Senin, 01 Februari 2010

Mengapa Facebook bisa Sukses?


Dipengunjung awal 2009, netter Indoneisia mulai kehadiran makhluk virtual yang masuk ke halaman-halaman layar monitor komputer yang bernama Facebook. Mark Zuckerberg, sang pendiri makhluk virtual ini berhasil menciptakan alat komersialisasi ruang publik. Atau lebih tepatnya situs jejaring sosial. Yaitu seperangkat makhluk yang mampu menghadirkan komunikasi dua arah yang mampu dilihat oleh semua orang yang menjadi teman di account para member Facebook.
Kecanggihan alat ini telah menjadi sarana teknologi interaksi sosial yang mendapatkan tempatnya di hati konsumen internet masyarakat Indonesia. Banyak fasilitas terpenuhi di sini. Ingin ngobrol ada fasilitas chating dan adu komentar. Upload foto dan video juga terpenuhi dalam menyalurkan ekspresi orang-orang yang narsis. Kepopuleran Facebook telah membentuk generasi baru. Generasi facebook namanya. Sering saya perhatikan, seorang teman yang hampir 24 jam online trus. Ada juga yang sangat eksis, mulai dari koleksi foto hingga ribuan, dan statusnya yang selalu update tiap jam. Pernah saya menemukan seorang teman yang juga seorang mahasiswa, sangat aktif di facebook tetapi ternyata ingin mengirim email saja masih belum mengerti. Buset dah!! Facebook membuat orang jadi ‘alay’ saja.

Dalam sebuah riset tentang website terpopuler menurut situs alexa.com bahwa Facebook berada pada urutan teratas untuk pengguna internet di Indonesia, disusul Google dan yahoo. Jumlah pengguna Facebook Indonesia hingga 1 Februari 2008 tercatat sebanyak 11.759.980 dari 13% rakyat Indonesia yang menggunakan internet (sekitar 26juta orang). Angkat pengguna Facebook 11.756.980 ini menempati indonesia berada pada peringkat 7 dunia. Angka yang masih lebih tinggi dibanding China dan India yang mana populasinya masih lebih banyak dari pada Indonesia. (sumber : http://www.checkfacebook.com/)
Kesuksesan Facebook tak lepas dari karakteristik dan sifat masyarakat yang hasrat dan perilakunya terfasilitasi pada situs jejaring sosial ini. Keberhasilan sebuah produk tergantung dari suksesnya strategi pemasaran dalam mengenal tipe perilaku konsumennya yang ingin dituju. Facebook adalah produk era Web 2.0 yang termasuk sukses dalam mengambil hati konsumen, khususnya netter Indonesia. Di sini saya mencoba menganalsis sifat dan karakteristik konsumen Facebook dari sudut pandang pribadi saya.
Pertama, dapat dilihat dari tipe perilaku masyarakat Indonesia yang memiliki budaya lisan. Atau mudahnya kita sebut saja masyarakat yang senang dengan obrolan. Apalagi berbicara gosip. Terbukti dengan adanya warung-warung makan, kedai kopi, atau di Jogja ada Ankringan, dan tempat-tempat nongkrong lainnya. Semua tempat itu bukan hanya sekedar tujuan makan saja, melainkan obrolan. Waktu ngobrol terkadang lebih banyak dibanding makan. Tempat-tempat nongkrong juga menjamur dimana-mana. Dan contoh konkret yang sering saya temui adalah di kampus saya. Sebagai lingkungan akademik ternyata ketika jam-jam pergantian mata kuliah pun tempat-tempat nongkrong seperti hall dan kantin lebih ramai dibanding perpustakaan. Mengapa lebih memilih tempat-tempat nongkrong? Jelas, karena hasrat obrolan yang ingin dipenuhi dari pada mengisi waktu luang untuk membaca. Hasrat untuk bergosip, bercanda, dan pembicaraan yang terkadang tidak berbobot.
Yah, waktu senggang masyarakat kita adalah mengobrol. Sebenarnya tidak salah dengan aktivitas mengobrol, yang salah adalah ketika berlebihan dan membuang waktu kita untuk lebih produktif. Terutama untuk membaca, entah buku-buku sesuai akademisi kita, atau buku lainnya yang sekiranya bermanfaat untuk membangun keilmuan dan keintelektualan kita. Karena budaya obrolan yang berlebihan ini, tidak heran budaya menulis dan membaca khususnya yang ilmiah sangat rendah di negara kita.
Karena perilaku ini, hasrat mengobrol tersalurkan dengan kehadiran facebook. Sehingga, tidak ada bedanya tempat-tempat nongkrong tersebut dengan Facebook, hanya berbeda wahana saja. Sama bisingnya dengan celoteh-celoteh pasar. Terkadang, sangat jelas terlihat dengan status-statusnya yang tidak bermutu.
Kedua, selain mengobrol, ada lagi tipe perilaku kita yang juga menjadi kajian perilaku. Yaitu sifat latah terhadap hal-hal yang baru dan popular. Sifat ini agak sulit untuk saya jelaskan lebih detail. Saya akan coba dengan contoh saja. Gampangnya begini, karena negara kita buka negara produsen teknologi, sering kita terkesima dengan teknologi baru yang masuk pasar Indonesia. Layaknya seperti manusia hutan yang terheran-heran ketika sedang di kota. Juga, lebih senang memilih sesuatu yang lebih popular. Kalau dulu Friendster yang mendapatkan tempatnya di Indonesia maka sekarang Facebook. Friendster jadi hilang, tergantikan oleh Facebook yang lebih popular. Dan khir-akhir ini juga, orang-orang pada gandrung dengan Hp model qwerty. Semuanya serba serentak. Dan satu lagi, cepat bosan. Di Indonesia itu, orang ganti mobil bukan karena rusak, tetapi karena ada keluaran model terbaru.
Dan yang terakhir, hal utama yang membuat Facebook menjadi produk populer adalah sifatnya yang mampu memahami hasrat narsistik manusia. Bukan masyarakat Indonesia saja, hampir seluruh umat manusia memiliki kecendrungan narsis. Sifat yang ingin di hargai, diperhatikan dan selalu mencari celah untuk mengatualisasikan diri. Memang jempol untuk Facebook, adanya kolom status yang tertera tulisan ‘apa yang Anda pikirkan’ ditambah faislitas untuk mengkomentar status, adanya upload foto dan video dengan jumlah tak terbatas menjawab kebutuhan aktualisasi itu.
Pernah dengan teori motivasi Maslow? Teori itu mengatakan bahwa motivasi seseorang dapat dilihat berdasarkan kebutuhan manusia secara berjenjang, mulai dari yang paling banyak menggerakkan sampai yang paling sedikit memberikan dorongan. Pertama-tama orang akan memuaskan kebutuhan yang paling penting dulu, baru kemudian memenuhi kebutuhan berikutnya. Urutan tersebut adalah, kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Tetapi saya rasa, teori itu telah terbantahkan, nyatanya kehadiran produk era web 2.0 membalikkan urutan teori tersebut. Kebutuhan aktualisasi diri bisa jadi menjadi yang pertama sekarang. Lihat saja, terkadang orang rela menunda waktu makannya untuk internetan. Dan pernah saya melihat foto di kaskus, dimana seorang ibu menelantarkan anaknya di lantai warnet karena asik Facebookan. Hahaha.. ada-ada saja.


0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger