Soal
sejarah ini, ketika mendengar tokoh bangsa Tjokroaminoto yang akan difilmkan
sekitar dua tahun lalu, rasa senang itu muncul. Jarang-jarang negeri ini
melahirkan film para tokoh bangsa. Bermodal majalah edisi khusus tempo yang
mengangkat tema tokoh Tjokroaminoto pada Agustus 2011, saya mulai mengenal
lebih dalam sosok pembesar Sarekat Islam (SI) ini. Yang kemudian selanjutnya,
beberapa buku baik dari tulisan Tjokro sendiri maupun sejarah-sejarah masa
pergerakan saya beli. Sambil menanti tayangnya film yang dibuat oleh yayasan
para turunannya (artis Maia Estianty adalah salah satu cicit dari Tjokro) dan
di sutradarai Garin Nugroho.
Kamis,
9 April, kemarin adalah tayang perdana Film Guru Bangsa Tjokroaminoto.
Kesempatan menonton di hari pertama tak ingin saya lewatan. Mumpung hari kamis
harga tiket XXI Rp 35.000. Meski ingin menontonnya malam hari, sejak siang saya
sudah beranjak meninggalkan kantor menuju XXI untuk memesan tiket. Sapa tau
kalau belinya malam takut kehabisan. Di situ saya kaget. Antrian panjang
banget. Tapi saya yakin, ini bukan antrian film Tjokroaminoto, tapi Furious 7.
Karena malas antri, lebih baik kembali nanti saja.
Sore
harinya kembali sudah tidak terlihat antrian. Memang benar, antrian siang tadi
adalah antrian untuk film Furious 7. 3 teater yang menayangkan Furious 7 malam
itu sudah habis. Kagetnya lagi, ketika membeli untuk Film Tjokroaminoto, yang
hanya satu teater, tayang perdana pula, hanya baru terisi 4 kursi.
#DisituKadangSayaMerasaSedih
Harus
diakui, film produk dalam negeri tidak bisa dibandingkan kualitasnya dengan
garapan holywood. Selain jam terbang yang tinggi, modal produksinya cukup
besar. Furious 7 bukan saja sebagai hiburan semata, namun merupakan elemen
budaya pop dengan pesan-pesan tersirat yang bisa merasuk ke alam bawah sadar,
atau bahasa sederhanannya; adanya budaya-budaya barat yang bisa ditiru generasi
muda jika tidak dilihat secara kritis. Meski begitu, menurut saya Furious 7
(dan edisi-edisi sebelumnya) ceritanya tidak bagus-bagus amat, masih kalah
dengan film-film garapan Christopher Nolan. Lalu heran, kenapa banyak yang
suka.
Kekalahan
jumlah penonton Tjokroaminoto dengan Furious 7 bisa jadi pemakluman juga bisa
jadi permasalahan. Maklum karena dari sisi kualitas dan daya tarik kalah,
bermasalah karena rendahnya minat generasi muda untuk mengenal tokoh bangsa
yang pertama mencetuskan ide bernegara bagi masyarakat nusantara ini. Tampak,
menonton Furious 7 lebih diutamakan dari pada adanya usaha untuk mengenal tokoh
bangsanya sendiri.
Di
buku-buku sejarah di sekolahan, tokoh yang begitu populer dalam mendirikan bangsa
selalu tercatat nama Soekarno- Hatta. Jarang nama Tjokroaminoto masuk dalam
pembahasan populer buku-buku sejarah. Jika diajarkan hanya sekedar pengenalan.
Entah karena mungkin ia memperjuangkan Islam, atau perannya yang tak terasa. Padahal, seperti
yang saya katakan tadi, Tjokroaminoto-lah pencetus gagasan awal ide agar
masyarakat kolonial hindia belanda bisa memiliki negara dan pemerintahan
sendiri hingga bisa lahir negeri Republik Indonesia seperti sekarang ini.
Perpolitikan rakyat mulai muncul dengan lahirnya Sarekat Islam di tahun 1912.
Sebagai
penikmat sejarah dan sedikit mengetahui sejarah awal mula kemunculan
Tjokroaminoto, film Guru Bangsa Tjokroaminoto ini memang banyak masukan catatan
kritik saya. Terutama adegan-adegan yang semestinya tak perlu sehingga memakan
durasi film. Kesan sebagai film sejarah yang serius sedikit berkurang. Padahal,
banyak perjalanan hidup Tjokro yang lebih penting dan menarik bisa diangkat.
Misal, ketika Darsono menyebarkan berita tentang Tjokroaminoto yang dituduh
korupsi. Ada konflik menarik di sin yang bisa dikontekskan dengan kondisi saat
ini. Atau juga tentang Semaoen (murid Tjokro) dan kawan-kawannya yang masih
sangat muda (belasan tahun) sudah berhasil mengorganisir dan menggerakan ribuan
buruh di Semarang sehingga membuat para pemilik usaha (modal) dan pihak
pemerintah hindia kelabakan. Juga disayangkan, cerita film ini tidak sampai
pada masa kongres ke 6 Sarekat Islam tahun 1921. Kongres ke 6 inilah konflik
puncak perpecahan SI antara SI-Merah dengan SI-Putih. Perdebatan ideologis
antara Semaoen dan Agus Salim menarik untuk diangkat. Bergesernya semangat
Semaon menjadi radikal komunis menjadi kekecewaan bagi Tjokro.
Tidak
hanya itu, soal sinematografi juga agak kurang memuaskan. Mungkin ini harus
dimaklumi akibat keterbatasan dana sehingga kemampuan dan teknologi juga
terbatas. Sinematografi ini sangat berpengaruh pada imajinasi penonton agar
bisa merasakaan realitas suasana pada jaman itu.
Bagi
yang tak mengerti sejarah masa itu, bisa jadi agak bingung melihat alur
ceritanya. Apalagi memahami karakter tokoh-tokohnya. Karena kawan saya pun yang
menonton kebingungan menyimpulkan inti cerita dari film ini. Terkesan film ini
tidak tuntas. Mungkin maksudnya, mana awal konflik, mana konflik utamanya, dana
mana akhir konfliknya. Setahu saya, memang kebanyakan film biografi datar sih,
tidak seperti fim-film action.
Alur
cerita kadang juga begitu cepat. Seperti pada tokoh Semaoen yang tiba-tiba
langsung berubah sikap radikal tanpa ada proses gambaran bagaimana ia dibina oleh
Sneevliet. Meski, tokoh Sneevliet juga dimunculkan, tapi lebih banyak diamnya. Begitu
juga soal anak-anak kos di Gang Peneleh, Rumah Tjokro, yang tidak dimunculkan
alasan mengapa ada kos-kosan tersebut. Tiba-tiba langsung muncul rumah yang
ramai dengan anak-anak muda. Menarik disimak kritik Grace Natalie (Host TV One)
dalam twiternya yang berkata, "catatan saya, peran Suharsikin isteri Tjokro
nampaknya tidak ditempatkan cukup strategis (dalam film ini). Bukankah Rumah
Gang 7 Peneleh tdk akan pernah menjadi kosan kalau bukan krn inisiatif
Suharsikin yg ingin membantu ekonomi keluarga?" Menurut saya, sebagai penikmat
film (dan pernah jadi produser film indie, hehe), Akan lebih baiknya film
biografi seperti ini bisa dilengkapi narasi. Narasi bisa melengkapi kekurangan
dari alasan sutradara yang harus membuat film ini dengan keterbatasan durasi.
Satu
lagi, adanya adegan bernyanyi menjadi kesan seperti film drama musikal. Ini
juga memakan durasi film. Lagu soundtrack Terang Bulan beberapa kali nampaknya
dinyanyikan dalam penggalan cerita. Aneh saja, kisah Tjokro ini berada di tahun
19-belasan. Sedangkan lagu Terang Bulan baru pertama muncul tahun 1938. Tidak
apa-apa sih, kalau hanya untuk hiburan. Lagunya juga bagus, saya suka. Hehe..
Harus
diakui, membuat film biografi dengan
latar belakang sejarah tidak mudah. Tidak sembarang sutradara bisa
mengerjakannya. Namun, dibalik kekurangannya juga tidak menyampingkan
kelebihan. Secara akting saya akui sangat oke. Reza Rahadian sudah cukup bagus
gayanya. Cara duduknya sudah benar-benar mirip Tjokro. Tidak tahu juga dengan
gaya pidatonya, karena saya belum penah menyaksikan gaya pidato Tjokro. Penambahan
karakter tokoh fiktif yang tampil secara dagel bisa menutup kebosanan alur
cerita. Seperti tokoh komandan belanda yang gendut dengan tokoh tukang kursi
dari rakyat jelata.
Kelebihan
utamanya adalah bisa kita saksikan bagaimana awal munculnya Tjokro menjadi
seorang pemimpin SI. Ia memang bukan pendiri. Kegelisahannya terhadap sikap
kolonial sudah ia rasakan sejak muda. Pencarian sarana untuk berjuang
ditampilkan di film ini. Kata Hijrah yag menjadi topik utama ceritanya cukup
menjadi kekuatan ruh bagaimana gambaran seorang Tjokro sedang mencari jalan
perjuangannya. Haji Samanhudi, sebagai pendiri SI juga ditampilkan. Juga
diperlihatkan usaha Haji Samanhudi mengajak Tjokro untuk bergabung ke SI.
Yang
menariknya lagi, hampir semua tokoh sejarah yang berada disekitar Tjokro saat
itu muncul. Selain Agus Salim, Semaoen, Kusno, dan Seneevliet, dimunculkan juga
tokoh-tokoh seperti Alimin, Darsono, Muso (yang kelak terkenal menjadi pemimpin
pemberontak PKI di Madiun tahun 1948), Hasan Ali Surati (pengusaha Surabaya
dari India), JP. Limburg Stirum (Gubernur Jenderal Hindia saat itu), hingga DA.
Rinkes (Peneliti dari Univ. Leiden, sahabat Tjokro, yg juga penasehat urusan
bumiputera dari pemerintahan Hindia) juga dimunculkan. Agak heran, tokoh
Kartosuwiryo (yang dikenal sebagai Pimpinan DI/TII setelah Indonesia merdeka),
tidak nampak. Padahal Kartosuwiryo juga salah satu anak didik Tjokro yang
ngekos di Gang Peneleh, rumah Tjokro. Atau memang saya tidak tahu ada tokoh
tersebut.
Guru
Bangsa Tjokroaminoto memang di desain sebagai film drama biografi dengan setting
sejarah, kolosal, dengan warna-warna kebudayaan Jawa. Film seperti ini memang
tak banyak diminati selayaknya Furious 7 yang murni fiksi pop yang
adegan-adegannya sangat mudah dicerna oleh imajinasi. Padahal, banyak adegan-adegan di Furious 7
diperdebatan oleh para ilmuan terkhusus ilmuan Fisika di Ameria dan Eropa, apa
mungkin adegan tersebut benar-benar bisa dilakukan dalam kehidupan nyata.
Jawabannya sih sederhana: “namanya juga film.”
Apalagi
soal cerita di Furious 7 tentang kehebatan teknologi “Mata Tuhan”. Secara dunia
nyata, apaka teknologi ini memang ada atau hanya benar-benar fiksi kita tidak
tahu. Yang jelas, kecanggihan-kecanggihan teknologi yang dimunculkan lebih
menjadi daya tarik untuk menontonnya dari pada menonton film yang berasal dari
kisah nyata, dan lebih mendidik.
Tapi
itulah kekuatan media Holywood. Meski fiksi murni dan secara kualitas dan
keseriuasan menggarap membuat produk yang mereka buat benar-benar sangat
mempengaruhi generasi muda saat ini. Padahal berbagai hasil riset keilmuan
komunikasi sudah membuktikan secara ilmiah bahwa film (sebagai alat komunikasi)
sangat berpengaruh terhadap imajinasi seorang yang masuk ke alam bawah
sadarnya. Hal ini bisa membentuk karakter. Belum lagi, sikap ketakjuban kita
pada produk asing bisa menumbuhkan rasa inferior. Sehingga, sikap tak menujukkan
apresiasi pada produk negeri sendiri berkurang. Tidak ingin menonton Guru Bangsa
Tjokroaminoto dan lebih mengutamakan Furious 7 bisa jadi sikap inferior itu. Meski
banyak kekurangannya, tetap apresiasi pada karya anak bangsa perlu digalakan,
selama karya tersebut memberikan manfaat.
Jika
tokoh bangsa ini mau digarap yang serius dengan modal yang besar, dan
pemerintah juga ikut berperan, ada harapan kualitas film bisa menyaingi
holywood sehingga mudah diminati generasi muda. Film dalam negeri saat ini
belum banyak diminati karena peran pemerintah juga belum optimal menggarap seni
dalam negeri untuk tujuan pembentukan karakter bangsa yang positif. Jika para
tokoh bangsa bisa difilmkan, ada harapan, generasi muda akan mempunyai idola-idola
dari para pahlawan bangsanya, dari pada mengidolakan arti-artis pop luar
negeri. Inilah salah satu cara membentuk karakter bangsa. Seperti yang saya
tulis di awal tulisan, bahwa masa lalu memiliki pengaruh untuk masa depan.
Kata-kata pembuka pada film Furious 7 sudah membuka mata untuk menggalakan
sejarah.
Wallahualam..

0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.