| ilustrasi: myindischool.com |
“Yang
kita hadapi saat ini yang terpenting hasil.” Ucap wali kelas saya 10 tahun lalu
di sebuah SMA Negeri favorit-elit di kota kelahiran. Saya benar-benar ingat,
ucapan itu dikatakan ketika menjelang terlaksananya Ujian Akhir Nasional. Ini
bukan sebuah kode tersirat, tapi benar-benar pernyataan eskplisit sebuah ajakan
yang diikuti dengan kalimat, “Kita semua harus saling kerjasama.”
‘Kerjasama’
di sini tidak bermakna positif, namun semacam agenda ‘konspirasi’ tingkat
sekolah demi menjaga prestise. Saya yang masa depannya di ujung tanduk ujian
ini, ajakan ‘kerjasama’ menjadi godaan
untuk ikut berpartisipasi. Di satu sisi senang terbantukan, di sisi lain
ada idealisme. Sebuah idealisme yang pernah membuat saya berdebat dengan seorang
kawan di sekolah tentang halal-haramnya mencontek setahun sebelumnya. Kata
kawan saya, tidak masalah mencontek jika ke dua pelaku sama-sama ikhlas dan
guru merestui, karena yang dilihat kerjasama dan saling tolong-menolong.
Perdebatan absurd ini memancing saya meladeni tentang itikad ‘tolong-menolong’
itu. Dengan kengototannya, ia yakin, selama perbuatannya adalah tolong menolong
saling membantu maka itu adalah kebaikan, apalagi jika guru ridho. Meski saya
kalah ngotot (karena yang dilawan perempuan, hahaha), saya yakin logika saya
memang. Tapi perdebatan itu tidak saya bahas di sini, lupa detailnya. Meski
saya tidak setuju dengan mencontek, tapi saya akui kalau dulu senang berikan
contekan, haha..
Kembali
ke soal ‘konspirasi’ sekolah tadi. Perkataan guru saya tadi memang serius,
bukan basa-basi. Ketika hari H, rencana itu bekerja. Jawaban ujian berkeliaran
melalui sinyal udara dan masuk ke handphone masing-masing anak. Ketika para
siswa pada membuka handphone-nya, guru penjaga hanya cuek saja. Saya yakin, ini
sudah ada akad kerjasama dengan penjaga ujian yang berasa dari sekolah
tetangga. Pertanyaannya, apa saya juga ikut membuka handphone? Hahaha.. hanya
tergoda membuka, tapi akhirnya tidak jadi. Jujur ini.. :D
Aksi
kecurangan seperti SMA saya dulu ternyata tidak disukai oleh anak-anak SMA
Negeri 3 Yogyakarta. Bocoran soal Ujian Nasional (UN) membuat Tsaqif, siswa
kelas XII, gerah. Dengan berani ia laporkan kebocoran itu dengan mengirim pesan
melalui email ke pihak UGM. Tidak hanya itu, apa yang ia kirimkan ke UGM juga
ia sebarkan ke jejaring sosial. Tindakannya itu cukup direspon dengan baik oleh
pihak-pihak yang berkepentingan. Tidak hanya Tsaqif, beberapa temannya yang
lain di SMA yang sama juga merasa kecewa dengan kebocoran soal itu. Seperti
yang ditulis Kompas (24/4/15) hal 12, bagi mereka kejujuran lebih penting dari
pada mendapat nilai yang bagus.
Berita
kebocoran soal UN di Yogyakarta sempat heboh beberapa pekan lalu. Dua daerah
yang sempat disorot tajam soal kebocoran soal UN adalah DIY dan DI. Aceh.
Pertanyaannya, mengapa hanya dua daerah ini yang begitu ramai. Bagaimana dengan
daerah lain?
Pertanyaannya
selanjutnya adalah mengapa bisa jadi kebocoran? Apakah ada pihak yang
menyengaja dengan tujuan ‘konspirasi’ tertentu atau ‘ketidak sengajaan’ pihak
penyelenggara yang lalai dalam menjalankan tugasnya?
Apapun
motifnya, entah sengaja atau tidak, setidaknya apa yang dilakukan Tsaqif dan
kawan-kawannya perlu diberi apresiasi. Keberanian ataupun kejujuran Tsaqif,
pasti akan berat kita lakukan jika seandainya kita berada di posisi yang sama.
Bagaimana tidak, Ujian Nasional cukup menentukan masa depan kita. Sistem
pendidikan yang dirancang oleh pemerintah negeri ini hanya menilai siswa dari
‘hasil’ nilai UN. Apresiasi dan penghargaan dari KPK pun menyambut Tsaqif dan
kawan-kawannya. “Mereka punya kesempatan untuk memanfaatka bocoran soal, tetapi
adik-adik itu memilih bersikap jujur,” Kata Pauline Arifin, perwakilan dari KPK
yang saya kutip dari Kompas.
Jika
Tsaqif dan kawan-kawannya mendapat apresiasi dari KPK, berbeda dengan kasus Ibu
Siami yang pernah saya singgung sedikit pada tulisan Mendidik Kejujuran (1) di
blog ini 4 tahun lalu. Ibu Siami sempat mendapat teror dan pengasingan karena
aksinya yang berani membongkar praktik kecurangan pelaksanaan ujian di sekolah
anaknya. Pujian akhirnya ia dapatkan setelah apa yang ia alami mendapat sorotan
media.
Banyak
orang yang masih mengangap kecurangan di dalam pendidikan adalah suatu yang biasa.
Ada juga sekolah yang sengaja membantu siswanya agar ‘mencontek’ saat Ujian
karena sikap protes pada sistem UN yang menekan mereka. Artinya, ada sumber
permasalahan utama yang menyebabkan lahirnya perilaku kecurangan di
sekolah-sekolah. Sistem pendidikan bisa menjadi soal. Memang sudah umum
diketahui, bahwa sistem pendidikan di Indonesia sejak jaman kolonialisme dulu,
atau sistem pendidikan barat pada umumnya, adalah sistem pendidikan yang
bertujuan melahirkan tenaga-tenaga terampil untuk kebutuhan tenaga kerja di era
industri dan kapitalisme. Pengetahuan kognitif lebih diutamakan dari pada
pendidikan yang bisa melahirkan manusia beradab. Berbeda dengan pendidikan Islam
yang selama berabad-abad dijalankan memiliki tujuan melahirkan insani yang
beradab. Maksudnya, inti dalam pendidikan
Islam sejak jaman Rasulullah adalah bisa melahirkan manusia yang berakhlak,
bermoral, dan mulia. Jika disederhanakan, mencari ilmu dalam islam adalah ilmu
untuk kehidupan, bukan ilmu untuk penghasilan. Selama ini kita mau sekolah dan
bayar mahal-mahal kuliah demi mendapatan selembar ijazah agar bisa mendapat
pekerjaan yang layak. Ilmu dan amal itu satu paket. Sekolah membentuk kita
berimu untuk amal individualis, bukan ilmu untuk amal sosialis.
Jadi
jangan heran, jika kita mengalami kondisi bangsa yang tak beradab seperti ini.
Praktek ketidakjujuran yang dimulai dari sekolah berefek pada sikap dan
perbuatan kita kelak. Sama hal, anak yang diberi makan makanan haram (atau dari
uang tidak barokah) berpengaruh pada moralitas perilakunya kelak kemudian hari.
Sikap ‘ketidakjujuran’ menjadi sistem perilaku yang dianggab biasa dalam
kehidupan sehari-hari.
Perbuatan
yang sebenarnya salah, karena sudah membudaya bisa dianggap suatu yang tidak
salah. Biarpun orang tersebut terlihat shaleh, dan rajin ibadah, jika tidak
mengetahui, biasa dianggap biasa. Seperti contoh, di pekerjaan saya sering
mendapat pemesanan buku dalam jumlah besar yang pembelinya meminta nota kosong.
Maksudnya, sang pembeli dari pihak yayasan, lembaga pemerintah, atau apapun,
membeli (membayar) dengan harga yag sudah kami diskon, namun mereka meminta
nota dengan harga bruto (belum diskon). Jelas, saya tolak permintaan ini. Kami
hanya memberikan nota/faktur sesuai jumlah uang yang kami terima. Malah,
kebanyakan yang melakukan adalah orang-orang muslim (yang terlihat) taat. Dengan
cara ini mereka bisa mendapat persenan dari kelebihan uang yang dianggarkan
untuk pembelian buku kebutuhan organisasi mereka.
Jika
masyarakat kita sudah didik dengan tidak jujur, bagaimana kita bisa
menghasilkan pemimpin yang jujur. Jika cara lulusnya saja sudah tidak barokah,
bagaimana dengan kebarokahan penghasilan kita yang bekerja dari ijazah yang
kita pakai? Itulah pentingnya pendidikan yang mengutamakan adab. Wallahualam,
Nb:
Untuk
memahami konsep Pendidikan Islam dengan pendekatan Adab, bisa pelajari
pemikirannya Syeikh Mohammad Naquib al-Attas.
Postingan
untuk untuk peringati Hari Pendidikan, 2 Mei 2015
Menulis
di kesunyian pelosok Desa Bungkuk, Kec. Parang, Kab. Magetan, Jawa Timur
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.