Sabtu, 11 April 2015

Ketika Guru Bangsa Tjokroaminoto Dikalahkan Furious 7


“Banyak yang berkata, jika ingin melihat masa depan  maka harus melihat masa lalu. Dulu kupikir itu bodoh. Sekarang aku sadar. Kita tak bisa lepas dari masa lalu.” Ucap tokoh Deckard Shaw yang membuka awal cerita film Fast & Furious 7. Kata-kata seperti inilah yang beberapa tahun lalu juga pernah terlintas dibenak saya. Masa lalu tidak bisa kita lepas. Masa lalu adalah sejarah. Seperti kata Bung Karno “Jasmerah” : Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Karena pengetahuan akan sejarah dapat menentukan jati diri. Maka, kita akan tahu bagaimana untuk melangkah ke masa depan. Tanpa pengetahuan sejarah, kita tak punya panduan. Itulah mengapa Al Qur’an, kitab umat muslim, banyak berkisah manusia-manusia masa lalu. Al Qur’an menjadi cara Allah melalui Rasulullah Saw untuk membentuk karakter umatnya.

Soal sejarah ini, ketika mendengar tokoh bangsa Tjokroaminoto yang akan difilmkan sekitar dua tahun lalu, rasa senang itu muncul. Jarang-jarang negeri ini melahirkan film para tokoh bangsa. Bermodal majalah edisi khusus tempo yang mengangkat tema tokoh Tjokroaminoto pada Agustus 2011, saya mulai mengenal lebih dalam sosok pembesar Sarekat Islam (SI) ini. Yang kemudian selanjutnya, beberapa buku baik dari tulisan Tjokro sendiri maupun sejarah-sejarah masa pergerakan saya beli. Sambil menanti tayangnya film yang dibuat oleh yayasan para turunannya (artis Maia Estianty adalah salah satu cicit dari Tjokro) dan di sutradarai Garin Nugroho.

Kamis, 9 April, kemarin adalah tayang perdana Film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Kesempatan menonton di hari pertama tak ingin saya lewatan. Mumpung hari kamis harga tiket XXI Rp 35.000. Meski ingin menontonnya malam hari, sejak siang saya sudah beranjak meninggalkan kantor menuju XXI untuk memesan tiket. Sapa tau kalau belinya malam takut kehabisan. Di situ saya kaget. Antrian panjang banget. Tapi saya yakin, ini bukan antrian film Tjokroaminoto, tapi Furious 7. Karena malas antri, lebih baik kembali nanti saja.

Sore harinya kembali sudah tidak terlihat antrian. Memang benar, antrian siang tadi adalah antrian untuk film Furious 7. 3 teater yang menayangkan Furious 7 malam itu sudah habis. Kagetnya lagi, ketika membeli untuk Film Tjokroaminoto, yang hanya satu teater, tayang perdana pula, hanya baru terisi 4 kursi. #DisituKadangSayaMerasaSedih

Harus diakui, film produk dalam negeri tidak bisa dibandingkan kualitasnya dengan garapan holywood. Selain jam terbang yang tinggi, modal produksinya cukup besar. Furious 7 bukan saja sebagai hiburan semata, namun merupakan elemen budaya pop dengan pesan-pesan tersirat yang bisa merasuk ke alam bawah sadar, atau bahasa sederhanannya; adanya budaya-budaya barat yang bisa ditiru generasi muda jika tidak dilihat secara kritis. Meski begitu, menurut saya Furious 7 (dan edisi-edisi sebelumnya) ceritanya tidak bagus-bagus amat, masih kalah dengan film-film garapan Christopher Nolan. Lalu heran, kenapa banyak yang suka.

Kekalahan jumlah penonton Tjokroaminoto dengan Furious 7 bisa jadi pemakluman juga bisa jadi permasalahan. Maklum karena dari sisi kualitas dan daya tarik kalah, bermasalah karena rendahnya minat generasi muda untuk mengenal tokoh bangsa yang pertama mencetuskan ide bernegara bagi masyarakat nusantara ini. Tampak, menonton Furious 7 lebih diutamakan dari pada adanya usaha untuk mengenal tokoh bangsanya sendiri.

Di buku-buku sejarah di sekolahan, tokoh yang begitu populer dalam mendirikan bangsa selalu tercatat nama Soekarno- Hatta. Jarang nama Tjokroaminoto masuk dalam pembahasan populer buku-buku sejarah. Jika diajarkan hanya sekedar pengenalan. Entah karena mungkin ia memperjuangkan Islam, atau  perannya yang tak terasa. Padahal, seperti yang saya katakan tadi, Tjokroaminoto-lah pencetus gagasan awal ide agar masyarakat kolonial hindia belanda bisa memiliki negara dan pemerintahan sendiri hingga bisa lahir negeri Republik Indonesia seperti sekarang ini. Perpolitikan rakyat mulai muncul dengan lahirnya Sarekat Islam di tahun 1912.

Sebagai penikmat sejarah dan sedikit mengetahui sejarah awal mula kemunculan Tjokroaminoto, film Guru Bangsa Tjokroaminoto ini memang banyak masukan catatan kritik saya. Terutama adegan-adegan yang semestinya tak perlu sehingga memakan durasi film. Kesan sebagai film sejarah yang serius sedikit berkurang. Padahal, banyak perjalanan hidup Tjokro yang lebih penting dan menarik bisa diangkat. Misal, ketika Darsono menyebarkan berita tentang Tjokroaminoto yang dituduh korupsi. Ada konflik menarik di sin yang bisa dikontekskan dengan kondisi saat ini. Atau juga tentang Semaoen (murid Tjokro) dan kawan-kawannya yang masih sangat muda (belasan tahun) sudah berhasil mengorganisir dan menggerakan ribuan buruh di Semarang sehingga membuat para pemilik usaha (modal) dan pihak pemerintah hindia kelabakan. Juga disayangkan, cerita film ini tidak sampai pada masa kongres ke 6 Sarekat Islam tahun 1921. Kongres ke 6 inilah konflik puncak perpecahan SI antara SI-Merah dengan SI-Putih. Perdebatan ideologis antara Semaoen dan Agus Salim menarik untuk diangkat. Bergesernya semangat Semaon menjadi radikal komunis menjadi kekecewaan bagi Tjokro.

Tidak hanya itu, soal sinematografi juga agak kurang memuaskan. Mungkin ini harus dimaklumi akibat keterbatasan dana sehingga kemampuan dan teknologi juga terbatas. Sinematografi ini sangat berpengaruh pada imajinasi penonton agar bisa merasakaan realitas suasana pada jaman itu.

Bagi yang tak mengerti sejarah masa itu, bisa jadi agak bingung melihat alur ceritanya. Apalagi memahami karakter tokoh-tokohnya. Karena kawan saya pun yang menonton kebingungan menyimpulkan inti cerita dari film ini. Terkesan film ini tidak tuntas. Mungkin maksudnya, mana awal konflik, mana konflik utamanya, dana mana akhir konfliknya. Setahu saya, memang kebanyakan film biografi datar sih, tidak seperti fim-film action.

Alur cerita kadang juga begitu cepat. Seperti pada tokoh Semaoen yang tiba-tiba langsung berubah sikap radikal tanpa ada proses gambaran bagaimana ia dibina oleh Sneevliet. Meski, tokoh Sneevliet juga dimunculkan, tapi lebih banyak diamnya. Begitu juga soal anak-anak kos di Gang Peneleh, Rumah Tjokro, yang tidak dimunculkan alasan mengapa ada kos-kosan tersebut. Tiba-tiba langsung muncul rumah yang ramai dengan anak-anak muda. Menarik disimak kritik Grace Natalie (Host TV One) dalam twiternya yang berkata, "catatan saya, peran Suharsikin isteri Tjokro nampaknya tidak ditempatkan cukup strategis (dalam film ini). Bukankah Rumah Gang 7 Peneleh tdk akan pernah menjadi kosan kalau bukan krn inisiatif Suharsikin yg ingin membantu ekonomi keluarga?" Menurut saya, sebagai penikmat film (dan pernah jadi produser film indie, hehe), Akan lebih baiknya film biografi seperti ini bisa dilengkapi narasi. Narasi bisa melengkapi kekurangan dari alasan sutradara yang harus membuat film ini dengan keterbatasan durasi.

Satu lagi, adanya adegan bernyanyi menjadi kesan seperti film drama musikal. Ini juga memakan durasi film. Lagu soundtrack Terang Bulan beberapa kali nampaknya dinyanyikan dalam penggalan cerita. Aneh saja, kisah Tjokro ini berada di tahun 19-belasan. Sedangkan lagu Terang Bulan baru pertama muncul tahun 1938. Tidak apa-apa sih, kalau hanya untuk hiburan. Lagunya juga bagus, saya suka. Hehe..

Harus  diakui, membuat film biografi dengan latar belakang sejarah tidak mudah. Tidak sembarang sutradara bisa mengerjakannya. Namun, dibalik kekurangannya juga tidak menyampingkan kelebihan. Secara akting saya akui sangat oke. Reza Rahadian sudah cukup bagus gayanya. Cara duduknya sudah benar-benar mirip Tjokro. Tidak tahu juga dengan gaya pidatonya, karena saya belum penah menyaksikan gaya pidato Tjokro. Penambahan karakter tokoh fiktif yang tampil secara dagel bisa menutup kebosanan alur cerita. Seperti tokoh komandan belanda yang gendut dengan tokoh tukang kursi dari rakyat jelata.

Kelebihan utamanya adalah bisa kita saksikan bagaimana awal munculnya Tjokro menjadi seorang pemimpin SI. Ia memang bukan pendiri. Kegelisahannya terhadap sikap kolonial sudah ia rasakan sejak muda. Pencarian sarana untuk berjuang ditampilkan di film ini. Kata Hijrah yag menjadi topik utama ceritanya cukup menjadi kekuatan ruh bagaimana gambaran seorang Tjokro sedang mencari jalan perjuangannya. Haji Samanhudi, sebagai pendiri SI juga ditampilkan. Juga diperlihatkan usaha Haji Samanhudi mengajak Tjokro untuk bergabung ke SI.

Yang menariknya lagi, hampir semua tokoh sejarah yang berada disekitar Tjokro saat itu muncul. Selain Agus Salim, Semaoen, Kusno, dan Seneevliet, dimunculkan juga tokoh-tokoh seperti Alimin, Darsono, Muso (yang kelak terkenal menjadi pemimpin pemberontak PKI di Madiun tahun 1948), Hasan Ali Surati (pengusaha Surabaya dari India), JP. Limburg Stirum (Gubernur Jenderal Hindia saat itu), hingga DA. Rinkes (Peneliti dari Univ. Leiden, sahabat Tjokro, yg juga penasehat urusan bumiputera dari pemerintahan Hindia) juga dimunculkan. Agak heran, tokoh Kartosuwiryo (yang dikenal sebagai Pimpinan DI/TII setelah Indonesia merdeka), tidak nampak. Padahal Kartosuwiryo juga salah satu anak didik Tjokro yang ngekos di Gang Peneleh, rumah Tjokro. Atau memang saya tidak tahu ada tokoh tersebut.

Guru Bangsa Tjokroaminoto memang di desain sebagai film drama biografi dengan setting sejarah, kolosal, dengan warna-warna kebudayaan Jawa. Film seperti ini memang tak banyak diminati selayaknya Furious 7 yang murni fiksi pop yang adegan-adegannya sangat mudah dicerna oleh imajinasi.  Padahal, banyak adegan-adegan di Furious 7 diperdebatan oleh para ilmuan terkhusus ilmuan Fisika di Ameria dan Eropa, apa mungkin adegan tersebut benar-benar bisa dilakukan dalam kehidupan nyata. Jawabannya sih sederhana: “namanya juga film.”

Apalagi soal cerita di Furious 7 tentang kehebatan teknologi “Mata Tuhan”. Secara dunia nyata, apaka teknologi ini memang ada atau hanya benar-benar fiksi kita tidak tahu. Yang jelas, kecanggihan-kecanggihan teknologi yang dimunculkan lebih menjadi daya tarik untuk menontonnya dari pada menonton film yang berasal dari kisah nyata, dan lebih mendidik.

Tapi itulah kekuatan media Holywood. Meski fiksi murni dan secara kualitas dan keseriuasan menggarap membuat produk yang mereka buat benar-benar sangat mempengaruhi generasi muda saat ini. Padahal berbagai hasil riset keilmuan komunikasi sudah membuktikan secara ilmiah bahwa film (sebagai alat komunikasi) sangat berpengaruh terhadap imajinasi seorang yang masuk ke alam bawah sadarnya. Hal ini bisa membentuk karakter. Belum lagi, sikap ketakjuban kita pada produk asing bisa menumbuhkan rasa inferior. Sehingga, sikap tak menujukkan apresiasi pada produk negeri sendiri berkurang. Tidak ingin menonton Guru Bangsa Tjokroaminoto dan lebih mengutamakan Furious 7 bisa jadi sikap inferior itu. Meski banyak kekurangannya, tetap apresiasi pada karya anak bangsa perlu digalakan, selama karya tersebut memberikan manfaat.

Jika tokoh bangsa ini mau digarap yang serius dengan modal yang besar, dan pemerintah juga ikut berperan, ada harapan kualitas film bisa menyaingi holywood sehingga mudah diminati generasi muda. Film dalam negeri saat ini belum banyak diminati karena peran pemerintah juga belum optimal menggarap seni dalam negeri untuk tujuan pembentukan karakter bangsa yang positif. Jika para tokoh bangsa bisa difilmkan, ada harapan, generasi muda akan mempunyai idola-idola dari para pahlawan bangsanya, dari pada mengidolakan arti-artis pop luar negeri. Inilah salah satu cara membentuk karakter bangsa. Seperti yang saya tulis di awal tulisan, bahwa masa lalu memiliki pengaruh untuk masa depan. Kata-kata pembuka pada film Furious 7 sudah membuka mata untuk menggalakan sejarah.

Wallahualam..

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger