Senin, 29 Maret 2010

Mencari Jati Diri (Catatan Pengalaman Mengelola Media Kampus)


Pengalaman adalah guru, katanya. Apakah seorang guru akan selalu mengajarkan pengalaman? Hmm.. Bisa jadi. Menjadi seorang jurnalis kampus telah mengisi ruang pengalaman itu. Cerita kehidupan telah mencatatkan saya pernah terlibat pada sebuah kegiatan tulis menulis dan dunia media. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Selama dua tahun, saya menjabat posisi pimpinan umum disebuah media kampus. Sebuah media yang bernaung dalam organisasi Lembaga Dakwah Kampus Jama’ah Al Muqtashidin (JAM) FE UII Yogyakarta. Majalah Majalah Sintaksis namanya. Ketika saya menulis ini umurnya telah mencapai 7 tahun. Masih cukup muda. Tetapi kehadirannya cukup diperhitungkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa di kampus saya. Ketika saya masih masih menjabat pimpinan umum, umurnya baru 3 tahun. Hingga tahun ke 5, majalah ini telah mampu saya ubah dari sekedar buletin masjid menjadi majalah dengan konsep jurnalisme yang lebih terstruktur. Dua tahun itu saya merasa, majalah ini bisa jadi menentukan perubahan dalam menentukan jati diri saya. Sama halnya dalam proses menentukan jati diri majalah ini ketika ingin serius bersaing dalam dunia jurnalistik.

Awal Menghadapi Kenyataan
Sedikit mengingat ketika pagi hari itu di ruang sekretariat JAM FE UII, saya sedang bersiap-siap menuju ruang kelas untuk melaksanakan kuliah. Masih ada sisa beberapa menit lagi jam kuliah dimulai. Dalam sisa waktu itu, saya diajak berbicara oleh salah satu Dewan Formatur (pengurus sementara di awal kepengurusan ketika belum terbentuk) JAM pada tahun 2006. Dalam pembicaraan itu, dia menawarkan sebuah jabatan kordinator di kepengurusannya. Sontak saya kaget. “Ada apa dengan kepengurusan baru ini.” Pikirku. Mengapa saya harus diangkat menjadi seorang kordinator bidang, padahal saya masih angkatan 2005 (saat itu kepengurusan dipegang 2004). Apakah angakatan 2004 sedang kekurangan orang? Jelas saya menolaknya. Tambahnya lagi dia mengatakan, saya akan ditempatkan di Badan Khusus Informatika yang disingkat BAKIN. Dalam hati, memang ada perasaan senang ketika diberi sebuah kekuasaan. Karena dengan kekuasan kita bisa berbuat apa saja yang kita inginkan, tetapi disisi yang lain saya takut. Takut ketika amanah itu tidak sanggup untuk dijalankan, takut harus menghadapi staf-staf yang sulit diajak bekerja dan saya sendiri belum berpengalaman dibidang itu. Meskipun dahulu di SMA pernah terlibat dalam pendirian majalah rohis, tetapi hanya diposisi iklan. Menulis pun masih kesulitan. Saya hanya menjawab tidak.
Kesokan harinya, datang lagi sang pelobi baru. Kali ini ketuanya langsung. Dia mencoba melobi saya untuk bisa menempati posisi yang ditawarkan tadi. Sayang dia gagal. Saya tetap menjawab tidak Takut akan sulitnya menggerakan staf untuk bekerja menjadi alasan saya waktu itu. Saya tahu sekali, bahwa mahasiswa secara umum atau pun kader-kader JAM yang terekut sering mengalami staf yang tidak bertanggung jawab atas jobdesc-nya. Ketika itu terjadi, maka akan menjadi beban berat saya suatu saat nanti.
Dan keesokan harinya lagi, muncul lagi pelobi baru. Kali ini seorang akhwat yang mana dia akan menjabat sebagai kordinator kaderisasi. Lobi kali ini saya dapat bonus. Tausiyah! Saya juga sempat berkata tidak ketika itu. Namun, ketika ditanya ingin ditempatkan dimana, saya menjawab ingin ditempatkan di staf kaderisasi saja. Kembali mba itu beralasan dan berargumen untuk membujuk agar bersedia pada tawaran tadi. Dalam hati saya berkata. Saya sepertinya memang diusir dari departemen kaderisasi. Padahal sebelumnya, saya sedang magang di departemen itu. Saya banyak belajar tentang pengkaderisasian. Saya kira, magang di departemen tersebut akan dilanjutkan menjadi pengurus pada departemen yang itu juga. Saya sedikit kecewa memang. Tetapi ya sudahlah. Mungkin memang tidak layak untuk diposisi itu. Tak gentar mba itu terus memohon. Tidak seperti dua pria di atas yang selalu gagal. Mba ini terus berusaha hingga saya dalam posisi bingung. Antara ya dan tidak. Karena sedikit terlihat iba, ya sudahlah. Saya terima saja dengan berat hati.
Apa yang saya takutkan memang benar-benar terjadi. Baru saja memulai aktivitas, sudah kesulitan mengumpulkan staf untuk bisa rapat membahas program kerja yang akan diajukan pada rapat musyawarah kerja nanti. Ditambah lagi disuruh menerbitkan Majalah Sintaksis untuk edisi mahasiswa baru. Edisi pertama saya yang hanya mempunyai sisa waktu dua minggu untuk dikerjakan. Dari 5 orang staf yang ada, hanya dua yang bisa diajak bekerja. Dan kemampuan menulisnya pun masih diragukan. Tapi sungguh beruntung saya bisa mengenal seorang mahasiswa dari angkatan di atas saya yang pakainnya selalu serba hitam. Namanya Wildan. Mantan kader KAMMI yang kutu buku. Dia saya ajak untuk bergabung membantu untuk mengelola buletin yang namanya Majalah Sintaksis dengan tulisan pertamanya yang berjudul “Identitas”. Tulisannya yang baru bisa saya pahami setahun kemudian. Tidak hanya dia, mantan pengelola BAKIN pun saya minta bantuannya untuk edisi perdana ini. Sebut saja mas Pambudi dan Mba Hida. Edisi perdana pun akhirnya bisa terbit dengan tema yang sangat tidak jelas dan layout amburadul. Tetapi itu pun banyak yang memberi sanjungan, entah hanya stategi untuk memotivasi atau memang sifat hipokrit yang ditunjukan.

Pengorganisasian dan Penataan Tujuan
Pertanyaan pertama kali yang muncul ketika memimpin sebuah organisasi adalah apa yang akan kita lakukan dan kita tujui. Kalau Sean Covey bilang kita harus mulai dari tujuan akhir. Maka dalam organisasi akan tersusun visi dan misi sebagai arahan tujuan gerak organisasi.
Sering kali saya mendapatkan pertanyaan “Majalah Sintaksis mau dibawa kemana?” Saya juga bingung menjawabnya. Dengan keterbatasan yang ada saya dan teman-teman staf yang tersisa mencoba menyusun targetan apa yang sekiranya mampu dicapai dan strategi apa yang akan diterapkan. Dengan minimnya transfer ilmu seperti arahan dan pencapaian targertan sebelumnya, kami mencoba menyusun itu semua. Beberapa targetan jangka pendek yang kami laporkan dalam musyker itu adalah membangun brand Majalah Sintaksis yang masih belum cukup dikenal, berusaha mampu mendanai sendiri, dan menata manajemen media serta mambangun kesolidan pengurus. Bicara solid, saat itu saya sedang iri dengan bidang TPA (Taman Pendidikan Anak-anak) JAM FE UII. Sikap kekeluargaan mereka antara pengurus dan guru-guru yang sebagaian besar adalah alumni terlihat sangat solid. Mimpi saya adalah mengalahkannya.
Semua itu dapat diwujudkan dengan beberapa langkah strategi yang harus dijalankan. Langkah pertamanya adalah membentuk keredaksian diluar staf BAKIN itu sendiri. Dalam kepenulisan untuk edisi-edisi ke depan, tidak mungkin hanya mengandalkan staf yang ada. Agar tetap eksis untuk terbit, butuh orang yang dirasa sudah berpengalaman dalam kepenulisan. Beberapa alumni yang saya sebutkan di atas termasuk beberapa orang dari teman-teman pengurus JAM diluar BAKIN juga kami ajak terlibat dikeredaksian. Sehingga, kami bisa memisahkan kefokusan kerja antara redaksi dan staf BAKIN. Staf BAKIN hanya fokus untuk manajeman media, seperti iklan dan distribusi. Strategi perekrutan redaksi di luar BAKIN ini terihlami oleh perkataan Henry Ford, “Saya tidak perlu belajar fisika untuk membuat mobil, tetapi bagaimana saya bisa memperkerjakan ahli fisika untuk membuatkan mobil.” Terbentuknya tim redaksi inilah sebagai langkah serius dalam membentuk media jurnalistik yang profesional.
Yang kedua, mengubah bentuk buletin menjadi majalah. Atau kami namakan Majalah Bulanan Majalah Sintaksis. Dengan konsep majalah, diupayakan Majalah Sintaksis dapat lebih serius dalam keterlibatannya di dunia jurnalistik. Dan juga dapat bisa lebih maju selangkah dalam menguasai pasar media di kampus. Dengan anggaran yang masih sama dengan periode berikutnya, Majalah Sintaksis mampu menghadirkan majalah seadanya dengan tambahan rubrik yang beragam dan desain yang simpel.
Untuk mendanai sendiri saja masih agak susah memulainya. Iklan adalah aktivitas utama dalam mencari sumber dananya. Namun sayang, sangat sulit menggerakan staf untuk bisa bergerak mencari iklan. Sehingga selama periode itu, masih mengandalkan kas JAM.
Alhamdulillah, dalam periode itu Majalah Sintaksis mampu eksis terbit setiap bulan. Atau lebih tepatnya kami berhasil menerbitkan hingga delapan kali dalam satu periode. Rekor! Sebuah rekor yang masih belum memperhatikan kualitas tulisan. Karena dalam benak saya saat itu adalah bagaimana harus tetap terbit. Diskusi keredaksian juga sudah mulai terbentuk. Nama Majalah Sintaksis juga sudah menjadi perhatian. Hadirnya rubrik refleksi mengangkat rating Majalah Sintaksis yang sudah mulai menjadi bahan perbincangan.
Di bantu oleh si Wildan tadi, strategi lain yang kami lakukan adalah bagaimana bisa membangun kesolidan pada staf BAKIN dan redaksi. Dalam rapat-rapat selalu kita upayakan kenyamanan agar perasaan betah itu bisa muncul. Ditambah masuknya para magang (anggota baru JAM), membuat permasalahan staf semakin berkurang. Para magang langsung saya libatkan dalam rapat-rapat tanpa membedakan antara pengurus dan magang, dan saya libatkan juga dalam rapat keredaksian. Ditambah dengan event yang kami buat dengan tujuan mengaktivasikan teman-teman pengurus dan magang serta tujuan dari proses marketing Majalah Sintaksis itu sendiri. Even besar itu bernama pelatihan menulis (berbentuk workshop) yang alhamdulillah dapat dikatakan cukup suskes.
Hingga akhir kepengurusan, tercatat ada kira-kira belasan orang yang terlibat aktif dalam keanggotaan Majalah Sintaksis. Baik dari keredaksian, staf BAKIN dan magang. Meski belum sepenuhnya target tercapai, setidaknya pondasi kekeluargaan dalam tubuh Majalah Sintaksis sudah muali terbentuk dan mekanisme manajeman media mulai tertata.
Pada periode berikutnya (2007), saya masih tetap menjabat sebagai pimpinan pada media itu. Pada periode ini, melalui dewan formatur yang sedang saya jabat, saya merubah nama BAKIN menjadi Medif atau kepajangannya Media dan Informasi. Kembali lagi saya harus menyusun targetan. Masih sama dengan targetan sebelumnya, pada periode ini kami tambah lagi targetannya, yaitu peingkatan kepenulisan dengan memantapkan pangkaderan dan pengembangan SDM. Bidang SDM kami bentuk. Pelatihan serta diskusi rutin mingguan menjadi agenda utama kami dalam bidang pengembangan SDM ini. Dikeredaksian sendiri juga mendapat tambahan staf. Para alumni pengurus JAM yang sudah tidak menadapatkan amanah saya ajak bergabung sebagai pengkokohan dan penjagaan manhaj di Majalah Sintaksis. Kemudian, adanya tambahan magang lagi dari rekrutmen mahasiswa baru JAM, membuat Majalah Sintaksis semakin banyak anggotanya. Kira-kira ada 20an, tepatnya saya lupa.
Perubahan lainnya adalah pada ciri fisik Majalah Sintaksis. Dengan menambah anggaran cetak, cover Majalah Sintaksis sudah berani berubah ke bentuk art paper dengan desain hitam putih dari plat film. Hal ini dilakukan untuk menjawab kritikan fisik yang katanya terlihat seperti foto kopian pada edisi sebelumnya. Meskipun dengan layout amburadul, Majalah Sintaksis masih tetap pede untuk hadir mengisi ruang opini kampus. Tema-tema yang diangkat juga sudah mulai terbentuk dari hasil diskusi pemikiran yang panjang.
Selain itu, bentuk perubahan lainnya adalah dengan memperkut striktur keredaksian yang lebih profesional. Yaitu dengan terbentuknya pimpinan redaksi yang terpisah dengan pimpinan umum (sebelumnya masih dobel) dan editor bahasa. Posisi saya fokus untuk mengontrol jalannya kegiatan pengembangan SDM, keadministrasian dan menggalakan fungsi pemasaran, seperti iklan dan distribusi.
Semakin besar struktur keorganisasiannya, juga semakin besar masalahnya. Semakin banyak staf dan anggota, semakin sulit untuk mengontrol. Banyak staf yang tidak aktif membuat struktur organisasi semakin terus berubah sesuai keadaan yang terjadi. Seperti perampingan bidang, dan jobdesc yang selau berubah-ubah. Terkadang satu orang bisa memegang dua dan tiga tugas dalam satu bidang. Semua itu dilakukan untuk memenuhi pencapaian target tersebut.
Begitu juga dengan proses penerbitan Majalah Sintaksis. Pada periode ini Majalah Sintaksis hanya mampu terbit 6 kali. Beban terhadap kualitas tulisan yang diutamakan membuat penerbitan sistaksis harus menyesuaikan kemampuan redaksi dengan hasil kualitas yang maksimal. Setidaknya, nama Majalah Sintaksis semakin mencuat dan serasa kehadirannya mengganggu media pesaingnya.
Setelah masa kepengurusan saya berkahir, kepemimpinan digantikan oleh seorang akhwat yang bernama Anggi. Dia sejak awal memang sudah di kader untuk bisa mengelola media ini. Pada masa Anggi, Majalah Sintaksis mulai melakukan rekrutmen terbuka untuk mahasiswa di luar JAM (sebelumnya hanya merekrut internal). Proses rekrutmen ini akhirnya menemukan dua orang yang ahli pada bidang grafis. Kehadiran Rosyid yang ahli dalam layaout fotographi, dan Fauzan yang ahli karikatur dan komik, mulai mempercantik wajah Majalah Sintaksis dengan tatanan layout yang lebih inovatif dan kreatif.
Berusaha Mencari Jati Dirinya
Yang sering dihadapi oleh Majalah Sintaksis adalah sering berubah-ubah bentuknya dari setiap periode dan jaman. Semua itu tergantung dari apa yang diinginkan oleh setiap pengelolanya. Setiap orang cendrung memiliki persepsi yang berbeda-beda. Yaitu persepsi antara kebutuhan dan keinginan terhadap Majalah Sintaksis. Disinilah perlu yang namanya proses marketing itu. Segmenting, targeting dan positioning (istilah strategi pemasaran) merupakan strategi untuk menentukan arah produk tersebut. Seorang pemasar tidak bisa memaksakan produknya sesuai dengan keinginan si pemasar, namun harus disesuaikan dengan kemampuan (kebutuhan) sang konsumen itu sendiri. Dalam hal ini market oriented diperlukan namun tetap menjaga ideologi dari Majalah Sintaksis itu sendiri. Maksudnya, bagaimana agar majalah yang membawa misi dakwah ini mampu tersampaikan dan diterima oleh pembaca sesuai dengan konteks kampus.
Majalah Sintaksis mengalami proses pengkajian yang panjang dalam mempelajari segmennya, proses yang berat dalam ijtihad tergeting-nya, dan perdebatan yang panjang dalam positioning. Ketiga proses marketing itu mencoba menurunkan metode kepenulisan yang akan dihadirkan oleh Majalah Sintaksis. Dengan berusaha menggunakan gaya feature serta peliputan mendalam dalam kajian tertentu, menjadi metode yang dirasa bisa memenuhi kebutuhan itu semua.
Semuanya masih tidak lepas dari kritikan-kirtikan. Kritikan yang datang baik dari internal JAM (pengurus dan alumni) serta ekternal JAM, yang diantaranya ; kurangnya ruhiyah dakwah dari Majalah Sintaksis, bahasanya yang cendrung opini dan berita diangkat mengambil perannya Lembaga Pers Mahasiswa. Semua kritikan yang datang memang harus kita akui sebagai kekurangan dari Majalah Sintaksis itu sendiri. Kekurangan yang muncul atas kekurangan redaksi yang masih berusahan mencari jati diri Majalah Sintaksis itu. Ketika pada periode ke dua saya mengelola Majalah Sintaksis. Disitulah tim penyusun buku pedoman Majalah Sintaksisi mulai disusun. Semuanya dibentuk untuk menentukan arah gerak yang jelas dalam menjalankan agenda dakwah Majalah Sintaksis. Majalah Sintaksis tidak mungkin bisa memberikan semua permintaan untuk mengisi ruang rubriknya. Melainkan, Majalah Sintaksis berusaha mencari skala prioritas dari apa yang ingin disampaikan. Dia bukan media yang semua bahasan ada, melainkan hanya pelengkap dari model-model media yang sudah banyak hadir.
***
Usaha lobi dari ketiga orang di atas akhirnya membentuk sebuah alur cerita perjalanan panjang dalam usaha menemukan jati diri itu. Yaitu sebuah proses dalam mencari sisi ideal kehidupan. Kehidupan dimana Majalah Sintaksis lahir dan membentuk salah satu bagian dinamika perjalanan dakwah. Dakwah juga butuh media, dan media adalah senjata ampuh dalam membentuk opini masyarakat. Apakah pengalaman ini merupakan awal dalam mewujudkan mimpi saya membangun kerajaan industri media?

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger