Jumat, 16 April 2010

Menjadi Intelektual Profetik dengan Konsep Library University

Ruangannya cukup dingin. Suasana sunyi redup ditambah alunan musik slow pop menambah kenyamanan ruangan ini untuk belajar. Buku-buku tertata rapi di raknya. Beberapa orang mahasiswa sedang asik menjalankan aktivitasnya masing-masing. Ada yang membaca koran, majalah, mengerjakan tugas, hingga ada yang membawa laptop untuk mengerjakan tugas akhir pada bagian barat ruangan ini. Perpustakaan Refrensi namanya. Terletak di lantai 3 bangunan utara kampus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII). Kampus tempat saya kuliah. Di Lantai 2 juga terdapat perpustakaan, yaitu perpustakaan yang dikhususkan untuk peminjaman buku.
Keberadaan saya di Perpustakaan ini sebenarnya adalah untuk memenuhi kewajiban menyelesaikan tugas akhir kuliah, yaitu skripsi. Sebuah karya ilmiah yang hanya dikerjakan sekali saja bagi mahasiswa yang menempuh Strata-1. Seperti mahasiswa lainnya, saya harus berkutat di ruangan ini untuk mencari bahan-bahan tugas akhir. Mata pun harus teliti ketika mencari buku rujukan di tengah-tengah puluhan deretan buku dalam satu rak.
Terdapat satu buku yang saya ambil bukan dari tujuan rencana saya untuk mengambilnya, yaitu buku Ensiklopedia Tematik Dunia Islam. Buku tersebut saya dapatkan dari kumpulan ensiklopedi di salah satu rak yang berada di sebelah kiri ruangan dari pintu masuk. Buku ini sangat menarik, khususnya tentang pemikiran dan peradaban Islam. Saya tergoda untuk membuka halaman demi halaman tanpa membacanya dengan runtut. Dari buku tersebut, saya tertarik dengan sebuah gambar ilustrasi. Gambar yang meng-ilustrasikan ulama dan santri sedang belajar-mengajar di ruangan yang penuh dengan buku. Jelas, gambar ini menunjukkan sebuah ilustrasi proses belajar-mengajar para ulama dalam membentuk masyarakat intelektual pada abad pertengahan. Kalau kita biasanya belajar di ruang kelas yang hanya terdapat kursi dan papan tulis, maka para ulama terdahulu belajar di ruang yang sedang saya berada saat ini yaitu ruang yang penuh dengan buku. Hanya kurang AC saja.
Saya mulai bertanya dalam hati. Mengapa mahasiswa-mahasiswa seperti saya akan dekat dengan buku ketika menjelang tugas akhir? Buku-buku kuliah hanya akan dipakai ketika ada tugas resume. Hanya sebagian kecil mahasiswa yang memanfaatkan buku sebagai kajian akademik. Kebanyakan mahasiswa memanfaatkan catatan power point dosen yang difoto kopi dan dipelajari ketika menjelang ujian.
Dari keisengan membuka buku Ensiklopedi ini, saya membayangkan sebuah kampus idaman di UII yang meniru gaya ulama ketika belajar, yaitu kampus yang mendidik mahasiswanya dekat dengan buku. Dari gambaran ilustrasi dibuku tadi, terbesit ide sebuah kampus idaman dengan konsep yang saya namakan Library University, yaitu kampus yang aktivitas pendidikannya berbasis refrensi selayaknya belajar dan berdiskusi di ruang perpustakaan. Ide tersebut coba saya tuliskan untuk mengikuti lomba blog UII pada artikel saya ini.
***
Ketika mendengar Library University, bayangan yang akan muncul adalah kampus yang seluruh sudut dan ruang kelasnya penuh dengan buku. Memang benar, tetapi bukan hanya itu. Segala aktivitas pendidikan di kampus yang penuh dengan rujukan dalil, refrensi dan literatur dalam proses belajar-mengajar. Konsep Library University ini juga berupaya mengikuti tradisi intelektual ulama terdahulu. Sangat tepat sekali untuk kampus UII sebagai kampus Islam yang ber-visi rahmatan lil’alamin. Kampus yang mampu mencetak kader-kader intelektual profetik bangsa, yaitu kader intelektual yang mampu menebarkan ilmu-ilmunya sebagai ajakan kebenaran kepada Allah swt dan kemanfaatan untuk semesta alam.
Dari sejarah masa keemasan ilmu pengetahuan Islam, banyak diceritakan bagaimana aktivitas ulama dalam membentuk masyarakat intelektual Islam. Aktivitas keintelektualan tidak lepas dari yang namanya buku dan literatur. Para ulama dahulu pun tidak lepas dari usaha mereka yang mengumpulkan berbagai macam literatur. Mulai dari literatur Yunani dengan konsep filsafatnya, usaha mengumpulkan hadist, menulis berbagai macam kitab dari hasil temuan-temuan dan kegiatan diskusi-diskusi ilmiah. Konsep berpikir ilmiah telah terbangun saat itu. Mereka berusaha mengumpulkan beberapa ide dan teori dari berbagaimacam buku yang pernah dibaca. Sebelum teori tersebut disahkan, mereka harus mengalami proses berpikir untuk menguji seberapa kuat teori mereka. Dari situ mereka mampu menghasilkan karya-karya ilmiah yang menakjubkan. Karya ilmiah yang mampu membuktikan kebenaran Al Qur’an dan karya yang sangat bermanfaat terhadap kemajuan peradaban manusia.

Tujuan dan Metode
Konsep Library University ini mempunyai beberapa tujuan. Pertama, berupaya mendekatkan mahasiswa kepada buku. Bicara ilmu pengetahuan tidak lepas dari yang namanya buku. Buku adalah sumber pengetahuan. Wahyu yang turun pertama kali diperintahkan adalah ‘Iqra’, bacalah! Membaca adalah proses pembentukan cara berpikir seseorang untuk berpikir ilmiah, sehingga semakin banyak membaca semakin terbentuk tingkat intelektualitas seseorang.
Kedua, membentuk mahasiswa dengan pola pikir ilmiah yang konstruktif. Berpikir ilmiah adalah pondasi dasar dalam memajukan perkembangan peradaban ilmu pengetahuan. Dengan berpikir ilmiah, kita tidak hanya belajar menerima teori-teori pengetahuan saja, tetapi juga mengkritisi dan mempertanyakan mengapa teori itu muncul.
Salah satu yang menjadi kelemahan pendidikan kita atau khususnya pendidikan Islam saat ini adalah bahwa kita hanya mempelajari ilmu-ilmu yang sudah ada. Dalam mengkaji Islam, kita hanya mempelajari hasil teori dan hukum fikih beberapa ulama seperti Imam Hambali, Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Ibnu Taimiyah. Kita tidak pernah mempelajari bagaimana proses berpikir mereka (epistimologi) ketika merumuskan hukum-hukum tersebut. Begitu juga pendidikan pada bidang-bidang ilmu sosial dan sains. Tidak heran ilmu pengetahuan kita menjadi mundur, menjadi malas membaca dan hanya mau belajar dengan mendengar dari perkataan guru dan dosen. Dengan terbiasa berpikir ilmiah, akan mudah menemukan temuan-temuan ide baru yang mampu menjadi problem solving.
Ketiga, kampus yang dapat melahirkan generasi intelektual dengan misi profetik. Sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada penyiapan tenaga kerja terdidik adalah bagian dari kekurangan sistem pendidikan bangsa ini juga. Pendidikan yang hanya berorientasi pada pemenuhan tenaga kerja tedidik pada mesin-mesin korporasi hanya akan menghasilkan generasi terdidik yang pragmatis. Yang penting cepat lulus dan cepat kerja sehingga kecurangan pun sering terjadi dalam proses pendidikan. Padahal, sesuai dengan konteks negara saat ini, perlu sekali hadirnya generasi-generasi muda intelektual yang mampu menjadi problem solving terhadap masalah-masalah bangsa. Pendidikan bukan hanya untuk kepentingan dirinya, tetapi adalah ilmu yang memiliki asas kemanfaatan. Dari kelemahan sistem pendidikan tesebut, UII harus mampu menyediakan sistem pendidikan alternatif yang mampu melahirkan generasi intelektual profetik.
Dalam sebuah Hadist Bukhori menyebutkan “Sebaik-baiknya kamu adalah yang mempelajari Qur’an dan mengajarkannya.” Maksudnya disini adalah bukan harus menjadi guru atau ustadz. Kata mengajarkan mengisyaratkan bahwa orang yang berpendidikan harus bisa memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Sesuai dengan Visi UII, bahwa intelektual profetik harus mampu membawa nilai-nilai rahmatan lil'alamin ketika berada ditengah-tengah masyarakat.
Dari ketiga tujuan konsep Library University tersebut semuanya saling berkaitan. Tujuan ketiga akan terjadi apabila tujuan kedua terbentuk. Tujuan kedua pun akan ada apabila tujuan pertama terpenuhi. Untuk memenuhi ketiga tujuan itu, terdapat metode belajar yang coba saya usulkan.
Pertama, mahasiswa dididik untuk menyampaikan pendapat dengan dasar dalil atau refrensi. Ketika menerangkan suatu masalah atau topik, mahasiswa wajib memberikan penjelasan yang sesuai dari refrensi buku yang menjadi rujukan. Bukan hanya mahasiswa, dosen pun bila sedang menerangkan materi harus membiasakan memberikan rujukan dan refrensi dari setiap kalimat yang disampaikan. Aktivitas seperti ini secara tidak langsung akan memaksa mahasiswa untuk mau membaca buku. Aktivitas ini juga mengurangi sifat para pengajar dan mahasiswa yang ketika menjelaskan topik hanya berdasarkan persepsi dan prasangka. Semua perkataan yang diucapkan harus didukung dengan data yang akurat. Disinilah pentingnya dapat berargumen secara ilmiah.
Kedua, mengaktifkan kebiasaan berdiskusi. Dengan berdiskusi, mahasiswa dilatih untuk belajar berpikir teoritis dan belajar mengungkapkan ide dari apa yang pernah dipelajari. Berdiskusi juga melatih mahasiswa untuk menguji seberapa kuat ide atau teorinya kepada lawan diskusi. Kegiatan ini harus didukung dengan aktivitas pertama tadi, yaitu argumen yang disampaikan harus berdasarkan refrensi dari setiap kalimat-kalimat yang dilontarkan, seperti layaknya ustad-ustad ketika sedang ceramah yang menyampaikan materi khotbah dengan dalil-dalil. Bukannya bermaksud mengajak berpikir tekstual, tetapi lebih kepada metodenya saja.
Dalam perkuliahan yang pernah saya alami di kampus ini, kegiatan diskusi memang sering dilakukan. Sayangnya, sering terjadi kevakuman dan cendrung tidak menarik. Entah pembawaan dosen atau memang mahasiswanya yang tidak berminat. Terlalu banyaknya mahasiswa di kelas dan materi diskusi yang dibawakan tidak menarik, bisa menjadi diskusi tersebut hambar. Proses yang mendukung dalam kegiatan diskusi ini adalah tingkat kesertaan mahasiswa di kelas. Diskusi yang baik apabila tidak melibatkan orang dalam jumlah banyak, sehingga proposi kelas dalam kegiatan belajar dan berdiskusi diupayakan dalam jumlah yang proposional. Dalam hal ini 10 – 15 orang saja dalam satu kelas sudah cukup ideal dalam kegiatan belajar dan berdiskusi.
Ketiga, membiasakan menulis atau membuat karya ilmiah. Ketika saya mengerjakan skripsi, adalah sebuah karya ilmiah yang dibuat oleh kebanyakan mahasiswa sebagai karya ilmiah pertama dan terkahir selama menempuh pendidikan Strata 1. Saya banyak menemukan mahasiswa yang kurang memperhatikan kegiatan menulis. Padahal menulis sangat mendukung proses pembentukan tingkat ke-intelektualan seseorang dari hasil proses berpikir itu. Ketika mahasiswa jauh dari kegiatan menulis apalagi membaca buku, apa bedanya dengan manusia pra sejarah (baca : masa sebelum mengenal tulisan)?
Tugas kuliah yang sering saya terima seperti me-resume sebuah buku dan menjawab soal-soal kasus saja tidak cukup untuk melatih menulis. Kegiatan menulis yang baik adalah karya yang mampu mengajukan sebuah pandangan atau ide yang diuji dengan berbagai refrensi atau data dan dalil. Karya tulis ini bisa diangap sebagai karya ilmiah tanpa harus sedetail skripsi. Kegiatan menulis juga sebagai pendukung melatih mahasiswa berpikir teoritis dan ilmiah. Dari setiap bab materi yang diberikan, diupayakan selalu ada tugas karya tulis yang bisa menanggapi teori-teori dari bab tersebut. Entah mengkritisi, mengembangkan atau pun menolak, dengan catatan mengusulkan teori baru pada karya tulis ilmiahnya. Apabila kegiatan ini terwujud, akan tidak sulit mendapatkan predikat research university yang sedang di incar kampus UII.
Karya ilmiah dan berdikusi dapat saling mendukung. Maksudnya, diskusi yang dijelaskan pada poin ke dua di atas bisa berdiskusi dengan memperdebatkan hasil karya ilmiah dari teman sekelasnya. Karya ilmiah yang dibuat tidak langsung dinilai oleh dosen, namun kekuatan ide yang ada pada karya tersebut harus diuji oleh teman sekelasnya. Maka akan dilihat argumen mana yang paling kuat, sehingga dosen dapat menilai seberapa baik seorang mahasiswa menguasai materi perkuliahan.
Terkahir, adanya sistem pendukung dari ketiga kegiatan di atas, yaitu tersedianya buku-buku di sudut-sudut kampus. Keberadaan buku-buku yang mudah dijangkau memudahkan mahasiswa untuk berinteraksi secara mendalam terhadap refrensi yang harus kita pelajari. Misalnya, ditempat-tempat santai seperti hall, kantin dan anjungan tersedia berbagai macam majalah dan koran. Dimasing-masing kelas tersedia buku-buku pendamping kuliah. Perpustakaan berfungsi sebagai ruang untuk kumpulan karya ilmiah dari para mahasiswa dan dosen.
Dalam sebuah kelas, akan terlihat selayaknya perpustakaan. Proses belajar pun akan efektif apabila hanya terdapat 10 – 15 orang saja dengan posisi melingkar. Semua buku-buku yang ada harus dapat melengkapi kebutuhan proses belajar dan mengajar. Semua keberadaan buku tersebut akan membantu pada metode belajar dari poin-poin di atas. Bila ada 20 kelas dalam satu fakultas atau jurusan, maka harus terdapat 20 judul buku yang sama untuk tiap-tiap kelas, dan bila ada 200 judul dalam satu kelas, maka dalam satu fakultas dan jurusan harus menyediakan 4000 buku untuk 20 kelas. Ditambah juga sistem penjagaan dan pengamana buku-buku tersebut dari tangan-tangan jail.
Satu hal lagi dalam metode belajarnya adalah diperbanyaknya materi kuliah yang mengkaji nilai-nilai Alqur’an dan sunnah. Intensnya mengkaji Alqur’an dapat mendekatkan mahasiswa kepada kitab Umat Islam tersebut. Intelektual profetik adalah intelektual yang harus selalu dekat dengan Al Qur’an. Dalam hal ini, adalah intelektual yang mampu mengkaji Al Qur’an dengan mengobyektifikasi nilai-nilainya menjadi universal. Nilai-nilai yang mampu mengintegrasi dalam diri mahasiswa dan nilai-nilai universal yang mampu menghasilkan kajian keilmuan yang bermanfaat bagi masyarakat sesuai dengan bidang kuliahnya masing-masing.
***
Konsep ini juga tak lepas dari kendala-kendala yang harus dihadapi. Kendala yang sangat besar adalah masalah dana. Pengadaan buku dan proses metode pembelajaran akan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Belum lagi masalah keamanan untuk menjaga buku-buku yang hadir di sudut-sudut kampus. Akibat kebutuhan dana yang besar inilah bagaimana upaya pihak kampus tidak membebankan kebutuhan biaya tersebut kepada mahasiswa. Bila dibebankan mahasiswa, SPP akan sangat mahal sekali. Hanya mahasiswa yang mampu saja yang dapat kuliah di sini.
Pihak kampus perlu mengatur strategi dalam pendanaan. Strategi ini diupayakan tidak begitu membebankan mahasiswa dalam membayar kuliahnya. Kalau perlu banyak beasiswa yang diberikan. Salah satu contohnya adalah keberadan donator yang mau mendanai kegiatan akademik. Kemudian, bisa juga upaya kampus dengan mengembangkan aspek bisnisnya. Pengembangan aspek bisnis di sini bukannya mahasiswa UII sebagai target pemasaran melainkan segmen lain.
Sebagai penutup. Konsep Library University hanya sebagai metode pembeda saja dengan konsep pendidikan di kampus lain. Kampus UII harus mempunyai ciri khas pendidikan. Jika tujuan Library University di atas mampu diwujudkan, UII pun bisa mendapatkan predikat World Classs University tanpa harus mengikuti syarat-syarat yang ditentukan. Bisa jadi, syarat-syarat World Class University tidak sesuai konteksnya dengan kondisi kampus saat ini. Jika pun syara-syarat World Class University terpenuhi, kemungkinan visi misi yang dibentuk UII akan jauh menyimpang dari tujuan awalnya dibentuk. Seperti yang saya katakan tadi, UII perlu menurunkan metode pendidikan dari visi misinya dengan metode yang mempunyai ciri khas tanpa harus mengikuti syarat-syarat tercapainya World Class University. Dengan konsep yang saya usulkan dan juga saya idamkan, saya sangat yakin, kampus UII mampu menghasilkan ilmuan-ilmuan muda dan mampu sejajar dengan universitas terkemuka dunia seperti Oxford dan Havard.
Ketika kegiatan intelektual dan ilmu pengetahuan begitu berkembang, dan mampu menyelesaikan berbagai macam permasalahan sosial kemasyarakatan. Maka disitulah peradaban akan berkembang ke arah kemajuan. Selogan Berilmu Amaliyah Beramal Ilmiyah dengan visi Rahmatan lil’alamin di kampus Universitas Islam Indonesia pun bisa tercapai jika misi intelektual profetik dapat terlaksana. Semoga tulisan ide saya di kampus idaman ini tidak lebih pintar dari para dosen maupun pakar pendidikan yang lebih ahli dalam konsep pendidikan yang ideal. Adanya kritik dan saran sangat diperlukan demi memperkuat ide dan argumen saya ini. Wallahualam.

* Artikel ini dalam rangka kontes blog UII

1 komentar:

  1. Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com

    BalasHapus

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger