Pernah suatu ketika, saya melihat sebuah produk yang cukup menarik pandangan. Sebut saja T-Shirt. Ingin rasanya membeli karena modelnya yang menarik. Namun sayang, harganya mahal sekali. Mahalnya melebihi anggaran konsumsi makan saya selama dua minggu. Lalu saya berpikir, mengapa baju dengan bahan (kiran-kira seperti) combat ini harganya bisa semahal itu. Padahal, ketika saya bergelut di lingkungan jaringan konveksi, harga jualnya tidak mencapai setengah dari harga tersebut. Itu baru hitungan harga jual, belum lagi biaya produksinya yang masih ¾ dari hitungan harga jual jaringan konveksi saya.
Merek. Ya, merek yang membuat baju itu sangat mahal sekali. Ketika saya lihat mereknya, jelas merek tersebut sangat tidak asing. Pasti semua orang sering mendengarnya. Bahkan memakainya, karena sering sekali menjadi bahan adu gengsi anak muda. Hanya karena merek yang bergengsi, sang pemilik perusahaan dengan senang hati menjual produknya berkali-kali lipat dari harga produksi. “Dasar kapitaliseme.” Pikir ku. Kapitalisme menjadi layaknya industri gengsi. Bukan kebutuhan, melainkan keinginan dan pemenuhan sifat konsumtif bagi para konsumennya. Sehingga mereka mampu meraih pendapatan yang besar dan menjadikan modal besar dalam penguasaan aset produksi. Tak heran, kapitalisme menciptakan kemiskinan dan membuat kapitalis semakin kaya.
Kejadian ini mengintakan saya pada sebuah film dokumenter yang berjudul The New Rules Of the World. Film yang berdurasi 55 menit ini dibuat oleh seorang wartawan Australia yang bekerja di Inggris. Ia bernama John Pilger. Pertama kali saya menontonnya tahun 2006 (belum di yutube, masih dalam bentuk VCD). Sudah lama sekali memang. Namun kejadian cerita di atas telah mengingatkan saya pada dampak kapitalisme industri di era globalisasi yang diceritakan film ini.
Film ini di awali dengan latar belakang banyaknya aksi massa yang protes terhadap globalisasi. Globalisasi terbukti gagal dalam mensejahterakan dunia. Buktinya, kemiskinan merajalela di negara-negara dunia ke tiga. Seperti Afrika, Amerika selatan dan Asia. Globalisasi telah menciptakan ketimpangan yang begitu luas antara yang kaya dengan yang miskin. Ekonomi dunia dinikmati hanya sebagian kecil pengusaha. Hanya dengan 200 perusahaan, seperempat kegiatan ekonomi dunia sudah dapat dikuasai. Banyak perusahaan yang asetnya lebih besar dari sebuah negara berkembang.
Keuntungan tersebut dapat dilihat dari usaha para pengusaha barat yang mempekerjakan tenaga kerja dari negara miskin seperti Indonesia. Mereka memproduksi dengan upah tenaga kerja yang sangat rendah seperti budak. Dengan obyek Indonesia, film ini memperlihatkan bagaimana kondisi buruh yang bekerja di pabrik-pabrik perusahaan multinasional seperti Nike, Reebok, Adidas dan GAP dengan upah yang rendah, jam kerja yang tidak teratur, dan kondisi tempat kerja yang mengenaskan, dipaksa untuk terus bekerja dan seakan tidak punya pilihan lain selain terus melakukan apa yang diperintahkan oleh pemilik pabrik. Semua itu dilakukan oleh perusahaan kapitalis dalam menekan biaya produksi dan menjualnya dengan harga yang cukup mahal. Sangat jauh dari upah buruh. Contohnya, celana tinju yang bermerek GAP, di jual dengan harga 112 ribu rupiah tetapi upah yang diterima buruh hanya 500 rupiah. Dari situ, mereka dapat memperoleh keuntungan yang sangat besar.
Dalam film ini diperlihatkan juga bagaimana kondisi tempat tinggal para buruh yang bisa dikatakan kumuh, dan bagaimana mereka menyiasati upah mereka agar mencukupi kebutuhan keluarganya dengan cara mengurangi porsi makan dan tingkat gizi. Kemudian dibandingkan dengan segelintir orang yang hidup bermewah-mewah, seperti upacara pernikahan para elit yang biayanya sama dengan 400 tahun gaji para buruh tadi. Disitu membuktikan bahwa globalisasi memberikan jarak antara kaya dan miskin yang sangat jauh.
Di scene yang lain, memperlihatkan bagaimana upaya barat dalam menguasai aset-aset penting Indonesia yang kaya sumberdaya alam. Atas nama globalisasi, pihak barat berusaha membujuk pemimpin Indonesia untuk membuka investasi dalam negeri dengan tujuan menguasai sumber mineral. Karena pada waktu itu Soekarno adalah seorang nasionalis sejati yang yakin pada kemandirian ekonomi rakyat dan tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan Amerika dan sekutunya, maka diutuslah Soeharto sebagai kaki tangan para negara imperialis dan pelaku bisnis untuk membuat konspirasi besar menjatuhkan Soekarno. Dan terjadilah peristiwa G30S/PKI yang membuat Soeharto berkuasa. Setelah berkuasa, lahirlah Indonesia dengan industri-industri baru yang merupakan hasil dari pembantaian jutaan orang.
Ada penjelasan yang menarik terhadap konspirasi ekonomi di Indonesia. Ini beberapa kutipan dari film tersebut : "Benih globalisasi ditanam diatas genangan darah…" Ditahun 1967, perusahaan Timelife mengadakan sebuah konferensi di Swiss, yang merencanakan pengambilalihan bisnis (Corporate Take Over) Indonesia. Konferensi ini dihadiri oleh para pebisnis besar dan terkuat di dunia, misalnya David Rockefeller. Raksasa kapitalisme barat diwakili oleh perusahaan minyak, bank, General Motors, British Lyeland, ICI, British American Tobacco, Leman Brothers, American Express, Siemens.
Diseberang meja dalam konferensi hadir para pemimpin Indonesia yang
dikirim Soeharto. Bagi dunia bisnis barat, hal ini merupakan awalan yang baik menuju globalisasi. Tidak seorangpun berbicara mengenai pembantaian satu juta manusia itu.
dikirim Soeharto. Bagi dunia bisnis barat, hal ini merupakan awalan yang baik menuju globalisasi. Tidak seorangpun berbicara mengenai pembantaian satu juta manusia itu.
“Situasi semacam itu belum pernah saya dengar sebelumnya dimanapun,
ketika pengusaha seluruh dunia bertemu sebuah negar dan menentukan prasyaratnya untuk masuk ke sebuah negara itu. Konferensi itu berlangsung tiga hari, hari pertama wakil Indonesia tampil memberikan uraiannya. Di hari kedua, mereka membaginya menjadi lima: pertemuan sektoral, pertambangan, jasa makanan, industri ringan, perbankan dan keuangan – Chase Manhattan juga hadir disana. Kemudian mereka menyusun kebijakan yang menguntungkan investor sedunia itu.”
ketika pengusaha seluruh dunia bertemu sebuah negar dan menentukan prasyaratnya untuk masuk ke sebuah negara itu. Konferensi itu berlangsung tiga hari, hari pertama wakil Indonesia tampil memberikan uraiannya. Di hari kedua, mereka membaginya menjadi lima: pertemuan sektoral, pertambangan, jasa makanan, industri ringan, perbankan dan keuangan – Chase Manhattan juga hadir disana. Kemudian mereka menyusun kebijakan yang menguntungkan investor sedunia itu.”
Merek berkata kepada pemimpin Indonesia, “Inilah yang perlu kami lakukan, ini, ini, ini…”, kemudian mereka menyusun infrastruktur hukum untuk kepentingan investasi mereka di Indonesia.” - (Jeffrey Winters, Univ. Northwestern, AS – The New Rulers of the World)
Secara keseluruhan film ini memang menceritakan tentang globalisasi yang gagal bagi kehidupan negara-negara dunia. Proses globalisasi inilah saling berhubungan terhadap terciptanya harga-harga yang mahal akibat penjualan aset-aset negara, adanya kapitaliseme industri yang tumbuh, dan semakin melemahnya kegiatan ekonomi rakyat. Sehingga terciptalah kemiskinan di negara berkembang seperti Indonesia. Dengan globalisasi, tak heran jika Anda melihat botol kecap atau saus dengan merek Indofood yang hampir semua komisaris dan pemegang sahamnya bukan orang Indonesia. Dengan globalisasi itu pulalah kita mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali harus menerima kenyataan bahwa hampir rata-rata barang kebutuhan sehari-hari kita telah dikuasai oleh industri asing. Kita hanya dijadikan budak konsumen yang harus membeli produk mereka tanpa bisa memproduksi produk-produk ekonomi kita sendiri yang mampu menyaingin produk mereka
Karena film inilah, kesadaran saya terbangun untuk membuka cakrawala terhadap keaadaan dunia yang sebenarnya. Dan dengan film ini, idealisme saya terhadap ide ekonomi terbentuk. Sehingga mampu menjadi tameng saya dalam bertindak untuk urusan ekonomi. Mulailah berusaha untuk menggunakan produk rakyat. Dan kalau bisa, jadilah pengusaha agar terhindar perbudakan karyawan kantoran. Karena kejahatan ini tidak bisa dilawan hanya dengan berwacana di media saja, tetapi dengan membuat gerakan perlawanan terorganisir. Baik melalui institusi politik maupun wilayah bisnis. Maka, kita akan mampu menyelamatkan ekonomi negara dan melawan imperialisme.
Berikut link videonya jika ingin melihat atau mendownloadnya :
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.