
Setelah menunggu penantian yang panjang, akhirnya keinginan untuk bisa sampai pada puncak Gunung Lawu tersampaikan. Tepatnya siang hari sekitar pukul 12.30 tanggal 2 Januari 2010, saya berhasil mencapai tugu Argo Dumilah, yang merupakan lambang puncak dari Gunung Lawu. Di situ tertera tulisan yang menunjukan ketinggian puncaknya setinggi 3265 DPL. Pertama kali saya mendaki gunung adalah Gunung Merbabu pada 17 Agustus 2007 yang lalu. Dan Gunung Lawu ini adalah gunung kedua yang saya daki. Kalau jalur pendakian Merbabu bisa dikatakan memiliki jalur yang cukup ngetrack, berbeda dengan pendakian Lawu. Melalui base camp Cemoro Sewu kita bisa melalui jalur pendakian yang sudah tertata rapi dengan jalan berbatuan yang bertangga. Walaupun begitu, saya rasa jalur Cemoro Sewu ini sangat menguras tenaga. Karena, kita akan selalu menapaki tangga hingga beberapa kilo meter tanpa jalan yang landai.
Rencana awal sebenarnya, saya dan teman-teman lainnya yang berjumlah 4 orang termasuk saya, ingin merencanakan tahun baru 2010 ini di gunung tersebut. Rencana tersebut tertunda menjadi kesokan harinya dengan alasan persiapan perlengkapan yang akan di bawa belum siap sepenuhnya. Karena kita harus mempersiapkan beberapa alat camping seperti tenda, sleeping bad, carier, dan lain-lain. Berbeda ketika mendaki Merbabu kemarin, saya tidak membawa itu semua. Hanya berbekal tas ransel yang berisi minum dan makanan serta jaket. Kali ini memang cukup spesial yang akan kita bawa. Musim hujan dan kondisi cuaca dingin di atas nanti yang membuat persiapan dan perlengkapan yang akan kita bawa benar-benar sempurna. Satu hari sebelum kita naik, terdengar berita ada korban meninggal di gunung itu. Beritanya sih meninggal karena kedinginan dan kehabisan makanan akibat tersesat karena tidak melalui jalur yang resmi. Hal itu membuat kita benar-benar antisipasi, banyak makanan yang kita bawa. Dan walaupun mendengar berita tragis tersebut, tetap kami hiraukan dan terus melanjutkan keinginan kami. Musim hujan bukan halangan untuk melatih nyali mendaki gunung.
Tepatnya Jumat siang pada tanggal 1 Januari 2010 setelah Sholat Jumat kita mulai berangkat dari rumah kontrakan di Jogja menuju Solo dan kemudian menuju Tawang Mangu. Diantara kita sebenarnya tidak tahu jalan, hanya berbekal petunjuk jalan dan bertanya akhirnya sampai juga kita di base camp pendakian Lawu Cemoro Sewu. Perjalanan itu juga sempat di sapa hujan yang cukup deras ketika telah memasuki daerah Tawang Mangu. Tiba di Cemoro Sewu ketika Magrib, istirahat makan malam dan sholat sebentar, lalu setelah waktu Isya kita mulai mendaki. Walaupun malam, pendakian ini ternyata tidak terlalu membutuhkan senter. Karena sinar bulan purnama cuku menerangi jalan. Sebenarnya, sekitar 200 meter dari Cemoro Sewu juga ada jalur pendakian yang lain, namanya Cemoro Kondang. Walaupun hanya berjarak 200 meter, kedua tempat itu sudah berbeda profinsi, Cemoro Kondang masuk Jawa Tengah, sedangkan Cemoro Sewu masuk Jawa Timur. Kita lebih memilih Cemoro Sewu yang jalurnya lebih pendek dibanding Cemoro Kondang.
Seperti yang saya katakan di atas, jalur Cemoro Sewu ini penuh dengan tangga yang sangat curam, berliku-liku, tanpa jalur landai. Energi sangat terkuras, napas ngos-ngosan. Karena saya tidak terlalu kuat stamina dan napas yang pendek, akhirnya perjalanan sering berhenti untuk istirahat. Waktu yang membahagiakan adalah ketika menemukan post peristirahatan. Karena di situ kita akan menemukan warung makan. Karena kelelahan itu juga akhirnya kita sempat istirahat sekitar 5 jam, dengan tidur 3 jam. Sisanya digunakan untuk masak makanan dan membangun tenda. Tepat sekitar pukul 10 pagi, kita melanjutkan perjalanan hingga akhirnya saat tengah hari dapat mencapai puncak.
Puncak gunung memang tempat yang menyenangkan untuk rekreasi. Pemandangannya begitu indah. Posisi awan yang cukup dekat sekali. Sehingga kita bisa merasakan alirang angin yang begitu sejuk ketika awan lewat melalui kita. Yang saya heran dari gunung ini adalah, sekitar beberapa ratus meter atau mungkin ada sekilo lebih, terdapat rumah dan warung makan. Jadi Anda jangan takut kelaperan di sana, bila ngantuk juga bisa istirahat di rumah tersebut yang disediakan secara gratis oleh pemiliknya. Anehnya lagi, dengar-dengar dari cerita sesama pendaki, rumah itu juga ada listriknya, bisa nonton tv, dan terdapat sinyal Hp yang penuh. Pemiliki rumah itu namanya Mbo’ Yem. Orang-orang yang sering mendaki Lawu pasti kenal Mbo Yem, Sudah bertahun-tahun mbo’ tersebut tinggal di situ. Dia hidup dibantu oleh anak dan saudaranya yang lain, seperti membawa makanan dan solar untuk genset. Karena listriknya dari genset. Tapi sayang sekali, saya tidak ada gambar foto rumah tersebut, mungkin kapan-kapan bila saya mendaki ke sana lagi akan memotretnya, kalau perlu ingin merasakan tidur di sana.
Mendaki gunung adalah kegiatan yang sangat dan sangat melelahkan. Ketika dalam perjalanan pasti kita akan merasakan penyesalan, seperti rindu tempat tidur. Tetapi bila sudah sampai puncak terasa sekali kebahagiaan itu. Untuk kali ini, saya merasa sedikit kapok, karena awalnya sempat meremehkan jalur pendakian yang sduah tertata, tapi nyatanya cukup menguras tenaga. Apalagi ketika turun, membuat kaki sangat sakit dan keram. Karena harus menghentakkan kaki ketika menuruni tangga sejauh kiloan meter.
Merbabu sudah, Lawu sudah, selanjutnya gunung apa lagi ya...? kalau Bromo masuk hitungan gak??
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.