Senin, 03 Oktober 2011

Menyapa

ilustrasi : chamiem.malhikdua.com
Menyapa, nampaknya menjadi pekerjaan yang sulit. Bertemu dengan orang yang belum begitu kenal agak sulit rasanya untuk bisa bersikap layaknya seorang teman. Gagap sosial atau disebut juga sikap intovet nampaknya menjadi penyakit yang belum tersembuhkan sejak kecil. Bagaimana tidak, untuk menjawab telepon entah di rumah atau di kantor masih meminta orang lain untuk mengangkatnya. Begitu juga ketika ingin menelpon seseorang dalam urusan tertentu yang belum dikenal atau belum pernah ditelepon sekali pun, pasti ada saja rasa sulit untuk berbicara. Makanya terkadang saya lebih suka meminta untuk sms saja jika dalam urusan bisnis atau pekerjaan.

Bagi orang yang baru berteman dengan saya, atau orang-orang baru dalam sebuah lingkungan, pasti akan menganggap bahwa saya adalah orang yang pendiam. Kelemahan dalam berkomunikasi yang baik dan nyaman, nampaknya menjadi penghambat untuk ingin menjadi orang yang begitu cair di lingkungan sosial. Berbeda dengan lingkungan pada tema-teman yang sudah sangat akrab, berbicara apapun tidak ada masalah.

Hal inilah yang mengganggu dalam bersosialisasi di lingkungan tempat tinggal saat ini. Meski sering ke masjid untuk sholat, untuk bisa berkenalan dan bercengkrama dengan jamaah masjid tempat saya tinggal agak sulit. Padahal sudah setahun saya dilingkungan tempat saya tinggal. Makanya kalau berangkat sholat ke masjid selain sholat subuh sering menggunakan motor meski jarak hanya 200 – 300 meter. Sebab kalau subuh, jalan menuju ke masjid pasti sepi, jadi jalan kaki saja. Meski begitu, saat subuh kadang sering juga bertemu atau berpas-pasan dengan jamaah yang kebanyakan bapak-bapak dan ibu-ibu. Saya pun hanya bisa salam pendek. Atau yang pernah terjadi, mereka duluan yang menyalami saya. Padahal, dalam suasana itulah saya semestinya bisa akrab dengan sesama jamaah, seperti ngobrolkah, dan lainnya. Karena masalah saya adalah, bingung apa yang mau diobrolkan.

Bicara soal belajar menyapa, cukup menyenangkan ketika naik gunung. Menyapa orang-orang yang kita lewati dalam penrjalanan pendakian di gunung menjadi suatu budaya. Bahkan sudah menjadi suatu kewajiban. Tidak jarang ketika berpasan-pasan dengan kelompok pendaki lain saat beristirahat menciptakan kekeluargan yang begitu akrab. Karena perasaan senasib mendaki itulah mereka saling rela sampai harus membagi makanan yang dibawa. Pernah punya pengalaman, kelompok pendaki saya bertemu dengan pendaki seorang diri yang sedang banyak masalah (frustasi). Dalam perjalanan, ia banyak curhat tentang masalahnya, meski sebagai kawan baru kita pun rela mendengar curhatannya, dan alhamdulillah setelah selesai pendakian kita ditraktir makan. Lumayan untuk meghemat biaya. Maka, mendaki gunung salah satu upaya untuk belajar bersosialisasi.

Menyapa dan bergaul dengan berbagai macam orang sudah harus menjadi kewajiban untuk bisa diterima di lingkungan sosial. Apalagi sudah menyangkut urusan bisnis atau ingin membuat usaha, maka kekuatan jaringan untuk bisa mengenal orang-orang yang kita butuhkan untuk membantu usaha kita menjadi hal yang penting. Biasanya dalam hal ini, saya lebih suka mengajak teman yang sudah mengenal mereka untuk bisa mengenalkan ke saya. Atau pun, jika saya memiliki jaringan pertemanan dari orang-orang penting biasanya bisa kenal dari faktor orang ke tiga atau memang mereka duluan yang memulai berkenalan dengan saya.

Menyapa atau bersikap akrab dengan berbagai orang harus bisa dipaksa. Seiring berjalannya kedewasaan saya, berusaha berosialisasi menjadi proses belajar yang cukup panjang. Bersyukur, sejak SMA sudah terlibat di keroganisasian. Mendapat tugas dari teman-teman dalam kepanitiaan sudah cukup memaksa saya untuk bisa bertemu dengan orang-orang yang belum dikenal. Sebut saja mencari pembicara, sponsor dan pihak-pihak yang ingin diajak kerja sama.
Begitu juga saat masa kuliah, keaktifan diorganisasi kampus juga cukup membantu merubah sikap pendiam menjadi orang yang bersosial. Proses pembelajaran untuk mengenal dan akrab ke  berbagai orang dengan berbagai macam kapasitasnya cukup membantu pada perkembangan awal karir saya saat ini. Itulah untungnya saya aktif berorganisasi di kampus. Seandainya tidak, mungkin tidak sesibuk sekarang.

Namun, proses sikap bersosialisai itu semua masih dalam tahap kepentingan,  entah kepentingan organisasi, pekerjaan, bisnis, dan uang. Tantanganya adalah bisa mengenal orang baru, dan benar-benar baru atau orang-orang penting (pejabat misalnya) menjadi kenal secara personal di luar kepentingan tersebut. Memaksa diri untuk belajar bisa menyapa adalah keharusan  jika ingin sukses bergaul dilingkungan sosial. Apalagi harus berkenalan dengan perempuan yang belum dikenal (di luar kepentingan yang disebutan), nah ini dia masalahnya -_-".

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger