuangkan mimpi-mimpi itu sepertinya harus kandas dulu sementara untuk menghadapi realitas ini. Keputusasaan yang akhirnya terungkapkan dari lagu Bondan Parkoso N Fade 2 Black yang sangat popular : “Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud..ya sudahlah. Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai..ya sudahlah.”
Namun bagaimana pun juga, saya tetap berusaha untuk mencari mimpi itu lagi. Saya tetap berusaha untuk membangun sebuah usaha meskipun sedang berselancar mencari lowongan pekerjaan. Usaha baru saya saat ini adalah sedang mengembangkan distribusi dan penjualan produk-produk kerajinan Jogja. Usaha inilah yang membuat saya untuk tetap di Jogja, mesti ibu menyuruh pulang ke kota asal. Sebuah usaha jaka panjang untuk tetap menghadirkan mimpi-mimpi itu agar tidak pergi menghilang.
***
Teringat pada sebuah novel Kang Andrea yang judulnya Sang Pemimpi. Sebuah kalimat yang berkata, bermimpilah maka kamu akan hidup, kalo tidak salah ingat. Kalimat yang cukup menggugah motivasi. Mimpi memang mampu membangun motivasi kita. Okelah belum terwujud dengan cepat. Namun dengan bermimpi (bukan sekedar berangan-anag loh) mampu menentukan arah hidup kita. Atau seperti kata Sean Covey di buku Seven Habits, mulailah dari tujuan akhir. Maka mimpi ibarat tujuan akhir kita. Jika jelas tujuan kita, disitulah hidup lebih terasa. Karena hari-hari akan penuh terencana, dan akan mengerti apa yang harus kita lakukan dari hari kehari. Ada benarnya juga kalimat yang ditulis kang Andrea itu, jika bermimpi maka akan hidup. Marilah kita bermimpi. Tidak sekedar mimpi angan-angan, tetapi mimpi yang mampu kita wujudkan. Karena Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum kaum itu mengubah dirinya (Ar Raad : 11).
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.