| ilustrasi : id.wikipedia.org |
Dalam fisika, momentum merupakan besaran antara kekuatan massa dengan kecepatan. Momentum berbanding lurus dengan massa dan kecepatan. Semakin besar massanya atau kecepatannya, semakin besar juga momentum yang diberikan. Sebagai contoh, sebuah truk berat akan mempunyai momentum lebih besar dari pada mobil ringan pada kecepatan yang sama. Gaya yang lebih besar dibutuhkan untuk menghentikan truk tersebut dibandingkan dengan mobil yang ringan dalam waktu tertentu. Begitulah pengertiannya secara fisika. Namun dalam pemaknaan kehidupan, momentum merupakan saat yang ditunggu-tunggu untuk sebuah perubahan (impian) yang besar.
Momentum bagian dari takdir. Semua keputusan tindakan dan aksi yang kita lakukan memiliki momentumnya. Bukan berarti setiap keinginan untuk berubah harus menunggu takdir, melainkan harus ada usaha untuk bisa mendapatkan momentum tersebut. Kalau dalam fisika momentum digunakan untuk menghitung ukuran kekuatan sebuah benda yang bergerak, maka momentum dalam perubahan diri adalah seberapa besar ukuran kekuatan kita dalam mengejar momentum tersebut menemukan takdirnya.
”Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Ar-Ra’ad ayat 11
Untuk bisa mendapatkan (menghitung) momentum itu kita harus kembali kepada hukum fisika. Momentum dilambangkan dengan P. Rumus P adalah hasil perkalian atara massa (m) dengan kecepatan (v). Atau rumus singkatnya P = mv. Dalam fisika, massa merupakan jenis besaran skalar yaitu besaran yang mempunyai besar/ukuran tetapi tidak bergerak (tidak mempunyai arah/bersifat diam). Sedangkan kecepatan masuk dalam katagori besaran vektor, yang artinya satuan besaran yang mempunyai arah (bergerak). Perkalian antara besaran skalar dengan besaran vektor akan menghasilkan besaran vektor. Dan momentum masuk dalam jenis besaran vektor. Maka, dalam menentkan besar ukuran momentum tersebut, kita harus mempunyai kekuatan massa yang bergerak dalam kecepatan.
Dalam konteks perubahan pada diri kita, massa dapat dimaknai sebagai keberanian dan kekuatan motivasi. Ketika ingin mendapatkan momentum perubahan dalam diri, maka keberanian dan kekuatan motivasi harus dimiliki. Semakin besar keberanian dan kekuatan motivasinya untuk berubah dan mengejar impian, kesempatan untuk mendapatkan momentum tersebut semakin jelas. Begitu juga kecepatan waktu untuk mengejar momentum tersebut. Kecepatan dilihat dari seberapa besar perbuatan kita. Semakin cepat perbuatan mengejar keberanian itu, semakin cepat pula kesempatan untuk mendapatkan momentumnya.
Contohnya saat kita ingin segera lulus dengan IPK cumlaude. Massa yang harus kita miliki adalah besarnya keberanian dan kekuatan motivasi untuk belajar. Lalu, seberapa besar juga kecepatan perbuatan kita untuk mengeksekusi motivasi tersebut. Ketika semangat bermimpi untuk lulus cepat dan ber-IPK cumlaude bersatu dengan kecepatan perbuatan untuk meraihnya, disitulah momentum menemukan takdirnya. Maka, hasil IPK dengan waktu lulus itulah takdir kita.
Begitu juga dalam pernikahan, mendapatkan kekayaan dan segala kesuksesan lainnya, harus kita pahamkan pada diri kita, seberapa kuatkah (kecepatan) mengejar momentum itu. Momentum merupakan bagian dari takdir, tetapi tidak semua takdir memiliki momentum, kematian contohnya. Maka, momentum itu harus kita kejar. Lalu, temukanlah takdir itu.
Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.Al ‘Asr
*tulisan ini terinspirasi dari buku Menyiapkan Momentum karya Rizalul Imam.
Tulisannya bagus Pak :) | saya sedang mencari pembahasan seperti ini. Terimakasih.
BalasHapus