Sabtu, 02 Mei 2015

Mendidik Kejujuran 2

ilustrasi: myindischool.com
“Yang kita hadapi saat ini yang terpenting hasil.” Ucap wali kelas saya 10 tahun lalu di sebuah SMA Negeri favorit-elit di kota kelahiran. Saya benar-benar ingat, ucapan itu dikatakan ketika menjelang terlaksananya Ujian Akhir Nasional. Ini bukan sebuah kode tersirat, tapi benar-benar pernyataan eskplisit sebuah ajakan yang diikuti dengan kalimat, “Kita semua harus saling kerjasama.”

‘Kerjasama’ di sini tidak bermakna positif, namun semacam agenda ‘konspirasi’ tingkat sekolah demi menjaga prestise. Saya yang masa depannya di ujung tanduk ujian ini, ajakan ‘kerjasama’ menjadi godaan  untuk ikut berpartisipasi. Di satu sisi senang terbantukan, di sisi lain ada idealisme. Sebuah idealisme yang pernah membuat saya berdebat dengan seorang kawan di sekolah tentang halal-haramnya mencontek setahun sebelumnya. Kata kawan saya, tidak masalah mencontek jika ke dua pelaku sama-sama ikhlas dan guru merestui, karena yang dilihat kerjasama dan saling tolong-menolong. Perdebatan absurd ini memancing saya meladeni tentang itikad ‘tolong-menolong’ itu. Dengan kengototannya, ia yakin, selama perbuatannya adalah tolong menolong saling membantu maka itu adalah kebaikan, apalagi jika guru ridho. Meski saya kalah ngotot (karena yang dilawan perempuan, hahaha), saya yakin logika saya memang. Tapi perdebatan itu tidak saya bahas di sini, lupa detailnya. Meski saya tidak setuju dengan mencontek, tapi saya akui kalau dulu senang berikan contekan, haha..

Kembali ke soal ‘konspirasi’ sekolah tadi. Perkataan guru saya tadi memang serius, bukan basa-basi. Ketika hari H, rencana itu bekerja. Jawaban ujian berkeliaran melalui sinyal udara dan masuk ke handphone masing-masing anak. Ketika para siswa pada membuka handphone-nya, guru penjaga hanya cuek saja. Saya yakin, ini sudah ada akad kerjasama dengan penjaga ujian yang berasa dari sekolah tetangga. Pertanyaannya, apa saya juga ikut membuka handphone? Hahaha.. hanya tergoda membuka, tapi akhirnya tidak jadi. Jujur ini.. :D

Aksi kecurangan seperti SMA saya dulu ternyata tidak disukai oleh anak-anak SMA Negeri 3 Yogyakarta. Bocoran soal Ujian Nasional (UN) membuat Tsaqif, siswa kelas XII, gerah. Dengan berani ia laporkan kebocoran itu dengan mengirim pesan melalui email ke pihak UGM. Tidak hanya itu, apa yang ia kirimkan ke UGM juga ia sebarkan ke jejaring sosial. Tindakannya itu cukup direspon dengan baik oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Tidak hanya Tsaqif, beberapa temannya yang lain di SMA yang sama juga merasa kecewa dengan kebocoran soal itu. Seperti yang ditulis Kompas (24/4/15) hal 12, bagi mereka kejujuran lebih penting dari pada mendapat nilai yang bagus.

Berita kebocoran soal UN di Yogyakarta sempat heboh beberapa pekan lalu. Dua daerah yang sempat disorot tajam soal kebocoran soal UN adalah DIY dan DI. Aceh. Pertanyaannya, mengapa hanya dua daerah ini yang begitu ramai. Bagaimana dengan daerah lain?

Pertanyaannya selanjutnya adalah mengapa bisa jadi kebocoran? Apakah ada pihak yang menyengaja dengan tujuan ‘konspirasi’ tertentu atau ‘ketidak sengajaan’ pihak penyelenggara yang lalai dalam menjalankan tugasnya?

Apapun motifnya, entah sengaja atau tidak, setidaknya apa yang dilakukan Tsaqif dan kawan-kawannya perlu diberi apresiasi. Keberanian ataupun kejujuran Tsaqif, pasti akan berat kita lakukan jika seandainya kita berada di posisi yang sama. Bagaimana tidak, Ujian Nasional cukup menentukan masa depan kita. Sistem pendidikan yang dirancang oleh pemerintah negeri ini hanya menilai siswa dari ‘hasil’ nilai UN. Apresiasi dan penghargaan dari KPK pun menyambut Tsaqif dan kawan-kawannya. “Mereka punya kesempatan untuk memanfaatka bocoran soal, tetapi adik-adik itu memilih bersikap jujur,” Kata Pauline Arifin, perwakilan dari KPK yang saya kutip dari Kompas.

Jika Tsaqif dan kawan-kawannya mendapat apresiasi dari KPK, berbeda dengan kasus Ibu Siami yang pernah saya singgung sedikit pada tulisan Mendidik Kejujuran (1) di blog ini 4 tahun lalu. Ibu Siami sempat mendapat teror dan pengasingan karena aksinya yang berani membongkar praktik kecurangan pelaksanaan ujian di sekolah anaknya. Pujian akhirnya ia dapatkan setelah apa yang ia alami mendapat sorotan media.

Banyak orang yang masih mengangap kecurangan di dalam pendidikan adalah suatu yang biasa. Ada juga sekolah yang sengaja membantu siswanya agar ‘mencontek’ saat Ujian karena sikap protes pada sistem UN yang menekan mereka. Artinya, ada sumber permasalahan utama yang menyebabkan lahirnya perilaku kecurangan di sekolah-sekolah. Sistem pendidikan bisa menjadi soal. Memang sudah umum diketahui, bahwa sistem pendidikan di Indonesia sejak jaman kolonialisme dulu, atau sistem pendidikan barat pada umumnya, adalah sistem pendidikan yang bertujuan melahirkan tenaga-tenaga terampil untuk kebutuhan tenaga kerja di era industri dan kapitalisme. Pengetahuan kognitif lebih diutamakan dari pada pendidikan yang bisa melahirkan manusia beradab. Berbeda dengan pendidikan Islam yang selama berabad-abad dijalankan memiliki tujuan melahirkan insani yang beradab. Maksudnya, inti dalam pendidikan  Islam sejak jaman Rasulullah adalah bisa melahirkan manusia yang berakhlak, bermoral, dan mulia. Jika disederhanakan, mencari ilmu dalam islam adalah ilmu untuk kehidupan, bukan ilmu untuk penghasilan. Selama ini kita mau sekolah dan bayar mahal-mahal kuliah demi mendapatan selembar ijazah agar bisa mendapat pekerjaan yang layak. Ilmu dan amal itu satu paket. Sekolah membentuk kita berimu untuk amal individualis, bukan ilmu untuk amal sosialis.

Jadi jangan heran, jika kita mengalami kondisi bangsa yang tak beradab seperti ini. Praktek ketidakjujuran yang dimulai dari sekolah berefek pada sikap dan perbuatan kita kelak. Sama hal, anak yang diberi makan makanan haram (atau dari uang tidak barokah) berpengaruh pada moralitas perilakunya kelak kemudian hari. Sikap ‘ketidakjujuran’ menjadi sistem perilaku yang dianggab biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Perbuatan yang sebenarnya salah, karena sudah membudaya bisa dianggap suatu yang tidak salah. Biarpun orang tersebut terlihat shaleh, dan rajin ibadah, jika tidak mengetahui, biasa dianggap biasa. Seperti contoh, di pekerjaan saya sering mendapat pemesanan buku dalam jumlah besar yang pembelinya meminta nota kosong. Maksudnya, sang pembeli dari pihak yayasan, lembaga pemerintah, atau apapun, membeli (membayar) dengan harga yag sudah kami diskon, namun mereka meminta nota dengan harga bruto (belum diskon). Jelas, saya tolak permintaan ini. Kami hanya memberikan nota/faktur sesuai jumlah uang yang kami terima. Malah, kebanyakan yang melakukan adalah orang-orang muslim (yang terlihat) taat. Dengan cara ini mereka bisa mendapat persenan dari kelebihan uang yang dianggarkan untuk pembelian buku kebutuhan organisasi mereka.

Jika masyarakat kita sudah didik dengan tidak jujur, bagaimana kita bisa menghasilkan pemimpin yang jujur. Jika cara lulusnya saja sudah tidak barokah, bagaimana dengan kebarokahan penghasilan kita yang bekerja dari ijazah yang kita pakai? Itulah pentingnya pendidikan yang mengutamakan adab. Wallahualam,


Nb:
Untuk memahami konsep Pendidikan Islam dengan pendekatan Adab, bisa pelajari pemikirannya Syeikh Mohammad Naquib al-Attas.


Postingan untuk untuk peringati Hari Pendidikan, 2 Mei 2015
Menulis di kesunyian pelosok Desa Bungkuk, Kec. Parang, Kab. Magetan, Jawa Timur

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger