Ketika tulisan ini dibuat, baru saja saya menonton film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) jilid 2. Bukan menonton di bioskop, tetapi dari file yang saya copy dari flasdisk teman. Awalnya memang saya tidak tertarik untuk menonton film ini. Novelnya pun belum pernah saya baca. Kecuali novel Ayat-ayat Cinta (AAC), karena pada waktu itu teman-teman saya begitu heboh setelah membacanya, sehingga jadi penasaran untuk membacanya. Berbeda dengan Novel KCB, yang tidak terlalu heboh. Hingga difilmkan pun, saya hanya menanggapi biasa saja. Saya tidak begitu tertarik dengan cerita yang bertema percintaan. Lebih senang dengan novel-novel thriller. Namun, tidak tahu mengapa, beberapa bulan lalu saya melihat vcd KCB jilid 1 tersebut nongol di ruang sekretariat takmir masjid kampus saya. Karena penasaran ceritanya seperti apa, akhirnya saya pinjam saja, sekalian mengisi waktu luang saya di rumah.
Berbeda dengan film AAC, film KCB ini sangat terlihat ruh dan pesan moralnya. Setelah menyelesaikan jilid 1, saya tergoda kembali untuk menonton di jilid 2nya. Sekedar ingin tahu kelanjutannya saja. Kalau di film AAC, saya tidak sampai selesai menontonya. Tidak tahu mengapa, ketika dipertengahan film, saya jadi muak menontonya. Cerita yang diangkat tidak setertarik novelnya. Nilai-nilai pesan terlihat luntur. Dan cendrung menghilangkan tujuan cerita dari novel aslinya. Novelnya sendiri masih saya ancungi jempol.
Dilihat dari kedua novel karya kang Habiburahman tersebut banyak termuat pesan-pesan moral. Khususnya dalam menyikapi hubungan lawan jenis. Kedua novel (dan film khususnya KCB) ini mampu menjadi best seller di lingkungan generasi muda Indonesia yang kehidupan pergaulannya bertolak belakang dengan kisah yang di angkat dalam novel tersebut. Mengapa saya bilang bertolak belakang, karena jelas terlihat dalam novel tersebut pergaulan gaya anak mudanya masih menjaga apa yang disebut nilai-nilai syariat, Seperti tidak bersentuhan tangan (kulit) dan menjaga hijab. Berbeda dengan kehidupan di luar novel yang generasi mudanya kalau bersentuhan dengan lawan jenis adalah hal yang biasa. Lalu, kedua novel ini memiliki judul yang sama-sama terdapat kata ‘cinta’. Dengan cerita cinta gaya anak santri, novel ini juga mampu laris di tengah dunia perfilman dan sastra kita yang juga banyak menjamur cerita yang bertema percintaan yang lebih kepada hubungan lawan jenis diluar pernikahan. Seperti kisah ketika ingin jadian, putus cinta, patah hati, dan perselingkuhan. Berbeda dengan novel kang Habiburahman yang saya lihat inti dari kisahnya adalah proses khitbah / ta’aruf.
Dari yang saya jelaskan di atas barusan, ada dua mainstream yang berbeda dalam melihat makna cinta itu sendiri. Jelas dalam Islam tidak ada istilah yang namanya pacaran ; hubungan cinta lawan jenis diluar pernikahan. Mencintai dalam Islam adalah ketika kita berani untuk menikahi. Sedangkan banyak yang berpendapat, mencintai tidak tentu harus menikahi (bila belum siap). Dengan kata lain, aktivitas pacaran adalah proses cinta itu. Saya pernah mencoba mencari sejarah istilah pacaran yang hingga sekarang belum saya temukan. Tetapi saya berprasangka, bahwa aktivitas pacaran itu baru ada sejak abad 20. Kalau dulu, kakek nenek kita dan orang-orang dahulu ketika sudah dewasa langsung dinikahkan. Dan sejak berabad-abad lalu, dari awal umat manusia lahir di bumi, proses terbentuknya ikatan keluarga pasti melalui proses perjodohan. Atau sederhananya ketika suka langsung dinikahkan. Dengan kata lain, tidak ada proses hubungan cinta lawan jenis dalam waktu yang lama diluar ikatan perkawinan. Ini hanya prasangka saya saja dari melihat cerita-cerita sejarah. Baik dari kisah-kisah Islam berdasarkan riwayat hadist dan ulama maupun kisah-kisah kerajaan masa lalu yang sering menjodohkan anak-anaknya dengan berbagai tujuan. Baik tujuan politik, membina hubungan kekerabatan dua kekeluargaan hingga tujuan ekonomi. Kecuali hubungan seks diluar nikah yang sudah ada sejak dulu.
Tidak bisa kita pungkiri, setiap manusia yang akan masuk ke tahap pendewasaannya akan mengalami proses dimana keinginan dan hasrat untuk saling berbagi dan berkasih sayang akan muncul. Namun, hasrat tersebut terhalangi oleh kemampuannya untuk bisa menikah. Entah masalah umur, mental, dan uang khususnya. Sehingga hasrat tersebut dilampiaskan dengan aktivitas yang namanya pacaran. Lalu, salahkah dengan pacaran? Banyak alasan anak muda seperti saya (ya, saya masih muda dan belum menikah, hehehe..) melakukan aktivitas itu. Seperti untuk lebih mengenal pasangan sebelum menikah apakah cocok atau tidak, sekedar mencari teman curahan hati, atau bisa juga hasrat seksual yang menggebu. Saya tidak akan menerangkan hukum pacaran dalam sudut pandang syariat tetapi mencoba menerangkan efek dari aktivitas pacaran tersebut dari sisi ilmiah khususnya ilmu psikologi baik dari hasil diskusi ilmiah di kampus saya dan penelitian yang saya dapatkan dari beberapa literatur di internet.
***
Dalam sebuah diskusi di kampus saya yang digagas oleh HMI Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya UIIpada bulan Maret 2009 lalu. Seorang dosen Psikologi UII, Irwan Nuryana, menyatakan bahwa pernikahan yang hebat dibangun oleh sebuah komitmen yang kuat, yakni komitmen yang kokoh yang tidak mampu diubah oleh apapun yang disebut sebagai komitmen etik. Sedangkan pacaran hanya mampu membangun komitmen-komitmen jangka pendek. Begitu kebutuhan seseorang sudah tidak terpenuhi oleh pasangannya, maka ia akan mudah untuk pindah ke orang lain.
Irwan Nuryana sangat prihatin dengan maraknya fenomena pacaran di kalangan anak muda saat ini. Berdalih untuk menunjukkan kesungguhan cinta terhadap pasangannnya, tak jarang ia bersedia melakukan apapun termasuk memberikan kehormatannya tanpa berpikir panjang kepada sang pacar. Padahal cinta sejati seharusnya justru berusaha melindungi pasangan dari hal-hal yang merugikan, baik secara fisik, emosi, sosial maupun spiritual.
Dia juga menunjukkan bukti penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan yang menyatakan bahwa kohabitasi yang ada hanya akan merusak pernikahan dan meningkatkan terjadinya perceraian. Pacaran juga ditengarai sering menciptakan sebuah lingkungan artificial (kepura-puraan) untuk mengevaluasi karakter pribadi orang lain. ”Para peneliti/Ilmuwan menyimpulkan alasan utama mengapa pacaran menyebabkan banyak pernikahan yang gagal adalah fungsi yang disediakan oleh pacar dan jodoh berbeda secara fundamental. Pacar biasanya dipilih karena pacar tersebut secara fisik menarik sementara jodoh dipilih karena jodoh tersebut secara psikologis bertanggung jawab. Sayangnya, kebanyakan individu-individu yang menarik seringkali tidak cukup bertanggung jawab, sedangkan individu-individu yang bertanggung jawab seringkali secara fisik kurang menarik.” ucapnya.
Selain itu, dalam pendapat penelitian yang lain juga menyimpulkan tentang pacaran ini dapat mengurangi kepuasan menikah yang artikelnya saya copykan di bawah ini.
Gupta & Singh (Miller, Perlman, Brehm, 2007) melakukan studi yang membandingkan cinta romantis antara orang-orang yang menikah karena cinta, dijodohkan, dan hidup bersama tanpa nikah selang mereka hidup bersama selama sepuluh tahun. Beberapa hal yang menyebabkan hal ini adalah masing-masing pasangan pada saat berpacaran mengagumi pasangannya dan meminimalisasi hal-hal yang kurang pada diri pasangan, setelah menikah mereka mengalami realita kehidupan, fantasi hilang, tidak ada lagi atau menurun perasaan cinta romantis. Selanjutnya adalah hal baru. Pengalaman baru dalam menjalin cinta menimbulkan semangat dalam cinta romantis. Jikalau hal-hal baru ini sudah tidak ada maka cinta romantis akan berkurang. Terakhir adalah adanya penurunan arousal, yang mengakibatkan menurunnya frekuensi berhubungan seks. Dari uraian ini dapat ditarik bahwa terbukti pacaran hanya akan mengurangi kepuasan menikah pada saat pasangan tersebut menjalani kehidupan besama. Karena hal-hal seperti fantasi, hal-hal baru dan arousal hanya akan terdapat pada pasangan yang menikah tanpa berpacaran.
***
Apakah hasil penelitian itu bisa dibantahkan? Nyatanya, orang tua saya menikah dengan melalui proses pacaran yang cukup lama terlihat biasa saja. Walaupun sering terjadi pertengkaran, tetapi ketika umur semakin tua kemesraan itu masih terlihat hingga Bapak saya wafat. Ya mungkin ini hanya satu contoh keluarga yang sukses barang kali. Kita bisa lihat di negara-negara Eropa dan Amerika yang tingkat perceraiannya cukup tinggi. Banyak data-data statistik yang menunjukkan di negara modern dan berpaham liberal tersebut memiliki jumlah populasi orang tuanya lebih banyak dari pada generasi mudanya. Hal ini disebabkan kehidupan mereka yang lebih suka memelihara hewan dari pada mempunyai anak. Dan juga lebih suka menjalin hubungan tanpa pernikahan. Apakah kejadian ini berkorelasi dengan penjelasan hasil penelitian di atas?
Bisa jadi, dampak-dampak hubungan cinta lawan jenis diluar nikah yang menurut ustad-ustad kita diharamkan merupakan permasalahan sosial dalam bentuk penyimpangan moral. Sehingga ustad-ustad tersebut mengatakan bahwa syariat Islam-lah solusinya. Maka dalam masalah percintaan, pernikahan yang sesuai syariat melalui proses ta’aruf-lah solusinya. Proses ta’aruf yang sesuai dengan syariat bisa Anda lihat dengan cerita yang dikisahkan dari kedua novel atau film (kecuali film AAC –yang bullshit) kang Habiburahman yang saya singgung di atas.
Di film KCB kita bisa melihat bagaimana si Azzam berusaha mencari cintanya atau jodohnya dengan melamar ke sana-sini. Tanpa mempedulikan dia jatuh cinta dulu sebelumnya, yang penting calon istri yang ia inginkan adalah sesuai dengan apa yang ia harapkan, yaitu sholehah, enak dipandang, dan mau menerima pinangan dari sang lelaki. Prosesnya pun, pihak laki-laki langsung bertemu wali perempuan (orang tua biasanya) untuk menyatakan lamaran. Tidak langsung meminta ke perempuan. Dan jelas digambarkan dalam film tersebut bahwa wanita punyak hak untuk menolak dan menerima lamaran laki-laki yang melamar. Tidak seperti yang sering digambarkan dalam film-film yang sering memojokkan Islam, yaitu perempuan harus taat dan patuh pada keputusan orang tua dan tidak boleh menolak. Seperti pada kisah Siti Nurbaya.
Rosulullah pun ketika beberapa sahabat ingin melamar putrinya, Fatimah, harus bertanya dahulu kepada Fatimah, apakah ia mau atau tidak. Kisah itu bisa dilihat pada kisah cinta Ali dan Fatimah,, dimana Fatimah, melalui Rasulullah lebih memilih Ali dari pada sahabat Rasul lainnya. Dikarenakan sebelumnya Fatimah, pernah suka pada pemuda yang bernama Ali. Begitu juga dengan Umar bin Khatab yang pernah menyatakan ingin menikahi seorang perempuan kepada Rasulullah, dan Rasul pun menyuruhnya melihat dulu perempuan tersebut, apakah ia suka atau tidak. Dari kisah ini bisa dilihat bahwa Islam juga mempunyai yang namanya hak asasi dalam memilih jodoh. Tidak seperti cerita-cerita yang sering menyudutkan Islam.
***
Lalu, Apakah menikah tanpa pacaran dapat menumbuhkan rasa cinta bagi pasangan tersebut atau dapat melanggengkan pernikahan? Berikut artikel yang saya kutip mengenai kehidupan pernikahan tanpa pacaran :
Ada beberapa penelitian tentang ta’aruf sebagai proses menuju pernikahan. Penelitian Rubby (2005) yang berjudul “Gambaran Psychologycal Well-Being Mahasiswi yang Menikah tanpa Pacaran” menunjukkan bahwa masing-masing responden mempunyai kesejahteraan psikologis yang baik. Kesejahteraan psikologis (psychological well-being) merupakan pengungkapan perasaan-perasaan pribadi atas apa yang dirasakan individu sebagai hasil dari pengalaman hidupnya. Sementara itu, penelitian lain yang berjudul “Gambaran Cinta pada Pasangan yang Menikah Tanpa Pacaran” menunjukka hasil bahwa masing-masing pasangan mempunyai komitmen yag terlihat jelas untuk membentuk dan mempertahankan rumah tangganya (Adiningtyas, 2004). Hal ini menunjukkan bahwa cinta yang berkembang setelah pernikahan dengan proses ta’aruf tidak mengalami hambatan.
Penelitian lain mengenai penyesuaian perkawinan pada pasangan yang menikah tanpa pacaran menunjukkan hasil bahwa pasangan tidak mengalami kesulitan dalam melakukan kesepakatan-kesepakatan kehidupan rumah tangga. Artinya, penyesuaian yang dialami berjalan lancar wlaupun ada pasangan yang belum mengenal sama sekali sebelum mereka menikah (Hendrawan, 2004).
Tanpa hasil penelitian tersebut, secara kasat mata kita bisa melihat dari kehidupan rumah tangga para kiyai, ulama, ustad, santri dan orang-orang ‘berjanggut’ atau para istri yang berjilbab lebar yang terlihat jarang terjadi perceraian dan masalah rumah tangga. Berbeda dengan para artis kita yang hidupnya penuh dengan teriakan kebebasan, dunia glamor, berpenampilan pop dan selalu menganggap orang modern, malah sering terjadi kasus perceraian.
***
Kemudian, bagaimana dengan cinta itu? Apakah hanya sekedar identitas dalam sebuah hubungan lawan jenis ataukah cinta merupakan bagian dari makna kehidupan? Meskipun tanpa definisi yang jelas, cinta merupakan akar kebahagiaan. Bagi orang yang berpacaran, cinta adalah identitas hubungan mereka. Cinta terkadang memberikan makna kebahagiaan, namun terkadang juga sebagai penderitaan, kebimbangan, dan kehancuran. Dikarenakan kebahagiannya hanya sesaat, lemah dalam ikatan komitmen, ditelan oleh waktu yang terus mencari yang terbaik, dan di situ nafsu juga bermain.
Bagi orang yang taat dalam syariat Islam, maka cinta adalah pengorbanan dan motivasi untuk menjalankan ketaatan, yaitu ketaatan kepada Allah swt, sang pemilik cinta. Dan pernikahan hanyalah salah satu fase cinta yang mesti dilewati. Karena masih ada cinta lain yang akan menunggu. Dimana kita akan menemukan makna kehidupan. Kehidupan yang membuat kita akan merasakan kebahagiaan abadi.
Sekali lagi, cinta tidak punya definisi yang pasti, namun merupakan akar dari kebahagiaan. Kebahagiaan seperti apa? Semuanya tentu punya pilihan, antara kesempatan dan keinginan.
***
Sebagai penutup berikut saya berikan kisah berjudul Filsafat Cinta yang saya kutip dari sebuah blog :
Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya? Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta"
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?" Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatang pun pada akhirnya"
Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,"Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"
Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?" Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"
Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"
Refrensi :
http://pedulipolitik.multiply.com/journal/item/50/Pacaran_Sebelum_Menikah_Perlukah
http://fathiana.multiply.com/journal/item/111/Nulis_Karya_Ilmiah
http://fpscs.uii.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=107&Itemid=45
http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/sastra-indonesia/article/view/59
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.