Kamis, 06 Mei 2010

Kelulusan yang Pragmatis

Kelulusan yang pragmatis. Sebuah kalimat yang entah mengapa terbesit di benak saya ketika menjelang pelaksanaan wisuda saya di akhir bulan Mei 2010 ini. Kalimat yang muncul tak kala para pelaku dan pengguna pendidikan memiliki mental pragmatis dalam prosesnya. Saya lulus menempuh program Strata 1 dari Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta ketika dunia pendidikan negeri ini tengah diliputi berbagai macam masalah pendidikan. Berbagai masalah pun timbul akibat ketidak beresan para pelaku dan pengguna jasa pendidikan di negeri ini.
Kalau sering menengok surat kabar dan media elektronik sekitar awal bulan Mei ini, ramai diperbincangkan berita tentang kelulusan dan ketidak lulusan siswa SMA dalam Ujian Nasional (UN). Secara kasat mata terlihat jelas bahwa pelaksanaan Ujian Nasional itu bukannya mengajarkan peserta didik untuk menjadi berkualitas dalam ilmunya melainkan pendidikan yang membentuk mental pemuja hasil, bukan pada prosesnya. Kesuksesan seseorang hanya dinilai pada 3 hari pelaksanaan ujian. Bukan pada proses selama mereka belajar di sekolah. Tidak heran jika akan banyak ditemukan tindakan kecurangan dalam proses Ujian Nasional tersebut.
Mental pemuja hasil akan membentuk karakter pragmatis yang berusaha melakukan segala cara demi mendapatkan hasil yang maksimal. Bukan hanya itu, masih banyak sekali dampak psikologis yang dapat merubah karakter peserta didik menjadi generasi yang hilang akan orientasi dari tujuan pendidikan yang sebenarnya. Orientasi yang dibentuk bukan lagi pendidikan sebagai proses menuntut ilmu yang dapat bermanfaat bagi diri siswa, melainkan pendidikan yang sekedar mengajarkan menjawab soal dan lulus Ujian. Sifatnya lebih ke jangka pendek dengan menyampingkan manfaatnya untuk jangka panjang.
Teringat oleh saya saat SMA ketika menjadi perserta Ujian Nasional. SMA saya adalah SMA favorit di kota saya berasal. Anak-anak yang tergolong pintar dan berprestasi berada disekolah tersebut. Guru-gurunya selalu menjaga citra sekolah sebagai sekolah unggulan. Salah satu upayanya adalah menghindari satu pun siswanya dari tidak lulus Ujian Nasional.
Menjelang ujian, wali kelas saya pernah berkata kepada seluruh siswa di kelas bahwa kita harus berpikir hasil ketika sedang menghadapi suatu yang darurat. Kata idealisme juga terucap pada tuturan katanya agar sementara waktu ini ditinggalkan dulu dengan alasan realitas yang sebenarnya sudah di depan mata. Bahasa mudahnya, jangan terlalu idealis, terimalah kenyataan ketika masalah darurat ada di depan mata. Dia menganggap bahwa Ujian Nasional merupakan sesuatu yang darurat yang harus dihadapi dengan penuh kerjasama, yaitu kerjasama antara siswa dan guru. Citra sekolah sangat dipertaruhkan di Ujian Nasional. Dia mengajarkan agar siswanya dapat melakukan upaya apapun agar lulus ujian (selain belajar). Saya pun tergoda oleh ajakan wali kelas untuk meninggalkan idelisme. Rasa takut pada ketidak lulusan pun terus menghantui. Ingin berlaku curang salah, terjebak pada kenyataan tidak lulus pun juga salah.
Apa yang dilontarkan wali kelas saya pun terjadi ketika Ujian Nasional dilaksanakan. Para guru, siswa dan penjaga ujian dari sekolah lain telah berkolaborasi dan bekerja sama dalam menyukseskan Ujian ini. Saya menerima 4 kali sms jawaban yang masuk ke HP. Jawaban sms tersebut merupakan hasil dari jawaban guru yang juga ikut mengerjakan soal. Hasil jawaban guru tersebut kemudian disebar ke setiap siswa yang menjadi penanggung jawab jaringan sms per kelas. Dan siswa penanggung jawab tersebut men-forward sms jawaban ke setiap anak yang ada di kelasnya masing-masing. Bukan hanya itu, bagi yang merasa kurang sip mengerjakan ujian atau pun kesulitan menyontek diharap melapor dengan menuliskan namanya pada sebuah kertas misterius. Entah maksudnya ini apa, mungkin saja guru akan membantu mengubah jawaban kami bila banyak yang salah. Hasilnya, 100% siswanya lulus semua dengan nilai-nilai yang memuaskan.
Yang saya ceritakan di atas bukan HOAX loh. Ini adalah kejadian yang sebenarnya tanpa melebih-lebihkan. Saya ingat betul kejadian tersebut meskipun sudah lima tahun berlalu. Saya juga sering menceritakan kejadian ini kepada teman-teman sebagai bahan obrolan senggang, sehingga masih terus mengingatnya. Bagaimana dengan saya ketika itu? Jawabanya Alhamdulillah. Saya tetap berusaha menjaga idealisme. Jawaban melalui sms tidak saya buka meskipun terlihat mendapat restu dari penjaga ujian. Tetapi sayang, saya tergoda untuk menuliskan nama di selembar kertas misterius itu (he.. ^_^). Saya lulus meskipun dengan nilai yang cukup. Berbeda jauh dengan nilai teman-teman saya yang mendapat 8 hingga 9.
Kalau lulusannya seperti itu, manakah yang salah. Apakah sistem pendidikan yang memaksa sekolah-sekolah berperilaku seperti itu atau memang pelaku pendidikan itu sendiri yang amoral? Bagi saya, semua itu saling melengkapi. Bukan sekedar lulus, tetapi jiwa dan sifat yang terbentuk dari proses kelulusan yang salah juga akan mempengaruhi. ke jenjang berikutnya. Sifat pragmatis akan tumbuh mulai dari kuliah, lulus kuliah, mencari kerja hingga saat kerja. Yaitu sifat yang hanya mau berpikir praktis tanpa mau berusaha dan bekerja keras. Jangan heran bila akan lahir generasi-generasi Gayus (baca : oknum petugas pajak yang korupsi).
Pendidikan dengan proses yang salah pun juga dapat menyebabkan terjadinya kemiskinan sosial. Kemiskinan karena akibat banyaknya pengangguran. Mengapa terjadi pengangguran? Karena akibat lulusan yang tidak berkualitas. Tidak berkualitas akibat proses dalam pendidikannya saja sudah tidak benar. Jadi apa bedanya lulusan yang tidak berkualitas dengan orang yang tidak berpendidikan. Semuanya saling berkorelasi. Semoga saya tidak termasuk.
***
Cerita tentang kelulusan yang pragmatis pun terjadi juga ketika di akhir kuliah. Tuntutan untuk cepat selesai kuliah dan segera mendapat pekerjaan mempengaruhi tingkat kualitas mahasiswa dalam menyusun tugas akhirnya. Orientasi pemuja hasil diwujudkan dengan mengalihkan proses menuntut ilmu yang lebih berkualitas. Maksudnya, sering saya menemukan teman-teman yang mencari mudahnya saja dalam mengerjakan tugas akhir, yang penting bisa cepat selesai dan lulus diuji. Itu mungkin juga terjadi pada saya.
Tugas akhir saya yang diceritakana pada tulisan Tertarik Meneliti Iklan Rokok pada blog ini entah apakah termasuk skripsi bermutu atau tidak. Tuntutan orang tua untuk segera lulus dan jangan lama-lama dikampus membuat tugas khir yang dikerjakan harus segera selesai. Padahal ada sebuah keinginann untuk membuat tugas akhir yang lebih dari yang biasa para mahasiswa lainnya kerjakan. Maksudnya ingin lebih idealis. Walapun akan memakan waktu yang lama.
Kualitas out put pendidikan yang kita peroleh memang akan ber efek pada jangka panjangnya. Out put yang dilakukan dengan cara salah akan mempengaruhi jenjang kehidupan setelahnya. Seperti yang saya katakan di atas. Semuanya saling berkorelasi. Tinggal bagaimana kita bertanya pada diri kita, seberapa berkualitaskah kita lulus? Semoga saja saya tidak termasuk bagian dari Kelulusan yang Pragmatis pada wisuda saya ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger