| foto: detik.com |
Kehadiran presiden RI itu mengagetkan saya. Tiba-tiba ia datang seorang diri ke warung makan tempat saya sedang mengisi perut. Herannya, ia datang dengan membawa banyak majalah. Pak presiden yang akrab dipanggil Jokowi itu pun langsung duduk di meja yang sedang saya tempati bersama tamu warung makan yang lain.
Tak ada protokoler. Tak ada ajudan ataupun pengawal. Pemilik warung juga terlihat akrab dengan Pak Jokowi. Seperti sudah biasa. Saya perhatikan, para pasukan pengawal presiden (Paspamres) hanya berada di luar. Hanya seorang diri, ia memesan menu sambil meletakan puluhan majalah yang ia bawa. Setelah saya lihat, ternyata majalah itu adalah National Geographic (NG), sebuah majalah ilmu pengetahuan yang cukup populer di dunia. Tanpa sungkan, saya pun meminjam salah satu majalah itu lalu membacanya. Pak Jokowi tidak keberatan.
Kemudian, saya berbicara dengan Pak Jokowi. Seperti kebiasaan saya sebelum-sebelumnya, setiap membaca majalah NG saya selalu menyampaikan ketakjuban dari gambar-gambar fotografinya. Pujian hasil fotografer majalah NG itu juga saya sampaikan ke Pak Jokowi. Ia juga merespon dengan baik. Beberapa obrolan tentang majalah ini kami bincangkan. Saya juga ceritakan kalau majalah NG ini penerbitannya di Indonesia satu grup dengan Kompas-Gramedia. Ternyata ia baru tahu. Dengan cukup bangga, saya menunjukkan pengetahuan saya kepada pak presiden tentang apa yang dibahas di majalah itu.
Anehnya, tak ada keinginan untuk foto-foto bareng. Apalagi selfie. Dengan tamu warung makan yang lain, kami hanya diskusi saja. Saya lupa apa saja yang di diskusikan saat itu. Saya tak cukup mengingat kuat, karena cerita semeja dengan Jokowi di warung makan ini terjadi di mimpi saya malam tadi (7/5/15).
Iya, ini hanya terjadi di alam mimpi. Saya juga heran, tak ada hujan, kecoa, laba-laba, apalagi angin tiba-tiba mimpi semeja makan dengan Jokowi. Meski Jokowi bukan pilihan saya saat pilpres lalu, juga jarang menulis kritikan dan keburukan beliau di media mana pun setelah jadi presiden, mengapa beliau muncul di alam mimpi saya. Saya juga jarang membicarakannya. Termasuk dendam karena jagoan saya kalah. Tentang gambaran mimpi yang mucul di warung makan, saya juga tak pernah meyakini kalau presiden dari PDIP itu adalah sosok sederhana.
Begitu juga dengan munculnya Majalah NG yang dulu pernah sempat berlangganan, tapi terhenti karena tidak kuat bayar. Memang sehari sebelum malam mimpi itu saya sempat membuka majalah Traveller, majalah bagian dari NG, yang ada di kantor. Tapi tak sampai kepikiran menjelang tidur.
Seperti itulah mimpi. Hadir tanpa diduga. Orang-orang yang sudah lama tak kita lihat atau pikirkan, kadang suka tiba-tiba muncul. Mimpi semeja makan dengan Jokowi ini pun sempat kepikiran terus di benak saya ketika bangun. Bukan kepikiran karena kemunculan dan sikapnya, tapi kepikiran dari pesannya kepada saya di akhir mimpi. Meski begitu, saya tak ingin sibuk mencari-cari arti (takwil) mimpinya dan mempercayainya. Apapun artinya, saya tetap menyerahkan masa depan hanya pada takdir Allah Swt. Yang penting berusaha dan beramal saja.
Sedikit yang saya ingat di akhir perbincangan dengan pak Jokowi, ia mengatakan, “Kamu itu pintar, sekolah lagi saja.” Setelah pesannya itu saya lupa, ucapan apa yang saya balas. Lalu beliau beranjak keluar setelah dipanggil ajudannya karena sudah waktunya rapat di istana. Dengan jelas juga saya saksikan rombongan pasukan pengawal di luar warung makan. Sekali lagi, itu hanya mimpi. Mimpi yang aneh dan lucu.
Wallahualam,
Nb:
Sebenarnya juga banyak mimpi-mimpi yang aneh, seru, dan bercerita menarik. Hanya ini saja yang saya ceritakan. Lainnya biar menjadi rahasia pribadi saya saja.
bang ridwan ada mimpiin smansa tidak? :p
BalasHapus@ibnubudiman, sudah terlalu sering mimpiin smansa :D
BalasHapuswoooo.. kirain beneran, jebul mimpi tho.. :D
BalasHapus