Senin, 01 Januari 2018
Move On di Tahun yang Baru
Posted under cerita ku with
Tidak ada komentar
Seperti setahun lalu menjelang pergantian tahun, kata-kata move on itu kembali terdengar. Pesan itu sama. Tapi beda sumber. Setahun lalu terdengar dari sebuah media, sore tadi dari seorang teman (ketika menulis ini di malam pergantian tahun ke 2018).
Tak ada yang berubah di malam-malam pergantian tahun. Bedanya, saat itu, ada seorang teman yang menyayangkan sikap saya harus meninggalkan daerah yang telah saya huni hampir 11 tahun. Orang-orang seperti saya, menurutnya, lebih pantas berada di kota yang selalu ramai dengan aktivitas pergulatan pemikiran, pertarungan gagasan, dan studi wacana. Bahkan, ada kawan yang lain menganggap saya sedang kalah. Seperti pulang dengan kekalahan.
Memang ada ragu ketika memutuskan pulang. Tapi pilihan itu sudah saya tekadkan. Bukan bermaksud ingin meninggalkan dunia literasi yang selama ini digeluti. Atau menjauh dari peradaban ruang pemikiran. Hanya ingin mengabulkan desakan ibu sejak 3 tahun sebelumnya meminta saya pulang.
Permintaan orang tua itu juga sejalan dengan pikiran jumud yang terus bersarang, mungkin ada 3 tahun hinggap. Rupanya, sejalan dengan ajakan move on, bahwa cara terakhir untuk move on adalah pulang. Pulang untuk merangkai gagasan baru.
Hantu dipikiran yang terus bergentayang nampak menjadi munculnya jumud selama 5 tahun terakhir sebelum keputusan pulang. Dia adalah hilangnya gagasan. Ditambah dengan rutinitas harian pekerjaan yang mengurung kreativitas. Pikiran saya menjadi rumit.
Fase pernah ‘terjatuh’ akibat sikap arogan soal asmara melahirkan sebuah pertanyaan besar tentang hakikat: bagaimana takdir itu bekerja. Ketakpuasan dari pencarian pada dalil-dalil normatif agama membuat pencarian itu ke ranah filsafat yang penuh dengan teori-teori spekulatif. Tentang penyikapan bagaimana ruang dan waktu bekerja di ruang realitas tak bisa dijawab secara logis dan realistis oleh para guru ngaji di halaqoh-halaqoh. Dan pikiran pun bertarung. Memahami bagaimana para tokoh pemikir barat menyusun konsep realitasnya tentang alam metafisik maupun fisik. Dari Sofisme Yunani hingga postmodernisme. Dari rumusan atom democritus sampai Humanisme dan Eksistensialime Satre. Tak ada jawaban memuaskan. Adanya saya menjadi gila.
Persoalannya tak hanya itu. Tak fokus pada obsesi yang dikejar juga melengkapi kejumudan. Bayangkan saja, semua profesi saya geluti. Dari web programer, design grafis, menulis, produksi film, event organizer, fotografer, jurnalistik, dsb.
Belajar agama juga tak terstruktur. Tiba-tiba senang dalami sebuah kasus fikih. Tiba-tiba senang dangan ilmu kalam. Tiba-tiba ingin menargetkan bisa hafal satu surat Al Baqarah tapi gak sampai-sampai (hingga sekarang). Bahkan, semua kajian berbagai harokah saya pelajari demi rasa penasaran.
Hingga pada suatu waktu sampai pada puncak kebingungan, saya mau jadi apa?
Kebingungan yang berkorelasi dengan pencarian hakikat takdir itu; apakah manusia sepenuhnya bebas memilih tanpa campur tangan keuatan dibalik realitas atau tak ada kebebasan sama sekali yang artinya takdir adalah ‘semacam kutukan’. Memang, persoalan dari pertanyaan saya ini menjadi perdebatan panjang antar mahzab ilmu kalam selama berabad-abad. Persoalan esensi dan eksistensi Tuhan dalam konsep realitas mutlak dan persoalan sifat wujud Allah selalu diperdebatkan hingga kini. Makanya antara Salafy dengan kalangan tradisional NU tidak pernah akur, saling mentakfirkan akidah diantara mereka.
Ada lagi soal pekerjaan. Intinya mencari penghidupan. Tapi seperti terkekang dengan rutinitas. Serasa seperti mesin. Gerakannya terlalu mekanik. Ada misi, tapi tak terinternalisasi dalam target pribadi. Selalu di depan layar komputer yang melelahkan. Berkomunikasi dengan berbagai stakeholder dari balik ponsel. Banyak pertemanan dengan pelanggan tapi tak pernah bertemu wajah.
Hingga masuk pada fase dimana pernah mengalami masa yang paling bete. Masa dimana ibadah menjadi malas. Fase dimana Tuhan pun ingin di lawan. Sepertinya memang benar, semua itu mungkin karena tidak taat dengan permintaan ibu untuk pulang.
Yang jadi soal, ketika pulang saya harus jadi apa. Pertanyaan ini terus muncul. Menjadi karyawan kantoran lagi pasti akan tambah jumud. Balikpapan juga seperti tak memberikan harapan ketika ingin bergelut di dunia literasi. Hingga sampai suatu titik saya termenung, melepaskan semua beban, bertobat atas kesalahan-kesalahan, dan berdoa memohon petunjuk.
“Eureka!!” kata Archimedes ketika berhasil menemukan teorinya.
Pikiran untuk pulang itu disambut pula dengan jawaban sederhana soal takdir. Pertanyaan intelektualku seperti terpecahkan. Datangnya seperti ilham. Tiba-tiba saja muncul dipikiran. Seperti mendapat petunjuk (hidayah). Jawaban yang realistis dan logis serta punya korelasi positif dengan dalil-dalil normatif Al Qur’an dan Hadist.
Di waktu itu pula saya mengenal dunia kopi yang sebelumnya tak pernah terpikirkan sama sekali bakal membuka kedai kopi. Mungkin ini adalah jawaban setelah beberapa tahun berdoa meminta petunjuk.
Lalu, di malam tahun baru setahun yang lalu saya tak punya gagasan apa-apa selain pulang dan membangun warung kopi. Sambil berharap, semoga itu pilihan saya untuk move on.
Tahun 2017 benar-benar menjadi masa yang baru bagi saya. Awal Februari menjadi warga Kota Balikpapan kembali. Awal Mei meracikopi memulai. Tak ada lagi filsafat, sesekali ingin mengkaji. Tak ada lagi rutinitas mekanik. Yang ada bagaimana ide-ide kreatif bisa dieksekusi. Yang paling penting saya menjadi lebih dekat dengan ibu. Tak lagi memikirkan siang atau malam ini mau makan apa, karena sudah tersaji di meja makan rumah. Ditambah hiburan dari keponakan, anaknya adik, yang sedang fase lucu-lucunya.
Tahun 2017 ini juga saya memiliki banyak teman baru. Jika pekerjaan dahulu banyak pelanggan yang hanya berkomunikasi melalui perangkat gadget dan aplikasi chat, maka kini tak ada lagi pertemanan di ruang maya. Warung kopi yang saya geluti membuat pertemanan dengan pelanggan menjadi nyata. Saya yang pada dasarnya adalah orang introvet, sulit bergaul dengan yang belum kenal, ‘dipaksa’ menjadi orang yang mudah bergaul. Menjadi orang yang bisa berbincang dengan siapa saja; apapun tipikalnya, apapun agamanya, apapaun ideologinya, semuanya menjadi teman. (baca aja: berkawan dari meja bar). Tidak semasa di Jogja ketika pertemanan masih sebatas teman-teman yang masih mau shalat saja.
Di luar bayangan saya sebelumnya bisa berteman dengan banyak wartawan lokal Balikpapan. Bercerita tentang media dan dunia tulis menulis menjadi nyambung. Bertemu dengan berbagai rekan sesama penyuka kopi. Berteman dengan para wanita yang senang nongkrong hingga tengah malam dengan asap rokok yang selalu mengepul.
Diantara mereka bukan hanya wanita tanpa ide. Sebagiannya adalah aktivis sosial. Yang mungkin langka ada di kota ini. Pernah berbincang dengan salah satu dari mereka soal sastra hampir 3 jam. Perbincangan yang menghabiskan 4 batang rokok untuknya. Di dunia kopi, saya banyak berteman dengan para wanita perokok. Sayangnya.
Mereka adalah pelanggan-pelanggan saya. Sebelumnya saya jarang memiliki pertemanan dengan orang-orang seperti ini. Meski mereka jauh dari agama, saya ingin tahu betul bagaimana sisi manusiawi mereka. Bagaimana mereka berpikir. Dan bagaimana mereka meyakini Tuhan. Masih adakah celah harapan untuk mereka berubah menjadi orang-orang yang dekat dengan agama? Adalah pertanyaan yang selalu muncul.
Dapat dikatakan, tahun 2017 adalah tahun dimana saya menemukan ruang sosial baru. Ruang sosial yang penuh dengan berbagai cara pandang manusia dalam melihat realitas metafisiknya. Dari orang-orang yang ‘katanya dicap radikal dalam beragama’ dan orang-orang yang sholat pun tak pernah.
Ingin lagi bisa bertemu. Menjadi pelanggan saya seperti pelanggan lainnya yang suka bercerita tentang pekerjaan dan kehidupan mereka. Untuk sekedar mengetahui bahwa bulan purnama sedang tidak tertutup awan. Atau berharap bisa berkali-kali bertemu.
Di 2018 saya secara pribadi tak punya target apa-apa. Move on adalah bagian dari pergerakan waktu itu sendiri. Kini posisi saya hanya melihat semesta tanpa waktu. Ingin mengalir seperti air yang bergerak dalam hukum kausalitas. Bukan pasrah kepada takdir, tapi saya mengerti bahwa pilihan-pilihan masa depan saya adalah ruang realitas itu sendiri.
Saya hanya ingin bertemu dengan banyak orang. Menjadi muslim seutuhnya yang terus beramal untuk agama ini selama nafas masih berkerja. Dan ingin bertualang dari Barat ke Timur Nusantara. Lalu menyusun cerita, bahwa cerita yang akan saya susun nanti sudah mutlak bagian dari kerja-kerja dimensi yang tersusun diantara partikel gelombang tanpa suara.
2018 selamat datang untuk petualangan ke Aceh, Lombok, dan pantai bersemi Banda Neira.
Sesekali nulis curhat :P
1 Januari 2018
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.