Perilaku jujur nampaknya sudah menjadi barang langka di negara ini. Mulai dari para pemimpinnya, institusi negara, institusi bisnis sampai masyarakatnya pun terkesan sudah tidak ada yang bisa dipercaya. Berbagai kasus yang muncul di media juga kita tidak tahu mana yang benar dan yang salah. Berbagai tindakan kejahatan korupsi menjadikan negara ini penuh dengan orang-orang yang kotor nuraninya. Rekayasa kebohongan yang dibentuk semakin membuat sikap skeptis meningkat. Sepertinya, sikap curang dan ingin menang sendiri alias tidak mau susah (berusaha) telah menjadi DNA masyarakat ini.
Munculnya jeritan Ibu Siami menjadi bukti itu. Gelar sebagai ibu kejujuran didapatkan setelah ia berhasil membongkar perilaku kecurangan dalam ujian di sekolah anaknya. Ditengah orang-orang-orang mendukung tindakan amoral tersebut, justru ibu ini berani melawannya. Anaknya yang pintar di sekolah dipaksa untuk memberikan jawaban Ujian Nasional ke teman-temanya. Rasa protes ibu Siami justru menjadi ancaman. Masyarakat sekitarnya merasa tidak suka atas jeritan kejujurannya. Ia di usir dari rumahnya. Dan akhirnya sekarang menjadi tekenal setelah diungkap di media masa karena di dzalimi.
Kasus ketidak jujuran dalam ujian ini mengingatkan saya pada 6 tahun silam. Saat menjalankan UAN di SMA, semua pihak di sekolah berkerjasama untuk menyukseskan ujian tersebut dengan cara yang curang. Demi menjaga nama baik sekolah saya yang dianggap sebagai sekolah favorit, semua pihak berusaha menihilkan satu orang pun yang tidak lulus. Caranya, para guru juga ikut mengerjakan soal dan menyebarkan jawabannya melalui SMS ke jaringan per kelas. Hampir semua anak yang memegang HP saat itu mendapatkan jawaban, baik dari guru maupun dari anak yang pintar. Penjaga ujian yang dari sekolah lain pun hanya diam, ya hanya diam karena sudah bagian dari proyek kerjasama tersebut.
Tidak hanya saat ujian, setelah selesai ujian pun ternyata tindakan kecurangan itu pun masih terjadi. Bagi yang merasa tidak yakin atas jawabannya dapat membetukan jawaban. Saya ingat sekali saat itu ketika ada anak yang jawabannya banyak salah dipanggil dan disuruh membetulkan. Saya sendiri pun akhirnya tergoda untuk ikut membetulan jawaban walaupu hanya satu dua. Sebelumnya ketika masih dikelas tetap berusaha komitmen untuk idealis dengan tidak melihat jawaban yang muncul di sms. Tetapi, ketakutan tidak lulus membuat tindakan setelah selesai ujian ini dilakukan.
Saya kira, ini hanya terjadi di sekolah saya saja. Ternyata, setelah lama lulus SMA, banyak berita-berita di media nasional mengabarkan kasus kecurangan ujian tersebut. Kasus Ibu Siami merupakan contoh terakhir yang menjadi hangat diperbincangkan.
Kalau begini jadinya, mana yang seharusnya disalahkan? Pelaku pendidik saja (guru) sudah mengajarkan anak didiknya untuk berperilaku curang. Di lain sisi, para guru pun juga tidak mau disalahkan. Mereka menganggap ini adalah sebuah kesalahan pemerintah yang tidak adil kerena standar kelulusan yang diberikan. Sehingga memaksa para guru untuk menyelamatkan siswanya dari ketidaklulusan.
Sayangnya, baik pemerintah maupun pelaku pendidik tidak sadar atas apa yang mereka lakukan terhadap dampaknya ke depan. Sistem pendidikan yang dibangun pemerintah harus memaksakan para guru mendidik dengan orientasi nilai pada anak didiknya. Sebut saja, berorientasi hasil dari pada proses. Sehingga, lahirnya generasi pragmatis. Generasi yang hilang nilai-nilai kejujuran, nilai kerja keras, dan nilai percaya dirinya. Tidak salah jika negara ini banyak terjadi tindakan amoral sosial, seperti korupsi, proses tender bisnis yang tidak bersih sehinga mengakibatkan banyaknya usaha bangkrut, pengerukan kekayaan alam sehingga terjadi bencana alam, produk-produk industri yang merusak para konsumennya dan berbagai kerusakan sosial lainnya. Semuanya itu saling berkaitan erat.
Bagi saya, solusinya adalah pada konsep pendidikannya. Lagi-lagi saya membicarakan pendidikan. Banyak tulisan saya di blog ini membicarakan pendidikan. Soal konsep saya setuju dengan yang ditawarkan oleh Naquib al-Attas, bahwa konsep pendidikan (dalam Islam) yang seharusnya adalah konsep ta’dib atau bisa disebut juga dengan adab. Konsep ta’dib sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri yaitu membentuk manusia yang beradap. Konsep ta’dib mengajarkan bagaimana antara ilmu dan amal dapat bersatu, yaitu ilmu dapat merubah seseorang yang memiliki perilaku dan karakter manusia yang beradab. Sehingga, pendidikan merupakan usaha untuk memberikan manfaat baik bagi diri sendiri, orang disekitar, alam hingga akherat.
(ke depan kalo ada waktu saya akan menuliskan seperti apa konsep ta’dib tersebut, mudahan ada kesempatan untuk mempelajarinya lebih dalam)
Berbeda dengan pendidikan saat ini yang lebih kepada pengetahuan material teoritis yang tujuannya memenuhi kebutuhan ekonomi semata (baca tulisan saya yang ini). Pendidikan yang bertujuan pada kepentingan pragmatis dan non karakter menjadikan peran pembentukan masyarakat yang beradap sulit tercapai. Tidak heran jika pendidikan di negeri ini masih seperti ini, dosa-dosa sosial pada masyarakat akan sulit diberantas, khususnya didikan kejujuran.
0 komentar:
Posting Komentar
Terimakasih sudah mau berkomentar di blog saya, mohon tinggalkan link agar saya juga bisa mengunjungi blog/web Anda untuk bersilaturahmi. Salam.