Minggu, 18 September 2011

Kontes Muslimah Beauty, Budaya Pop dan Komoditas Kapitalisme

ilustrasi : maritsaniswah.blogdetik.com
Ketika membaca surat kabar baik cetak maupun online pada Rabu (14/9/11) kemarin, ramai diberitakan sebuah acara kontes kewanitaan yang diselenggarakan selasa malamnya. Ajang Muslimah Beauty 2011 menjadi sorotan saya saat itu. Kaget, juga heran. Ditengah sedang ramainya pemberitaan Miss Universe, seolah seperti ada sebuah komunitas masyarakat di negara ini yang tidak mau ketinggalan. Kontes tersebut memang sudah lama diadakan, namun berita di hari itu membuat saya baru tahu ada kontes semacam itu.

Sebagai bagian dari acara Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFC), kontes Muslimah Beauty 2011 menurut penyelenggaranya bertujuan untuk mengangkat fashion budaya muslim di Indonesia. Muslimah Beauty menjadi sarana untuk menjaring ribuan muslimah agar berpartisipasi dalam menunjukkan identitas kemuslimahannya yang dapat tampil sesuai karakter  standar duta fashion muslim tersebut. Bisa mengaji Al-Qur’an dan berjilbab (gaya modis) menjadi syarat pembeda dari kontes Miss Universe. Menurut penyelenggaranya yang saya kutip dari Kompas.Com (14/9/11) bahwa kehadiran sosok duta fashion muslim menjadi inspirasi sekaligus representasi fashion busana muslim di Indonesia. Sosok duta inilah nantinya yang akan membawa nama besar Indonesia, terutama fashion busana muslim dan muslimah modern yang berprestasi dan bertalenta, dengan kepribadian Islami. Tampak, adanya upaya dari kalangan elite untuk mengangkat gaya berpakaian muslimah (baca : jilbab) ke ranah komoditas dan industri fashion.

Bicara fashion tidak lepas dari kajian budaya pop. Fashion memang diciptakan oleh kapitalisme sebagai komoditas budaya demi terbentuknya sikap konsumerisme. Sedangkan budaya pop yang diartikan sebagai budaya sesuai selera massa, menjadi sarana kapitalis untuk mengeruk keuntungan ekonomi.

Kontes kecantikan, peragaan busana, dan berbagai macam bentuk produk populer lainnya telah mendorong industri menciptakan pasarnya. Lemahnya daya kritis pasar membuat mereka terjebak mengikuti arus budaya yang terbentuk, sebut saja budaya konsumerisme. Budaya kosumerisme menciptaan masyarakat yang dapat kehilangan identitas dirinya. Mereka harus memuat kegiatan konsumsi dengan hasrat akan prestise, status, dan kesenangan (hedon). Budaya konsumerisme menjadi sarana pelepasan hasrat (nafsu) dan ketidakpuasan abadi terhadap objek komoditas. Sehingga, budaya kosumerisme menjadi ruang teror halus para korbannya untuk terus tidak puas, takut tidak bergaya, selalu ingin mengikuti trend, dan terus mengkonsumsi diluar kebutuhan hidupnya.

Fenomena jilbab pasca runtuhnya Soeharto berkembang pesat seiring dengan meningkatnya kesadaran keberislaman masyarakat di Indonesia. Jika sebelumnya jilbab hanya digunakan masyarakat santri, guru agama dan para ustadzah, maka saat ini jilbab menjadi trend anak muda, mahasiswi dan para ibu-ibu dengan berbagai gayanya. Jika berkaca pada industri jilbab, maka jelas akan adanya peningkatan permintaan. Nampaknya, trend yang muncul dari akar masyarakat ini dibaca oleh para elite kapitalis sebagai pasar prospektif yang ingin dikonstruksi menjadi budaya konsumerisme.

Kontes yang disponsori oleh perusahaan portal online terbesar yang baru saja dimiliki pengusaha kakap Khaerul Tandjung ini telah mengangkat simbol agama ke ranah budaya pop. Cita-cita untuk mengangkat fashion budaya muslim di Indonesia menjadi tujuan yang tidak lepas dari tuntutan pasar. Simbol-simbol agama menjadi perdagangan. Parahnya, bukan hanya bentuk artefak seperti model, warna, dan corak saja, namun wacana berupa standar muslimah ideal seperti bisa membaca Al-Qur’an, berprestasi, menguasai bahasa asing, dan mungkin ‘kecantikan’, juga menjadi tujuan komoditas. Sehingga, kontes seperti Muslimah Beuty merupakan bentuk reproduksi dan imitasi dari kontes Miss Universe (dan sejenisnya) yang notabene menjadi alat komoditas industri.

Membaca Budaya Pop
Seperti yang sudah diuraikan di atas, bahwa budaya pop adalah budaya yang terbentuk dari selera massa, sehingga budaya pop juga bisa disebut sebagai budaya masa.

Bagi Theodor Ardono yang saya kutip dari bukunya Yasraf Amir Piliang, Agama dan Imajinasi, mengatakan bahwa dalam meletakan posisi budaya pop, perlu membuat dua klasifikasi kebudayaan. Pertama, budaya tinggi, sebagai budaya yang memiliki standar tinggi yang diciptakan berdasarkan kemampuan kreativitas dan daya inovasi tinggi untuk menghasilkan sesuatu yang baru, orisinil, dan autentik. Kedua, budaya rendah, sebagai budaya yang memiliki standar kualitas, mutu, dan selera rendah yang mengandalkan pada teknik reproduksi, pengulangan, dan imitasi dari sesuatu yang telah ada sebelumnya. Budaya pop termasuk dalam kategori budaya rendah. Motif ekonomi-politik itulah yang menyebabkan budaya pop sebagai budaya rendah, karena diproduksi sesuai dengan selera massa untuk tujuan keuntungan. Tidak hanya itu, adanya penciptaan standarisasi dan pengendalian dari segelintir elite kapitalis seperti mengendalikan irama produk, gaya, dan estetikanya juga menjadi alasan berada pada posisi budaya rendah.

Masih dari buku Yasraf tersebut,  bahwa tidak dipungkiri pendekatan budaya dapat menjadi strategi dalam pembentukan makna dan tujuan. Lihat saja pada masa wali songo, pendekatan budaya rakyat (mengakomodasi elemen-elemen budaya lokal) berhasil memudahkan penyebaran agama islam. Tidak ada kontradiksi fundamental antara prinsip budaya lokal dan budaya islam. Namun dalam perkembangannya budaya populer memiliki model wacana yang berbeda dengan budaya rakyat yang digunakan dalam tradisi dakwah para wali. Tujuan dan motifnya budaya populer saat ini bukanlah pencarian terhadap dimensi-dimensi transedentalitas dan spiritualitas, melainkan dimensi-dimensi materialitas, kesenangan, dan profanitas. Perbedaan motif dan tujuan itulah yang menimbulkan kontradiksi kultural antara budaya populer dengan budaya agama.

Seperti jilbab yang masuk ranah fashion, maka yang dijual bukan lagi nilai, semangat ibadah atau tujuan mencari ridho Allah swt, tetapi style, style yang membentuk sebuah ideologi populerisme. Jilbab merupakan perintah tuhan yang diwajibkan oleh setiap muslimah melalui penjelasan teksnya di Al Qur’an. Dari perintah tuhan itu lahir sebuah budaya yang dikenakan oleh para muslimah sebagai wujud ketakwaannya. Ada nilai makna transendental dan spiritualitas disitu. Namun para elite kapitalis menjadikan jilbab sebagai budaya pop untuk membentuk ideologi populerisme demi tujuan dan motif ekonomi. Maka, terjadilah kontradiksi pemaknaan tersebut. Jilbab bisa masuk klasifikasi Ardono tadi ke dalam budaya rendah karena tujuan populerisme dan keuntungan (ekonomi).

Pada masalah ideologi populerisme, Yasraf juga mengatakan, ideologi populerisme telah menggiring berbagai wacana ke dalam berbagai bentuk pedangkalan, sifat permukaan, penampakan luar, dan sekedar perayaan citra. Ideologi populerisme merayakan citra ketimbang makna, kulit luar ketimbang isi, penampilan ketimbang esensi, popularitas ketimbang intelektualitas. Ideologi popularisme menghambat proses pencerahan atau iluminasi kebudayaan, dan menghambat pencarian identitas diri yang autentik disebabkan kebudayaan digiring ke arah perayan penampakan luar yang semu.

Dari pembacaan budaya populer ini maka kontes Muslimah Beauty membawa unsur-unsur ideologi popularitas. Unsur-unsur yang terbentuk dari hasil reproduksi dan imitasi. Serta, unsur-unsur yang hanya membawa wacana materialis, pembentukan citra, penampakan luar yang semu, hilangnya makna spiritual, menghilangkan identitas jati diri seorang muslimah, hingga hanya menjadi sarana prestise dan status. Budaya konsumerisme pun akan tercipta. Elite kapitalis mendapatkan sumber ekonominya.

Sebagai contoh. Munculnya trend jilbab ala Inneke Koesherawati, membuat segelintir muslimah berusaha mengikuti gaya tersebut sebagai upaya keinginan dan hasrat mengikuti trend yang sedang populer. Mereka akan berusaha menjadikan dirinya semirip mungkin denga artis tersebut. Hal ini akan berdampak pada kehilangan identitas jati dirinya. Jilbab yang mereka kenakan bukan lagi atas kesadaran nilai yang dianut melainkan telah menjadi sarana prestise dan status. Mereka berjilbab hanya menunjukkan penampakan luar tanpa makna spiritual dibalik keanggunan muslimah pada kain penutup aurat.

Hilangnya kesadaran nilai ini juga bisa membawa dampak yang lebih parah, yaitu fetisisime, atau bisa juga penghambaan. Budaya populer dapat menjadi sebuah penghambaan kepada simbol-simbol obyek populer yang dikejarnya. Penghambaan inilah yang mengarah kepada syirik.

Dampak dari ideologi konsumerisme apalagi. Mereka akan berusaha mengeluarkan uang yang dimiliki hanya untuk memuaskan hasratnya. Nilai-nilai kesadaran untuk memikirkan pentingnya pemahaman akan kebutuhan dari pada keinginan terhapus. Jilbab bukan lagi dianggap sebagai fungsi, melainkan sarana untuk aktualisasi, prestise dan status dari berbagai lahirnya gaya, mode, dan corak pada pakaian muslimah. Orang dikondisikan untuk menginginkan sesuatu yang tidak dibutuhkannya. Mengutamakan aktualisasi ketimbang kebutuhan utama inilah menjadi penyakit ekonomi sebuah masyarakat.

Yang perlu digaris bawahi, bukan berati perlu membangun anggapan bahwa jilbab sebagai budaya yang perlu dikritisi (untuk dilarang). Bukan juga berarti sebaiknya tidak berjilbab. Namun, ini menjadi pekerjaan rumah bagi para dai dan aktivis islam untuk merebut pemaknaan jilbab tersebut dari kungkungan kapitalisme. Jangan sampai aktivitas dakwah terjebak mengikuti arus budaya populer untuk tujuan komoditas, namun ada upaya gerakan dakwah menjadikan proses-proses kultural sebagai amunisi pelekatan makna praktik keagamaan dengan cerdas.

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.

Tentang Saya

Hanya seorang tukang seduh di warung kopi.

Baca Selengkapnya di sini

Copyright © Ridwan File's | Powered by Blogger